Mantra Budha

Mantra Budha

Tulisan jimat adalah sebuah bentuk sihir kuno dalam Taoisme, mirip dgn pengucapan Mantra dlm Agama Buddha. Jika org yg dianggap ahli dlm membuat simbol2 jimat tdk tahu bagaimana melakukannya dgn benar, maka makhluk halus akan mentertawakannya. Ada rahasia dlm menulis jimat supaya bisa efektif. Kuncinya adalah jgn memunculkan pikiran apapun.
Prinsip yg sama berlaku dlm Pengucapan Mantra. Beberapa org mampu secara efektif membaca Mantra. Misalnya, Air Welas Asih Agung, yg dimurnikan dgn pembacaan Mantra Welas Asih Agung/ Ta Pei Cou, bisa sangat efektif bg sebagian org, dan tdk efektif sama sekali bg org lain. Mengapa? Yg pertama tdk memiliki satu pikiran pun yg berkeliaran dr awal sampai akhir. Jika pd saat pembacaan ada satu pikiran yg muncul, Mantra akan menjadi tdk efektif. Oleh krn itu, semakin panjang Mantra, semakin sulit utk berhasil memanjatkannya. Mantra Surangama bisa sangat efektif. Namun cuma sedikit org yg mampu membacanya secara efektif. Mengapa? Kebanyakan org memiliki byk pikiran yg berkeliaran saat membaca Mantra. Dan cuma dibutuhkan satu pikiran yg berkeliaran utk membuat pengucapan Mantra kita tdk efektif.
Hal yg sama berlaku dlm pembacaan Sutra. Jika kita membaca satu kali Sutra Kehidupan Tanpa Batas tanpa adanya pikiran yg berkeliaran, itu hebat sekali!
Dr sini kita tahu bhw semakin pendek Mantra maka semakin mudah kita melafalkan dan memusatkan perhatian padanya. Membaca Namo Amitofo, jika kita msh beranggapan bhw ini jg msh terlalu panjang. Guru Lian Qi mengajarkan kita utk membaca “AMITOFO” saja. Jika membaca ini tanpa satu pikiran apapun, maka pembacaan itu akan efektif. Hal itu sama seperti mengirim telegram kpd Buddha Amitabha dan diterima olehNya. Namun jika menambahkan satu pikiran yg berkeliaran, Buddha Amitabha tdk akan bisa menerima pesan itu dan tdk akan memberikan tanggapan.

Sumber : Seni Mengubah Nasib. Empat Ajaran Liao Fan. Ulasan oleh Master Chin Kung
Bab Essence of The Sutra dari kitab Mind-Seal Of The Buddhas. Patriarch Ou-i’s Commentary On The Amitabha Sutra,
penerjemah J.C. Cleary, penerbit Sutra Translation Committee of the United States and Canada, 1997. Judul asli 阿 彌 陀 经 要 解 (ā-mí-tuó jīng yào-jiě).

Agar pembacaan mantra bisa efektifl diperlukan:

1. Keimanan (Ketetapan hati / faith).
2. Ikrar.
3. Praktek.

Karena setiap aliran atau metoda (mantra) merupakan suatu keupayaan, yang diadaptasikan untuk sasaran audiens tertentu, masing-masing aliran adalah sempurna dan lengkap untuk orang atau kelompok orang tertentu dalam waktu tertentu.

Didalam buku yang sama terdapat pendapat D.T Suzuki sebagai berikut:

“Teologi Buddhis memiliki teori sempurna menyeluruh untuk menjelaskan
bermacam-macam jenis pengalaman dalam Buddhisme, yang tampaknya sedemikian
bertentangan satu sama lain. Sesungguhnya sejarah Buddhisme Tiongkok
merupakan sederetan usaha-usaha mendamaikan beraneka-ragam aliran-aliran …
Berbagai cara penggolongan dan rekonsiliasi ditawarkan, dan … kesimpulan
mereka adalah sebagai berikut: Buddhisme menyediakan begitu banyak
gerbang-gerbang untuk masuk kedalam kebenaran akibat dari sedemikian
beragamnya karakter, temperamen dan lingkungan manusia dikarenakan aneka
jenis karma. Hal ini secara gamblang digambarkan dan diajarkan Sang Buddha
sendiri ketika beliau mengatakan bahwa air yang sama yang diminum oleh
seekor sapi dan ular kobra menghasilkan dalam satu sisi susu yang
menyehatkan dan disisi lain menjadi racun yang mematikan, dan bahwa obat-
obatan haruslah diberikan sesuai dengan penyakitnya. Ini dinamakan doktrin
Upaya ([skillful]means) … (The Eastern Buddhist, Vol.4, No.2, p.121.)”

Pendapat D.T Suzuki ini bermakna bahwa kita cukup memilih salah satu metoda
atau mantra saja yang kita anggap cocok untuk diri sendiri atau kelompok.

Mengenai keadaan pikiran ketika membaca mantra, berikut adalah kutipannya dari buku yang sama.

“Penglafalan dengan pikiran lurus. Konsep ini difahami dalam dua cara. Bagi Patriark Chih-i, Suhu Ou-i dan lainnya dari tradisi T’ien-t’ai, Zen dan Avatamsaka, ini setara dengan pemusatan pikiran dan samadi. Bagi Patriark Surga Barat (Pure Land) seperti Tao-ch’o dan Shan-tao, difihak yang lain, ini merujuk kepada penglafalan dengan keimanan tertinggi terhadap Buddha Amitabha dan Surga Barat. Walaupun kedua konsep pada pokoknya sama (seseorang tidak bisa menglafalkan dengan keimanan tertinggi tanpa masuk kedalam keadaan pikiran yang terpusat atau keadaan samadi) perbedaan ini bisa berguna dan berkeupayaan banyak bagi praktisi-praktisi pemula.”

Saya sendiri sudah terbiasa dari kecil dengan mantra

Ná Mó Guān Shì Yīn Pú Sà Mó Hē Sà
南 無 觀 世 音 菩 薩 摩 訶 薩
Lam Bu Kwan Si Im Poo Sat Mo Ho Sat.

karena diajarkan oleh guru agama disekolah dasar dahulu dan mungkin sudah
tertanam dibawah sadar sedangkan kakak saya lebih senang mengucapkan
Omituofo
阿 彌 陀 佛
Omitohud.
Terima kasih atas posting bro Hengki dan bro Wibawa Utama…., saya juga setuju dengan pembabaran anda berdua.
Di sini saya hanya ingin menambahkan sedikit sebagai pelengkap dari pembabaran anda berdua.
Dalam Buddha Dharma disebutkan bahwa pikiran adalah sang pemimpin, sang pelopor. Segala sesuatu didahului oleh pikiran dan segala sesuatu sebetulnya diciptakan oleh pikiran. Pikiran merupakan salah satu bagian dari batin (nama), atau lengkapnya batin itu terdiri dari perasaan (vedana), sanna (pencerapan) , sankhara (bentuk bentuk pikiran/pikiran), dan vinnana (kesadaran). Seperti Tanah Suci Sukhavati diciptakan oleh kekuatan batin/pikiran dari Amitabha Buddha.
Dalam Fisika Quantum dikatakan pikiran memancarkan gelombang gelombang energi yang memancar ke alam semesta. Semakin kuat konsentrasi pikiran itu, semakin besar gelombang energi yang dipancarkan.
Demikian pula pada saat kita membaca mantra atau melafalkan nama nama Buddha dan Bodhisattva…dengan pikiran terpusat /dengan konsentrasi , maka gelombang energi pikiran kita akan memancar dan menuju kepada para Buddha dan Bodhisattva tsb, sehingga Para Buddha dan Bodhisattva akan menerimanya/mendengarnya dan mereka akan memancarkan balik gelombang gelombang energinya yang berisi power spriritual yang akan membantu atau memberi pertolongan /berkah kepada kita. Dan power energi dari para Buddha ini mempunyai kekuatan luar biasa , di atas penalaran kita (bekerja secara ajaib dan bersifat suci), dan semakin banyak kita membaca mantra/melafal nama Buddha (dengan konsentrasi terpusat/bukan dengan pikiran berkeliaran) , maka power energi yang kita terima semakin besar.
Saya juga membaca mantra Buddhis sejak lama, sejak remaja ( puluhan tahun yang lalu)
Pada waktu masih remaja, saya masih bodoh…, belum banyak mengerti, saya membaca mantra hanya membaca mantra saja, tidak saya resapi dan kadang pikiran kurang konsentrasi. Akan tetapi dengan bertambahnya usia, saya mulai banyak mempelajari Buddha Dharma, banyak membaca naskah naskah Buddhis, sehingga saya lebih banyak mengerti.
OLeh karena itu kalau saya membaca mantra mantra Buddhis adalah sbb :

1. Saya membaca mantra Buddhis dan saya mengerti artinya. Saya selalu mencari terjemahan artinya dulu, kemudian saya hapalkan, sehingga
konsentrai saya tidak buyar karena kalau tidak hapal harus membaca buku, mata tidak bisa dipejamkan, pikiran kurang terpusat, tidak bisa
mencapai kondisi samadhi.
2. Saya meresapi dan menghayati dan saya yakini (dengan iman) artinya dan saya raskan dalam batin saya, makna tiap kata dari mantra Buddhis
yang saya lafalkan.
3. Pikiran saya terpusat, penuh konsentrasi (tidak memikir yang lain) dan setelah banyak kali membaca saya merasakan adanya pithi (kegiuran),
batin menjadi bersih penuh metta (cinta kasih) dan karuna (belas kasihan) dan timbul sukha ( kebahagiaan) akan tetapi belum mencapai ekagatha
( konsentrasi terpusat , sampai tidak menyadari lingkungan sekitar, katanya walaupun ada petir meledak di sebelah kita, kita tidak akan
mendengar).
Oleh karena itu saya yakin membaca mantra Buddhis dengan konsentrasi terpusat , dengan penghayatan dan iman sepenuhnya itu sama dengan meditasi dan bisa pula mencapai jhana dan akan menghasilkan panna (kebijaksanaan).
Atau juga metode ini bisa disebut metode nian fo.
Mantra mantra Buddhis yang sering saya baca banyak dikenal oleh umum : Kao Wang Kuan Shi Yin Cing, Ta Pei Cou, mantra hati Avalokitesvara, mantra hati Amitabha dan Sin Ching (sutra hati).
[Inti Sari Sutra Amitabha]
oleh Patriak Ou-i (1599 – 1655 )

Para Buddha mengasihani mahluk-mahluk indriawi yang terperdaya, dan mengeluarkan ajaran-ajaran transformatif sesuai dengan ragam kemampuan dari mahluk-mahluk ini. Walaupun semua ajaran berasal dari sumber yang sama, namun dipergunakan metoda-metoda berkeupayaan yang berbeda-beda.

Diantara keupayaan-keupayaan itu, jika kita ingin mencari yang langsung dan lengkap, paling baik adalah mencari kelahiran di Surga Barat1 melalui pengingatan-Buddha (penglafalan nama-Buddha). Jika kita mencari yang paling sederhana dan paling terpercaya diantara semua metoda pengingatan-Buddha, yang terbaik adalah dengan mengembangkan keimanan dan berikrar serta berkonsentrasi pada penglafalan nama-Buddha. 2

CATATAN KAKI:
1. [Surga Barat atau Alam Barat atau Alam Kebahagiaan atau Sukhavati (Pure Land) terdiri dari aliran-aliran atau metoda-metoda] dari Asia Timur yang menekankan aspek Budhisme Mahayana yang menekankan keimanan kepada Amitabha, meditasi dan menglafalkan nama Nya, serta tujuan religius terlahir di “Surga Barat” Nya. (Crim, Perennial Dictionary of World Religions.)

Karena setiap aliran atau metoda merupakan suatu keupayaan, yang diadaptasikan untuk sasaran audiens tertentu, masing-masing aliran adalah sempurna dan lengkap untuk orang atau kelompok orang tertentu dalam waktu tertentu. Lihat juga tulisan D.T. Suzuki berikut ini:

Teologi Buddhis memiliki teori sempurna menyeluruh untuk menjelaskan bermacam-macam jenis pengalaman dalam Buddhisme, yang tampaknya sedemikian bertentangan satu sama lain. Sesungguhnya sejarah Buddhisme Tiongkok merupakan sederetan usaha-usaha mendamaikan beraneka-ragam aliran-aliran … Berbagai cara penggolongan dan rekonsiliasi ditawarkan, dan … kesimpulan mereka adalah sebagai berikut: Buddhisme menyediakan begitu banyak gerbang-gerbang untuk masuk kedalam kebenaran akibat dari sedemikian beragamnya karakter, temperamen dan lingkungan manusia dikarenakan aneka jenis karma. Hal ini secara gamblang digambarkan dan diajarkan Sang Buddha sendiri ketika beliau mengatakan bahwa air yang sama yang diminum oleh seekor sapi dan ular kobra menghasilkan dalam satu sisi susu yang menyehatkan dan disisi lain menjadi racun yang mematikan, dan bahwa obat-obatan haruslah diberikan sesuai dengan penyakitnya. Ini dinamakan doktrin Upaya ([skillful]means) … (The Eastern Buddhist, Vol.4, No.2, p.121.)

2. Pentingnya sebuah ikrar digambarkan dalam cerita berikut ini:

Pada suatu waktu Buddha Sakyamuni dan muridnya Mahamaudgalyayana datang dengan rombongan besar para pengikutnya ke suatu negeri untuk mengubah kehidupan mahluk-mahluk. Ketika penduduk berjumpa dengan Buddha mereka menutup pintu dan tidak mengacuhkan beliau. Akan tetapi, ketika bersua dengan Mahamaudgalyayana mereka berlarian menyambutnya, dan setiap orang, dari raja dan para menteri sampai penduduk biasa semuanya membungkukan badan dan berlomba-lomba memberikan persembahan kepadanya. Murid-murid Buddha berpikir ini paling tidak adil. “Dunia Memuliakan Satu Orang,” mereka berkata, “pelaksanaan kebajikan guru begitu tinggi; mengapa mereka tidak memberikan persembahan kepada guru, melainkan berlomba-lomba memberikan persembahan kepada Mahamaudgalyayana?”

“Ini disebabkan ikatan masa lalu,” kata Buddha. “Akan aku ceritakan kepada kalian.”

“Ribuan tahun tak terbatas yang lalu, Maudgalyayana dan aku adalah orang-orang desa biasa. Dia mengumpulkan kayu bakar di pegunungan dan aku tinggal di gubuk dibawah. Sekelompok lebah mengganguku dan aku putuskan mengusirnya dengan cara menggantang asap. Akan tetapi Maudgalyayana menolak walaupun lebah-lebah itu menyengat hingga tangannya bengkak dan sakit. Malahan dia membuat ikrar, ‘sungguh sengsara menjadi lebah,’ pikirnya, ‘Aku berikrar setelah aku mencapai Jalan yang pertama akan kuseberangkan adalah lebah-lebah mirip-asura ini!’

Beberapa kehidupan kemudian lebah-lebah ini terlahir kembali sebagai penduduk negeri ini. Ratu lebah menjadi raja, lebah-lebah pejantan menjadi para menteri, dan lebah-lebah pekerja menjadi penduduknya. Karena aku tak suka dengan lebah, sekarang aku tak punya ikatan dengan orang-orang ini dan oleh karena itu tak seorangpun memberikan persembahan kepadaku. Akan tetapi karena ikrarnya, seluruh penduduk memuliakan Maudgalyayana”.

Menurut Buddha, sebagai mahluk indriawi, kita semua mempunyai kemelekatan yang kuat – khususnya terhadap tubuh dan kepemilikan kita. Pada saat meninggal dunia, saat akan kehilangan tubuh dan kepemilikkan, kesadaran kita, terdorong oleh kemelekatan yang mendalam ini, dengan sendirinya bergegas terlahir kembali kedalam tubuh lain. Pada titik waktu inilah ikrar-ikrar, khususnya ikrar untuk terlahir kembali di Surga Barat, sangat penting: daripada hanya mengikuti karma, baik dan jahat, kita bisa, melalui kekuatan dari ikrar-ikrar ini, mencapai kelahiran kembali di Surga Barat.
Inilah alasan mengapa orang-orang pada jaman dahulu memakai Sutra Amitabha sebagai pedoman studi mereka sehari-hari, walaupun tiga kitab suci aliran Surga Barat beredar berdampingan satu sama lain dari generasi ke generasi.3 Sutra Amitabha menunjukan bahwa metoda penglafalan nama-Buddha berlaku untuk orang-orang dengan kemampuan tinggi, sedang, maupun terbatas. Metoda ini melampaui level perwujudan (phenomenon) dan level kebenaran hakiki (noumenon), tanpa kecuali. Metoda ini merangkul aliran Zen dan aliran Kitab Suci dan tiada mengabaikan apapun. Metoda ini sungguh tak terperikan besarnya!4

Selama bergenerasi, sejak jaman kuno, tak pernah kurang orang-orang yang mengulas dan menjelaskan Sutra Amitabha. Seiring waktu, banyak yang terlupakan dan tidak banyak yang masih bertahan hingga masa kini. [Satu generasi yang lampau], suhu Chu-hung dan Yun-chi memberikan ulasan mendalam dan ekstensif, dan guru dari guru saya sendiri suhu Yu-hsi menuliskan Ulasan Lengkap Jalan Tengah, yang dalam dan berpelajaran tinggi. [Kedua ulasan ini] bagaikan matahari dan bulan: semua orang melihatnya. Namun [kedua ulasan ini] bergaya sastra panjang-lebar dan tingkat pemaknaan yang rumit. Capaian tertingginya tidak terbayangkan.

Oleh karena itulah saya menyingkirkan segala keraguan akan tingkatan diri saya yang biasa-biasa saja dan ketidak-tahuan saya dan menyusun ulasan yang lain, menjelaskan pokok-pokok penting Sutra Amitabha. Saya tidak berani menyimpang dari suhu Chu-hung dan Yu-hsi hanya untuk orisinalitas, saya juga tidak memaksakan diri saya untuk menyetujui mereka sekedar untuk persetujuan belaka. Ketika melihat contoh-contoh mereka, puncak-puncak tinggi seakan-akan mengelilingi saya. walaupun ulasan saya sama sekali tidak sepenuhnya menggambarkan dunia sejati dari tradisi Surga Barat, saya tidak boleh gagal memberikan setiap dari anda visi pribadi saya tentang itu.

Bilamana seseorang menjabarkan naskah Sutra Amitabha, terdapat lima lapisan pengertian mendalam:
Pertama, adanya judul sutra yang perlu diterangkan.

[Kitab suci ini disebut Sutra Amitabha Yang Dibicarakan Buddha.] Sutra ini mengambil judul dari seseorang yang sedang menjelaskannya dan dari seseorang dengan siapa dia sedang berbicara.

Buddha adalah guru utama, yang membabarkan kitab suci di dunia, yakni, Sakyamuni. Dengan kekuatan ikrar Hasrat Agungnya, beliau dilahirkan disini di dunia dengan Lima Kekeruhan. Sebagai orang yang pertama kali tersadarkan, misinya adalah membawa pencerahan kepada mereka yang tersadarkan belakangan. Buddha adalah orang yang mengetahui segalanya dan melihat segalanya.

Buddha membicarakan sutra dengan kegembiraan hati. Tujuannya adalah untuk membebaskan mahluk-mahluk indriawi. Karena kemampuan mahluk indriawi mencapai pencerahan sudah matang, Buddha menjelaskan kepada mereka ajaran-ajaran Surga Barat yang sulit dipercayai, dan memampukan para pendengarnya mencapai pembebasan tertinggi. Inilah sebabnya mengapa Buddha selalu penuh diliputi dengan kebahagiaan.

Buddha Amitabha adalah orang yang dirujuk Sakyamuni didalam sutra. Amitabha adalah pedoman dari Surga Barat. Dengan kekuatan empat puluh delapan ikrarnya, Amitabha menerima mahluk-mahluk indriawi yang telah berikrar untuk mempraktekan pengingatan-Buddha dengan memanggil nama-Buddha dan memampukan mereka terlahir di Alam Kebahagian Tertinggi dan tak pernah kembali dari sana. Dalam bahasa Sansekerta, “Amitabha” artinya “Kehidupan tiada berhingga” atau “Cahaya tiada berhingga.” Intinya adalah bahwa apapun tentang Amitabha adalah tiada berhingga: jasa-jasa dan kebijaksanaannya, kekuatan supernatural dan kekuatan dalam Jalan, penjelmaan dan lingkungannya, karyanya dalam membabarkan ajaran-ajaran Budhis dan pembebasan mahluk-mahluk indriawi.

Sutra adalah setiap ajaran yang berasal dari dari mulut emas Sang Buddha.5

Istilah-istilah diatas dikumpulkan bersama-sama membentuk judul kitab suci: Sutra Amitabha Yang Dibicarakan Buddha. Tiga golongan — ajaran, praktek, dan kebenaran hakiki (noumenon), harus dimiliki oleh setiap sutra — dapatlah masing-masingnya dijelaskan dalam pengertian umum ataupun khusus, sebagaimana diletakan dalam sistem Ti’en-t’ai.

CATATAN KAKI:
3. Tiga Kitab Suci Aliran Surga Barat. Budhisme Surga Barat berazaskan tiga sutra dasar:
a) Sutra Amitabha ( atau Sutra Amitabha Versi Pendek, atau Sukhavati-Vyuha Kecil, atau Sutra Amida);
b) Sutra Amitabha Versi Panjang (atau Sukhavati-Vyuha Besar, atau Ajaran Kehidupan Tak Berhingga);
c) Sutra Meditasi (atau Meditasi Kepada Buddha Kehidupan Tak Berhingga, atau Sutra Dhyana Amitayus).

Kadang-kadang bab terakhir dari Sutra Avatamsaka (“Praktek-praktek dan Ikrar-ikrar Bodhisattva Samantabhadra”) dianggap sebagai dasar sutra yang keempat dari tradisi Surga Barat. Catatan: dalam tradisi Surga Barat, Sutra Amitabha Versi Panjang dianggap sebagai bentuk yang lebih pendek dari Sutra Teratai.

4. Catatan pandangan Dr. D.T. Suzuki tentang relevansi dari Surga Barat:

Dr. Suzuki umumnya dikaitkan dengan aliran Zen, jadi merupakan hal yang mengejutkan mendengar beliau menerjemahkan banyak naskah aliran Surga Barat kedalam bahasa Inggris dan membesarkan keyakinan bahwa Surga Barat selain Zen mungkin merupakan bentuk Buddhisme yang sesuai dengan orang barat. (John Snelling, The Buddhist Handbook, p. 216.)

Kebanyakan penganut agama Buddha didunia, sejauh ini mayoritas terbesarnya, mempraktekan Keimanan atau puja-bakti. Dr. D.T. Suzuki berkeyakinan sangat kuat bahwa arah dari Buddhisme Amerika menuju Buddhisme Shin [Surga Barat] dan praktek Keimanannya. Boleh jadi pada saat ini kebanyakan orang barat, yang mulanya mencari pencerahan pribadi, akan mendapatkan dirinya memilih jalan puja-bakti(Ryushin Sarah Grayson in Butsumon, Fall 1989.)

5. Walaupun kebanyakan sutra dikotbahkan oleh para Buddha, terdapat contoh-contoh dimana kata-kata para Boddhisatva tercatat sebagai sutra-sutra. Salah satu kasusnya adalah Sutra Avatamsaka bab 40, dimana Buddha hanya menyatakan persetujuannya dipenghujung bab dengan berkata “Sadhu, sadhu” (“Sungguh bagus, sungguh bagus”).
Dalam melaksanakan meditasi ….banyak yang masih mengalami kebingungan. Banyak yang bertanya tanya apakah kondisi yang dialami dalam meditasi sudah bisa dikatakan mencapai Jhana atau belum. Ada yang merasa melihat sinar terang….. Sebenarnya ini hanyalah nimitta saja. Memang dengan mengalami nimitta sebenarnya sudah mulai mendekati pencapaian jhana akan tetapi kalau hanya nimitta saja yang dialami tetap belum bisa dikatakan mencapai jhana.
Sang Buddha mengatakan suatu meditasi dikatakan mencapai jhana kalau terdapat 5 faktor, yaitu :
1. Vitaka : upaya untuk menangkap suatu obyek dengan tetap
2. Vicara : adanya kemampuan menangkap obyek dengan tetap
3. Pithi : adanya kegiuran, seperti : bulu kuduk meremang dll
4. sukha : perasaan bahagia
5. ekagatha : konsentrasi yang terpusat dengan kuat, sehingga tidak menyadari lingkungan sekitar.

TINGKATAN JHANA DALAM MEDITASI :
Jhana pertama : adanya 5 faktor yaitu vitaka, vicara, pithi, sukha, ekagatha.
Jhana kedua : vitaka hilang, tinggal vicara , pithi, sukha dan ekagatha. Artinya tidak diperlukan lagi
Upaya untuk memegang obyek dengan tetap, karena pikiran sudah terpusat dengan
Kuat dan mampu memegang obyek dengan sendirinya.
Jhana ketiga : vitaka dan vicara hilang, tinggal pithi , sukha dan ekagatha.
Jhana keempat : vitaka, vicara dan pithi lenyap, tinggal sukha dan ekagatha.
Jhana kelima : yang ada hanya ekagatha dan diiringi munculnya upekkha (keseimbangan batin).
4 Jhana berikutnya merupakan jhana dengan kondisi batin seperti yang terdapat pada alam arupabrahma yaitu :
– Asanancayatana jhana : kondisi batin dengan konsep ruang tanpa batas disertai dengan ekagatha dan upekkha.
– Vinnanancayatana jhana : kondisi batin dengan konsep kesadaran tanpa batas disertai dengan ekagatha dan upekkha.
– Akincannayatana jhana : kondisi batin dengan konsep kekosongan disertai dengan ekagatha dan upekkha
– Neva sanna nassana yatana jhana : kondisi batin dengan konsep bukan pencerapan maupun bukan tanpa pencerapan disertai ekagatha dan upekkha.
EKAGATHA ITU SALAH SATU FAKTOR YANG DICAPAI KETIKA MEDITASI MENCAPAI JHANA…. ARTINYA KONSENTRASI TERPUSAT KUAT SAMPAI TIDAK MENYADARI KONDISI LINGKUNGAN SEKITARNYA. UNTUK JHANA PERTAMA MASIH ADA VITAKA, VICARA, PITHI DAN SUKHA…SEBAGAI FAKTOR PENDAMPING.
JHANA PERTAMA MASIH ADA VITAKA (UPAYA UNTUK MEMEGANG OBYEK DENGAN TETAP) , ARTINYA DALAM JHANA PERTAMA (AWAL) KITA MASIH HARUS TERUS BERUPAYA MEMEGANG OBYEK DENGAN TETAP/KUAT, KALAU TIDAK PIKIRAN BISA LARI BERPINDAH OBYEK LAIN.
DALAM JHANA KEDUA VITAKA TIDAK ADA LAGI, ARTINYA …TIDAK DIPERLUKAN LAGI UPAYA UNTUK TERUS MEMEGANG OBYEK, KARENA PIKIRAN SUDAH TERPUSAT DENGAN SENDIRINYA, KARENA MEDITASI SUDAH LEBIH MENDALAM/TINGGI TINGKATNYA. DEMIKIAN PULA PADA JHANA KETIGA DAN SETERUSNYA YANG LEBIH TINGGI…SATU PERSATU FAKTOR SEPERTI VICARA, PITHI , SUKHA..MULAI LENYAP SATU PERSATU, SEHINGGA TINGGAL EKAGATHA SAJA DAN DIIRINGI UPEKKHA ( KESEIMBANGAN BATIN).
KATANYA…DARI YANG SAYA BACA DARI BUKU BUKU MEDITASI, MULAI JHANA KEEMPAT PIKIRAN BISA DIARAHKAN UNTUK MELAKUKAN PAST REGRESSION (DIARAHKAN UNTUK MENGINGAT KEHIDUPAN LAMPAU SECARA BERTAHAP SAMPAI BANYAK KEHIDUPAN LAMPAU , TERGANTUNG KEMAMPUAN MEDITATOR)

Menjawab pertanyaan bro Kullatiro:

Membaca buku sampai lupa keadaan sekitar, bukanlah kondisi yang mencapai ekagatha. Ada bedanya antara membaca buku dengan meditasi. Meditasi adalah melakukan pemusatan pemikiran dengan memegang satu obyek dengan tetap (tidak berganti obyek). Membaca buku, pikiran akan bergerak dari satu topik/makalah ke topik berikutnya, kadang pikiran berimajinasi dan berkeliaran walaupun sebatas topik di buku itu, bukan memegang satu obyek dengan tetap. Jadi tidak akan mencapai ekagatha. Buktinya seberapapun konsentrasi kita membaca buku, kita tetap akan mendengar kalau misalnya HP kita berbunyi atau ada ketukan dipintu ruangan, kalau digigit nyamuk juga masih merasa gatal.
Sedangkan membaca mantra dengan konsentrasi, obyek yang kita pegang adalah tetap, karena mantra itu tidak berubah dan kita ulang ulang, itu itu saja, apalagi mantra yang pendek, seperti OM MANI PADME HUM. Pikiran tidak akan berkeliaran atau meloncat atau berpindah, jadi bisa memasuki kondisi meditasi .
Kedua, adanya intisari sutra yang perlu dilihat.

Intisari sesungguhnya dari semua kitab suci Kendaraan Besar (Mahayana) adalah Realitas Mutlak itu sendiri. Apakah itu Realitas Mutlak? Realitas Mutlak adalah Pikiran Murni dari mahluk indriawi.6 Pikiran ini tidak didalam juga tidak diluar, dan tidak diantaranya. Pikiran ini bukan masa lalu, sekarang, atau masa depan. Pikiran ini tidak hijau atau kuning atau merah atau putih, panjang atau pendek atau segiempat atau bundar. Pikiran ini bukan wangi, bukan rasa, bukan tekstur, bukanlah obyek batiniah. Bilamana dicari kita tidak bisa menemukannya, akan tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa pikiran ini tidak ada. Pikiran ini menciptakan semua dunia dan segala alam, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa pikiran ini ada. Pikiran ini terlepas dari pikiran-pikiran terkondisi dan pembedaan-pembedaan dari semua dunia dan karakteristik. Akan tetapi pikiran-pikiran terkondisi dan pembedaan-pembedaan dari dunia-dunia dan karakteristik-karakteristik tidak mempunyai identitas terpisah apapun yang terlepas darinya.

Pada intinya, realitas mutlak terlepas dari segala karakteristik, namun tergabung dengan segala perwujudan. Terlepas dari segala karakteristik, realitas mutlak tidak berbentuk dan tergabung dengan segala perwujudan, realitas mutlak memberikan semua bentuk-bentuknya. Disebabkan kurangnya alternatif, kami lekatkan padanya nama “realitas mutlak” [yakni, Pikiran Murni, Tanda Nyata (Real Mark), Sifat Kebudhaan].

Intisari dari Realitas Mutlak tidaklah diam ataupun sadar, akan tetapi kedua-duanya. Baik diam maupun selamanya bersinar dengan kesadaran, baik bersinar dengan kesadaran maupun selamanya diam. Dalam hal bersinar dengan kesadaran namun diam, ini disebut Alam Cahaya Diam Abadi. Dalam hal diam namun bersinar dengan kesadaran, ini dinamakan Dharmakaya murni (Tubuh Dharma). Diam sadar disebut Dharmakaya, Tubuh Dharma dari semua Buddha. Sadar diam disebut Sambhogakaya, Tubuh Pahala.

[Bagi para Buddha] diam dan kesadaran bukan dua, tubuh dan alam bukan dua, apa yang sudah menjadi sifatnya dan yang disebabkan latihan bukan dua, hakikat sesungguhnya dan fungsi responsif bukan dua – segala sesuatunya adalah realitas mutlak. Realitas dan yang kelihatan sama sekali bukan dua maupun dua.

Jadi, esensi dari realitas sebagai suatu keseluruhan bertindak sebagai lingkungan yang mengelilingi mahluk indriawi maupun sebagai tubuh-tubuh mereka, bertindak sebagai Tubuh Dharma maupun sebagai Tubuh Pahala dari para Buddha dan bertindak sebagai diri sendiri maupun sebagai orang lain.

Dengan demikian, orang yang membicarakan sutra dan orang yang dibicarakan, para Buddha yang dapat membebaskan mahluk-mahluk indriawi dan mahluk-mahluk indriawi yang dibebaskan, kemampuan mengambil ikrar dan yang diikrarkan, kemampuan mengkonsentrasikan nama-Buddha dan nama-Buddha yang dikonsentrasikan, kemampuan untuk dilahirkan di Surga Barat dan lahir di Surga Barat itu sendiri, kemampuan mengagungkan para Buddha dan para Buddha yang diagungkan – semua ini merupakan jejak dari “cap sejati (true seal)” dari Realitas Mutlak. Dengan perkataan lain, Pikiran Sejati (Pikiran Bodhi) dari mahluk indriawi merupakan intisari dari semua sutra-sutra Mahayana.

Ketiga adanya azas pedoman yang perlu dijelaskan.

Azas pedoman merupakan jalan penting untuk mengolah praktek, merupakan penghubung kunci untuk pemahaman intisari [dari pikiran kita], merupakan kerangka kerja pemanduan untuk banyak sekali praktek. Ketika jaring ditarik, mata-jalanya akan terbuka. Ketika kerah baju diangkat, dada dan lengan baju juga ikut terangkat. Jadi, setelah penjelasan intisari sutra, kita harus melihat azas pedoman.

Azas penting pengolahan (kultivasi) dalam sutra ini adalah untuk mengembangkan keimanan dan berikrar dan melafalkan nama-Buddha. Tanpa keimanan, kita tidak cukup diperlengkapi untuk berikrar. Tanpa berikrar kita tidak cukup diperlengkapi untuk mempedomani praktek. Tanpa praktek luar biasa dalam melantunkan nama-Buddha, kita tidak cukup diperlengkapi untuk memenuhi ikrar dan untuk membawa keimanan kita berbuah.

Mula-mula sutra menyatakan lingkungan murni dari Surga Barat dan raga-raga yang dimuliakan dari para penghuninya dalam rangka menimbulkan keimanan dalam diri kita.. Berikutnya sutra meminta kita berikrar untuk mempedomani praktek. Kemudian sutra mengajarkan kita praktek melafalkan nama-Buddha sebagai jalan untuk naik langsung keatas tanpa kembali (non retrogression).

Keimanan artinya memiliki keyakinan kepada diri sendiri dan kepada yang lain (Buddha dan para Bodhisatva). Yakin akan hukum sebab akibat, yakin akan perwujudan (phenomenon) dan kebenaran hakiki (noumenon).

Berikrar artinya merasa enggan terhadap keduniawian dan melepaskan diri dari keduniawian. Berikrar artinya dengan sukacita mencari Surga Barat Alam Kebahagian Tertinggi.

Praktek artinya dengan tekun mempraktekan penglafalan nama-Buddha dengan pikiran lurus dan tanpa kekacauan (dengan pikiran tertuju pada satu titik sasaran).

[Keimanan]. Mempercayai diri sendiri. Artinya yakin bahwa pikiran sejati bukanlah perwujudan fisik maupun cerminan dari obyek-obyek tak bentuk, bahwa pikiran ini meluas melalui waktu tanpa masa sesudah maupun masa sebelum apapun dan melalui ruang tanpa batasan apapun. Walau mematuhi hukum sebab akibat sepanjang hari penuh, namun pikiran ini tetap tidak pernah berubah.

Seluruh ruang Sepuluh Penjuru dan semua alam-alam yang tak terhitung seperti atom-atom asalnya adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran kita ini. Walaupun terperdaya dan terkacaukan jika dalam satu kejapan tunggal kita kembali kepada Pikiran ini, kita pasti akan dilahirkan di Alam Kebahagian Tertinggi yang asalnya inheren didalam pikiran kita sendiri, dan tidak lagi dipersulit oleh perasaan cemas dan ragu. Ini dinamakam “yakin kepada diri sendiri”.

Percaya kepada yang lain artinya meyakini bahwa Sakyamuni Tathagatha pasti tidak berdusta dan Yang Termulia Dunia Sang Amitabha pasti tidak berikrar sia-sia. Ini artinya memastikan bahwa semua Buddha dari segala penjuru tidak pernah berdusta, dan ini artinya kita mengikuti ajaran sejati dari semua yang tercerahkan. Ini berarti membangun keinginan kita mencari kelahiran di Surga Barat, tidak lagi diburu oleh perasaan ragu dan kacau. Ini dinamakan “yakin kepada yang lain”.

Mempercayai dasar sebab akibat artinya meyakini bahwa sekalipun pemanggilan nama-Buddha dilaksanakan dalam keadaan pikiran yang terpencar dan kacau tetap saja ini merupakan suatu benih bagi pencerahan, dan bahkan menjadi lebih benar lagi manakala memanggil nama-Buddha dalam keadaan pikiran lurus dan tanpa kekacauan. [Jika kita berpikiran lurus ketika memanggil nama Buddha Amitabha], bagaimana kita bisa gagal terlahir di Surga Barat? Ini artinya “meyakini dasar sebab akibat”, yakni meyakini bahwa penglafalan tersebut merupakan sebab dari pencerahan.

Mempercayai hasil artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa semua mahluk spiritual luar biasa yang berkumpul di Surga Barat mempraktekan Samadi Pengingatan Buddha, suatu konsentrasi meditatif yang diperoleh dari penglafalan nama-Buddha. Jika menanam benih melon, kita akan memperoleh melon, dan jika menanam benih kacang kita akan mendapatkan kacang. [Akibat mengikuti sebab] ibarat bayangan mengikuti bentuk fisiknya, bagaikan gema menjawab bunyi. Tiada satupun yang dijahit sia-sia, ini dinamakan “mempercayai hasil”.

Mempercayai perwujudan faktual (phenomena) artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa walaupun pikiran kita ini sebentar saja, alam-alam Sepuluh Penjuru yang berdasarkan kepadanya tidaklah ada habis-habisnya. Alam Kebahagian Tertinggi sungguh-sungguh ada 10 milyar alam-kebudhaan jauhnya, dipercantik dengan hiasan-hiasan murni tertinggi. Ini bukanlah cerita fabel dari Chuang-tzu. Ini dinamakan “meyakini perwujudan faktual”.

Mempercayai kebenaran hakiki (noumenon) artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa 10 milyar alam-kebudhaan pada kenyataanya tidaklah berada diluar pikiran kita. karena sesungguhnya tidak ada satu apapun diluar Pikiran ini, kita mendapat kepastian yang mendalam bahwa kumpulan keseluruhan mahluk-mahluk dan lingkungannya di Surga Barat merupakan sekumpulan pencerminan yang timbul dalam pikiran kita. Semua perwujudan tergabung dengan kebenaran hakiki, semua kekeliruan tergabung dengan kebenaran. Semua praktek tergabung dengan Sifat Sejati. Semua yang lainnya akan tergabung dengan diri sendiri. Pikiran bawaan milik kita bersifat mencangkup-semua. Ibarat 1000 buah lampu didalam satu ruangan, masing-masing saling menyinari satu sama lain dan berkasnya tergabung dengan berkas-berkas sinar yang lain tanpa suatu halangan apapun. Ini dinamakan “meyakini kebenaran hakiki (noumenon)”.

[Berikrar]. Sekali setelah memiliki bentuk-bentuk keimanan ini, kita harus memahami bahwa dunia keduniawian adalah kotoran yang terbawa oleh pikiran kita sendiri dan harus dilepaskan; Surga Barat adalah kemurnian yang dilahirkan oleh pikiran kita sendiri dan harus kita cari dengan suka-cita.7 Kita harus melepaskan kekotoran sama sekali, sampai tidak ada yang bisa kita lepaskan lagi dan kita harus meraih kemurnian sama sekali, sampai tidak ada yang bisa kita raih lagi.

CATATAN KAKI:
6. Lihat penjelasan berikut ini dengan prinsip dasar yang sama oleh Suhu Hsuan Hua:

Sutra ini adalah Dharma Mahayana … dan menerima Tanda Nyata (Real Mark) sebagai inti pokoknya. Tanda Nyata tidaklah bertanda. Tiada terdapat tanda, tiada sama sekali, namun tiada satupun yang tidak ditandai. Tanpa-tanda, sesungguhnya adalah kekosongan sejati, dan dengan tanpa sesuatupun yang tanpa-tanda, itulah keberadaan yang indah sekali) … Kesedemikianan Sejati (True Suchness), Alam Dharma Sejati Tunggal, Thus Come One’s Store Nature, semuanya adalah nama-nama yang berbeda dari Tanda Nyata (Hsuan Hua, A General Explanation the Buddha Speaks of Amitabha Sutra [the Amitabba Sutra], p.23).

Ajaran “penciptaan” Pikiran dan lingkungan mahluk-mahluk indriawi, dinyatakan dalam banyak sutra-sutra Mahayana seperti Sutra Avatamsaka, Sutra Surangama dan Sutra Teratai, terlambangkan dalam bait-bait berikut:

Pabila seseorang ingin memahami sepenuhnya
Semua Buddha dari segala waktu
Renungkan sifat Alam Dharma
Sesuatunya terbuat dari Pikiran sendirian (Avatamsaka Sutra, bab 20).

Satu pikiran yang satu adalah syarat
untuk penciptaan alam-kebuddhaan;
Satu pikiran yang keliru adalah sungguh
penyebab sembilan alam samsara.

Ini bukanlah penciptaan dalam pengertian menciptakan sesuatu dari yang hampa. Doktrin ini bermakna bahwa secara praktis dikatakan dunia hanya “ada” sedemikian dikarenakan kesadaran kita, dan bahwa apa yang kita terima menjadi dunia dengan sendirinya adalah berdasarkan kepada pengalaman dan kesimpulan. Tatanan konseptual yang diterima menjadi karakteristik dari realitas obyektif adalah, menurut doktrin ini, sebuah proyeksi pikiran, sebuah gambaran yang menyaring dan membentuk pengalaman sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan mental yang berkembang sepanjang sejarah spesies, peradaban, dan individu (Thomas Cleary, The Flower Ornament Scripture[the Avatamsaka Sutra], Jilid Satu, p 23).

7. Untuk penjelasan mendalam mengenai konsep ini, silahkan merujuk ke Pure Land Buddhism: Dialogues with Ancient Masters, Bagian I, Patriark Chih I, Pertanyaan 10 (penerbit Sutra Translation Committee).
Oleh karena itu ulasan Miao-tsung menyatakan:

Meraih dan menolak sampai ujung batasnya, tidaklah berbeda jalur dengan tidak meraih dan tidak menolak. Jikalau kita tidak terlibat dalam tindakan meraih dan menolak dan hanya menilai tidak meraih dan tidak menolak, ini adalah bentuk pemegangan-teguh kepada kebenaran hakiki dan meninggalkan perwujudan (phenomena). Jika kita mengabaikan level perwujudan maka kita tidak akan sempurna dalam level kebenaran hakiki. Jika kita sampai kepada titik dimana semua perwujudan tergabung dengan kebenaran hakiki. Maka peraihan maupun penolakan juga tergabung dengan kebenaran hakiki. Kadang-kadang meraih, kadang-kadang menolak, tiada satupun yang bukan Alam Realitas.

[Praktek]. Jika kita berbicara mengenai pemusatan pikiran pada nama-Buddha dengan pikiran lurus, kita merujuk kepada penglafalan dengan pikiran yang bersatu dan tidak kacau-balau.8 Memanggil nama-Buddha adalah memanggil kwalitas kebudhaan. Karena kwalitas kebuddhaan tidak terperikan maka nama-Buddha itu sendiri juga tidak terperikan. Sekalipun kita melafalkan nama-Buddha dalam keadaan pikiran yang terpencar tetap saja itu adalah benih dari pencerahan, sementara mereka yang berpikiran lurus dengan segera naik menuju pencerahan tanpa pernah kembali.

Banyak sutra mengajarkan praktek Surga Barat dalam beragam jenis: merenungkan citra Buddha, merenungkan konsep Buddha, menyembah sujud, melakukan persembahan, mempraktekan lima penyesalan dan enam bentuk kesadaran dan seterusnya. Jika kita memakai salah satunya dan mendharma-baktikan jasa-jasa kepada kelahiran di Surga Barat, niscaya kita akan terlahir disana.

Metoda penglafalan nama-Buddha adalah salah satu metoda yang merangkul semua, merangkul orang-orang dari segala mentalitas dan salah satu metoda yang termudah untuk dipraktekan. Inilah sebabnya mengapa Sang Pengasih Buddha Sakyamuni menjelaskan kepada Sariputra tanpa ditanya. Penglafalan nama-Buddha dapat dikatakan keupayaan nomor satu diantara semua metoda-metoda berkeupayaan lainnya, kebenaran maha lengkap diantara semua kebenaran-kebenaran lengkap lainnya, ajaran yang paling sempurna diantara semua ajaran-ajaran sempurna lainnya.

Terdapat ujaran yang mengatakan: “Jikalau mutiara suci ditaruh dalam air kotor, air kotor tidak bisa tidak akan tersucikan. Jika nama-Buddha ditaruh dalam pikiran kacau-balau, bahkan pikiran kacau tersebut tidak akan gagal mencapai pencerahan”. Penglafalan nama-Buddha dengan keimanan dan ikrar adalah sebab yang benar bagi Kendaraan Agung. Empat Surga Barat [Alam Dimana Para Suci Dan Mahluk-mahluk Awam Tinggal Bersama-sama, Alam Pembebasan Berkeupayaan, Alam Pahala Sejati, dan Alam Cahaya Diam Abadi] adalah buah-buah menakjubkan dari Kendaraan Agung. Pabila kita memiliki dasar penyebab maka hasilnya pasti akan mengikuti.

Oleh karena itu, iman, ikrar, dan penglafalan nama-Buddha adalah azas pemandu sesungguhnya dari Sutra Amitabha.

Karakteristik dari Empat Surga Barat dijelaskan secara rinci dalam ulasan Miao-tsung dan dalam kitab An Explanation of the Brahma Net Sutra, dan saya tidak akan menjelaskannya secara penuh disini. Nanti saya akan memberikan catatan singkatnya saja ketika menjabarkan naskah.

Kempat, adanya fungsi sutra.

Fungsi yang sangat kuat dari sutra ini adalah memampukan kita terlahir kembali di Surga Barat dan tidak pernah kembali. Terlahir kembali di Surga Barat bisa digolongkan kedalam perihal dari Empat Surga Barat dan juga kedalam Sembilan Tingkatan Teratai disetiap Alam. Disini saya akan memberikan keterangan singkat mengenai Empat Alam.

Jika kita melafalkan nama-Buddha tanpa memutus pikiran dan pandangan khayal, tergantung dari seberapa terpencarnya atau seberapa terpusatnya kita, kita akan terlahir kembali di Alam Sembilan Tingkatan Teratai, Alam Dimana Para Suci Dan Mahluk-mahluk Awam Tinggal Bersama-sama.

Jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik pikiran lurus (level perwujudan), pikiran dan pandangan khayal terputus dan kita akan terlahir kembali di Alam Pembebasan Berkeupayaan, Alam Dari Para Arahat Dan Para Buddha Praceka.

Jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik pikiran lurus (level noumenon atau level kebenarana hakiki), dan terbanting dari tingkat ketidak-tahuan dan khayalan yang pertama ketingkat empat puluh satu, maka kita akan terlahir kembali di Alam Pahala Sejati, Alam Dimana Para Bodhisatva Tinggal.

Akan tetapi, jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik dimana keseluruhan empat puluh tujuh tingkat ketidak-tahuan dan khayalan secara total terputus, ini adalah pahala tertinggi dan kita akan dilahirkan di Alam Cahaya Diam Abadi, Alam Dimana Para Buddha Tinggal.

Sutra Amitabha mempunyai semacam fungsi yang sangat kuat, tiada satupun naskah yang dapat menggambarkannya. (Paragraf ini sulit dibaca, kemungkinan salah cetak.9) Fungsi yang kuat dari Sutra Amitabha seharusnya tidak disinggung pada hari yang sama [sebagaimana ajaran yang jauh lebih pesimistik] bahwa dasar penyebab yang benar hanyalah sebuah batu pijakan diluar alam indrawi, yang harus diolah sepanjang hidup terus menerus sebelum kita dapat mengharapkan pencerahan. Bagaimana bisa penganut Budhisme Zen dan Budhisme Kitab Suci gagal mempertimbangkan hal ini?
Kelima, adanya bentuk-bentuk ajaran Budhisme yang perlu dijelaskan.

Sutra ini terkandung dalam kanon Mahayana, kendaraan Bodhisatva, dan “berbicara-sendiri” — dihantarkan oleh Sang Buddha tanpa ditanya terlebih dahulu.

Sutra ini memampukan mahluk-mahluk indriawi dengan banyak hambatan-hambatan karmik yang hidup dalam Zaman Pengakhiran-Dharma melakukan kenaikkan langsung menuju pencerahan tanpa pernah kembali.

Jadi dimasa mendatang ketika semua sutra musnah, hanya Sutra Amitabha inilah yang akan tetap bertahan untuk zaman selanjutnya, untuk membawa pembebasan kepada mahluk-mahluk indriawi dalam skala yang besar.

Sutra Amitabha adalah obat untuk segala penyakit. Sutra ini berada diluar kenisbian, fusi yang sempurna, dengan kekuatan yang tak terperikan. Bungarampai mistik dari Sutra Ornamen Bunga (Avatamsaka), intisari rahasia dari Sutra Teratai, ajaran-ajaran pokok dari pikiran semua Buddha, kompas dari semua milyaran praktek para Boddhisatva. – tidak ada satupun yang berada diluar sutra ini. Jika saya ingin memuji panjang lebar, akhirnya tetap saja tidak akan berkesudahan. Barang siapa yang bijaksana harus mengetahui sutra ini untuk dirinya sendiri.

CATATAN KAKI:
8. Penglafalan dengan pikiran lurus. Konsep ini difahami dalam dua cara. Bagi Patriark Chih-i, Suhu Ou-i dan lainnya dari tradisi T’ien-t’ai, Zen dan Avatamsaka, ini setara dengan pemusatan pikiran dan samadi. Bagi Patriark Surga Barat seperti Tao-ch’o dan Shan-tao, difihak yang lain, ini merujuk kepada penglafalan dengan keimanan tertinggi terhadap Buddha Amitabha dan Surga Barat. Walaupun kedua konsep pada pokoknya sama (seseorang tidak bisa menglafalkan dengan keimanan tertinggi tanpa masuk kedalam keadaan pikiran yang terpusat atau keadaan samadi) perbedaan ini bisa berguna dan berkeupayaan banyak bagi praktisi-praktisi pemula.

9. Kutipan teks asli dalam bahasa Inggrisnya adalah sebagai berikut:
…..The powerful function of the Amitabha Sutra should not be mentioned on the same day as the [far more pessimistic teaching] that a correct causal basis is only a stepping stone out of the sensory world, which must be cultivated lifetime after lifetime before you can expect enlightenment. How can Zen Buddhists and Scriptural Buddhists fail to consider this?

SELESAI.

Beberapa praktek tenung yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia, khususnya bangsa Timur Kuno antara lain :
Extispicy : Melihat organ isi perut hewan dalam meramal suatu kejadian
Leconomancy : Meramal lewat cairan atau air
Belomancy : Tenung lewat panah
Rhabdomancy : Tenung dengan alat tongkat
Pyromancy : Api
Necromancy : Melalui sarana roh orang mati
Astrology : Konstelasi bintang
Augury : Burung
Kleromancy: Melalui tindakan undi
Oneiromancy : Melalui mimpi
Ada yang membagi tenung menjadi dua macam, yaitu tenung induktif seperti praktek di atas dan tenung intuitif, termasuk di dalamnya penglihatan para nabi.

Iklan

Jampi-Jampi Merseburg

Jampi-Jampi Merseburg

Jampi-jampi Merseburg (Bahasa Jerman: die Merseburger Zaubersprüche) adalah dua mantra, ajimat, atau jampi-jampi dari abad pertengahan yang ditulis dalam bahasa German Tinggi Kuno. Mereka adalah satu-satunya contoh yang diketahui akan kepercayaan pagan Jerman yang diawetkan dalam bahasa ini. Mereka ditemukan pada 1841 oleh Georg Waitz , yang menemukanya di dalam naskah teologi dari Fulda, ditulis pada abad kesembilan Atau kesepuluh , walaupun masih ada beberapa pertimbangan tentang tanggal dari ajimat itu sendiri. Sang naskah (Cod. 136 f. 85a) telah disimpan di perpustakaan di Gedung Pertemuan Gereja di Merseburg, oleh karena itu dinamakan Jampian Merseburg.

Bentuk
Setiap ajimat dibagi menjaid dua bagian, mukadimah yang memberitakan cerita dari sebuah kejadian mitologi, dan mantra yang sebenarnya dalam bentuk analogi sihir (sama seperti sebelumnya… demikian juga sekarang…). Dalam bentuk baitya, mantra ini adalah sebuah jenis transisional. Maksudnya baris menunjukkan tidak hanya aliterasi tetapi juga ruma seperti yang ada pada sajak Nasrani dari abad kesembilan.
Sejarah
Di antara suku Jermanik awal yang belum melek huruf, jampi-jampi mempunyai fungsi “membuat menjadi bermanfaat, melalui kata mengikat, kuasa sihir yang membuat orang ingin melayani mereka”. Jampi-jampi ini bertahan hidup dalam jumlah besar, terutama dari daerah berbahasa Jermanik. Akan tetapi, semuanya tertanggal dari abad pertengahan dan karenanya menanggung cap atau menunjukkan pengaruh Kekristenan. Apa yang unik tentang Jampi-Jampi Merseburg Incantations adalah bahwa mereka masih sangat jelas mereka berasal pada zaman pra-Kristian (dari sebelum tahun 750). Mereka dituliskan untuk alasan yang tidak dikenal pada abad kesepuluh oleh seorang pendeta yang melek huruf, mungkin dari sebuah biara di Fulda, di halaman kosong yang berkenaan dari buku peribadatan, yang kemudian disampaikan ke perpustakaan di Merseburg. Sang jampi-jampi itu kemudian telah disalin dalam Tulisan Kecil Caroline pada selebaran dalam Sakramentarium Latin.
Mantra-mantra Merseburg menjadi terkenal di zaman mutakhir melalui penghargaan dari Grimm bersaudara, yang menulis sebagai berikut:
Terletak antara Leipzig, Halle dan Jena, perpustakaan besar Katedral Kapital Merseburg sering ditemui dan digunakan oleh para cendekiawan. Mereka semua telah melewati sebuah kodeks yang, jika mereka coba kaji, terlihat hanya menawarkan barang gereja yang umum, tetapi sekarang, dinilai sesuai dengan seluruh isinya, menawarkan sebuah harta yang tidak dapat disaingi perpustakaan terkemuka…
Mantra-mantra itu kemudian diterbitkan oleh Grimm bersaudara pada Perihal dua puisi yang baru ditemukan dari zaman Heroik Jerman (1842) dan sekarang diawetkan di perpustakaan dari Katedral Kapital Merseburg.
Jampi-Jampi
Pembebasan Tahnan
“Idise” (1905) by Emil Doepler.
. Jampi yang pertama adalah “Lösesegen” (perkataan pelepasan), yang menjelaskan bagaimana beberapa “Idisen” (Wanita Valkyrie) [2] membebaskan prajurit yang tertangkap pada pertempuran dari belengu mereka. Dua baris terakhir berisi kata sakti “bangun keluar dari belenggu, luput dari musuh” yang dimaksudkan untuk melepaskan para prajurit.
Eiris sazun idisi
sazun hera duoder.
suma hapt heptidun,
suma heri lezidun,
suma clubodun
umbi cuoniouuidi:

insprinc haptbandun,
inuar uigandun. Suatu waktu pergi para Idis
pergi kesini kesana
beberapa mengencangkan rantai
beberapa melumpuhkan tentara
beberapa mengendurkan
dari rantai:

“Bangun dari belenggu,
luput dari musuh!”
Peyembuhan Kuda

“Wodan Heals Balder’s Horse” (1905) by Emil Doepler.
A Scandinavian C-bracteate (Seeland-II-C, from AD 500) often viewed as a depiction of Odin healing his horse.
Phol (kemungkinan nama lain dari Baldr) ) bersama Wodan (Odin) ketika kuda Baldr terkilir ketika berlari di tengah hutan (holza). Untuk menyembuhkannya Odin berkata “Tulang ke tulang, darah ke darah, tungkai ke tungkai seakan-akan mereka terrekat”. Gambaran ditemukan di Brakteat Jerman zaman Migrasi sering dilihat sebagai Odin meyembuhkan kuda. . Tidak semua nama-nama tersebut dapat diidentifikasi dengan pasti. Namun, watak yang dapat diidentifikasi secara jelas adalah “Uuôdan” (Wodan, Wotan, Odin) dan “Frîia” (Freyja atau Frigg). Uolla telah dihubungkan ke Fulla, yang dijelaskan pada abad ke-13 pada prosa Edda sebagai dewi kecil dan dari Frigg. Sunna disebutkan, meskipun dia saudaranya Sinthgunt tidak ditemukan.
Phol ende uuodan
uuorun zi holza.
du uuart demo balderes uolon
sin uuoz birenkit.
thu biguol en sinthgunt,
sunna era suister;
thu biguol en friia,
uolla era suister;
thu biguol en uuodan,
so he uuola conda:
sose benrenki,
sose bluotrenki,
sose lidirenki:
ben zi bena,
bluot zi bluoda,
lid zi geliden,
sose gelimida sin. Phol dan Wodan
Pergi ke hutan
Disana lalu kuda Baldr
Kakinya terkilir
lalu berujar
Sintgunt,
Sunna saudarinya,
lalu berujar Frija
Volla saudarinya,
lalu berujar Wodan,
seperti yang ia ketahui baik.

“Jadi tulang bergeser
Jadi darah bergeser
Jadi tungkai bergeser
Tulang ke tulang
Darah ke darah
Tungkai ke tungkai
Bagai terekat”
Adaptasi
Banyak musisi lagu cadas Jerman terinspirasi dari Jampi-Jampi Merseburg, walau naskah aslinya sendiri tidak mempunyai nada dan belum tentu sebuah lagu beberapa lagu di buat, diantaranya:
• Ougenweide, Merseburger Zauberspruch 1 auf der LP „All die weil ich mag“ (1974),
• Corvus Corax, Merseburger Zauberspruch 1 auf der LP „Ante Casu Peccati“ (1989),
• In Extremo, Merseburger Zauberspruch 1 auf der CD „Verehrt und angespien“ (1999), Merseburger Zauberspruch 2 auf der CD „Sünder ohne Zügel“ (2001).
• Conventus Tandaradey, Merseburger Zauberspruch 1 im Liederheft „Liebe und Tod“ (1998) und auf dem Video „Conventus Tandaradey“ (2000).
• Tanzwut, Merseburger Zauberspruch 1 und 2 auf der CD „Tanzwut“ im Lied „Auferstehung“ (1999): Die Strophe besteht aus Wodans Besprechungs-Teil aus dem Merseburger Zauberspruch 2 in neuhochdeutscher Übersetzung, der Refrain aus dem Merseburger Zauberspruch 1
• Helium Vola, Lösespruch (Erster Merseburger Zauberspruch) auf der CD „Helium Vola“ (2001)
• Saltatio Mortis, Der Merseburger Zauberspruch 1 auf der CD „Heptessenz“ (2003),
• eirisproject, Eiris sazun idisi und Phol ende Uuodan auf der CD „Germanic Mantra“ (2007),
• XIV Dark Centuries, MZ1 als Refrain im Lied „Skiltfolk“, MZ2 entspricht den Lyrics von „Bardensang Balderes Volon“ auf der CD “Skithingi” (2006)
• Tibetréa, Merseburger Zauberspruch 1 mit eigener Melodie auf der EP „Skalli“ (2008)
• Eisenfunk greifen die von Ougenweide und Tanzwut etablierte Melodie auf die Merseburger Zaubersprüche im Titel „Impact“ der CD „Schmerzfrequenz“ (2009) auf.
• Adivarius greifen den MZ1 auf, zu hören auf der CD “Spiegelwelt” (2009) im Titel “Merseburger Zauberspruch”.

ilmu leak

ilmu leak

Fenomena ttg LEAK di Bali selalu menarik utk dibahas. Saya mendapatkan sebuah knowledge yg luar biasa dari seorang kawan yg mempelajari dan meneliti ttg leak ini.
Berdasarkan kitab-kitab dan pengamatan, kawan yg juga seorang dosen ini menceritakan kpd saya apa dan bagaimana leak itu sebenarnya. Leak adalah kemampuan (siddhi) spiritual yg sangat tinggi.

Leak dibagi menjadi dua berdasarkan cara memperolehnya, yaitu Leak Panganugerahan dan Leak Papalajahan.
Leak Panganugerahan adalah kemampuan spiritual yg diberikan oleh Tuhan sbg gift (hadiah lahir) karena ybs memiliki karma yg sangat baik dalam kehidupan sebelumnya.Leak Papalajahan adalah kemampuan yg didapat dgn cara belajar meditasi, tapa semadhi atau yoga.

perbedaan dari ke 2 jenis pengleakan ini:
Orang yg menguasai Leak Panganugerahan mampu menghidupkan sinar Tuhan dlm tubuhnya yg diistilahkan dgn api dan mampu memadamkannya dgn unsur2 cair yg ada dlm tubuhnya juga. Biasanya unsur2 cair ini akan keluar dalam bentuk ludah/air liur/dahak. Dia juga mampu menyatukan unsur bhuana alit (tubuh manusia) dgn bhuana agung (alam semesta). Dgn demikian ybs mampu menguasai semua makhluk2 halus (jin, setan,dll) yg ada di dalam tubuh manusia dan di alam semesta dalam genggamannya.

Sedangkan orang yg menguasai Leak Papalajahan hanya mampu menghidupkan api saja tanpa mampu memadamkannya. Dia juga tdk mampu menguasai makhluk2 halus yg ada di alam semesta dalam dirinya, tapi bisa memerintahkan mereka dgn jalan memberikan seperangkat sesajen tertentu utk menyenangkan makhluk2 halus, karena sesajen2 ini adalah makanan buat mereka. **
sesungguhnya didalam diri setiap manusia terdapat makhluk2 halus yg sama antara satu manusia dengan manusia lainnya, dan makhluk2 halus ini adalah sarana pendukung dalam meng-applikasi-kan kemampuan peng-leak-an dalam kehidupan nyata manusia**

Bagaimana cara mengetahui yg mana leak panganugerahan dan mana leak papalajahan?. Contoh yg paling gampang adalah bagaimana leak ini digunakan utk menyakiti dan mengobati.
Di Bali, orang yg menguasai leak secara umum berprofesi sbg Balian (dukun), walaupun tidak semuanya. Jika kita berada disuatu tempat dan tiba2 hawa terasa panas, kemudian tercium bau busuk bebarapa saat, yg kemudian disusul bau harum, itu tandanya ada yg sedang menghidupkan leak-nya.
Balian yg ilmu leaknya panganugerahan, ketika dia berniat menyakiti seseorang katakanlah agar perutnya melintir seperti ditusuk jarum, niat itu otomatis akan menghidupkan api berupa penyakit yg ada dibagian perutnya. Diperintahkanlah makhluk halus yg menempati posisi di lambung sang balian utk mentransfer ke lambung target (korban). Karena sejatinya makhluk halus disemua tubuh manusia sama >>>> di balian>>>> di korban>>>>>>di orang lain), aksesnya tembus dan terjadilah koneksi yg tidak bisa dikontrol oleh korban. Si korban-pun akhirnya menderita sakit perut yg tidak karuan. Balian yg memiliki leak panganugerahan juga bisa menyembuhkan penyakit. Begitu melihat penyakit pasien yg terkena api peng-leak-an, balian ini langsung tahu>>>>>ada api berupa penyakit ini yg dikontrol oleh makhluk halus 😦 Dia akan memadamkan api dan mantra tsb dgn ludah/dahak-nya sbg sarana. Yakin langsung sembuh deh.

Kalau balian berdasarkan leak papalajahan, dia bisa menghidupkan api berupa penyakit, tapi tidak bisa mentransfernya ke korban. Karena itu dia memakai jasa makhlus halus yg ada di alam semesta sbg kurir dan pelaksana teknis dilapangan. Sang kurir ini akan minta sesajen tertentu dan diberikan dalam waktu tertentu sesuai perjanjian dgn si balian tadi sbg imbalan untuk mentransfer api penyakit tadi. Terjadi deal, sesajen diberikan, kurir menjalankan tugas, korban-pun jadi sakit. Jika sesajen tidak diberikan sesuai waktu perjanjian makhluk halus tadi akan meninggalkan tubuh korban dan otomatis penyakitnya sembuh. Proses pemberian ulang sesajen tadi adalah charging energi penyakit atau istilah Bali-nya “ngacepin”>>>>> Kalo balian yg leaknya papalajahan dalam menyembuhkan orang sakit menggunakan cara yg sama spt membuat penyakit. Setelah mendeteksi sumber penyakit, dia membuat sesajen tertentu sbg sarana untuk membuat sang kurir (makhluk halus) itu merasa tidak betah dan kabur dari posisi dimana penyakit itu ditaruh. Karena dia juga berperan sbg pelaksana teknis dilapangan, otomatis penyakit tadi tidak ada yg mengerjakan, maka pasien dikatakan sembuh. Cuman bolak-balik begitu saja, so simple.
Dalam perkembangannya, leak ada yg disebut Leak Temon-temon,
leak yg diwariskan oleh seseorang kpd orang lain. Proses transferisasi kemampuan peng-leak-an ini terjadi menggunakan sarana ludah, biasanya diberikan saat pewaris masih bayi. Leak temon-temon oleh yg mewariskan telah di-setup sedemikian rupa, sehingga tingkat kemumpunian ilmunya berjenjang dalam jangka waktu tertentu. Misal pada saat bayi tadi berumur 5 tahun, yg akan “hidup”adalah kekuatan A, umur 10 tahun akan hidup kekuatan B, dstnya. Biasanya sang pewaris tidak tahu kalau dirinya memiliki kemampuan peng-leak-an. Kalau ada orang yg mencoba menyakiti dia dgn kemampuan peng-leak-an, pasti akan mental dgn sendirinya. Ini disebabkan karena warisan leak yg diterima bereaksi secara otomatis dalam diri pewaris.
Ada juga yg disebut Leak Bali-balihan
yaitu leak yg didapat dgn cara membeli pada orang yg menguasai peng-leak-an dengan maksud-maksud tertentu (biasanya untuk menyakiti orang lain karena iri atau benci). Leak jenis bali-balihan ini yg umum terjadi di Bali. Ada orang sukses, tiba-tiba terserang penyakit yg tidak terdeteksi secara medis, bisa jadi kena serangan leak yg tidak kelihatan ini. Pelakunya sudah pasti orang yg iri sama dia kemudian membeli dari balian yg sanggup dan mau untuk itu. Makanya sekarang profesi balian sangat menggiurkan, menjual penyakit dgn bayaran yg cukup gede.
Satu lagi leak yg nge-trend adalah Leak Malih Rupa atau berubah wujud.
Sumbernya dari leak papalajahan kemudian diperjual-belikan (leak bali-balihan). Dengan menggunakan sesajen dan mantra tertentu, orang yg menjalankan leak malih rupa akan
“terlihat” berwujud lain seperti monyet, kambing lidah panjang, mobil berkaki dan wujud2 yg aneh bin menyeramkan lainnya. Sebenarnya dia tidak berubah wujud, tapi mata yg melihat tertipu karena leak jenis malih rupa bertujuan memata-matai (spionase) musuh dan mengelabui musuh. Orang yg tidak menguasai peng-leak-an akan tertipu pastinya, sedangkan yg mempunyai peng-leak-an tidak bisa dikelabui. Makanya ada orang yg melihat wujud-wujud aneh2 itu dan ada yg melihat wujud manusianya. Jangan takut kalau tiba-tiba disuatu tempat kita melihat leak malih rupa ini, karena dia tidak bisa menyakiti melainkan sedang memata-matai saja. Namanya juga manusia, kalau udah melihat wujud yg aneh-aneh, apalagi malam hari ditempat sepi :-swwiiiihhh:((.bawaanya ambil jurus langkah seribu alias kabur..
Kesimpulannya bahwa leak itu bukanlah sesuatu yg jelek, melainkan suatu kemampuan spiritual yg sangat tinggi. Baik atau jahatnya tergantung kepada niat orang yg memiliki kemampuan ini. Semoga informasi yg langka (karena saya juga baru tahu dan terbuka pikirannya) berguna dan bermanfaat biar tidak mengaburkan makna leak sebenarnya.

Filosofi Leak Ngendih di Bali part I Batu endih Leak

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali.
Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat.
Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.
Tidak gampang mempelajari ilmu leak.
Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak.
Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.
Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.
Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar.
Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia.
Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.
Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.
Namun esensinya sama dalam penerapan.
Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti.
Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak.
Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak.
Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis.
Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam.
Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.

Mengapa ditempat angker?
Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi.
Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya.
Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara.
Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak.
Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri.
Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya.
Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai).
Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya. Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya.
Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.
Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam.
Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.

Ilmu leak tidak menyakiti.
Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas.
Bersikap sewajarnya saja.
Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan.
Endih ini tidak menyebabkan panas.
Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda.
Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah

Filosofi Leak Ngendih di Bali part II

Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak.
Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).ima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
– Si adalah mencerminkan Tuhan
– Wa adalah anugrah
– Ya adalah jiwa
– Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
– Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura).Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut.Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak.

Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.
Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu)
Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.
Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.
Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan).
Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat : ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah.
Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu.
Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.
Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian?
Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.
Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra.
Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat.

Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.
Leak barak (brahma).
Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah.
Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil.
Ilmu tersebut bisa membuta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan.
Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.
Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang.
Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.

Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).
Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.
Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab.
Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla.
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Petapakan Ida Betara Rangda Ngereh

P etapakan adalah topeng dalam wujud sosok makhluk magis yang meyeramkan, terbuat dari kayu tertentu, dibentuk sedemikian rupa sebagai simbol unsur niskala (tidak nampak) dari adanya Ida Betara Rangda.
Ketakson berasal dari kata taksu mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga menjadi kata ketaksuan dan orang Bali lebih mudah mengucapkan dengan kata ketakson yang artinya kesaktian dari proses sakralisasi
Panungrahan artinya pemberian dari Dewa
Petapakan Ida Betara Rangda itu, diyakini tidak saja mampu mengusir gerubug [wabah penyakit] yang pada musim-musim tertentu datang mengancam penduduk Bali, namun juga diyakini dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang dan aman dari ancaman niskala itu. Rasa aman semacam itu menjadi penting, meskipun masyarakat Bali telah menjadi masyarakat modern dan berpendidikan tinggi. Aktualisasi dari rasa aman dari ancaman niskala ini adalah di setiap desa, atau Pura mesti ada Petapakan Ida Betara, sebagai tanda atau kendaraan adanya Ida Betara Rangda, yang jika dipahami dengan baik adalah sisi lain dari kepercayaan akan kemahakuasaan Siwa. Dalam kaitan dengan dunia mistik Hindu Bali, pemujaan terhadap Siwa dilakukan dengan banyak cara, namun terfokus pada Durga sebagai saktinya Siwa. Di bagian-bagian tertentu negeri India, mungkin Siwa tidak sepopuler di Bali, mungkin Wisnu yang lembut dan kebaikannya tidak diragukan lebih popular, atau mungkin Krisna atau Rama. Menarik diteliti mengapa Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Pralina yang bertugas menghancurkan itu justru lebih popular daripada Wisnu atau Brahma yang lembut.

Dalam kisah cerita Calonarang diungkapkan, setelah Raja Airlangga memutuskan untuk menyerang kediaman Calonarang Janda Dirah, maka janda penekun ilmu hitam ini mengajak murid-muridnya ke kuburan untuk menghadap Dewi Durga. Untuk itu, janda dari Dirah itu harus menyiapkan sarana dan prosesi menyambut kedatangan Dewi Durga. Setelah sarana upacara dan prosesi pemujaan berlangsung, muncullah Dewi Durga dalam wujud yang menyeramkan, mulut menganga, taring mencuat dan saling bergesekan, rambut mengombak, membentangkan kain selendang pada susu, penuh hiasan, letak kedua kakinya miring, memakai kain setengah badan, matanya membelalak bagaikan matahari kembar, terus menerus mengeluarkan api, kemudian dengan suara berteriak menanyakan apa tujuan walu ing girah (janda dari girah atau dirah) menghadap.
Citra perwatakan Dewi Durga yang demikian seram itu, kelak muncul dalam rangda yang sesungguhnya merupakan hasil ciptaan para seniman Bali. Entah siapa yang menjadi pelopor, tampaknya seniman pertama yang menciptakan. Sosok rangda di Bali tidak dikenal, sosok rangda muncul di sejumlah desa di Bali sebagai wujud aktualisasi rasa magis masyarakat Bali. Kelahirannya itu, agaknya tidak sekedar melewati proses penciptaan yang biasa, mesti mengacu pada petunjuk mitos atau lontar tertentu. Lontar-lontar (daun pohon lontar yang berisi aksara suci) itu memberi petunjuk mengenai sah tidaknya sebuah petapakan untuk mendapatkan anugrah ketakson. Sementara itu, mitos-mitos yang diciptakan berfungsi untuk menambah bobot magis petapakan tersebut. Cerita-cerita mengenai makhluk-makhluk magis yang seram disampaikan oleh mitos-mitos itu, dipahami oleh penduduk Hindu Bali sebagai ancaman niskala pada kehidupan sehari-hari, jika petunjuk-petunjuknya tidak dipenuhi. Dalam mitos-mitos itu, selalu disebutkan bahwa makhluk-makhluk magis itu menyebarkan wabah penyakit pada musim-musim tertentu. Tidak heran, bila kemudian penduduk Bali merasa takut terhadap ancaman wabah penyakit itu, lalu seniman sakral Bali menciptakan mitos baru yang merupakan perwujudan dari sosok makhluk-makhluk magis itu. Salah satu ciptaan itu adalah Petapakan Ida Betara Rangda.

Pasti ada unsur yang bertugas mentrafsormasikan kesadaran mistik orang Bali dari generasi ke generasi sehingga kesadaran mistik tersebut tetap hidup dan bertahan dalam memori penduduk Bali. Walaupun tidak harus dikatakan bahwa kesadaran mistik itu, bergerak dan hidup di dalam memori semua penduduk Bali, namun tidak dapat dipungkiri kalau pada sebagian orang Bali kesadaran mistik itu masih hidup, muncul dan tenggelam. Artinya, sebagian penduduk Bali mungkin tidak lagi memperhatikan dan terlibat di dalam prosesi untuk menghidupkan kesadaran mistik itu, namun tidak dapat ditolak kalau kesadaran mistik itu tetap hidup di dalam memori mereka. Hal ini, misalnya tampak pada sedikit orang yang masih menghidupkan tradisi ngereh, namun bukan berarti kesadaran mistiknya telah terkikis. Inilah Keajaiban Bali.
Unsur perekat macam apa yang mampu mempertahankan kesadaran purba tersebut? kalau saja tidak ada teks, lebih khusus teks cerita Calonarang, yang dengan rajin disalin dan dibuatkan teks-teks baru mengenai makhluk-makhluk magis yang mengancam keselamatan penduduk Bali bila terjadi dis-harmoni terhadap mereka pastilah “rasa takut” itu berkurang. Baiklah, kalaupun berpikir positif, ancaman secara niskala semacam itu, ternyata juga membuat seniman [undagi] Bali menjadi kreatif dan karya-karya mereka memperkaya khasanah kebudayaan Bali. Persoalan kemudian penduduk Hindu Bali menjadi bertambah kerepotannya ketika karya-karya itu harus mendapatkan anugrah ketakson atau kesaktian melalui proses sakralisasi. Jika tidak, perasaan terancam secara niskala itu sangat mengganggu irama hidup penduduk Bali.

Dis-harmoni tidak boleh terjadi. Berbagi upakara harus diciptakan dan dipersembahkan, bukan untuk menghancurkan makhluk- makhluk magis itu, melainkan untuk dikembalikan ke wilayahnya, somnya (dinetralkan). Hal ini berarti, kedatangan wabah penyakit adalah akibat dari dis-harmonis tersebut, dan dis-harmonis terjadi karena ada yang melewati atau melanggar batas-batas wilayah masing-masing. Batas-batas itu bisa niskala, bisa juga sekala. Bagi yang melanggar batas-batas, sekali lagi, tidak harus dihancurkan atau dibunuh, melainkan dikembalikan ke alam semula, atau diberi sanksi agar kembali ke wilayah semula.

Puncak harmonisasi antara makhluk- makhluk mitologis itu dengan penduduk Hindu Bali adalah saling memberi kekuatan atau kesaktian, maka prosesi ngereh merupakan bukti adanya kesadaran mistik itu. Petapakan yang mendapatkan ketakson, merupakan bentuk presentasi dari kesadaran mistik Hindu Bali tersebut.
Agar petapakan itu dapat menjalankan fungsinya sebagai penangkal ancaman niskala-mistik itu, disamping dapat mengayomi penduduk dari ancaman niskala itu, maka petapakan itu harus sakti, memiliki taksu, dan agar sakti harus melalui proses sakralisasi. Sakralisasi ini sudah mulai dijalankan pada saat mencari kayu yang akan dijadikan bahan petapakan itu. Umumnya, kayu yang digunakan bahan petapakan, adalah jenis kayu yang dipercaya memiliki kekuatan magis, antara kayu pule, kapuh (rangdu), jaran, kapas, waruh teluh, dan kepah. Masing-masing jenis kayu ini ternyata memiliki mitologinya sendiri, yang narasinya berusaha menggambarkan keunikan dan kemagisan kayu-kayu tersebut. Sakralisasi juga tampak pada hari baik yang harus dipilih saat mulai mengerjakan petapakan itu, yang disebut hari kilang-kilung menurut kalender Bali. Sakralisasi ini masih harus dijalankan dalam beberapa tahapan, antara lain tahapan pasupati, ngatep, mintonin dan akhirnya ngerehang.

Apa sesungguhnya ngereh itu? Beberapa lontar memang ada memberi petunjuk mengenai ngereh, antara lain lontar Canting Mas dan Sewer Mas Widi Sastra, Ganapati Tattwa dan lontar Pengerehan. Lontar-lontar tersebut ternyata memberi penjelasan mengenai ngereh dalam perspektif yang luas sehingga ada kesan bahwa ngereh hanyalah prosesi mistik yang sangat rahasia, sebab dilakukan di kuburan pada tengah malam, adalah pengertian yang sempit. Meskipun demikian, pengertian ngereh yang sempit inilah yang hidup dalam benak masyarakat Hindu Bali.
Ngereh sebagai prosesi ritual-mistik di kuburan dan dilakukan pada tengah malam adalah tahapan akhir dari proses sakralisasi Petapakan Ida Betara Rangda. Untuk hal pertama, setelah Petapakan dipasupati oleh seorang pendeta (orang suci), maka diadakan ritual ngereh untuk mendapatkan Sakti Panca Durga (lima kesaktian Durga). Apapun istilah yang digunakan untuk menyebut kedatangan roh atau kekuatan sakti itu, yang jelas proses ritual-mistik inilah yang unik dan sangat rahasia. Kerahasiaannya, antara lain dapat dilihat dari tidak banyaknya penduduk yang terlibat dalam prosesi ritual-mistik itu, bagi yang ingin melihat harus dari jarak tertentu, sehingga pengalaman mistik pelaku ngereh adalah pengalaman sedikit orang yaitu orang yang bisa hidup di alam supranatural Bali.

Prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda Diperlukan Tiga Tingkatan Upakara
Ngereh biasanya berhubungan dengan Upacara Sakral berupa : Pasupati, Ngatep dan Mintonin. Ngereh artinya memusatkan pikiran, dengan mengucapkan mantra dalam hati, sesuai dengan tujuan yang bersangkutan. Pasupati artinya kekuatan dari Dewa Siwa. Ngatep artinya mempertemukan dan Mintonin adalah bahasa Jawa Kuna yang artinya menampakkan diri.
Dalam prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda diperlukan tiga tingkatan upakara seperti ; Prayascita dan Mlaspas, Ngatep dan Pasupati, Masuci dan Ngerehin.

Pengertian ketiga tingkatan upacara sakralisasi proses Ngereh Petapakan Betara Rangda diatas adalah sebagai berikut : Tingkat Prayacitta dan Melaspas. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghapuskan noda baik yang bersifat sekala maupun niskala yang ada pada kayu dan benda lain yang digunakan untuk pembuatan Petapakan Betara Rangda. Noda ini dapat saja ditimbulkan oleh sangging (seni ukir) ataupun bahan itu sendiri. Dengan Upacara Prayascitta diharapkan kayu atau bahan itu menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Upakara tersebut dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Sapujagat.

Ngatep dan Pasupati dapat dilakukan oleh Pemangku (orang suci) dan Sangging (seni ukir). Dengan upacara ini terjadilah proses Utpeti (kelahiran) terhadap Petapakan Betara Rangda. Mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan oleh penyungsungnya (Pemujanya). Tingkat Masuci dan Ngrehin, merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud Betara Rangda menjadi suci, keramat dan tidak ada yang ngeletehin (menodai). Tujuan upacara adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan. Dengan demikian diharapkan Petapakan Betara Rangda mampu menjadi pelindung yang aktif. Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat yaitu di pura dan di kuburan. Apabila dilakukan di kuburan yang dianggap tenget (angker), maka diperlukan tiga tengkorak manusia yang berfungsi sebagai alas duduk bagi yang memundut (mengusung). Begitu pula bila dilakukan di pura maka tengkorak manusia dapat diganti dengan kelapa gading muda. Upacara ini biasanya dilakukan pada tengah malam terutama pada hari-hari keramat seperti hari kajeng kliwon menurut kalender Bali. Sebagai puncak keberhasilan upacara ini adalah adanya kontak dari alam gaib yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh tepat pada pemundutnya (pengusungnya). Si pemundut (pengusung) yang kemasukan sinar itu akan dibuat kesurupan (trance) dan pada saat itu pula si pemundutnya (pengusungnya) menari-nari. Kejadian lain yang menandakan upacara ini berhasil adalah apabila Petapakan Betara Rangda bergoyang tanpa ada yang menyentuhnya.

Jadi ritual Ngereh itu adalah peristiwa kesurupan, yang sengaja dibuat karena untuk membuktikan bahwa “topeng” yang diupacarai sudah memiliki kekuatan gaib untuk keselamatan masyarakat penyungsungnya (Pemujanya).

Tehnik Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda

Tempat pelaksanaan ngereh biasanya di tengah-tengah setra (kuburan) pada hari tilem (gelap) dan hari keramat di malam hari. Jam pelaksanaannya sekitar jam dua puluh tiga yang diawali dengan matur piuning (Pemujaan), ngaturang caru (menghaturkan sesajen yang ditaruh diatas tanah ) dan nyambleh kucit butuhan (memotong jantan yang masih muda).

Orang yang ditugaskan ngereh duduk berhadapan dengan Petapakan Ida Betara Randa. Lidah Petapakan Ida Betara Rangda dilipat ke atas kepalanya. Diantara orang yang ngereh dengan Petapakan Ida Betara Rangda itu ditempatkan upakara, yang pokok adalah getih temelung (darah dari **** jantan) yang ditaruh pada takir (daun pisang). Pengereh bersemedi, sedangkan rekan-rekannya yang lain berjaga-jaga di sekitar setra (kuburan). Malampun bertambah larut . suasana magis mulai terasa ditambah desiran angin semilir membuat bulu kuduk berdiri.
Untuk menjadi Pengereh diperlukan kesiapan mental, keberanian dan kebersihan pikiran dan badan serta yang paling penting adalah lascarya (pasrah, tulus, ikhlas). Tidak boleh sesumbar atau menambah serta melengkapi diri dengan kekuatan-kekuatan lainnya seperti : sesabukan (Jimat kesaktian). Adanya benda-benda asing di luar kekuatan asli yang berada di badan akan mengganggu masuknya kekuatan Ida Bhatara.

Gegodan (gangguan niskala) mulai mengetes keteguhan hati pengereh, apakah dia akan bisa bertahan dan berhasil atau malah kabur yang berarti gagal. Beberapa jenis gegodan, antara lain :

1. Semut yang mengerubuti sekujur tubuh pengereh dan semut ini besar-besar, jika tidak tahan maka pengereh akan menggaruk-garuk seluruh tubuhnya maka gagallah dia.
2. Nyamuk yang menggigit serta menyengat muka sampai terasa sakit, rasa-rasanya muka akan hancur, jika tidak tahan pengereh akan mengusap atau menepuk-menepuk mukanya dan gagallah dia.
3. Ular besar yang melintasi paha pengereh bergerak perlahan yang terasa geli, dingin dan mengerikan. Jika pengereh geli, ketakutan maka gagallah dia. 4. Celeng (****) yang datang menguntit pantat pengereh yang sedang khusuknya bersemedi jika takut dan merasa terusik, gagallah si pengereh itu.
5. Angin semilir yang membawa Aji sesirep, jika tidak waspada akhirnya ketiduran, gagallah dia.
6. Kokok ayam dan galang kangin (bahasa bali) artinya suasana hari mendekati pagi diiringi dengan ayam berkokok, jika Pengereh terpengaruh dan menghentikan semedi karena merasa hari sudah pagi, maka gagallah dia.
7. “Bikul nyuling” (tikus meniup seruling) menggoda, sehingga membuat si pengereh tertawa karena lucu melihat tikus meniup seruling, maka gagallah dia.
8. “Talenan (alas untuk memotong daging) bersama blakas (pisau besar)” yang datang dengan bunyi….tek….tek….tek….dan akan melumat si pengereh, langsung dicincang. Kalau sudah seperti ini si pengereh harus kabur menyelematkan diri, karena kehadiran talenan bersama blakas ini adalah ciri kegagalan.
9. Kedengaran bunyi gemerincing…..cring…….cring, cring,cring,cring, kalau sudah begini berarti sudah gagallah prosesi ngereh ini, dan si pengereh tidak perlu lagi melanjutkan dan harus secepatnya angkat kaki menyelematkan diri. Hal ini menandakan akan hadir Banaspati Raja (Raja hantu) ancangan (anak buah) Ida Betara Bairawi yang berkuasa di Setra (kuburan).

Kalau yang disampaikan diatas adalah kegagalan ngereh, maka keberhasilannnya adalah ditandai dengan adanya gulungan api, atau tiga bola api yang datang menghampiri kemudian masuk ke petapakan Ida Betara Rangda. Jika sudah masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda, ditandai dengan menjulurnya lidah Petapakan Ida Betara Rangda yang semula diatas kepalanya kemudian turun berjuntai mengarah ke takir (daun pisang ) yang berisi getih temelung (darah **** jantan) dan menyedotnya sampai habis, selanjutnya si pengereh akan kerauhan (trance) kemudian masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda dan ngelur (berteriak) menggelegar; akhirnya tangkil (datang) ke Pura Dalem, permisi lanjut menuju pura tempat peyogan (persemadian) Ida Betara Durga.
Mengenai 9 jenis gegodan (gangguan) itu tidak terjadi sekaligus kesembilannya pada saat ritual ngereh. Gangguan (gegodan) yang terjadi bisa 1 atau 2 atau 3 atau 4 dan seterusnya tergantung situasi dan kondisi serta keberadaan si pengereh, kelengkapan upacara dan kemungkinan penyebab lainnya.

Petapakan Ida Betara Rangda diisi Kekuatan Sakti Panca Durga

Dalam ngerehang pun memanggil Panca Dhurga untuk mengisi kekuatan rangda. Untuk upacaranya perlu dibuatkan segehan agung (sesajen besar yang ditaruh di atas tanah) beserta perangkatnya yang sesuai dengan lontar pengerehan.
Adapun yang dimaksud dengan Sakti Panca Durga adalah lima macam kekuatan Durga yaitu :Kala Durga, Durga Suksemi, Sri Durga, Sri Dewi Durga, dan Sri Aji Durga. Lima macam kekuatan Durga inilah yang menguasai ilmu arah mata angin di dunia niskala (tidak nampak) dan bisa menimbulkan kemakmuran bagi umat manusia maupun bencana apa bila dilanggar batas-batas wilayahnya.
Bali memang tidak bisa lepas dari upacara keagamaan yang dilakukan masyarakatnya, sehingga menambah kemagisan pulau ini, begitu halnya dengan upacara ngereh atau pengerehan yang lazim dilakukan oleh masyarakat dalam rangka menghidupkan sesuatu yang ada hubungannya dengan wahana atau petapakan Ida Betara Rangda di Pura.

Dalam ajaran Agama Hindu di Bali sarat dengan lokal genius yang berdasarkan sastra-sastra Agama, termasuk diantaranya ngereh. Dalam lontar Kanda Pat, ngereh atau pengerehan erat kaitannya dengan Petapakan Ida Betara Rangda yang berupa benda yakni tapel rangda (topeng rangda).
Sedangkan ngerehan rangda sesuai dengan Lontar Pengerehan, Kanda Pat, bahwa ngerehang rangda mempunyai kekhususan sendiri. Sebab ini berhubungan dengan sifat magis yang dimiliki oleh rangda itu sendiri, karena rangda merupakan simbol rajas (emosi) yang penuh dengan nafsu untuk menguasai. Dalam lontar Calonarang, rangda artinya janda yang memiliki nafsu tak terbendung atau kemarahan yang tak tertahankan karena dendam. Rangda sendiri merupakan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sehingga menyebabkan gejolak dalam diri kita sebagai manusia.

Rangda pengerehan dilaksanakan di setra (kuburan), karena setra (kuburan) merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bhairawi yaitu Dewa kuburan dalam lontar Bhairawa Tatwa, yang merupakan wujud dari Dewi Durga. Dalam mitologinya, disini Dewa Siwa berubah wujud untuk menemui saktinya Dewi Durga berupa rangda sehingga muncullah beberapa kekuatan yang menyeramkan untuk menguasai dunia. Inilah alasannya kenapa setra (kuburan) dipakai sebagai tempat ngerehang rangda. Karena penuh dengan kekuatan black magik. Sehingga dalam ngerehang rangda, kalau sudah mencapai puncaknya ia akan hidup. Setelah hidup rangda akan memanggil anak-anak buahnya berupa leak (setan) atau makhluk halus lainnya.

Sarana Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda Di Kuburan Berupa Pala Walung

“Sebelum ngerehan, maka disiapkan berbagai sarana dan bebantenan (sesajen sakral). Sarana yang penting tersebut adalah memohon pala walung (tengkorak manusia) sebanyak tiga buah. Untuk itu dilakukan matur piuning (pemujaan) kehadapan Ida Betara di Mrajapati. Setelah itu, sekitar jam dua belas siang jero mangku (orang suci) beserta krama (masyarakat) mencari-cari tengkorak di sekitar setra (kuburan). Pala walung atau tengkorak yang didapat tersebut kemudian dicuci dengan toya kumkuman (air suci dari air kelapa) dan ketiganya dihaturkan rayunan cenik (suguhan berupa hidangan).

“Hal lain yang perlu adalah mempersiapkan juru pundut (pengusung) ketika upacara ngereh.
“Pada hari pengerehan tersebut, juru pundut (pengusung) yang kasudi (ditugaskan) atau ditunjuk dilakukan upacara sakral di Pura Dalem. Setelah itu ngiderang (mengelilingi) gedong Pura Dalem sebanyak tiga kali. Kemudian juru pundut (pengusung) tersebut menghaturkan sembah kepada Ratu Gede Penyarikan, Mrajapati. Proses ini berlangsung sekitar jam dua puluh dua tiga puluh menit (jam 20.30 ) malam.

Pada tengah malam sekitar jam dua puluh tiga, tiga puluh menit (jam 23.30) malam, barulah Petapakan Ida Betara Rangda diikuti oleh para damuh (masyarakat penyungsung) menuju ke setra (kuburan) untuk upacara ngereh. Di sana telah disediakan banten (sesajen). Semua banten (sesajen) tersebut diastawa (dipuja) oleh jero mangku (orang suci). Di tempat tersebut ditancapkan sebuah sanggah cucuk (tempat sesajen dari pohon bambu) yang berisi sesajen sakral. Sedang Ida Betara Rangda diletakkan diatas gegumuk (gundukan tanah).
Pemundut (pengusung) kemudian duduk bersimpuh di hadapan banten (sesajen) dan prerai (muka topeng) Petapakan Ida Betara Rangda. Duduk bersimpuh dimana kedua lututnya beralaskan pala walung (tengkorak manusia), dan satu lagi di bagian pantatnya. Mencakupkan tangan memegang kuangen (sarana bunga), ngulengang kayun (konsentrasi) kehadapan Ida Betara Durga. Dihadapannya diletakkan sebuah pengasepan (tempat api). Setelah itu areal tempat ngerehan dikosongkan dari orang termasuk pemangku (orang suci). Semua berada dalam jarak yang jauh”.

Jadi pengertian ngereh pada intinya adalah Petapakan Ida Betara Rangda mesuci (membersihkan diri) di setra (kuburan). Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kesidian (kesaktian) beliau. Setelah upacara ngereh Petapakan Ida Betara Rangda selesai, kemudian pala walung yang tadinya dimohon, dikembalikan ke tempatnya semula, agar tidak ngerebeda (mengganggu atau menimbulkan hal yang tidak diinginkan).
Petapakan Ida Betara Rangda di Bali diyakini mampu mengusir gerubug (wabah penyakit) dan dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang, aman dan tentram dalam irama kehidupan umat Hindu di Bali.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

berbicara tentang adat istiadat di Bali dikaitkan dengan arus modernisasi, masih tetap ajeg dan kuat berakar di hati sanubari masyarakat Bali.
Ilmu Hitam yang di kenal dengan istilah “Pengeleakan” di bali, adalah merupakan suatu ilmu yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan segala manifestasinya dalam fungsinya untuk memprelina (memusnahkan ) manusia di muka bumi.
Di Bali Ilmu tersebut dikenal masyarakat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat.
Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati.
Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih.

Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong “Aji Wegig” yaitu aji berarti ilmu wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain. Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut “Ngiwa”.
Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.
Lontar –lontar artinya buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.
Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu

Pengleakan empat buah yaitu :

Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.
Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.
Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.

Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.
Kisah ceritanya adalah sebagai berikut :
Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).

Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.
Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, ******, ayam putih, kambing, **** betina (bangkung) dan lain – lain.
2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.
3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ibu Calonarang Terhina
Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.
Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.
Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.
Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.
Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.

Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.
Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Guns n roses