Mantra Budha

Mantra Budha

Tulisan jimat adalah sebuah bentuk sihir kuno dalam Taoisme, mirip dgn pengucapan Mantra dlm Agama Buddha. Jika org yg dianggap ahli dlm membuat simbol2 jimat tdk tahu bagaimana melakukannya dgn benar, maka makhluk halus akan mentertawakannya. Ada rahasia dlm menulis jimat supaya bisa efektif. Kuncinya adalah jgn memunculkan pikiran apapun.
Prinsip yg sama berlaku dlm Pengucapan Mantra. Beberapa org mampu secara efektif membaca Mantra. Misalnya, Air Welas Asih Agung, yg dimurnikan dgn pembacaan Mantra Welas Asih Agung/ Ta Pei Cou, bisa sangat efektif bg sebagian org, dan tdk efektif sama sekali bg org lain. Mengapa? Yg pertama tdk memiliki satu pikiran pun yg berkeliaran dr awal sampai akhir. Jika pd saat pembacaan ada satu pikiran yg muncul, Mantra akan menjadi tdk efektif. Oleh krn itu, semakin panjang Mantra, semakin sulit utk berhasil memanjatkannya. Mantra Surangama bisa sangat efektif. Namun cuma sedikit org yg mampu membacanya secara efektif. Mengapa? Kebanyakan org memiliki byk pikiran yg berkeliaran saat membaca Mantra. Dan cuma dibutuhkan satu pikiran yg berkeliaran utk membuat pengucapan Mantra kita tdk efektif.
Hal yg sama berlaku dlm pembacaan Sutra. Jika kita membaca satu kali Sutra Kehidupan Tanpa Batas tanpa adanya pikiran yg berkeliaran, itu hebat sekali!
Dr sini kita tahu bhw semakin pendek Mantra maka semakin mudah kita melafalkan dan memusatkan perhatian padanya. Membaca Namo Amitofo, jika kita msh beranggapan bhw ini jg msh terlalu panjang. Guru Lian Qi mengajarkan kita utk membaca “AMITOFO” saja. Jika membaca ini tanpa satu pikiran apapun, maka pembacaan itu akan efektif. Hal itu sama seperti mengirim telegram kpd Buddha Amitabha dan diterima olehNya. Namun jika menambahkan satu pikiran yg berkeliaran, Buddha Amitabha tdk akan bisa menerima pesan itu dan tdk akan memberikan tanggapan.

Sumber : Seni Mengubah Nasib. Empat Ajaran Liao Fan. Ulasan oleh Master Chin Kung
Bab Essence of The Sutra dari kitab Mind-Seal Of The Buddhas. Patriarch Ou-i’s Commentary On The Amitabha Sutra,
penerjemah J.C. Cleary, penerbit Sutra Translation Committee of the United States and Canada, 1997. Judul asli 阿 彌 陀 经 要 解 (ā-mí-tuó jīng yào-jiě).

Agar pembacaan mantra bisa efektifl diperlukan:

1. Keimanan (Ketetapan hati / faith).
2. Ikrar.
3. Praktek.

Karena setiap aliran atau metoda (mantra) merupakan suatu keupayaan, yang diadaptasikan untuk sasaran audiens tertentu, masing-masing aliran adalah sempurna dan lengkap untuk orang atau kelompok orang tertentu dalam waktu tertentu.

Didalam buku yang sama terdapat pendapat D.T Suzuki sebagai berikut:

“Teologi Buddhis memiliki teori sempurna menyeluruh untuk menjelaskan
bermacam-macam jenis pengalaman dalam Buddhisme, yang tampaknya sedemikian
bertentangan satu sama lain. Sesungguhnya sejarah Buddhisme Tiongkok
merupakan sederetan usaha-usaha mendamaikan beraneka-ragam aliran-aliran …
Berbagai cara penggolongan dan rekonsiliasi ditawarkan, dan … kesimpulan
mereka adalah sebagai berikut: Buddhisme menyediakan begitu banyak
gerbang-gerbang untuk masuk kedalam kebenaran akibat dari sedemikian
beragamnya karakter, temperamen dan lingkungan manusia dikarenakan aneka
jenis karma. Hal ini secara gamblang digambarkan dan diajarkan Sang Buddha
sendiri ketika beliau mengatakan bahwa air yang sama yang diminum oleh
seekor sapi dan ular kobra menghasilkan dalam satu sisi susu yang
menyehatkan dan disisi lain menjadi racun yang mematikan, dan bahwa obat-
obatan haruslah diberikan sesuai dengan penyakitnya. Ini dinamakan doktrin
Upaya ([skillful]means) … (The Eastern Buddhist, Vol.4, No.2, p.121.)”

Pendapat D.T Suzuki ini bermakna bahwa kita cukup memilih salah satu metoda
atau mantra saja yang kita anggap cocok untuk diri sendiri atau kelompok.

Mengenai keadaan pikiran ketika membaca mantra, berikut adalah kutipannya dari buku yang sama.

“Penglafalan dengan pikiran lurus. Konsep ini difahami dalam dua cara. Bagi Patriark Chih-i, Suhu Ou-i dan lainnya dari tradisi T’ien-t’ai, Zen dan Avatamsaka, ini setara dengan pemusatan pikiran dan samadi. Bagi Patriark Surga Barat (Pure Land) seperti Tao-ch’o dan Shan-tao, difihak yang lain, ini merujuk kepada penglafalan dengan keimanan tertinggi terhadap Buddha Amitabha dan Surga Barat. Walaupun kedua konsep pada pokoknya sama (seseorang tidak bisa menglafalkan dengan keimanan tertinggi tanpa masuk kedalam keadaan pikiran yang terpusat atau keadaan samadi) perbedaan ini bisa berguna dan berkeupayaan banyak bagi praktisi-praktisi pemula.”

Saya sendiri sudah terbiasa dari kecil dengan mantra

Ná Mó Guān Shì Yīn Pú Sà Mó Hē Sà
南 無 觀 世 音 菩 薩 摩 訶 薩
Lam Bu Kwan Si Im Poo Sat Mo Ho Sat.

karena diajarkan oleh guru agama disekolah dasar dahulu dan mungkin sudah
tertanam dibawah sadar sedangkan kakak saya lebih senang mengucapkan
Omituofo
阿 彌 陀 佛
Omitohud.
Terima kasih atas posting bro Hengki dan bro Wibawa Utama…., saya juga setuju dengan pembabaran anda berdua.
Di sini saya hanya ingin menambahkan sedikit sebagai pelengkap dari pembabaran anda berdua.
Dalam Buddha Dharma disebutkan bahwa pikiran adalah sang pemimpin, sang pelopor. Segala sesuatu didahului oleh pikiran dan segala sesuatu sebetulnya diciptakan oleh pikiran. Pikiran merupakan salah satu bagian dari batin (nama), atau lengkapnya batin itu terdiri dari perasaan (vedana), sanna (pencerapan) , sankhara (bentuk bentuk pikiran/pikiran), dan vinnana (kesadaran). Seperti Tanah Suci Sukhavati diciptakan oleh kekuatan batin/pikiran dari Amitabha Buddha.
Dalam Fisika Quantum dikatakan pikiran memancarkan gelombang gelombang energi yang memancar ke alam semesta. Semakin kuat konsentrasi pikiran itu, semakin besar gelombang energi yang dipancarkan.
Demikian pula pada saat kita membaca mantra atau melafalkan nama nama Buddha dan Bodhisattva…dengan pikiran terpusat /dengan konsentrasi , maka gelombang energi pikiran kita akan memancar dan menuju kepada para Buddha dan Bodhisattva tsb, sehingga Para Buddha dan Bodhisattva akan menerimanya/mendengarnya dan mereka akan memancarkan balik gelombang gelombang energinya yang berisi power spriritual yang akan membantu atau memberi pertolongan /berkah kepada kita. Dan power energi dari para Buddha ini mempunyai kekuatan luar biasa , di atas penalaran kita (bekerja secara ajaib dan bersifat suci), dan semakin banyak kita membaca mantra/melafal nama Buddha (dengan konsentrasi terpusat/bukan dengan pikiran berkeliaran) , maka power energi yang kita terima semakin besar.
Saya juga membaca mantra Buddhis sejak lama, sejak remaja ( puluhan tahun yang lalu)
Pada waktu masih remaja, saya masih bodoh…, belum banyak mengerti, saya membaca mantra hanya membaca mantra saja, tidak saya resapi dan kadang pikiran kurang konsentrasi. Akan tetapi dengan bertambahnya usia, saya mulai banyak mempelajari Buddha Dharma, banyak membaca naskah naskah Buddhis, sehingga saya lebih banyak mengerti.
OLeh karena itu kalau saya membaca mantra mantra Buddhis adalah sbb :

1. Saya membaca mantra Buddhis dan saya mengerti artinya. Saya selalu mencari terjemahan artinya dulu, kemudian saya hapalkan, sehingga
konsentrai saya tidak buyar karena kalau tidak hapal harus membaca buku, mata tidak bisa dipejamkan, pikiran kurang terpusat, tidak bisa
mencapai kondisi samadhi.
2. Saya meresapi dan menghayati dan saya yakini (dengan iman) artinya dan saya raskan dalam batin saya, makna tiap kata dari mantra Buddhis
yang saya lafalkan.
3. Pikiran saya terpusat, penuh konsentrasi (tidak memikir yang lain) dan setelah banyak kali membaca saya merasakan adanya pithi (kegiuran),
batin menjadi bersih penuh metta (cinta kasih) dan karuna (belas kasihan) dan timbul sukha ( kebahagiaan) akan tetapi belum mencapai ekagatha
( konsentrasi terpusat , sampai tidak menyadari lingkungan sekitar, katanya walaupun ada petir meledak di sebelah kita, kita tidak akan
mendengar).
Oleh karena itu saya yakin membaca mantra Buddhis dengan konsentrasi terpusat , dengan penghayatan dan iman sepenuhnya itu sama dengan meditasi dan bisa pula mencapai jhana dan akan menghasilkan panna (kebijaksanaan).
Atau juga metode ini bisa disebut metode nian fo.
Mantra mantra Buddhis yang sering saya baca banyak dikenal oleh umum : Kao Wang Kuan Shi Yin Cing, Ta Pei Cou, mantra hati Avalokitesvara, mantra hati Amitabha dan Sin Ching (sutra hati).
[Inti Sari Sutra Amitabha]
oleh Patriak Ou-i (1599 – 1655 )

Para Buddha mengasihani mahluk-mahluk indriawi yang terperdaya, dan mengeluarkan ajaran-ajaran transformatif sesuai dengan ragam kemampuan dari mahluk-mahluk ini. Walaupun semua ajaran berasal dari sumber yang sama, namun dipergunakan metoda-metoda berkeupayaan yang berbeda-beda.

Diantara keupayaan-keupayaan itu, jika kita ingin mencari yang langsung dan lengkap, paling baik adalah mencari kelahiran di Surga Barat1 melalui pengingatan-Buddha (penglafalan nama-Buddha). Jika kita mencari yang paling sederhana dan paling terpercaya diantara semua metoda pengingatan-Buddha, yang terbaik adalah dengan mengembangkan keimanan dan berikrar serta berkonsentrasi pada penglafalan nama-Buddha. 2

CATATAN KAKI:
1. [Surga Barat atau Alam Barat atau Alam Kebahagiaan atau Sukhavati (Pure Land) terdiri dari aliran-aliran atau metoda-metoda] dari Asia Timur yang menekankan aspek Budhisme Mahayana yang menekankan keimanan kepada Amitabha, meditasi dan menglafalkan nama Nya, serta tujuan religius terlahir di “Surga Barat” Nya. (Crim, Perennial Dictionary of World Religions.)

Karena setiap aliran atau metoda merupakan suatu keupayaan, yang diadaptasikan untuk sasaran audiens tertentu, masing-masing aliran adalah sempurna dan lengkap untuk orang atau kelompok orang tertentu dalam waktu tertentu. Lihat juga tulisan D.T. Suzuki berikut ini:

Teologi Buddhis memiliki teori sempurna menyeluruh untuk menjelaskan bermacam-macam jenis pengalaman dalam Buddhisme, yang tampaknya sedemikian bertentangan satu sama lain. Sesungguhnya sejarah Buddhisme Tiongkok merupakan sederetan usaha-usaha mendamaikan beraneka-ragam aliran-aliran … Berbagai cara penggolongan dan rekonsiliasi ditawarkan, dan … kesimpulan mereka adalah sebagai berikut: Buddhisme menyediakan begitu banyak gerbang-gerbang untuk masuk kedalam kebenaran akibat dari sedemikian beragamnya karakter, temperamen dan lingkungan manusia dikarenakan aneka jenis karma. Hal ini secara gamblang digambarkan dan diajarkan Sang Buddha sendiri ketika beliau mengatakan bahwa air yang sama yang diminum oleh seekor sapi dan ular kobra menghasilkan dalam satu sisi susu yang menyehatkan dan disisi lain menjadi racun yang mematikan, dan bahwa obat-obatan haruslah diberikan sesuai dengan penyakitnya. Ini dinamakan doktrin Upaya ([skillful]means) … (The Eastern Buddhist, Vol.4, No.2, p.121.)

2. Pentingnya sebuah ikrar digambarkan dalam cerita berikut ini:

Pada suatu waktu Buddha Sakyamuni dan muridnya Mahamaudgalyayana datang dengan rombongan besar para pengikutnya ke suatu negeri untuk mengubah kehidupan mahluk-mahluk. Ketika penduduk berjumpa dengan Buddha mereka menutup pintu dan tidak mengacuhkan beliau. Akan tetapi, ketika bersua dengan Mahamaudgalyayana mereka berlarian menyambutnya, dan setiap orang, dari raja dan para menteri sampai penduduk biasa semuanya membungkukan badan dan berlomba-lomba memberikan persembahan kepadanya. Murid-murid Buddha berpikir ini paling tidak adil. “Dunia Memuliakan Satu Orang,” mereka berkata, “pelaksanaan kebajikan guru begitu tinggi; mengapa mereka tidak memberikan persembahan kepada guru, melainkan berlomba-lomba memberikan persembahan kepada Mahamaudgalyayana?”

“Ini disebabkan ikatan masa lalu,” kata Buddha. “Akan aku ceritakan kepada kalian.”

“Ribuan tahun tak terbatas yang lalu, Maudgalyayana dan aku adalah orang-orang desa biasa. Dia mengumpulkan kayu bakar di pegunungan dan aku tinggal di gubuk dibawah. Sekelompok lebah mengganguku dan aku putuskan mengusirnya dengan cara menggantang asap. Akan tetapi Maudgalyayana menolak walaupun lebah-lebah itu menyengat hingga tangannya bengkak dan sakit. Malahan dia membuat ikrar, ‘sungguh sengsara menjadi lebah,’ pikirnya, ‘Aku berikrar setelah aku mencapai Jalan yang pertama akan kuseberangkan adalah lebah-lebah mirip-asura ini!’

Beberapa kehidupan kemudian lebah-lebah ini terlahir kembali sebagai penduduk negeri ini. Ratu lebah menjadi raja, lebah-lebah pejantan menjadi para menteri, dan lebah-lebah pekerja menjadi penduduknya. Karena aku tak suka dengan lebah, sekarang aku tak punya ikatan dengan orang-orang ini dan oleh karena itu tak seorangpun memberikan persembahan kepadaku. Akan tetapi karena ikrarnya, seluruh penduduk memuliakan Maudgalyayana”.

Menurut Buddha, sebagai mahluk indriawi, kita semua mempunyai kemelekatan yang kuat – khususnya terhadap tubuh dan kepemilikan kita. Pada saat meninggal dunia, saat akan kehilangan tubuh dan kepemilikkan, kesadaran kita, terdorong oleh kemelekatan yang mendalam ini, dengan sendirinya bergegas terlahir kembali kedalam tubuh lain. Pada titik waktu inilah ikrar-ikrar, khususnya ikrar untuk terlahir kembali di Surga Barat, sangat penting: daripada hanya mengikuti karma, baik dan jahat, kita bisa, melalui kekuatan dari ikrar-ikrar ini, mencapai kelahiran kembali di Surga Barat.
Inilah alasan mengapa orang-orang pada jaman dahulu memakai Sutra Amitabha sebagai pedoman studi mereka sehari-hari, walaupun tiga kitab suci aliran Surga Barat beredar berdampingan satu sama lain dari generasi ke generasi.3 Sutra Amitabha menunjukan bahwa metoda penglafalan nama-Buddha berlaku untuk orang-orang dengan kemampuan tinggi, sedang, maupun terbatas. Metoda ini melampaui level perwujudan (phenomenon) dan level kebenaran hakiki (noumenon), tanpa kecuali. Metoda ini merangkul aliran Zen dan aliran Kitab Suci dan tiada mengabaikan apapun. Metoda ini sungguh tak terperikan besarnya!4

Selama bergenerasi, sejak jaman kuno, tak pernah kurang orang-orang yang mengulas dan menjelaskan Sutra Amitabha. Seiring waktu, banyak yang terlupakan dan tidak banyak yang masih bertahan hingga masa kini. [Satu generasi yang lampau], suhu Chu-hung dan Yun-chi memberikan ulasan mendalam dan ekstensif, dan guru dari guru saya sendiri suhu Yu-hsi menuliskan Ulasan Lengkap Jalan Tengah, yang dalam dan berpelajaran tinggi. [Kedua ulasan ini] bagaikan matahari dan bulan: semua orang melihatnya. Namun [kedua ulasan ini] bergaya sastra panjang-lebar dan tingkat pemaknaan yang rumit. Capaian tertingginya tidak terbayangkan.

Oleh karena itulah saya menyingkirkan segala keraguan akan tingkatan diri saya yang biasa-biasa saja dan ketidak-tahuan saya dan menyusun ulasan yang lain, menjelaskan pokok-pokok penting Sutra Amitabha. Saya tidak berani menyimpang dari suhu Chu-hung dan Yu-hsi hanya untuk orisinalitas, saya juga tidak memaksakan diri saya untuk menyetujui mereka sekedar untuk persetujuan belaka. Ketika melihat contoh-contoh mereka, puncak-puncak tinggi seakan-akan mengelilingi saya. walaupun ulasan saya sama sekali tidak sepenuhnya menggambarkan dunia sejati dari tradisi Surga Barat, saya tidak boleh gagal memberikan setiap dari anda visi pribadi saya tentang itu.

Bilamana seseorang menjabarkan naskah Sutra Amitabha, terdapat lima lapisan pengertian mendalam:
Pertama, adanya judul sutra yang perlu diterangkan.

[Kitab suci ini disebut Sutra Amitabha Yang Dibicarakan Buddha.] Sutra ini mengambil judul dari seseorang yang sedang menjelaskannya dan dari seseorang dengan siapa dia sedang berbicara.

Buddha adalah guru utama, yang membabarkan kitab suci di dunia, yakni, Sakyamuni. Dengan kekuatan ikrar Hasrat Agungnya, beliau dilahirkan disini di dunia dengan Lima Kekeruhan. Sebagai orang yang pertama kali tersadarkan, misinya adalah membawa pencerahan kepada mereka yang tersadarkan belakangan. Buddha adalah orang yang mengetahui segalanya dan melihat segalanya.

Buddha membicarakan sutra dengan kegembiraan hati. Tujuannya adalah untuk membebaskan mahluk-mahluk indriawi. Karena kemampuan mahluk indriawi mencapai pencerahan sudah matang, Buddha menjelaskan kepada mereka ajaran-ajaran Surga Barat yang sulit dipercayai, dan memampukan para pendengarnya mencapai pembebasan tertinggi. Inilah sebabnya mengapa Buddha selalu penuh diliputi dengan kebahagiaan.

Buddha Amitabha adalah orang yang dirujuk Sakyamuni didalam sutra. Amitabha adalah pedoman dari Surga Barat. Dengan kekuatan empat puluh delapan ikrarnya, Amitabha menerima mahluk-mahluk indriawi yang telah berikrar untuk mempraktekan pengingatan-Buddha dengan memanggil nama-Buddha dan memampukan mereka terlahir di Alam Kebahagian Tertinggi dan tak pernah kembali dari sana. Dalam bahasa Sansekerta, “Amitabha” artinya “Kehidupan tiada berhingga” atau “Cahaya tiada berhingga.” Intinya adalah bahwa apapun tentang Amitabha adalah tiada berhingga: jasa-jasa dan kebijaksanaannya, kekuatan supernatural dan kekuatan dalam Jalan, penjelmaan dan lingkungannya, karyanya dalam membabarkan ajaran-ajaran Budhis dan pembebasan mahluk-mahluk indriawi.

Sutra adalah setiap ajaran yang berasal dari dari mulut emas Sang Buddha.5

Istilah-istilah diatas dikumpulkan bersama-sama membentuk judul kitab suci: Sutra Amitabha Yang Dibicarakan Buddha. Tiga golongan — ajaran, praktek, dan kebenaran hakiki (noumenon), harus dimiliki oleh setiap sutra — dapatlah masing-masingnya dijelaskan dalam pengertian umum ataupun khusus, sebagaimana diletakan dalam sistem Ti’en-t’ai.

CATATAN KAKI:
3. Tiga Kitab Suci Aliran Surga Barat. Budhisme Surga Barat berazaskan tiga sutra dasar:
a) Sutra Amitabha ( atau Sutra Amitabha Versi Pendek, atau Sukhavati-Vyuha Kecil, atau Sutra Amida);
b) Sutra Amitabha Versi Panjang (atau Sukhavati-Vyuha Besar, atau Ajaran Kehidupan Tak Berhingga);
c) Sutra Meditasi (atau Meditasi Kepada Buddha Kehidupan Tak Berhingga, atau Sutra Dhyana Amitayus).

Kadang-kadang bab terakhir dari Sutra Avatamsaka (“Praktek-praktek dan Ikrar-ikrar Bodhisattva Samantabhadra”) dianggap sebagai dasar sutra yang keempat dari tradisi Surga Barat. Catatan: dalam tradisi Surga Barat, Sutra Amitabha Versi Panjang dianggap sebagai bentuk yang lebih pendek dari Sutra Teratai.

4. Catatan pandangan Dr. D.T. Suzuki tentang relevansi dari Surga Barat:

Dr. Suzuki umumnya dikaitkan dengan aliran Zen, jadi merupakan hal yang mengejutkan mendengar beliau menerjemahkan banyak naskah aliran Surga Barat kedalam bahasa Inggris dan membesarkan keyakinan bahwa Surga Barat selain Zen mungkin merupakan bentuk Buddhisme yang sesuai dengan orang barat. (John Snelling, The Buddhist Handbook, p. 216.)

Kebanyakan penganut agama Buddha didunia, sejauh ini mayoritas terbesarnya, mempraktekan Keimanan atau puja-bakti. Dr. D.T. Suzuki berkeyakinan sangat kuat bahwa arah dari Buddhisme Amerika menuju Buddhisme Shin [Surga Barat] dan praktek Keimanannya. Boleh jadi pada saat ini kebanyakan orang barat, yang mulanya mencari pencerahan pribadi, akan mendapatkan dirinya memilih jalan puja-bakti(Ryushin Sarah Grayson in Butsumon, Fall 1989.)

5. Walaupun kebanyakan sutra dikotbahkan oleh para Buddha, terdapat contoh-contoh dimana kata-kata para Boddhisatva tercatat sebagai sutra-sutra. Salah satu kasusnya adalah Sutra Avatamsaka bab 40, dimana Buddha hanya menyatakan persetujuannya dipenghujung bab dengan berkata “Sadhu, sadhu” (“Sungguh bagus, sungguh bagus”).
Dalam melaksanakan meditasi ….banyak yang masih mengalami kebingungan. Banyak yang bertanya tanya apakah kondisi yang dialami dalam meditasi sudah bisa dikatakan mencapai Jhana atau belum. Ada yang merasa melihat sinar terang….. Sebenarnya ini hanyalah nimitta saja. Memang dengan mengalami nimitta sebenarnya sudah mulai mendekati pencapaian jhana akan tetapi kalau hanya nimitta saja yang dialami tetap belum bisa dikatakan mencapai jhana.
Sang Buddha mengatakan suatu meditasi dikatakan mencapai jhana kalau terdapat 5 faktor, yaitu :
1. Vitaka : upaya untuk menangkap suatu obyek dengan tetap
2. Vicara : adanya kemampuan menangkap obyek dengan tetap
3. Pithi : adanya kegiuran, seperti : bulu kuduk meremang dll
4. sukha : perasaan bahagia
5. ekagatha : konsentrasi yang terpusat dengan kuat, sehingga tidak menyadari lingkungan sekitar.

TINGKATAN JHANA DALAM MEDITASI :
Jhana pertama : adanya 5 faktor yaitu vitaka, vicara, pithi, sukha, ekagatha.
Jhana kedua : vitaka hilang, tinggal vicara , pithi, sukha dan ekagatha. Artinya tidak diperlukan lagi
Upaya untuk memegang obyek dengan tetap, karena pikiran sudah terpusat dengan
Kuat dan mampu memegang obyek dengan sendirinya.
Jhana ketiga : vitaka dan vicara hilang, tinggal pithi , sukha dan ekagatha.
Jhana keempat : vitaka, vicara dan pithi lenyap, tinggal sukha dan ekagatha.
Jhana kelima : yang ada hanya ekagatha dan diiringi munculnya upekkha (keseimbangan batin).
4 Jhana berikutnya merupakan jhana dengan kondisi batin seperti yang terdapat pada alam arupabrahma yaitu :
– Asanancayatana jhana : kondisi batin dengan konsep ruang tanpa batas disertai dengan ekagatha dan upekkha.
– Vinnanancayatana jhana : kondisi batin dengan konsep kesadaran tanpa batas disertai dengan ekagatha dan upekkha.
– Akincannayatana jhana : kondisi batin dengan konsep kekosongan disertai dengan ekagatha dan upekkha
– Neva sanna nassana yatana jhana : kondisi batin dengan konsep bukan pencerapan maupun bukan tanpa pencerapan disertai ekagatha dan upekkha.
EKAGATHA ITU SALAH SATU FAKTOR YANG DICAPAI KETIKA MEDITASI MENCAPAI JHANA…. ARTINYA KONSENTRASI TERPUSAT KUAT SAMPAI TIDAK MENYADARI KONDISI LINGKUNGAN SEKITARNYA. UNTUK JHANA PERTAMA MASIH ADA VITAKA, VICARA, PITHI DAN SUKHA…SEBAGAI FAKTOR PENDAMPING.
JHANA PERTAMA MASIH ADA VITAKA (UPAYA UNTUK MEMEGANG OBYEK DENGAN TETAP) , ARTINYA DALAM JHANA PERTAMA (AWAL) KITA MASIH HARUS TERUS BERUPAYA MEMEGANG OBYEK DENGAN TETAP/KUAT, KALAU TIDAK PIKIRAN BISA LARI BERPINDAH OBYEK LAIN.
DALAM JHANA KEDUA VITAKA TIDAK ADA LAGI, ARTINYA …TIDAK DIPERLUKAN LAGI UPAYA UNTUK TERUS MEMEGANG OBYEK, KARENA PIKIRAN SUDAH TERPUSAT DENGAN SENDIRINYA, KARENA MEDITASI SUDAH LEBIH MENDALAM/TINGGI TINGKATNYA. DEMIKIAN PULA PADA JHANA KETIGA DAN SETERUSNYA YANG LEBIH TINGGI…SATU PERSATU FAKTOR SEPERTI VICARA, PITHI , SUKHA..MULAI LENYAP SATU PERSATU, SEHINGGA TINGGAL EKAGATHA SAJA DAN DIIRINGI UPEKKHA ( KESEIMBANGAN BATIN).
KATANYA…DARI YANG SAYA BACA DARI BUKU BUKU MEDITASI, MULAI JHANA KEEMPAT PIKIRAN BISA DIARAHKAN UNTUK MELAKUKAN PAST REGRESSION (DIARAHKAN UNTUK MENGINGAT KEHIDUPAN LAMPAU SECARA BERTAHAP SAMPAI BANYAK KEHIDUPAN LAMPAU , TERGANTUNG KEMAMPUAN MEDITATOR)

Menjawab pertanyaan bro Kullatiro:

Membaca buku sampai lupa keadaan sekitar, bukanlah kondisi yang mencapai ekagatha. Ada bedanya antara membaca buku dengan meditasi. Meditasi adalah melakukan pemusatan pemikiran dengan memegang satu obyek dengan tetap (tidak berganti obyek). Membaca buku, pikiran akan bergerak dari satu topik/makalah ke topik berikutnya, kadang pikiran berimajinasi dan berkeliaran walaupun sebatas topik di buku itu, bukan memegang satu obyek dengan tetap. Jadi tidak akan mencapai ekagatha. Buktinya seberapapun konsentrasi kita membaca buku, kita tetap akan mendengar kalau misalnya HP kita berbunyi atau ada ketukan dipintu ruangan, kalau digigit nyamuk juga masih merasa gatal.
Sedangkan membaca mantra dengan konsentrasi, obyek yang kita pegang adalah tetap, karena mantra itu tidak berubah dan kita ulang ulang, itu itu saja, apalagi mantra yang pendek, seperti OM MANI PADME HUM. Pikiran tidak akan berkeliaran atau meloncat atau berpindah, jadi bisa memasuki kondisi meditasi .
Kedua, adanya intisari sutra yang perlu dilihat.

Intisari sesungguhnya dari semua kitab suci Kendaraan Besar (Mahayana) adalah Realitas Mutlak itu sendiri. Apakah itu Realitas Mutlak? Realitas Mutlak adalah Pikiran Murni dari mahluk indriawi.6 Pikiran ini tidak didalam juga tidak diluar, dan tidak diantaranya. Pikiran ini bukan masa lalu, sekarang, atau masa depan. Pikiran ini tidak hijau atau kuning atau merah atau putih, panjang atau pendek atau segiempat atau bundar. Pikiran ini bukan wangi, bukan rasa, bukan tekstur, bukanlah obyek batiniah. Bilamana dicari kita tidak bisa menemukannya, akan tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa pikiran ini tidak ada. Pikiran ini menciptakan semua dunia dan segala alam, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa pikiran ini ada. Pikiran ini terlepas dari pikiran-pikiran terkondisi dan pembedaan-pembedaan dari semua dunia dan karakteristik. Akan tetapi pikiran-pikiran terkondisi dan pembedaan-pembedaan dari dunia-dunia dan karakteristik-karakteristik tidak mempunyai identitas terpisah apapun yang terlepas darinya.

Pada intinya, realitas mutlak terlepas dari segala karakteristik, namun tergabung dengan segala perwujudan. Terlepas dari segala karakteristik, realitas mutlak tidak berbentuk dan tergabung dengan segala perwujudan, realitas mutlak memberikan semua bentuk-bentuknya. Disebabkan kurangnya alternatif, kami lekatkan padanya nama “realitas mutlak” [yakni, Pikiran Murni, Tanda Nyata (Real Mark), Sifat Kebudhaan].

Intisari dari Realitas Mutlak tidaklah diam ataupun sadar, akan tetapi kedua-duanya. Baik diam maupun selamanya bersinar dengan kesadaran, baik bersinar dengan kesadaran maupun selamanya diam. Dalam hal bersinar dengan kesadaran namun diam, ini disebut Alam Cahaya Diam Abadi. Dalam hal diam namun bersinar dengan kesadaran, ini dinamakan Dharmakaya murni (Tubuh Dharma). Diam sadar disebut Dharmakaya, Tubuh Dharma dari semua Buddha. Sadar diam disebut Sambhogakaya, Tubuh Pahala.

[Bagi para Buddha] diam dan kesadaran bukan dua, tubuh dan alam bukan dua, apa yang sudah menjadi sifatnya dan yang disebabkan latihan bukan dua, hakikat sesungguhnya dan fungsi responsif bukan dua – segala sesuatunya adalah realitas mutlak. Realitas dan yang kelihatan sama sekali bukan dua maupun dua.

Jadi, esensi dari realitas sebagai suatu keseluruhan bertindak sebagai lingkungan yang mengelilingi mahluk indriawi maupun sebagai tubuh-tubuh mereka, bertindak sebagai Tubuh Dharma maupun sebagai Tubuh Pahala dari para Buddha dan bertindak sebagai diri sendiri maupun sebagai orang lain.

Dengan demikian, orang yang membicarakan sutra dan orang yang dibicarakan, para Buddha yang dapat membebaskan mahluk-mahluk indriawi dan mahluk-mahluk indriawi yang dibebaskan, kemampuan mengambil ikrar dan yang diikrarkan, kemampuan mengkonsentrasikan nama-Buddha dan nama-Buddha yang dikonsentrasikan, kemampuan untuk dilahirkan di Surga Barat dan lahir di Surga Barat itu sendiri, kemampuan mengagungkan para Buddha dan para Buddha yang diagungkan – semua ini merupakan jejak dari “cap sejati (true seal)” dari Realitas Mutlak. Dengan perkataan lain, Pikiran Sejati (Pikiran Bodhi) dari mahluk indriawi merupakan intisari dari semua sutra-sutra Mahayana.

Ketiga adanya azas pedoman yang perlu dijelaskan.

Azas pedoman merupakan jalan penting untuk mengolah praktek, merupakan penghubung kunci untuk pemahaman intisari [dari pikiran kita], merupakan kerangka kerja pemanduan untuk banyak sekali praktek. Ketika jaring ditarik, mata-jalanya akan terbuka. Ketika kerah baju diangkat, dada dan lengan baju juga ikut terangkat. Jadi, setelah penjelasan intisari sutra, kita harus melihat azas pedoman.

Azas penting pengolahan (kultivasi) dalam sutra ini adalah untuk mengembangkan keimanan dan berikrar dan melafalkan nama-Buddha. Tanpa keimanan, kita tidak cukup diperlengkapi untuk berikrar. Tanpa berikrar kita tidak cukup diperlengkapi untuk mempedomani praktek. Tanpa praktek luar biasa dalam melantunkan nama-Buddha, kita tidak cukup diperlengkapi untuk memenuhi ikrar dan untuk membawa keimanan kita berbuah.

Mula-mula sutra menyatakan lingkungan murni dari Surga Barat dan raga-raga yang dimuliakan dari para penghuninya dalam rangka menimbulkan keimanan dalam diri kita.. Berikutnya sutra meminta kita berikrar untuk mempedomani praktek. Kemudian sutra mengajarkan kita praktek melafalkan nama-Buddha sebagai jalan untuk naik langsung keatas tanpa kembali (non retrogression).

Keimanan artinya memiliki keyakinan kepada diri sendiri dan kepada yang lain (Buddha dan para Bodhisatva). Yakin akan hukum sebab akibat, yakin akan perwujudan (phenomenon) dan kebenaran hakiki (noumenon).

Berikrar artinya merasa enggan terhadap keduniawian dan melepaskan diri dari keduniawian. Berikrar artinya dengan sukacita mencari Surga Barat Alam Kebahagian Tertinggi.

Praktek artinya dengan tekun mempraktekan penglafalan nama-Buddha dengan pikiran lurus dan tanpa kekacauan (dengan pikiran tertuju pada satu titik sasaran).

[Keimanan]. Mempercayai diri sendiri. Artinya yakin bahwa pikiran sejati bukanlah perwujudan fisik maupun cerminan dari obyek-obyek tak bentuk, bahwa pikiran ini meluas melalui waktu tanpa masa sesudah maupun masa sebelum apapun dan melalui ruang tanpa batasan apapun. Walau mematuhi hukum sebab akibat sepanjang hari penuh, namun pikiran ini tetap tidak pernah berubah.

Seluruh ruang Sepuluh Penjuru dan semua alam-alam yang tak terhitung seperti atom-atom asalnya adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran kita ini. Walaupun terperdaya dan terkacaukan jika dalam satu kejapan tunggal kita kembali kepada Pikiran ini, kita pasti akan dilahirkan di Alam Kebahagian Tertinggi yang asalnya inheren didalam pikiran kita sendiri, dan tidak lagi dipersulit oleh perasaan cemas dan ragu. Ini dinamakam “yakin kepada diri sendiri”.

Percaya kepada yang lain artinya meyakini bahwa Sakyamuni Tathagatha pasti tidak berdusta dan Yang Termulia Dunia Sang Amitabha pasti tidak berikrar sia-sia. Ini artinya memastikan bahwa semua Buddha dari segala penjuru tidak pernah berdusta, dan ini artinya kita mengikuti ajaran sejati dari semua yang tercerahkan. Ini berarti membangun keinginan kita mencari kelahiran di Surga Barat, tidak lagi diburu oleh perasaan ragu dan kacau. Ini dinamakan “yakin kepada yang lain”.

Mempercayai dasar sebab akibat artinya meyakini bahwa sekalipun pemanggilan nama-Buddha dilaksanakan dalam keadaan pikiran yang terpencar dan kacau tetap saja ini merupakan suatu benih bagi pencerahan, dan bahkan menjadi lebih benar lagi manakala memanggil nama-Buddha dalam keadaan pikiran lurus dan tanpa kekacauan. [Jika kita berpikiran lurus ketika memanggil nama Buddha Amitabha], bagaimana kita bisa gagal terlahir di Surga Barat? Ini artinya “meyakini dasar sebab akibat”, yakni meyakini bahwa penglafalan tersebut merupakan sebab dari pencerahan.

Mempercayai hasil artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa semua mahluk spiritual luar biasa yang berkumpul di Surga Barat mempraktekan Samadi Pengingatan Buddha, suatu konsentrasi meditatif yang diperoleh dari penglafalan nama-Buddha. Jika menanam benih melon, kita akan memperoleh melon, dan jika menanam benih kacang kita akan mendapatkan kacang. [Akibat mengikuti sebab] ibarat bayangan mengikuti bentuk fisiknya, bagaikan gema menjawab bunyi. Tiada satupun yang dijahit sia-sia, ini dinamakan “mempercayai hasil”.

Mempercayai perwujudan faktual (phenomena) artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa walaupun pikiran kita ini sebentar saja, alam-alam Sepuluh Penjuru yang berdasarkan kepadanya tidaklah ada habis-habisnya. Alam Kebahagian Tertinggi sungguh-sungguh ada 10 milyar alam-kebudhaan jauhnya, dipercantik dengan hiasan-hiasan murni tertinggi. Ini bukanlah cerita fabel dari Chuang-tzu. Ini dinamakan “meyakini perwujudan faktual”.

Mempercayai kebenaran hakiki (noumenon) artinya memiliki keimanan yang mendalam bahwa 10 milyar alam-kebudhaan pada kenyataanya tidaklah berada diluar pikiran kita. karena sesungguhnya tidak ada satu apapun diluar Pikiran ini, kita mendapat kepastian yang mendalam bahwa kumpulan keseluruhan mahluk-mahluk dan lingkungannya di Surga Barat merupakan sekumpulan pencerminan yang timbul dalam pikiran kita. Semua perwujudan tergabung dengan kebenaran hakiki, semua kekeliruan tergabung dengan kebenaran. Semua praktek tergabung dengan Sifat Sejati. Semua yang lainnya akan tergabung dengan diri sendiri. Pikiran bawaan milik kita bersifat mencangkup-semua. Ibarat 1000 buah lampu didalam satu ruangan, masing-masing saling menyinari satu sama lain dan berkasnya tergabung dengan berkas-berkas sinar yang lain tanpa suatu halangan apapun. Ini dinamakan “meyakini kebenaran hakiki (noumenon)”.

[Berikrar]. Sekali setelah memiliki bentuk-bentuk keimanan ini, kita harus memahami bahwa dunia keduniawian adalah kotoran yang terbawa oleh pikiran kita sendiri dan harus dilepaskan; Surga Barat adalah kemurnian yang dilahirkan oleh pikiran kita sendiri dan harus kita cari dengan suka-cita.7 Kita harus melepaskan kekotoran sama sekali, sampai tidak ada yang bisa kita lepaskan lagi dan kita harus meraih kemurnian sama sekali, sampai tidak ada yang bisa kita raih lagi.

CATATAN KAKI:
6. Lihat penjelasan berikut ini dengan prinsip dasar yang sama oleh Suhu Hsuan Hua:

Sutra ini adalah Dharma Mahayana … dan menerima Tanda Nyata (Real Mark) sebagai inti pokoknya. Tanda Nyata tidaklah bertanda. Tiada terdapat tanda, tiada sama sekali, namun tiada satupun yang tidak ditandai. Tanpa-tanda, sesungguhnya adalah kekosongan sejati, dan dengan tanpa sesuatupun yang tanpa-tanda, itulah keberadaan yang indah sekali) … Kesedemikianan Sejati (True Suchness), Alam Dharma Sejati Tunggal, Thus Come One’s Store Nature, semuanya adalah nama-nama yang berbeda dari Tanda Nyata (Hsuan Hua, A General Explanation the Buddha Speaks of Amitabha Sutra [the Amitabba Sutra], p.23).

Ajaran “penciptaan” Pikiran dan lingkungan mahluk-mahluk indriawi, dinyatakan dalam banyak sutra-sutra Mahayana seperti Sutra Avatamsaka, Sutra Surangama dan Sutra Teratai, terlambangkan dalam bait-bait berikut:

Pabila seseorang ingin memahami sepenuhnya
Semua Buddha dari segala waktu
Renungkan sifat Alam Dharma
Sesuatunya terbuat dari Pikiran sendirian (Avatamsaka Sutra, bab 20).

Satu pikiran yang satu adalah syarat
untuk penciptaan alam-kebuddhaan;
Satu pikiran yang keliru adalah sungguh
penyebab sembilan alam samsara.

Ini bukanlah penciptaan dalam pengertian menciptakan sesuatu dari yang hampa. Doktrin ini bermakna bahwa secara praktis dikatakan dunia hanya “ada” sedemikian dikarenakan kesadaran kita, dan bahwa apa yang kita terima menjadi dunia dengan sendirinya adalah berdasarkan kepada pengalaman dan kesimpulan. Tatanan konseptual yang diterima menjadi karakteristik dari realitas obyektif adalah, menurut doktrin ini, sebuah proyeksi pikiran, sebuah gambaran yang menyaring dan membentuk pengalaman sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan mental yang berkembang sepanjang sejarah spesies, peradaban, dan individu (Thomas Cleary, The Flower Ornament Scripture[the Avatamsaka Sutra], Jilid Satu, p 23).

7. Untuk penjelasan mendalam mengenai konsep ini, silahkan merujuk ke Pure Land Buddhism: Dialogues with Ancient Masters, Bagian I, Patriark Chih I, Pertanyaan 10 (penerbit Sutra Translation Committee).
Oleh karena itu ulasan Miao-tsung menyatakan:

Meraih dan menolak sampai ujung batasnya, tidaklah berbeda jalur dengan tidak meraih dan tidak menolak. Jikalau kita tidak terlibat dalam tindakan meraih dan menolak dan hanya menilai tidak meraih dan tidak menolak, ini adalah bentuk pemegangan-teguh kepada kebenaran hakiki dan meninggalkan perwujudan (phenomena). Jika kita mengabaikan level perwujudan maka kita tidak akan sempurna dalam level kebenaran hakiki. Jika kita sampai kepada titik dimana semua perwujudan tergabung dengan kebenaran hakiki. Maka peraihan maupun penolakan juga tergabung dengan kebenaran hakiki. Kadang-kadang meraih, kadang-kadang menolak, tiada satupun yang bukan Alam Realitas.

[Praktek]. Jika kita berbicara mengenai pemusatan pikiran pada nama-Buddha dengan pikiran lurus, kita merujuk kepada penglafalan dengan pikiran yang bersatu dan tidak kacau-balau.8 Memanggil nama-Buddha adalah memanggil kwalitas kebudhaan. Karena kwalitas kebuddhaan tidak terperikan maka nama-Buddha itu sendiri juga tidak terperikan. Sekalipun kita melafalkan nama-Buddha dalam keadaan pikiran yang terpencar tetap saja itu adalah benih dari pencerahan, sementara mereka yang berpikiran lurus dengan segera naik menuju pencerahan tanpa pernah kembali.

Banyak sutra mengajarkan praktek Surga Barat dalam beragam jenis: merenungkan citra Buddha, merenungkan konsep Buddha, menyembah sujud, melakukan persembahan, mempraktekan lima penyesalan dan enam bentuk kesadaran dan seterusnya. Jika kita memakai salah satunya dan mendharma-baktikan jasa-jasa kepada kelahiran di Surga Barat, niscaya kita akan terlahir disana.

Metoda penglafalan nama-Buddha adalah salah satu metoda yang merangkul semua, merangkul orang-orang dari segala mentalitas dan salah satu metoda yang termudah untuk dipraktekan. Inilah sebabnya mengapa Sang Pengasih Buddha Sakyamuni menjelaskan kepada Sariputra tanpa ditanya. Penglafalan nama-Buddha dapat dikatakan keupayaan nomor satu diantara semua metoda-metoda berkeupayaan lainnya, kebenaran maha lengkap diantara semua kebenaran-kebenaran lengkap lainnya, ajaran yang paling sempurna diantara semua ajaran-ajaran sempurna lainnya.

Terdapat ujaran yang mengatakan: “Jikalau mutiara suci ditaruh dalam air kotor, air kotor tidak bisa tidak akan tersucikan. Jika nama-Buddha ditaruh dalam pikiran kacau-balau, bahkan pikiran kacau tersebut tidak akan gagal mencapai pencerahan”. Penglafalan nama-Buddha dengan keimanan dan ikrar adalah sebab yang benar bagi Kendaraan Agung. Empat Surga Barat [Alam Dimana Para Suci Dan Mahluk-mahluk Awam Tinggal Bersama-sama, Alam Pembebasan Berkeupayaan, Alam Pahala Sejati, dan Alam Cahaya Diam Abadi] adalah buah-buah menakjubkan dari Kendaraan Agung. Pabila kita memiliki dasar penyebab maka hasilnya pasti akan mengikuti.

Oleh karena itu, iman, ikrar, dan penglafalan nama-Buddha adalah azas pemandu sesungguhnya dari Sutra Amitabha.

Karakteristik dari Empat Surga Barat dijelaskan secara rinci dalam ulasan Miao-tsung dan dalam kitab An Explanation of the Brahma Net Sutra, dan saya tidak akan menjelaskannya secara penuh disini. Nanti saya akan memberikan catatan singkatnya saja ketika menjabarkan naskah.

Kempat, adanya fungsi sutra.

Fungsi yang sangat kuat dari sutra ini adalah memampukan kita terlahir kembali di Surga Barat dan tidak pernah kembali. Terlahir kembali di Surga Barat bisa digolongkan kedalam perihal dari Empat Surga Barat dan juga kedalam Sembilan Tingkatan Teratai disetiap Alam. Disini saya akan memberikan keterangan singkat mengenai Empat Alam.

Jika kita melafalkan nama-Buddha tanpa memutus pikiran dan pandangan khayal, tergantung dari seberapa terpencarnya atau seberapa terpusatnya kita, kita akan terlahir kembali di Alam Sembilan Tingkatan Teratai, Alam Dimana Para Suci Dan Mahluk-mahluk Awam Tinggal Bersama-sama.

Jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik pikiran lurus (level perwujudan), pikiran dan pandangan khayal terputus dan kita akan terlahir kembali di Alam Pembebasan Berkeupayaan, Alam Dari Para Arahat Dan Para Buddha Praceka.

Jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik pikiran lurus (level noumenon atau level kebenarana hakiki), dan terbanting dari tingkat ketidak-tahuan dan khayalan yang pertama ketingkat empat puluh satu, maka kita akan terlahir kembali di Alam Pahala Sejati, Alam Dimana Para Bodhisatva Tinggal.

Akan tetapi, jika kita melafalkan nama-Buddha sampai pada titik dimana keseluruhan empat puluh tujuh tingkat ketidak-tahuan dan khayalan secara total terputus, ini adalah pahala tertinggi dan kita akan dilahirkan di Alam Cahaya Diam Abadi, Alam Dimana Para Buddha Tinggal.

Sutra Amitabha mempunyai semacam fungsi yang sangat kuat, tiada satupun naskah yang dapat menggambarkannya. (Paragraf ini sulit dibaca, kemungkinan salah cetak.9) Fungsi yang kuat dari Sutra Amitabha seharusnya tidak disinggung pada hari yang sama [sebagaimana ajaran yang jauh lebih pesimistik] bahwa dasar penyebab yang benar hanyalah sebuah batu pijakan diluar alam indrawi, yang harus diolah sepanjang hidup terus menerus sebelum kita dapat mengharapkan pencerahan. Bagaimana bisa penganut Budhisme Zen dan Budhisme Kitab Suci gagal mempertimbangkan hal ini?
Kelima, adanya bentuk-bentuk ajaran Budhisme yang perlu dijelaskan.

Sutra ini terkandung dalam kanon Mahayana, kendaraan Bodhisatva, dan “berbicara-sendiri” — dihantarkan oleh Sang Buddha tanpa ditanya terlebih dahulu.

Sutra ini memampukan mahluk-mahluk indriawi dengan banyak hambatan-hambatan karmik yang hidup dalam Zaman Pengakhiran-Dharma melakukan kenaikkan langsung menuju pencerahan tanpa pernah kembali.

Jadi dimasa mendatang ketika semua sutra musnah, hanya Sutra Amitabha inilah yang akan tetap bertahan untuk zaman selanjutnya, untuk membawa pembebasan kepada mahluk-mahluk indriawi dalam skala yang besar.

Sutra Amitabha adalah obat untuk segala penyakit. Sutra ini berada diluar kenisbian, fusi yang sempurna, dengan kekuatan yang tak terperikan. Bungarampai mistik dari Sutra Ornamen Bunga (Avatamsaka), intisari rahasia dari Sutra Teratai, ajaran-ajaran pokok dari pikiran semua Buddha, kompas dari semua milyaran praktek para Boddhisatva. – tidak ada satupun yang berada diluar sutra ini. Jika saya ingin memuji panjang lebar, akhirnya tetap saja tidak akan berkesudahan. Barang siapa yang bijaksana harus mengetahui sutra ini untuk dirinya sendiri.

CATATAN KAKI:
8. Penglafalan dengan pikiran lurus. Konsep ini difahami dalam dua cara. Bagi Patriark Chih-i, Suhu Ou-i dan lainnya dari tradisi T’ien-t’ai, Zen dan Avatamsaka, ini setara dengan pemusatan pikiran dan samadi. Bagi Patriark Surga Barat seperti Tao-ch’o dan Shan-tao, difihak yang lain, ini merujuk kepada penglafalan dengan keimanan tertinggi terhadap Buddha Amitabha dan Surga Barat. Walaupun kedua konsep pada pokoknya sama (seseorang tidak bisa menglafalkan dengan keimanan tertinggi tanpa masuk kedalam keadaan pikiran yang terpusat atau keadaan samadi) perbedaan ini bisa berguna dan berkeupayaan banyak bagi praktisi-praktisi pemula.

9. Kutipan teks asli dalam bahasa Inggrisnya adalah sebagai berikut:
…..The powerful function of the Amitabha Sutra should not be mentioned on the same day as the [far more pessimistic teaching] that a correct causal basis is only a stepping stone out of the sensory world, which must be cultivated lifetime after lifetime before you can expect enlightenment. How can Zen Buddhists and Scriptural Buddhists fail to consider this?

SELESAI.

Beberapa praktek tenung yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia, khususnya bangsa Timur Kuno antara lain :
Extispicy : Melihat organ isi perut hewan dalam meramal suatu kejadian
Leconomancy : Meramal lewat cairan atau air
Belomancy : Tenung lewat panah
Rhabdomancy : Tenung dengan alat tongkat
Pyromancy : Api
Necromancy : Melalui sarana roh orang mati
Astrology : Konstelasi bintang
Augury : Burung
Kleromancy: Melalui tindakan undi
Oneiromancy : Melalui mimpi
Ada yang membagi tenung menjadi dua macam, yaitu tenung induktif seperti praktek di atas dan tenung intuitif, termasuk di dalamnya penglihatan para nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s