Kisah Perjalanan Yesus ( nabi Isa )

Kisah Perjalanan Yesus ke Timur

Ke manakah Yesus Kristus pada usia 12-30 tahun? Pertanyaan ini sudah lama menjadi misteri di kalangan kaum rohaniwan di Barat. Kisahnya diceritakan dalam berbagai versi di Perjanjian Baru dan tulisan apokrit (tulisan-tulisan yang tidak dimasukkan ke dalam kanonisasi Alkitab). Namun demikian, tak pernah disinggung tentang keberadaannya pada masa remaja hingga dewasa, tahu-tahu ia memulai misinya pada sekitar umur 30 tahun.

(.or. id) -Para teolog sudah berusaha keras menggali dan menyelidiki Injil sebagai sumber utama dikoherensikan dengan historiografi dan naluri sejarah. Hanya sedikit perincian yang mengungkap kehidupan dan masa kecil yang diperoleh. Tercatat bahwa setelah Yesus berangkat dari Nasareth dengan orangtuanya saat usia 12 tahun, setelah itu tidak terdeteksi aktivitasnya sampai ia dibaptis oleh Johanes di sungai Yordan pada usia 30 tahun.

Tidak ada catatan yang tepat tentang keberadaan dan apa saja yang dilakukannya sebelum berusia 30 tahun. Satu sisi periode yang hilang dalam perjalanan hidup Sang Mesias. Beberapa teolog yakin bahwa Yesus masih berada di Nasareth dalam kurun waktu tahun yang hilang. Cuma memang tak ada tulisan dalam masa periode tersebut karena memang tidak ditemukan sesuatu yang layak dicatat dan didokumentasikan.

Buku ini untuk sementara barangkali mampu menjawab teka-teki tersebut. Sebuah buku yang untuk pertama kalinya memberikan bukti-bukti dan petunjuk baru mengenai satu sisi periode, tahun-tahun yang hilang dari perjalanan spiritual seorang Yesus. Beberapa informasi yang berbobot dari para jurnalis, profesor, petualang dirangkum dalam buku, yang memaparkan bukti naskah kuno di biara Himis yang menyatakan bahwa Yesus pernah berada di sana. Dilengkapi pula dokumentasi foto keberadaan Yesus.

Jawaban tersebut dikemukakan oleh Elizabeth Clare Prophet dengan mengungkapkan data-data yang cukup memberikan informasi baru yang langka tentang keberadaan Yesus. Buku yang berjudul asli The Lost Years of ini menyajikan bukti dokumenter yang terdiri dari empat kisah kesaksian dari orang yang menelusurinya. Kesaksian mereka tersimpan dalam tulisan yang sengaja dibuat untuk memberikan informasi mengenai teka-teki kehidupan Yesus yang hilang itu. Informasi terasa komplet dengan adanya background yang beragam dan saling menguatkan di antara mereka.

Disimpulkan bahwa Yesus dalam periode tahun-tahun yang hilang tersebut, sejak usia 13 tahun hingga 29 tahun, melakukan perjalanan ke dunia Timur, yakni India, Nepal, Ladakh dan Tibet. Perjalanan ini dilakukan baik sebagai murid maupun sebagai guru. Tapi ia dikenal sebagai (Nabi) Isa, bukan Yesus. “Isa diam-diam meninggalkan orang tuanya dan bersama dengan para pedagang Yerusalem menuju India untuk mempelajari hukum Buddha yang Agung,” demikian catatan awal dari sebuah dokumen yang berumur 1.500 tahun.

Bagian awal buku ini dimulai dari catatan Nicolas Notovitch. Ia adalah seorang jurnalis berkebangsaan Rusia, pada tahun 1894 menulis buku La Vie Inconnue de Christ (The Unknown Life of Christ), yang mengisahkan perjalanannya saat ia pergi ke Ladakh (Tibet Kecil) akhir tahun 1887. Notovitch menyatakan dengan tegas bahwa Yesus dalam tahun yang hilang pernah berada di India. Pernyataannya berdasarkan pada sebuah naskah kuno agama Budha berbahasa Pali yang ditemukannya di sebuah biara Himis, dekat Leh, ibukota Ladakh, juga berdasarkan keterangan para Lama, nama lain biksu di Tibet.

Karya Notovitch yang membuka kontroversi juga mendapat banyak kritikan dan anggapan pemalsuan narasi ini, dikuatkan kembali oleh seorang saksi mata pengunjung Himis, Swami Abhedananda. Ia mengatakan bahwa telah bekerja keras untuk melihat dan memeriksa kisah Notovich, dan menyatakan bahwa catatan tersebut memang benar adanya. Bahkan menurut Sister Shivani seorang murid Abhedananda pernah mengatakan bahwa “Swami pernah berbicara di panggung tentang akibat dari penginjilan Kristus yang sempat menghabiskan waktu di India bersama para filosuf Yoga di Tibet.”

Bukti lain dikemukakan oleh Nicholas Roerich, seorang anggota persatuan profesor di Imperial Archeological Institute. Ia mencatat sejarah kehidupan Isa di Timur saat ia memimpin ekspedisi melalui Asia Tengah. Ia melacak kisah Isa (nama timur untuk Yesus) melalui naskah-naskah kuno dan legenda-legenda dari berbagai bangsa dan agama yang ditemukannya. Dari beberapa naskah dan variasi legenda yang diperoleh akhirnya merujuk ke satu kesimpulan bahwa dalam kurun waktu yang hilang, Yesus berada di India dan Asia .

Tidak hanya itu beberapa tahun berselang tepatnya tahun 1939 seorang musisi dan profesor ilmu musik, Madame Caspari bersama suaminya, Charles melakukan perjalanan ke Gunung Kailas yang dipimpin oleh pemimpin agama, Clarence Gasque. Ia berhasil mengabadikan gambar yang anehnya sama dengan foto yang hilang yang pernah disaksikan dan diabadikan oleh Notovitch. Selain itu mereka mendapatkan perkamen dari daun yang diberikan oleh biksu dan pustakawan biara di Himis. Saat menyerahkan perkamen tersebut, biksu mengatakan bahwa Yesus pernah berada di Himis. Bahkan di daerah ini ditemukan catatan tentang kehidupan Yesus Kristus secara sistematis.

Banyak bukti lain yang ditemukan dalam tahun-tahun berikutnya yang semakin menguatkan keberadaan Yesus di Timur. Misalnya saja dari pengakuan Dr. Robert S. Ravics, seorang profesor antropologi yang mendengar kisah Yesus dari para warga terhormat di Himis. Juga dikuatkan kembali oleh petualang dunia Edward F. Noack yang singgah di Himis akhir tahun tujuh puluhan. Menurutnya seorang Lama di biara mengatakan bahwa ada sebuah naskah yang terkunci di ruang penyimpanan yang menggambarkan perjalanan Yesus ke Ladakh.

“Nama Isa sangat dihormati oleh Buddhisme. Tetapi hanya pemimpin Lama yang tahu banyak tentangnya, yang telah membaca naskah tentang Nabi Isa. Kami memiliki banyak Buddha seperti Isa, dan ada 84.000 naskah, tetapi hanya sedikit orang yang membaca lebih dari seribu naskah,” ujar seorang Lama Tibet. Di bagian lain dikutip catatan tentang Yesus, “Jika dibalik kehadiran Buddha terkadang sulit untuk mengakui wujud mulia dari Buddha sang Guru, maka cukup sulit untuk menemukan di pegunungan Tibet kisah tentang Kristus. Namun biara Buddhis menyimpan ajaran Kristus dan para Lama mengetahui tentang Kristus, yang dijaga dan diajarkan.”

Dalam karyanya Altai-Himalaya yang dikutip buku ini, Roerich mengatakan, “Demikianlah legenda Asia yang menceritakan gambaran tentang Yesus, begitu terkenal di hampir seluruh negeri. Dan Asia menyimpannya di pegunungan sebagai legenda. Dan tidak mengejutkan jika ajaran Yesus dan Buddha menuntun bangsa-bangsa menjadi satu keluarga. Memang indah, bahwa gagasan tentang kesatuan begitu jelas digambarkan. Dan siapa yang menentang gagasan ini? Siapa yang akan mengurangi keputusan hidup yang sederhana dan indah ini? Dan kesatuan duniawi begitu mudah bersatu dalam kesatuan besar dari seluruh dunia. Perintah Yesus dan Buddha terletak dalam satu rak. Dan tulisan kuno Sanskrit dan Pali mempersatukan semua aspirasi.”

Benarkah demikian? Memang masih banyak yang meragukan kebenaran dan keaslian berbagai bukti yang telah ditemukan oleh berbagai sumber tersebut. Sudah pasti para teolog kr****n di Barat pun menyangsikannya. Namun demikian sedikit banyak buku ini telah menyajikan, memberikan dan menyediakan satu petunjuk baru bagi penyelidikan selanjutnya. Paling tidak telah memberikan satu pemahaman baru yang cukup mengernyitkan dahi bagi tanda tanya kita mengenai perjalanan spiritual Yesus selama tahun-tahun yang hilang itu.

Perjalanan nabi Isa ( Yesus )

Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Elohim. Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru.

Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ?

Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut. Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India – sekarang Kashmir).

Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.

Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut “tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali,” dan ia harus menyusun “semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut”.[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar.

Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa “Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina.”[3] Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut :

Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]

Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahma “mengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka.”[5]

Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini.

Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. “Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci.”

Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia.”[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari dengan versi sendiri sesuai dengan kondisi dan budaya yang berlaku.

Pada abad kesembilanbelas (jadi hampir bersamaan dengan Notovitch) terbit sebuah “injil” yang dinamakan The Aquarian Gospel of The Christ yang ditulis oleh seorang pendeta militer yang pernah bertugas dalam Civil War, Levi Dowling (1844-1911). Judul halaman “injil” ini menyandang kalimat demikian : “Disalin dari Kitab Kenangan Ilahi yang dikenal sebagai Catatan Akasha”.

Disini, tidak seperti halnya Notovitch yang menyajikan kesimpulan berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno, Dowling mengklaim bahwa bukunya berdasarkan suatu “inspirasi” atau “penerangan” yang di kalangan kaum New Age dikenal dengan sebutan Catatan Akasha.[16] Injil yang pertama kali diterbitkan tahun 1911 ini lebih banyak berfokus kepada pendidikan dan perjalanan Yesus. Setelah belajar dari Rabbi Hillel, Yesus menurutnya menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya dengan belajar bersama-sama para Brahma dan kaum Buddhis.

Yesus dikatakan menjadi tertarik untuk belajar di negeri Timur setelah Yusuf, ayahnya, menjamu Pangeran Ravanna dari India. Selama kunjungannya, Ravanna sangat terkesan dengan Yesus kecil dan ia memohon kepada Yusuf supaya ia boleh menjadi pelindung anak kecil itu, dan supaya ia boleh membawanya ke negeri Timur dimana Yesus bisa belajar banyak ilmu dari para Brahma. Sebaliknya Yesus kecil pun menunjukkan ketertarikkannya, dan setelah berhari-hari akhirnya orangtuanya memberi izin. Maka begitulah “Yesus diterima sebagai seorang murid di sebuah kuil di Jagannath, dan disitulah ia belajar kitab Veda dan hukum Mani.”[17]

Yesus kemudian mengunjungi kota Benares di tepi sungai Gangga. Selama disana, “Yesus berusaha mempelajari seni penyembuhan Hindu, dan menjadi murid Udraka, tabib Hindu yang paling ternama”.[18] Dan Yesus “terus bersama Udraka sampai ia telah menguasai semua ilmu darinya yakni seni penyembuhan Hindu.”[19]

Levi melanjutkan kisah Yesus dengan mengisahkan perjalananNya ke Tibet dimana Yesus dikatakan bertemu dengan Meng-ste, orang bijak terbesar dari negeri Timur.” Dan Yesus boleh mempergunakan seluruh manuskrip-manuskrip suci dan, dengan bantuan Meng-ste, membacanya semua.”[20]

Yesus akhirnya tiba di Mesir, dan – mungkin ini adalah puncak dari masa-masa lowong itu – ia bergabung dengan “Persaudaraan Suci” di Heliopolis. Selama disana, ia berhasil melalui tujuh tingkatan inisiasi – Ketulusan, Keadilan, Iman, Kecintaan Sesama Manusia, Kepahlawanan, Kasih Ilahi, dan KRISTUS. Setelah ditahbiskan menjadi Kristus barulah Yesus kembali ke Israel dan melayani disana selama 3 tahun sebelum akhirnya menjalani penyaliban.

Selain Dowling, masih ada lagi seseorang yang mengaku mampu membaca Catatan Akasha. Edgar Cayce mengaku telah membaca 16000 catatan sepanjang hidupnya dimana 5000 di antaranya berbicara tentang agama. Dari catatan Akasha inilah Cayce mengisahkan masa-masa lowong kehidupan Yesus.

Manusia yang kita kenal sebagai Yesus, kata Cayce, mempunyai 29 inkarnasi sebelumnya. “Ini termasuk seorang pemuja matahari, pengarang Kitab Kematian (Mesir Kuno), dan Hermes. Yesus juga adalah Zend (ayah Zoroaster), Amilius (seorang penduduk Atlantis), dan figur-figur sejarah masa lampau lainnya.”[21] Inkarnasi lain termasuk adalah Adam, Yusuf, Yosua, Henokh, dan Melkisedek.

Jiwa ini belum menjadi “Kristus” hingga inkarnasi ketiga-belasnya sebagai Yesus dari Nazaret. Alasan mengapa Yesus mesti melalui begitu banyak inkarnasi adalah bahwa ia – sebagaimana makhluk manusia lainnya mempunyai “hutang karma” (dosa) yang harus dibayar.

Lanjutnya, Yesus mendapat pendidikan yang luas. Sebelum usia 12 tahun, ia telah belajar seluruh hukum Yahudi. “Mulai usia 12 hingga 15 atau 16 tahun, ia belajar ilmu kenabian dari Judy, seorang guru Essene di rumah sang guru di Karmel. Kemudian Yesus memulai pendidikannya di luar negeri, mula-mula di Mesir untuk beberapa waktu, lalu ke India selama tiga tahun, dan terakhir ke Persia. Dari Persia ia dipanggil pulang ke Yudea karena Yusuf wafat, selanjutnya pergi ke Mesir untuk menyelesaikan persiapannya sebagai seorang guru.”[22]

Selama pendidikannya itu, Yesus belajar dari banyak guru di antaranya Kahjian di India, Junner di Persia, dan Zar di Mesir. Ia juga mempelajari ilmu penyembuhan, pengontrolan cuaca, telepati, perbintangan, dan ilmu-ilmu cenayang lainnya. Ketika pendidikannya selesai, ia kembali ke negeri asalnya dimana ia melakukan “mukjizat-mukjizat” dan mengajar orang banyak selama tiga tahun.

Di Tiongkok

Master Xuyun, sesepuh Chan terkemuka di Tiongkok, yang snagat legendaris, pun juga menguasai silsilah Mahayana yang lain pernah bercakap-cakap dengan Chiang kai-shek dan Sun Yat Sen (dua”nya seorang Kristiani) tentang Yesus dan agama Kristiani.

Beliau mengatakan pada Chiang Kai Shek kurang lebih: “Ajaran Kristiani dan Tanah Murni hampir mirip, Sang Buddha lahir sebelum Yesus, tidak mungkin ajaran Tanah Murni berasal dari Kristiani. Raja Ashoka mengutus para bhiksu sampai ke Syria, Mesir dsb…Timur Tengah. Para sarjana barat menemukan sebuah buku karya Petrus (salah satu 12 rasul murid Yesus) yang berjuful Kronologis Rasul Aquarian (beda dengan Injil Aquarian), Yesus pernah belajar agama Buddha di India dan membawa kembali ajarannya. Kisha ini awalnya ada di Injil namun dihapus oleh gereja Vatikan Roma. Jika teori ini benar, maka Yesus mungkin saja mendapat pengaruh dari agama Buddha, di mana beliau mendapatkan Amitabha Sutra dan kembali ke tanah kelahirannya mendirikan agama baru.”

Dalam “Kronologis Rasul aquarian” yang ditulis Rasul Petrus dikisahkan bahwa Yesus saat itu berdiam di Galilea, seorang Farisi menanyainya sipakah gurunya? Yesus berkata bahwa Sang Buddha adalah gurunya. Beliau berkata bila dia mengajarkan Buddha Dharma, orang” Yahudi itu tidak akan mengerti, sehingga ia hanya menjabarkan Dharma yang sederhana (paham Kristiani). Yesus mengatakan bahwa dia harus mengasihi Buddha, baru beliau dan Bapa (Allah) mengakuinya sebagai murid. Yesus berjanji menghantarkan mereka yang percaya pada Tanah Suci Sukhavati Amitabha Buddha.

Dengan Sun Yat Sen, Xuyun pertama ditanya oleh Dr. Sun: “Takhayulisme dari tradisi seharusnya dihapuskan, seperti kepercayaan pada penyembuhan magis menggunakan “hu”, membakar dupa dan lilin sebnayak-banyaknya untuk emndapatkan apa yangdiinginkan, membakar kertas.”
Xu Yun kemudian menimpali: “Itu bukanlah Buddha Dharma. Buddha Dharma tidak mengajarkan takhayulisme semacam itu. Masyarakat biasa secara membuta memuja dewa Buddha dan Bodhisattva sehingga mereka mengacaukan ajaran Buddha yang murni.
Dr. Sun berkata: “Ini sama dengan Yesus yang mengajarkan cinta kasih universal, namun para pengikutnya saling bertengkar. Saya merasa bahwa jiwa Kristiani dan buddhis sangatlah dekat, sama” mengajarkan cinta kasih universal bagi semua ornag tanpa mebdea-bedakan serta mengajarkan kerelaan. Di hatiku, aku merasa Kristianitas dan Buddhisme itu selaras. Maka saya mengkritisi para penganut Kristiani yang menyerang Buddhisme.”
Xu Yun menjawab: “Ya, Buddhisme dan kristianitas itu selaras. Setelah Yesus berumur belasan tahun ia pergi ke India belajar agama Buddha. Yesus belajar bertahun-tahun di Ibndia dan kembali ke Israel untuk mewartakan karya misionaris.” Murid dekat yesus yaitu Petrus menulis Kronologis Rasul Aquarian, mencatat kejadian tersebut namun skerang disembunyikan oleh Vatikan, sehingga tidak menyebar.
Dr. Sun berkata: kalau ada buku seperti ini tentu harus dipelajari! Di manakah dapat ditemukan buku ini?
Xu Yun menjawab: “Aku mendengar dari seorang asing bahwa buku ini masih secara minim dipublikasikan di perpustakaan Vatikan dan perpustakaan British.”

Xu Yun suatu kali juga pernah mengatakan bahwa Kristianitas terlahir dari Amitabha Sutra. Buddha menjabarkan tentang Sukhavati. Yesus menjabarkan tentang Kerajaan Surga. Sembilan jenis kelahiran di Sukhavati dapat diperbandingkan dengan 9 kelas malaikat dalam paham Katholik. Kemudian juga menjabarkan persamaan lainnya.

Master Hsuan Hua, murid Xu Yun mengatakan bahwa: “Avalokitesvara menjelma menjadi Bunda Maria untuk secara upaya kausalya membimbing para makhluk ke alam surga [deva].” ” Yesus adalah Bodhisattva bhumi ketujuh.

Sedangkan Chogyam Trungpa Rinpoche mengatakan bahwa Yesus adalah Bodhisattva bhumi keenam. Dalai Lama juga menyebut Yesus sebagai seorang Bodhisattva.
Sesso, seorang master Zen abad pertengahan di Jepang, mengatakan bahwa “Yesus adalah murid Shakyamuni Buddha”, namun di akhirnya ajarannya menyimpang dari Buddha Dharma yang sebenarnya.

Kesimpulan: Mungkinkah Yesus adalah Bodhisattva dan murid Buddha, yang sedang melakukan upaya kausalya, mengajarkan paham kristiani bagi mereka yang batinnya belum matang sepenuhnya tuk menerima Buddha Dharma?

Perlu diketahui di sini bahwa Paulus itu bukan murid Yesus, seumur hidupnya tidak pertemu bertemu dengan Yesus dan bahkan menganut paham yang berseberangan dengan Jemaat Yerusalem (Jemaat Libertini) dan ke-12 murid. Hanya Petrus saja waktu itu yang masih mau membela Paulus. Ini semua bisa kita cek dari teks-teks PB itu sendiri, yakni Kisah Para Rasul & Surat-surat Paulus dari awal hingga Surat Galatia. Sewaktu beberapa tahun yang lalu saya iseng-iseng mempelajari Buddhisme (Theravada & Tantrayana) salah satunya gara-gara dikasih baca buku Lived in India, saya sangat terkejut karena ternyata versi ajaran Buddhisme Mahayana yang asli itu ternyata sama persis dengan penjelasan Yesus mengenai konsep “Tuhan” di injil-injil rahasia (Apokrifa) Jemaat Gnostik ! Teologinya memang sangat njlimet (gak heran juga sih dulu dianggap “sesat” oleh Gereja karena memang sangat membingungkan jika tidak ada rujukan pembandingnya) dan saya pun hanya bisa mengimaninya setelah membandingkan silang antara keduanya.

Dan memang benar, semua teks-teks ini membuktikan bahwa ajaran yang dibawa oleh Yesus itu tidak lain adalah Buddhisme (Gnostikisme = Buddhisme!) Mahayana (sesuai tradisi asli yang dipegang oleh versi orang2 Tibet saat ini). Dan memang adalah FAKTA SEJARAH bahwa di abad ke-4, Jemaat Gnostik itu secara RESMI menggabungkan diri dengan Buddhisme di bawah kepemimpinan Manichaeus, tentunya karena mereka ketika itu menyadari kesamaan di antara keduanya. Oleh Gereja, gerakan ini dulu dicap sebagai “sinkretisme”, seolah ada agama yang tidak “sinkretik” di muka bumi ini.

Lucunya juga, bahkan keponakan saya yang masih SD dan imut-imut pun (namun kebetulan sekali memang kelihatannya IQ-nya cukup tinggi) pernah bingung dan bertanya-tanya dengan keimanannya: masak sih Yesus itu yang menciptakan Neraka bagi kita (sebagaimana yang konon diajarkan oleh Tafsir Resmi Gereja)? Lalu tujuan kita hidup itu apa? Untuk saat ini saya tidak berani memberi penjelasan kepada dia karena takut dimarahi kedua orangtuanya…..

Satu pemikiran pada “Kisah Perjalanan Yesus ( nabi Isa )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s