PRANAYAMA.DAN MOKSA

PRANAYAMA.DAN MOKSA

Pranayama atau pranayana di ambil dari kata prana artinya ; energi vital , energi murni , inti hawa atau napas roh .dan ayama atau ayana artinya peregangan atau perluasan . pranayama berarti perluasan dan kontrol terhadap pernapasan , pada dasarnya pranayama adalah ilmu pernapasan .
menurut kepercayaan orang india (hindu) bahwa di udara bebas ini terdapat unsur gaib yang bersatu dengan zat asam , unsur gaib itu berupa unsur yang sangat halus lebih halus dari oksigen sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam semesta , zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai keperluan , zat ini di sebut Prana , orang mesir kuno menyebutnya ka , orang cina tradisional menyebutnya Chi , orang jepang menyebutnya ki , orang arab menyebutnya Nur , orang kahuna hawai menyebutnya dengan istilah Mana , orang jawa menyebutnya Sima

Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lubang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) ke seluruh tubuh. Pranayama terdiri dari : Puraka yaitu memasukkan nafas, Kumbhaka yaitu menahan nafas, dan Recaka yaitu mengeluarkan nafas.
Puraka, kumbhaka dan recaka dilaksanakan pelan-pelan bertahap masing-masing dalam tujuh detik. Hitungan tujuh detik ini dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan ketujuh cakra yang ada dalam tubuh manusia.
Getaran-getaran mental dikendalikan oleh kekuatan kehendak (will power), dan prana secara tidak langsung berada di bawah kendali pikiran.

Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni:
(i) menarik nafas (puraka),
(ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka),
(iii) menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan
(iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-kumbaka).

Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”

Praktek Pranayama cara 1:

Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja,:
• dengan puraka(tarik nafas), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
• kumbhaka (tahan nafas), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
• saat tahan nafas sudah tidak kuat, tarik nafas cepat 1 detik, thn 3 detik, agar prana dapat masuk kepori2x tubuh yang blom teraliri prana
• dengan recaka(buang nafas) , bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.

Jika untuk memiliki tenaga dalam, dalam tempo 1 bln sudah ada hasil.
Tapi jika untuk hasil 100% semua kekuatan/kesaktian tubuh, Lama latihan: 21 bln dgn latihan tiap hari, 2x sehari…

Lakulan kumbaka secara bertahap menambah lamanya,jgn dipaksa,tetapi menambah lama sedikit2x, sehingga kita bisa melakukan kumbhaka selama 3 jam, tetapi badan tetap rilex tidak tegang/berat menahan beban kekurangan udara.

Praktek pranayama cara 2/kriya pranayama
sorry kriya pranayama nga bisa disini…200lembar…nga ada copas dr internet,mesti ketik..
Hasil dgn melakukan kriya pranayama dgn kumbhaka selama:…
- 10.8menit maka seluruh indera akan berhenti berfungsi.:.. dlm keadaan ini…bisa merogosukmo, mengolah bathin terhadap sesuatu ilmu tanpa puasa&mantra
- 13.7menit maka maka akan masuk keadaan samadhi: ..dlm keadaaan ini dapat mempunyai kesaktian tanpa harus puasa&mantra
- 21.5menit maka pikiran akan selalu tenang: ..dlm keadaaan ini apa yg dipikirkan akan terjadi, dpt mengendalikan benda & alam
- 90 menit maka tidak ada yg mustahil dilakukan didunia ini oleh kita:..dlm keadaaan ini tenaga akan kuat, kebal terhadap benda
- 3,7jem maka tidak lagi terikat waktu & tempat.: ..dlm keadaaan ini..dapat berpindah tempat, menembus benda, dapat bernafas dimanapun

-Dgn pengaturan nafas bisa memperoleh umur panjang.
•Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50x/menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja.
•Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35x/menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun.
•Gajah yang bernafas 20/menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun.
•Kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun
•Ular hanya 2-3x/menit.umurnya bisa 500 – 1000 tahun.

Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit…..jadi jika bisa bernafas 5x/menit…manusia bisa berumur 400 thnan… …….2x/menit manusia akan berumur 1000than…..bisa nga yachhhh???
‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya”

jika melalukan kriya pranayama hingga terangkat dr tempat duduknya & melayang diudara, berarti sudah mengendalikan manipura&anahata chakra & dpt mengendalikan prana dgn baik……katanya..

Ada 5 kekuatan yang berstana di dalam tubuh manusia untuk menjaga keseimbangan Panca Prana yaitu:
•Prana = napas kehidupan yang menggerakkan mata, telingan, mulut, dan hidung.
•Apana = napas keluar yang menggiatkan alat-alat pembuangan dan penyambung jenis.
•Samana = napas penyeimbang menggiatkan kelenjar pembagian makanan
•Wyana = napas terbesar untuk menggiatkan segenap system urat saraf dengan arus balik dari dan kembali ke Jantung.
•Udana = napas ke atas berfungsi pada saat kematian dan mengatar jiwa ke kehidupan berikutnya.
Untuk mencapai keseimbangan di dalam tubuh manusia harus menjalankan Tapa, Yoga / Samadhi, guna mencapai kekuatan.

PRANA
kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan, memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana, pikiran bisa ditenangkan.
prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana, sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi, namun negatif bagi pikiran.
“Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan”

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian atau pengaturan.
Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas.
prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan syaraf.

Prana dpt dilihat oleh mata yang sudah awas &terlatih. prana berbentuk seperti beras(namun sangat kecil sekali) yg berwarna emas mengkilat/putih mengkilat. Prana slalu bergerak2x di sekitar kita dgn sangat cepat seperti gerakan kuman dilihat dgn mikroskop.
Cara untuk melihat prana:
-ditempat yg terang benderang kena cahaya matahari/kena terang matahari.
-arahkan pandangan anda ketempat kosong sejauh 1-3m.
-fokuskan penglihatan di tempat kosong diudara.
-pandangan disamarkan terhadap benda yg ada didepan kita, tapi fokus ke udara kosong saja.
mungkin butuh latihan lama..)), sekitar 1 bln, gw dulu juga gitu…tau2x bisa liat tuchhh prana
cara lain melihat prana: bisa ditempat terang&gelap
-mata merem
-pusatkan semua otot muka ke daerah atas hidung
- keraskan otot muka kesatu titik diatas hidung dlm keadaan merem
- perhatikan kegelapan yang ada dlm mata tertutup & otot muka tegang sekitar 30 detik… seperti langit malam hari bertaburan bintang
-buka mata … perhatikan 10- 50 cm sekitar….mata&muka relax
- ada apa???? prana bertebaran & sangat banyak, berjarak 1 cm satu asama lain, dalam keadaan bergerak cepat,bersinar terang emas.

Sepanjang Sushumna, ada tujuh pusat-pusat bathin (psychic centers) mulai dari Muladhara Chakra. Mereka tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka dipercaya berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warna yang berbeda, dan masing-masing mengendalikan kegiatan dari organ indriya yang berbeda.

1.Muladhara Chakra (pada dasar dari tulang belakang) memiliki empat daun bunga dan mengendalikan bau dengan unsure padat. Tempat pada tulang punggung di antara payu pastha atau dubur dan kelamin.
2.Swadishthana Chakra (pada dasar kelamin) memiliki enam daun bunga dan mengendalikan rasa, dengan unsure cair, Tempat pada tulang punggung diantara nadi pusar dengan upastha/alat kelamin.
3.Manipura Chakra (di seberang pusar) mempunyai sepuluh daun bunga dan mengendalikan pandangan, dengan uncur cahaya ,Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan Nadi/Pusar.
4.Anahata Chakra (sejajar dengan hati) mempunyai duabelas daun bunga dan mengendalikan sentuhan, dengan udara , Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan hulu hrdaya atau hulu hati/jantung.
5.Wisuddha Chakra (pada jakun kerongkongan) memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan pendengaran, dengan unsur ether , Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan tempatnya Kerongkongan.
6.Ajna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga dan mengendalikan pikiran. , Terdapat pada tulang punggung dan sejajar dengan letaknya bhrumadya/Kening
6.Sahasrara Chakra (terletak diatas titik paling atas dari kepala) mempunyai seribu daun bunga. Disini Yogi telah meperoleh Kesadaran Kosmis., Tempatnya pada SiwaDwara/Ubun-Ubun dan sehasra cakra ini sering pula disebut Siwasthana Brahmaranda.

APAKAH KEKUATAN KUNDALINI?
ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular.
Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama).
karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya.
Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan.
Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala.
Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

Syaraf Dalam Yoga

Di dalam badan manusia terdapat 350.000 nadi; di antaranya 14 merupakan yang utama. Susumna, Ida, Pingala, Gandhari, Hastijihvika, Kuhu, Sarasvati, Pusa, Sankhini, Payasvani, Varuni, Alambusa, Visvodari dan Yasasvini. Di antara kesemuanya ini, Ida, Pingala dan Susumna adalah yang terpenting.

Semua nadi (pembuluh) yang prinsip ini memiliki mulut yang mengarah ke bawah dan berbentuk seperti serat halus bunga teratai. Mereka semuanya ditunjang oleh tulang belakang dan menggambarkan matahari, bulan dan api
Yang paling penting dari ketiganya ini adalah citra. Di sana ada lubang terkecil dari semua lubang, yang disebut Cemerlang dengan lima warna, murni, yang bergerak di tengah-tengah susumna, citra ini merupakan bagian yang penting dari badan dan pusat susumna.
Ini disebut dalam sastra sebagai jalan surga; yang merupakan pemberi kebahagiaan dari keabadian; dengan perenungannya, yogi yang hebat mampu menghancurkan segala dosa

Dengan Yoga, Kita dapat menyaksikan apa yang telah terjadi dalam hidup kita, yang bila kita renungkan kembali, benar juga, itu adalah akibat atas apa yang kita pikirkan. Semua yang sudah terjadi adalah akibat dari pikiran kita sebelumnya.
Berpegang pada prinsip apa-apa yang telah terjadi adalah karena fokus kita.
Bilamana kita berfokus pada hal-hal yang negatif, seperti memikirkan hal-hal susah, maka hasil yang didapatkan juga akan menjadikan kita benar-benar susah.

Rahasia kesaktian seorang para yogi

-Bila udara memasuki matahari(pagi-sore), ini adalah saat yang tepat bagi yogi mengambil makanannya (yakni, bila pernafasan mengalir melalui pingala).
- bila udara masuk ke bulan(sore-pagi), ia harus pergi tidur (yakni, bila pernafasan mengalir melalui lubang hidung kiri atau ida).
-Yoga (pranayama) hendaknya jangan dilakukan segera setelah makan, ataupun bila seseorang terlalu kenyang; sebelum memulai melakukannya, sedikit susu dan mertega dapat diminum/dimakan.
Bila seseorang telah melakukannya dengan baik dan benar, maka ia tak perlu memperhatikan pemabatasan-pembatasan ini.
Jika atas kemampuannya yogi dapat mengatur udara dan menghentikan pernafasan (kapanpun dan bagaimanapun lamanya) yang ia sukai, maka secara pasti mendapat keberhasilan dalam kumbhaka.

hasil dari kumbhaka

Tahap Pertama
-badan yogi mulai berkeringat. Bila demikian ia harus mengusapnya dengan baik-baik, kalau tidak badannya kehilangan dhatu (humor)nya.
-umur bertambah panjang. karena umur manusia berdasarkan banyaknya deyut nadi……lupa tapi brp banyak.. nanti gw cari bukunya
Tahap Kedua dan Ketiga
-Pada tahap kedua terasa gemetar pada badan dan pada tahap ketiga, meloncat, kira-kira seperti seekor kodok dan bila pelaksanaannya menjadi semakin tinggi, akan mahir berjalan diudara.
-Bila yogi dapat terangkat diudara dan lepas dari tanah, walaupun tetap dalam keadaan padmasana, maka telah mendapatkan vayu-siddhi (berhasil mengatasi udara). Tetapi selama belum mendapatkannya, patuhilah segala aturan-aturan dan pembatasan yang ditentukan diatas. Dari kesempurnaan pranayama ikutilah pengurangan tidur, buang air dan kencing.
-Yogi yang bebas dari penyakit dan kesedihan atau duka cita; ia tak pernah memperoleh keringat (busuk), air ludah dan cacing-cacing usus.
-Bila pada badan tdk terdapat penambahan lender, angin ataupun empedu; maka kemungkinan ia dapat bebas dalam ketakteraturan istirahat dan makanannya.
-tak ada hal merugikan yg terjadi, walaupun yogi makan banyak atau makan terlalu sedikit atau bahkan tidak makan sama sekali.
- Berkat kekuatan dari pelaksanaan yang konstan, yogi mendapatkan bhucari-siddhi, ia bergerak seperti kodok yang melompat diatas tanah, bila kaget dengan tepukan tangan.
- duduk pada tempat terpencil dan mengekang nafsunya, dengan pengulangan yang tak terdengar, mengucapkan pranava panjang ….Om…., agar supaya menghancurkan segala halangan.
-Pelaksana yang bijaksana melalui pengaturan pernafasan secara pasti menghancurkan karma-nya, apapun yang diterimanya pada kehidupan yang sekarang, ataupun dimasa lalu.
-Yogi yang hebat dengan 16 pranayama dapat menghancurkan bermacam-macam kebajikan dan kejahatan yang tertimbun dalam kehidupan masa lalunya.
-Pranayama ini menghancurkan dosa, seperti api yang membakar habis setimbunan kapas yang membuat yogi bebas dari dosa, selanjutnya menghancurkan semua ikatan perbuatan baiknya.
-Yogi yang hebat setelah memperoleh 8 jenis tenaga fisik
-Kemudian secara berangsur-angsur ia akan membuat dirinya sendiri dapat melaksanakan selama 3 ghati (sekali dalam 1 jam, ia akan dapat menahan pernafasan selama jangka waktu tersebut). Melalui ini, yogi tak disangsikan lagi mendapatkan semua tenaga yang didambakannya.

Yogi mendapat kekuatan (tenaga) berikut ini;
-vakya siddhi (kemampuan meramal),
-pemindahan dirinya sendiri kemana-mana menurut (kamacari),
-tembus mata (duradrsti), tembus telinga (durasruti), penglihatan halus (suksma-drsti) dan
-kemampuan memasuki badan orang lain (parakaya-pravesana),
-mengubah dasar metal menjadi emas
-tenaga menjadi kuat
-dpt bergerak ringan diudara.

Persiapan latihan:
-Suatu tempat menyendiri yang menyenangkan dan indah atau sebuah kamar kecil, melakukan sikap padmasana dan duduk pada tempat duduk yang terbuat dati rumput kusa/bahan yg empuk, memulai untuk melaksankan pengaturan nafas.
-harus menjaga badannya agar selalu tegap, jangan dibengkokkan, tangannya tercakup seolah-oleh seperti memohon dan menghormat guru pada sebelah kiri,
-Cobalah tarik nafas melalui lubang hidung kanan dan menghentikan pernafasan selama kemampuannya memungkinkan; kemudian hembuskan udara melalui lubang hidung kiri tanpa paksaan, tetapi pelan-pelan dan wajar.
-cobalah melaksanakan 20 kali kumbhaka (menghentikan pernafasan). Ia harus melakukan hal ini setiap hari.
-Khumbhaka ini hendaknya dilakukan 4 kali: – sekali pagi-pagi ketika matahari muncul, kedua pada waktu tengah hari, ketiga matahari terbenam dan keempat pada waktu tengah malam.

Bila hal ini telah dilaksanakan setiap hari, selama tiga bulan dengan teratur, maka nadi-nadi (pembuluh) dari badan akan siap dan pasti dibersihkan.
Bila nadi-nadi dari para yogi penerima kebenaran dibersihkan, maka kekurangan atau cacat-cacatnya semua dihancurkan, ia memasuki tahapan pertama dalam melaksanakan yoga yang disebut arambha.
Tanda-tanda yang pasti, terasa dalam badan yogi yang nadi-nadi-nya telah dibersihkan. akan dpt diketahui, segala macam tanda itu dengan ringkas.
Badan orang yang melaksanakan pernafasan secara teratur akan menjadi berkembang secara selaras, memancarkan bau harum dan kelihatannya indah serta menarik.

Moksa

Menurut kitab-kitab Upanisad, moksa adalah keadaan atma yang bebas dari segala bentuk ikatan dan bebas dari samsara. Yang dimaksud dengan atma adalah roh, jiwa. Sedangkan hal-hal yang termasuk ikatan adalah :

1) pengaruh panca indria,
2) pikiran yang sempit,
3) ke-akuan,
4) ketidak sadaran pada hakekat Brahman-Atman,
5) cinta kasih selain kepada Hyang Widhi,
6) rasa benci,
7) keinginan,
8) kegembiraan,
9) kesedihan,
10) kekhawatiran/ketakutan, dan
11) khayalan.

Moksa dapat dicapai oleh seseorang baik selama ia masih hidup (disebut : Jivam Mukta), maupun setelah meninggal dunia (disebut : Videha Mukta). Jika selama masih hidup seseorang itu mencapai moksa maka ia telah mencapai tingkat moral yang tertinggi, kehidupannya sempurna (krtakrtya), penuh dengan kesenangan (atmarati) karena terbebas dari 11 jenis ikatan yang disebutkan diatas, memandang dirinya ada pada semua mahluk (eka-atma-darsana), memandang dirinya ada pada alam semesta (sarva-atma-bhava-darsana). Kesenangan juga tercapai karena pengetahuan dan kesadaran bahwa brahman-lah atman yang ada didirinya (brahmanbhavana). Jika moksa dicapai setelah meninggal dunia maka terjadilah proses menyatunya atman dengan brahman sehingga atman tidak lahir kembali sebagai mahluk apapun atau bebas dari samsara, disebut juga sebagai kedamaian abadi (sasvatisanti).

Moksa adalah tujuan hidup manusia yang tertinggi yang dapat dicapai oleh setiap manusia bila ia :

1) Mampu membebaskan atman dari ikatan.
2) Mempunyai pengetahuan utama (paravidya) tentang brahman.
3) Melaksanakan disiplin kehidupan yang suci.
Oleh karena itu moksa juga dikatakan sebagai pahala yang tertinggi dari Hyang Widhi atas karma manusia utama, suatu anugerah yang maha mulia.

Ada kutipan Svetasvatara Upanisad I.6 yang sangat indah :
Sarvajive sarvasamsthe brhante asmis, hamso bhramyate brahmacakre, prthag atmanam pretitaram ca justas, tatas tenamrtatwam eti.
Artinya : Dalam roda Brahman yang maha besar dan maha luas, didalamnya segala sesuatu hidup dan beristirahat, sang Angsa mengepak-epakkan sayapnya dalam melakukan perjalanan sucinya. Sejauh dia berpikir bahwa dirinya berbeda dengan Sang Maha Penggerak maka ia dalam keadaan tidak abadi. Apabila dia diberkahi oleh Hyang Widhi maka ia mencapai kebahagiaan sejati dan abadi.

Makna dari sloka upanisad di atas adalah :
Sekalipun anda telah melaksanakan disiplin kehidupan suci dan membebaskan atman dari ikatan-ikatan, namun bila anda tidak menyadarkan atman bahwa Brahmanlah atman, maka anda belum mencapai moksa
KESIMPULAN : Moksa adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah sorga yang sebenarnya. Moksa dapat dicapai dengan upaya yang tekun melaksanakan.

Metalica

misteri yoga dan kundalini sakti.

misteri yoga dan kundalini sakti.

Setiap orang mempunyai tenaga spiritual rahasia yang berbeda dan berpusat di ujung tulang ekor. Tenaga ini di dalam ajaran-ajaran spiritual kuno India dinamakan kundalini. Bagi orang kebanyakan, tenaga kundalini itu berada dalam keadaan tidur. Namun bagi yang mengerti, kundalini itu merupakan kekuatan sumber atau kekuatan dasar dari segala kekuatan di dalam badan. Baik yang bersifat kasar ataupun halus, dan mereka akan berusaha untuk membangkitkan Kundalininya.

Kundalini memulai kebangkitannya dari pusatnya di Cakra Muladhara, melewati Cakra Swadhisthana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Visuddha, Cakra Ajna, dan akhirnya mencapai Cakra Sahasrara, yaitu Cakra ke tujuh dan Cakra pusat terakhir dengan seribu pusat. Antara cakra ke tujuh dan cakra ke enam terdapat sebuah titik pusat yang dinamakan Bindu Visarga. Pusat ini yang memegang peranan sangat penting dalam kebangkitan kundalini.

Berbagai agama dan kepercayaan memiliki cara masing-masing yang berbeda untuk membangkitkan kundalini, dengan sistem dan tujuan yang berbeda pula. Beberapa diantaranya yang masih terpukau oleh kekuatan-kekuatan bawah, berusaha membangkitkan kundalini dengan tujuan mendapatkan kekuatan-kekuatan gaib, tenaga dalam  dan lain-lain. Namun tidak semua yang berusaha membangkitkan kundalini mempunyai tujuan untuk membebaskan dirinya dari khayalan dan kepalsuan. Malah sebaliknya berusaha memusatkan praktek-praktek pembangkitan kundalininya untuk tujuan merealisasikan Sang Diri Sejati. Mereka yang telah berhasil membangkitkan kundalininya akan mampu menjadi tuan dari keinginan-keinginannya.

Kata Cakra menunjukkan arti perputaran roda. Masing-masing cakra merupakan pusat-pusat roda pemutaran dari berbagai tenaga-tenaga yang berlainan di pusat-pusat yang berbeda pula di dalam tubuh manusia. Lancar tidaknya, atau berhasil tidaknya pemutara dan pembangkitan ditentukan oleh sejauh mana yang bersangkutan berhasil menyucikan pusat-pusat kekuatan tersebut. Tentu, serta saluran-saluran nadinya, khususnya tiga buah nadi, yaitu Ida, Pinggala dan Susumna nadi.

Spiral adalah kekutan daya hidup alami dan pertumbuhan. Spiral ini terus tumbuh dan tidak persis sama ditemui pada setiap orang. Spiral ini merupakan bentuk dari ‘curve’ dimana satu dan yang lain ukurannya berbeda tetapi bentuknya sama. Spiral bekerja dengan dua cara dan keluar masuk menuju sumbernya. Spiral ini dapat menentukan dan mengeliminasi hal-hal yang telah terjadi, secara tidak langsung dapat mencapai bagian yang lebih besar dan hal yang baru.

Misteri Yoga dan Kundalini Sakti (2)

Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama). Menurut Tantra, karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya. Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan. Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala. Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

hasil dari YOGA:
Tahap Pertama
Pada pranayama tahap pertama, badan yogi mulai berkeringat.
Bila demikian ia harus mengusapnya dengan baik-baik, kalau tidak badannya kehilangan dhatu (humor)nya.

Tahap Kedua dan Ketiga
-Pada tahap kedua terasa gemetar pada badan dan pada tahap ketiga, meloncat, kira-kira seperti seekor kodok dan bila pelaksanaannya menjadi semakin tinggi, akan mahir berjalan diudara.
-Bila yogi dapat terangkat diudara dan lepas dari tanah, walaupun tetap dalam keadaan padmasana, maka ketahuilah bahwa ia telah mendapatkan vayu-siddhi (berhasil mengatasi udara), yang menghancurkan kegelapan dunia ini.
-Tetapi selama (ia belum mendapatkannya), patuhilah segala aturan-aturan dan pemabtasan yang fitentukan diatas.
Dari kesempurnaan pranayama ikutilah pengurangan tidur, buang air dan kencing.
-Yogi yang memahami secara benar akan bebas dari penyakit dan kesedihan atau duka cita; ia tak pernah memperoleh keringat (busuk), air ludah dan cacing-cacing usus.
-Bila pada badan pada pelaku tak terdapat penambahan lender, angin ataupun empedu; maka kemungkinan ia dapat bebas dalam ketakteraturan istirahat dan makanannya.
-Kemudian tak ada hal merugikan yang akan menyertai, walaupun yogi makan banyak atau makan terlalu sedikit atau bahkan tidak makan sama sekali. Berkat kekuatan dari pelaksanaan yang konstan, yogi mendapatkan bhucari-siddhi, ia bergerak seperti kodok yang melompat diatas tanah, bila kaget dengan tepukan tangan.
-Sesungguhnya, banyak halangan-halangan yang keras dan sangat tak mungkin untuk diatasi didalam yoga, namun sang yogi harus melanjutkan pelaksanaannya disegala bahaya, walaupun nyawanya telah mencapai kerongkongan.
-Kemudian biarkanlah si pelaku dengan duduk pada tempat terpencil dan mengekang nafsunya, dengan pengulangan yang tak terdengar, mengucapkan pranava panjang Om, agar supaya menghancurkan segala halangan.
-Pelaksana yang bijaksana melalui pengaturan pernafasan secara pasti menghancurkan krma-nya, apapun yang diterimanya pada kehidupan yang sekarang, ataupun dimasa lalu.
-Yogi yang hebat dengan 16 pranayama dapat menghancurkan bermacam-macam kebajikan dan kejahatan yang tertimbun dalam kehidupan masa lalunya.
-Pranayama ini menghancurkan dosa, seperti api yang membakar habis setimbunan kapas yang membuat yogi bebas dari dosa, selanjutnya menghancurkan semua ikatan perbuatan baiknya.
-Yogi yang hebat setelah memperoleh 8 jenis tenaga fisik dan melewati lautan kebajikan dan kejahatan, melalui pranayama dapat bergerak dengan bebas melalui tri bhuvana.
-Kemudian secara berangsur-angsur ia akan membuat dirinya sendiri dapat melaksanakan selama 3 ghati (sekali dalam 1 jam, ia akan dapat menahan pernafasan selama jangka waktu tersebut). Melalui ini, yogi tak disangsikan lagi mendapatkan semua tenaga yang didambakannya.

Potensi Terpendam Hatha Yoga      

Fenomena dari spiral ini memberikan suatu pola evolusi suatu individu dan mencapai level kosmik. Pada intinya, Hatha Yoga merupakan kundalini sakti yaitu lingkaran ular berbentuk spiral yang menggambarkan kekuatan dan  tenaga potensial yang terpendam, yang pada dasarnya terdapat di dalam diri setiap orang. Kundalini mengandung arti panas dan sakti berarti kekuatan. Jadi kundalini sakti berarti tenaga spiral yang panas, diam terbaring namun merupakan tenaga yang potensial. Dan tenaga ini siap meluncur ke atas bila sudah dibuka pembungkusnya dan jalurnya sudah dibersihkan.

Di dalam kitab Gheranda-Samhita (3.9) dinyatakan bahwa kundalini terletak di Muladhara di daerah bagian bawah abdomen. Salah satu cara untuk merangsang cakra ini dengan menekan lapisan abdomen dengan tumit dan kedua sisi dari kaki, dimana tumit menekan lubang dubur dan mata kaki menekan solar plexus, dan merangsang kundalini dengan mengkontraksikan lubang dubur(bhanu).

Kundalini merupakan tenga yang dahsyat dan menyebar sehingga diyakini sebagai sumber kehidupan. Terdapat titik khusus dalam matrix tubuh yng menyimpan tenaga potensial untuk merangsang atau mendapatkan tenaga tersebut. Dan satu dari titik itu menjadi perhatian khusus dalam Hatha Yoga.

Tujuan pertama dari Hatha Yoga adalah untuk membersihkan nadi sehingga dapat memperlancar prana, dan kemudian mendorong naik kekutan Kundalini. Pengaktifan tenaga laten yang dahsyat ini dilakukan menimbulkan transformasi yang mendalam dari yogi dan mempercepat perkembangan kesadaran akan identitasnya. Tahapan utama dalam proses transformasi ini ditunjukkan secara bersamaann dengan pembukaan dan penutupan kundalini di berbagai Cakra yang terletak di citrini-nadi dalam jalur Susumna, dan sampai pada puncaknya di Sahasrara –padma.

Sering orang-orang terserongkan oleh tanda-tanda tertentu yang kadang hanya merupakan getaran-getaran dari reaksi sentuhan awal kundalini. Mereka langsung mengatakan bahwa kundalini telah bangkit. Beberapa indikasi bangkitnya kundalini akan muncul setelah yang bersangkutan menunjukkan cara hidup yang diperlukan untuk itu. Kundalini tidak akan dapat bangkit jika yang bersangkutan tidak menjauhkan diri dari sifat-sifat yng tidak terpuji, termasuk sifat-sifat tidak terpuji yang sangat tersembunyi, yang sering bersembunyi pula di dalam kegiatan-kegiatan yang tampaknya saleh.

Beberap indiksi bangkitnya kundalini dapat diyakini jika terjadi adanya hentakan di Cakra Muladhara, ketika rambut berdiri pada pangkalnya saat Uddiyana, Jalandhara, dan Mulabandha muncul secara otomatis, saat nafas berhenti tanpa dikehendaki, saat Kevala Kumbhaka (konsentrasi penuh pada Prana) datang dengan sendirinya tanpa ditahan. Saat merasakan aliran prana mengalir ke atas menuju Sahasrara, saat mengalami pengalaman mistik, saat terucapnya mantra gaib OM berulang kali secara otomatis, saat tidak ada pikiran duniawi dalam benak, saat meditasi mata menjadi satu di trikuta (di antara dua alis mata), saat samsavi-mudra bereaksi, saat itu dikatakan bangkitnya kundalni. Selama meditasi, seolah-olah tidak merasakan badan, saat bola mata tertutup dan tidak terbuka tanpa dikehendaki, saat seperti adanya liran listrik mengalir naik-turun melalui saraf, saat itu dikatakan kundalini telah bangkit.

MISTERI YOGA DAN KUNDALINI SAKTI 3

Keseimbangan Nadi Ida dan Pingala

Psychiatris Amerika dan Opthalmologist Lee Sannella membuat kajian mendetail tentang ciri psychologist dn physioplogis dari “pengalaman kundalini” mencatat, bahwa sensasi pisik seperti gatal, bergerak-gerak, berdenyut, rasa panas-dingin yang amat sangat, penglihatan sinar dan perasaan adanya sumber suara, dan juga adanya “sparm” dan melilit seperti proses pembentukan  “archetypa”(multi bentuk) atau paling tidak dalam phase seperti itu. Lebih lanjut gambar klinis bangkitnya Kundalni juga diamati.

Menurut text India, Kundalini bangkit atau dibangkitkn pada jalur tulang belakang bergerak ke atas melalui  susumna bagian tengah dan berakhir setelah mencapai mahkota kepala. Sedangkn Lee Sannela menyatakan gambar klinis Kundlini bergerak dari bagian kaki dan pinggang menuju bagian atas kepala, kemudian turun ke bagian muka, bergerak menuju tenggorokan sampai tujuan akhir di daerah abdominal. Dalam hal ini Sannella memberi istilah ‘physio Kundalini’ untuk membedakan kajiannya dengan Yoga tradisional (India). Dinyatakan dengan jelas bahwa physio- Kundalini merupakn mekanisme terpisah yang bisa diaktifkan sebagai bangkitnya Kundalini secara menyeluruh.

Diantara study kajian Sannella, seorang wanita berumur 41 tahun dan telah lama melakukan latihan meditasi menyampaikan pengalaman sensasi-sensasi seperti rasa panas khususnya di bagian tulang belakang, yang diikuti adanya persepsi-persepsi cahaya dalam tengkorak kepala dan bergerak ke bawah di bagian tulang belakang.

Pengalaman tersebut berlanjut selama beberapa minggu, dan selama itu wanita  teresebut tidak merasa bermeditasi, sementara itu rasa panas yang mengalir dalam tubuhnya meningkat begitu dahsyat seakan menghancurkan system sarafnya. Bahkan orang lainpun merasakan rasa panas yang amat sangat saat menyentuh pinggang bagian bawahnya. Timbulnya gejala seperti itu menunjukkan kebiasaan yang berlanjut antara aspek bawah sadar dan organ fisik manusia. Sebagai halnya dalam Hatha Yoga, mekanisme dari organ badan kasar (Sthula Sarira) seperti pernafasan dan kontraksi otot dimanfaatkan untuk menrangsang Kundalini. Dari sudut pandang para Yogi, aktifitas dari beberapa kelenjar dari seseorang dapat diolah dengan baik secara bersamaan dalam satu matrix psychophysical.

Sehubungan dengan manifestasi bangkitnya Kundalini, Marshall Govindan menguraikan persepsi internal tentang cahaya yang menakjubkan (besar) di daerah Ajna-Cakra sebagai awal kebangkitan Kundalini. Selama tahapan ini, Govindan juga menyatakan bahwa pikiran menjadi lebih tenang dan nafsu makan berkurang. Nafas terus-menerus mengalir melalui hidung selama beberapa hari. Hal ini mengindikasikan seimbangnya Nadi Ida dan Pingala. Bahkan kadang ilusi ledakan Kundalini, dimana Govindan menjelaskan hal ini sebagai isyarat hentakan listrik dari jalur tulang belakang bergerak ke atas menuju Sahasrara.

Govindan juga menyatakan adanya suara musik (Nada) terdengar, dan tekanan perasaan tersebut membawanya menuju alam bawah sadar. Tubuh fisik akan menyesuaikan selama pembangkitan awal, dan baik detak jantung dan nafas mungkin berhenti sehingga terlihat mati fisik. Tetapi, jika dibuka kelopak matanya, matanya bersinar seperti mutiara karena pengaruh energi dimana interaksi dalam dirinya (supra-physical) menjadi suatu pengalaman dengan cahaya penuh kebahagiaan. (habis/jok)

sumber: Dimuat di Koran POSMO secara bersambung

Yoga: Pranayama dan Kundalini

1. Yoga Pranayama secara singkat:

1. duduk bersila yang santai/ jangan tegang
2. tarik nafas melalui hidung sampai rongga dada penuh secara pelan-pelan dalam 7 hitungan/ detik
3. tahan nafas di paru-paru selama 7 detik
4. hembuskan nafas keluar melalui hidung pelan-pelan selama 7 detik
5. demikian berulang-ulang, kalau bisa sampai 108 x putaran

2. Yoga Kundalini. Yang dimaksud ‘kundalini’ adalah rangkaian ‘cakra’ yang ada di dalam tubuh kita, yakni:

1. di dubur: muladara cakra
2. di kemaluan: swasditana cakra
3. di pusar: manipura cakra
4. di jantung: anahata cakra
5. di tenggorokan: wisudi cakra
6. di sela-sela alis: ajnya cakra
7. di ubun-ubun: sahasrara cakra

Yoga Kundalini bertujuan menguatkan/ membangunkan rangkaian cakra-cakra ini untuk menopang kesehatan dan kekuatan jasmani/ rohani.
Yang dimaksud dengan ‘cakra’ adalah jalinan urat syaraf yang unik dan sakral yang dapat dan tidak dapat dilihat dengan kasat mata atau dengan peralatan tertentu.
‘Dapat dilihat’ artinya dengan sistem ilmu kedokteran. ‘Tidak dapat dilihat’ artinya keberadaannya hanya dapat diketahui/ dirasakan oleh mereka yang telah melaksanakan Yoga Kundalini.

3. Kombinasi: Yoga Kundalini – Yoga Pranayama – Meditasi Angka – Sapta Ongkara. Keempatnya jika digabungkan dalam pelaksanaannya membawa dampak: kesehatan spiritual, emosional, inteligensi dan fisik. Tata caranya:

1. Lakukan Pranayama Yoga sesuai petunjuk di atas, di saat menghitung 7 x bayangkan dalam pikiran jalur Kundalini berurutan dari dubur ke atas (ketika menarik nafas), bayangkan kekuatan kundalini sedang terpusat di ubun-ubun (ketika menahan nafas), bayangkan kekuatan Kundalini menyebar ke seluruh tubuh (terutama yang terasa sakit ketika itu, ketika mengeluarkan nafas)
2. Bagi mereka yang sudah Ekajati apalagi Dwijati, ketika proses berlanjut, ucapkan dalam hati mantram ‘Sapta Ongkara’ berturut-turut dan bersamaan dengan Yoga Pranayama/ Yoga Kundalini:
* OM ANG BRAHMA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM UNG WISNU ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM MANG ISHWARA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM MAHADEWA NIR-ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM SADA RUDRA ATI ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM SADASIWA NISKALA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM PARAMASIWA SUNIA ATMANE YA NAMAH SWAHA
3. Meditasi dilakukan dengan membuang pikiran-pikiran lain, hanya memikirkan Pranayama, Kundalini, dan Sapta Ongkara.
4. Meditasi Angka adalah jenis meditasi yang mengkonsentrasikan pikiran pada angka. Dalam hal ini pilihan (pribadi saya) adalah angka 7, karena saya mengkombinasikan ketiga sistem itu ‘pas’ dengan 7 hal:
* kundalini = 7 cakra
* mantram sapta ongkara = 7 kalimat
5. Tujuan mantram Sapta Ongkara adalah: meletakkan dan menguatkan kedudukan ‘Siwa Atma’ ke tempatnya semula. ‘Siwa Atma’ = roh Tuhan yang ada di dalam diri setiap mahluk hidup, ‘ke tempatnya semula’ = Kundalini

Rangkaian: Pranayama – Kundalini – Meditasi Angka – Mantra Sapta Ongkara, adalah penemuan saya sendiri dari hasil ‘Nyurya Sewana’ setiap hari selama 7 tahun.
Walaupun ke empat unsur di atas memang sudah ada dalam Weda, tetapi yang mencoba merangkainya menjadi satu, sepengetahuan saya belum ada, atau belum pernah ada yang mengemukakan secara terbuka seperti ini.

Tantra, Nadi, Chakra dan Kekuatan Kundalini APAKAH TANTRA?

Tantra adalah Siwa Tattwa.
Tantra sebagai pengetahuan kerohanian yang untuk pertama kalinya diajarkan di India 7000 tahun yang lampau oleh “Sanghyang Sadashiva”, seorang Mahayogi yang hidup di pegunungan Himalaya ketika itu. Tan barasal dari akar kata Sansekerta yang berarti “perluasan”, dan Tra berarti “pembebasan”. Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya.

Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan (sesuatu yang membebaskan dari kegelapan).
Tantra menunjukkan usaha keras untuk mentransformasikan kehidupan dari bentuk yang kasar menuju persatuan dengan Dia yang tidak bersifat atau ‘Kesadaran Tanpa Batas’, yaitu suatu keadaan melampaui ikatan-ikatan relativitas.
Tantra adalah cabang dari agama Hindu yang berdasarkan SIWA TATTWA. Kebanyakan kitab-kitab Tantra masih dirahasiakan dari arti sebenarnya dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Kebanyakan orang-orang Hindu, termasuk para sarjana besar, pada umumnya tidak mendiskusikan Tantra. Karena tidak pernah dipublikan, hanya murid yang pantas yang diberi ajaran langsung dari para guru rohaninya, maka pemahaman Tantra dari abad ke abad menimbulkan penafsiran beraneka ragam pada akhirnya menimbulkan expresi yang beragam pula.

Di Bali Siwa Tattwa dimantapkan dalam pengetahuan rohani Siwa Sidhanta.
Siwa Sidhanta menyebar ke Indonesia dari pasraman Agasty Madyaprades yang dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India Tengah).

MENURUT TANTRA NADI/SARAF APA YANG PALING PENTING?
Menurut Tantra adalah tiga urat saraf yang peling penting, yaitu Sushumna, Ida dan Pinggala, mulai dari Muladhara Chakra, di dasar tulang belakang. Sushumna adalah yang paling penting dari semua saraf atau Nadi dan ia tidak kelihatan dan sangat halus. Ia bergerak melalui jaringan pusat dari tulang belakang dan bergerak jauh sampai titik paling atas dari kepala. Ida dan Pinggala bergerak paralel dengan Sushumna di sebelah kiri dan kanan dari saraf tulang belakang. Ida dan Pinggala bertemu dengan Sushumna di Ajna Chakra, titik yang terletak antara alis mata. Mereka berpisah lagi dan mengalir melalui sisi kiri dan kanan hidung.

APAKAH CHAKRA?
Sepanjang Sushumna, ada tujuh pusat-pusat bathin (psychic centers) mulai dari Muladhara Chakra. Mereka tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka dipercaya berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warna yang berbeda, dan masing-masing mengendalikan kegiatan dari organ indriya yang berbeda.

vMuladhara Chakra (pada dasar dari tulang belakang) memiliki empat daun bunga dan mengendalikan bau dengan unsure padat. = Tempat pada tulang punggung di antara payu pastha atau dubur dan kelamin.
vSwadishthana Chakra (pada dasar kelamin) memiliki enam daun bunga dan mengendalikan rasa, dengan unsure cair, = Tempat pada tulang punggung diantara nadi pusar dengan upastha/alat kelamin.
vManipura Chakra (di seberang pusar) mempunyai sepuluh daun bunga dan mengendalikan pandangan, dengan uncur cahaya =Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan Nadi/Pusar.
vAnahata Chakra (sejajar dengan hati) mempunyai duabelas daun bunga dan mengendalikan sentuhan, dengan udara = Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan hulu hrdaya atau hulu hati/jantung.
vWisuddha Chakra (pada jakun kerongkongan) memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan pendengaran, dengan unsur ether = Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan tempatnya Kerongkongan.
vAjna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga dan mengendalikan pikiran. = Terdapat pada tulang punggung dan sejajar dengan letaknya bhrumadya/Kening
vSahasrara Chakra (terletak diatas titik paling atas dari kepala) mempunyai seribu daun bunga. Disini Yogi telah meperoleh Kesadaran Kosmis.= Tempatnya pada SiwaDwara/Ubun-Ubun dan sehasra cakra ini sering pula disebut Siwasthana Brahmaranda.

APAKAH KEKUATAN KUNDALINI?
Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama). Menurut Tantra, karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya. Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan. Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala. Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

PROSES PERALIHAN YOGA KUNDALINI

Teknik ini adalah inti dari sumber pengetahuan pertama yang tercatat dalam Weda. Sebagai dasar ilmu Yogi, teknik ini merupakan penelitian batin utama dari sebuah peradaban yang sangat maju dan lenyap sejak lama dan mengandung kekuatan yang sama dengan yang mengakibatkan kehancuran benua Atlantis “yang hilang”.
Terdapat tujuh titik daya dalam badan manusia yang disebut “Cakra”. Titik-titk daya yang sebenarnya tidak dapat dilihat, biarpun dengan menggunakan daya pikir. Oleh karena itu, masing-masing titik daya itu harus digambarkan dengan menggunakan mata daya batin Kundalini anda.

Catatan:
Berkonsentrasilah pada dasar tulang punggung.
Semua ketujuh titik Cakra harus digambarkan sebagai ujung pemintal. Ketika ia berputar, ujung itu berputar menjadi spiral bundar. Ketika spiral itu makin besar sampai sejauh tujuh inci keluar, pindahkan perhatian anda ke titik Cakra kedua. Operkan daya gerak yang ditimbulkan oleh titik Cakra kesatu pada titik Cakra kedua dan biarkan energi badan bercampur dengan daya gerak titik Cakra kedua. Seperti halnya titik Cakra kesatu, ia mulai berputar dalam gerakan spiral bundar. Bila spiral itu menjadi semakin besar sampai tujuh inci keluar, pindahkanlah perhatian anda ke titik Cakra ketiga. Proses ini berlangsung seperti itu berulang-ulang sampai ke Cakra ketujuh, yang terletak di tengah-tengah kening, di tempat mata batin anda berada. Gambarkanlah sebagai ujung pemintal, yang mulai berputar menjadi gerakan spiral bundar. Bila spiral itu menjadi semakin besar sampai menjulur sejauh tujuh inci keluar, ia akan kelihatan seperti meninggalkan badan anda dan melayang ke luar dan melayang ke luar ke dalam Ruang Batin. Ia akan membawa serta semua energi badan yang ditimbulkan dari gerakan spiral bundar dari ketujuh titik Cakra.
Biarkan intelek anda ikut bersama Cakra yang berputar ketika ia melayang ke luar badan ke dalam Ruang Batin.
Anda mungkin akan merasa bergerak sangat cepat ketika anda melayang dalam Ruang Batin, dan mungkin akan melihat cahaya-cahaya berkedip-kedip.
Biarkan intelek anda melayang jauh dalam kecepatan tinggi dalam Ruang Batin, guna mendapatkan penerangan dari Batin Kosmis atau semua hal yang berhubungan dengannya.

Cakra:
1. Muladhara Chakra, terletak kira-kira ruas keempat dari dasar tulang punggun.
2. Swadishthana Chakra, terletak di purut bagian bawah.
3. Manipura Chakra, terletak di Jantung di tengah-tengah dada.
4. Anahata Chakra , terletak di dasar tenggorokan / ditempat lekukan.
5. Wisuddha Chakra, terletak di dasar otak/ di puncak tulang punggung,
6. Ajna Chakra , di pusat ujung kepala.
7. Sahasrara Chakra, terletak di pusat kening (kedudukan mata batin anda).
atau ;
1. muladhara terdapat diantara kelamin dan dubur
2. svadisthana terdapat di 2 jari dibawah pusar
3. manipura tedapat di 2 jari dibawah lekukan rusuk/ pertemuan kedua rusuk
4. anahata terdapat di tengah dada
5. visuddha di tenggorokan ato di pita suara
6. ajna diantara kedua alis
7. sahasrara terdapat di ujun atas kepala

·Semua ketujuh titik cakra harus digambarkan sebagai ujung pemintal (satu per satu)
·Ketika anda berpindah dari satu titik Cakra ke titik Cakra berikutnya, semua konsentrasi harus dipindahkan dari titik Cakra tersebut pertama ke titik cakra berikutnya yang sedang dihadapi. (Masing-masing titik cakra dibiarkan berputar dan membesar terus sampai mencapai diameter kira-kira tujuh inci. Selanjutnya energi badan yang ditimbulkan oleh putaran spiral bundar itu dibiarkan bercampur dengan titik cakra berikutnya tanpa berhenti).
·Konsentrasi mutlak diperlukan guna mencapai sukses menyeluruh. Diperlukan ketenangan dan kesunyian yang terus-menerus selama melakukan bagian Peralihan ini.
·Ingat, tidak perlu takut. Tidak ada bahaya sama sekali. Semua aman, karena anda berhak untuk berhubungan dengan Batin Kosmis.

LANGKAH:
A.Tutup Mata dan berkonsentrasilah
B.Berkonsentralah pada dasar tulang punggung. Titik cakra pertama terletak kira-kira di ruas keempat dari dasar tulang punggung.
C.Gambarkan titik cakra kesatu sebagai ujung pemintal. Ketika ia berputar, ujung itu mulai berputar membentuk spiral bundar. Dengan makin membesarnya spiral itu sampai berdiameter 7 inci, biarkan energi badan yang ditimbulkan oleh cakra kesatu bercampur dengan gerakan spiral cakra kedua. Pindahkan perhatian anda ke cakra kedua.
D.Titik Cakra kedua terletak di perut bagian bawah (Proses titik cakra kedua dan cakra-cakra berikutnya sampai cakra ketujuh adalah sama seperti proses di atas). Titik cakra kelima terletak di dasar otak, di puncak tulang punggung. Cakra ke emam terletak di pusat ujung kepala. Cakra ketujuh terletak di pusat kening. Ia di gambarkan seperti berada ditempat kedudukan mata batin anda.
E.Ketika spiral cakra ketujuh mencapai diameter 7 inci, ia akan kelihatan seperti meninggalkan badan anda dan melayang jauh ke dalam ruang batin. Cakra ketujuh ketika melayang keluar badan sambil berputar dalam bentuk spiral bundar masuk ke dalam Ruang Batin.
F.Ikutlah bersama cakra ketujuh yang berputar melayang jauh dari badan ke dalam ruang batin.
G.Anda akan menyadari adanya cahaya berkedip-kedip. Biarkanlah intelek anda ikut melayang jauh dalam kecepan tinggi guna mendapatkan sedikit pengertian atau penerangan batin kosmis atau hal-hal lain yang bersangkutan.

PERALIHAN MENTAL KUNDALINI

Peralihan mental pada dasarnya adalah mempelajari teknik Kundali guna mencapai hubungan mutlak dengan batin kosmis, dengan begitu, anda dapat melampaui batin dari sikap adharma (negative) ke sikap dharma (positif) yang sangat diperlukan guna mencapai sukses dalam semua bidang usaha dan semua tahap kehidupan.
PROSES PERALIHAN YOGA KUNDALINI adalah Peralihan Batin yang sejatinya dapat dilakukan oleh siapa saja tampa perlu bantuan orang lain, karena itu merupakan komunikasi langsung dengan batin kosmis. Hal ini bila dilakukan sendiri akan menimbulkan getaran mental yang tepat bagi pencapaian penguasaan batin secara sempurna.
Bila dilakukan dengan tekun, tentu proses peralihan dengan segala metodenya dapat dilakukan dalam beberapa detik. Tapi diakui hanya sedikit orang yang mampu mencapainya.
Kita semua tanpa perkecualian menginginkan kebahagiaan, mendambakan ketentraman abadi. Tujuan semua sama – kita ingin bahagia. Cara yang ditempuh untuk memperolehnya berbeda, berlainan tetapi hasil akhir yang diharapkan sama.
Para Rsi, Yogi, Pujangga menyimpulkan “VASU DEVA KUTUMBKAM” – seluruh umat manusia ini bagaikan satu keluarga besar. Kesimpulan ini setelah melihat bahwa tujuan hidup setiap orang itu sama – Ketenangan, Ketentraman, Kedamaian….Moksa.

Salah satu Teknik Peralihan adalah Meditasi Srimad Bhagavatham
Ajaran atau teknik ini merupakan petunjuk Bhagavan Sri Vyasa dalam karyanya Srimad Bhagawtham.
Teknik ini dapat diberikan dari anak usia kecil, sehingga ia sudah terbiasa dan pada masa remajanya, dimana ia harus menghadapi begitu banyak tantangan hidup, ia dapat menghadapinya dengan tenang.

Meditasi Srimad Bhagavatham

Ajaran atau teknik ini merupakan petunjuk Bhagavan Sri Vyasa dalam karyanya Srimad Bhagawtham.
Teknik ini dapat diberikan dari anak usia kecil, sehingga ia sudah terbiasa dan pada masa remajanya, dimana ia harus menghadapi begitu banyak tantangan hidup, ia dapat menghadapinya dengan tenang.
Kita duduk dalam posisi santai (dapat diiringi music yang lembut), jika biasa lebih baik bersila.
Mata kita setengah tebuka – kita pusatkan pikiran kita pada ujung hidung kita.
Pikiran kita ibarat kera, kita harus memberikan kesibukan kepadanya.
Kita berikan tugas kepadanya untuk memperhatikan keluar-masuknya napas.
So Ham…So Ham… So Ham…
Napas yang masuk adalah So, Napas yang keluar adalah Ham…. proses ini berjalan terus dan Sang Kera sibuk memperhatikan proses ini. So Ham artinya “Itulah Aku… aku berasal dari Tuhan, pada Nya pula akan aku kembali….” Proses ini kita lakukan selama 3 sampai 5 menit.
Selanjutnya kita pusatkan pikiran kita kearah Simbul Spiritual kita, atau Pelita Dupa yang sedang nyala.
Kita pandang Nyala Pelita Dupa itu dengan mata terbuka, kita pandang, kita pandang terus.
Setelah kita memandang pelita tadi untuk beberapa lama, sekarang kita harus dapat membayangkan Nyala Pelita itu dalam diri kita sendiri.
Tutuplah mata pelahan-lahan….
Nyala pelita itu tetap dapat kau lihat, walaupun matamu tertutup….
Nyala pelita itu berada dalam diri.
Sekarang, banyangkan nyala pelita itu berada dalam hati, jantung..
Hati dan Jantung ibarat bunga teratai ditengah-tengah bunga itu bersemayam pelita tadi, dengan segala cahayanya, bersinar, begitu terangnya.
Pindahkan Cahaya itu ke matamu sekarang, kedua matamu penuh dengan cahaya. Dengan matamu yang bercahaya ini, kamu tidak akan lagi melihat sesuatu yang tidak baik.
Cahaya itu berpindah ke telingamu. Telingamu tidak lagi akan mendengarkan hal-hal yang tidak baik.
Nah, sekarang cahaya itu berada di lidahmu, Ya, kau tidak lagi akan mengucapkan kata-kata yang tidak baik.
Sekarang cahaya itu berada pada lenganmu. Kau tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik lagi, dengan lenganmu.
Cahaya itu menerangi kakimu sekarang. Kau tidak akan bepergian ke tempat-tempat ayng tidak baik.
Seluruh badanmu terang sekarang. Tubuhmu bermandian dengan cahaya….
Cahaya yang terpancar dari dalam dirimu seolah-olah bagaikan air lautan yang meluap…
Ingatlah kawan-kawanmu, temanmu, saudara-saudaramu, orangtua serta Gurumu….
Mereka semua membutuhkan kasihmu, kirimkan cahaya kasih itu kepada mereka….
Meraka semua mencitaimu, kau patut membalas mereka dengan kasih pula, cahaya itu tidak hanya menerangi tubuhmu, tetapi juga menerangi mereka semua….
Sekarang kita sampai pada bagian yang paling penting dari peralihan ini.
Ingat mereka yang selama ini kau anggap sebagai musuhmu, mereka yang tidak kau senangi. Cahaya yang sama, yang ada dalam dirimu, ada dalam diri mere yang kau cintai – ada pula dalam diri mereka yang kau musuhi selama ini.. kirimkan cahaya kasih itu kepada mereka pula….
Cahaya itu, kasih itu berada dalam dirimu, dalam diri kawanmu, dalam diri lawanmu.
Sebenarnya tidak ada seorangpun yang kau patut benci, kau harus dapat mencitai setiap orang….siapa saja.
Yang ada hanyalah kasih, kasih, kasih…..
ASATHO MAA SADGAMAYA
THAMASO MAA JYOTIR GAMAYA
MRITYORMAA AMRITAM GAMAYA
AUM SHANTIH, SHANTHI, SHANTHI…
“O Tuhan, bimbinglah aku dari jalan yang penuh dengan kegelapan, kebodohan dan ketidak-pastian kejalan yang terang dan penuh dengan kebijaksanaan. Aum Shanthi, Shanthi, Shanthi….
Bukalah mata pelahan-lahan. Tujuan utama peralihan Srimad Bhagavatham adalah untuk memperoleh Ketenangan, Kedamaian, Ketentraman (SAMADHI).
Dalam tingkah ini kita tidak lagi akan membedakan antara kawan dan lawan.

BhagawdGita, Bab VI Sloka 9 :

Suhrin mitrar yudasina
Madhyastha dwesya bandhusu
Sadhusaw api ca papesu
Samabuddhir wisisyate

Dia yang melihat sama antara yang dicintai, teman dan lawan, tidak memihak, yang netral dan penengah, terhadap yang dibenci dan keluarga, antara yang baik dan yang berdosa, dialah orang yang utama
Jadi tingkat kesadaran seorang yang melakukan meditasi sudah harus mencerminkan sifat semacam itu. Meditasi untuk memperoleh ketenangan, ketentraman, kedamaian. Untuk lebih jelas, meditasi untuk mencapai tingkat Samadhi. Meditasi hanya sarana untuk mencapai Samadhi.
Dengan melakukan meditasi, kita menghemat energi, energi yang terhemat, tenaga yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih penting. Meditasi membuat hidup kita lebih dinamis. Hidup menjadi lebih tenang, tentram, damai dan dengan demikian seseorang telah mengambil langkah pertama demi tercapainya kedamaian dunia. Seorang Hindu, tanpa membedakan kebangsaan, warna kulit, kepercayaan dan lain sebagainya, mengakhiri menditasi dengan doa universal.

LOKAA SAMASTHAA SUKHINOH BHAVANTHU….
Semoga seluruh umat manusia, semua makhluk,
semesta alam ini mendapatkan kebahagiaan
AUM SHANTHI, SHANTHI, SHANTHI……….

ASTANGGA YOGA

Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi delapan cabang atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga.
Yoga mengedepankan kontrol atas aktivitas-aktivitas tubuh, indra, dan pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan dikendalikan agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi. Kemelekatan pada objek-objek duniawi membuyarkan perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini, Yoga memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan tubuh dan pikiran. Delapan tangga tersebut disebut Astangga Yoga, yaitu :

(1) Yama,
(2) Niyama,
(3) Asana,
(4) Pranayama,
(5) Prathyahara,
(6) Dharana,
(7) Dhyana, dan
(8) Samadhi.

Dua yang pertama, yaitu Yama dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum menginjak tahapan berikutnya.

1) Yama, artinya pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya), pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki hak orang lain (aprigraha).
2) Niyama, artinya pembudayaan diri dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).
3) Asanas secara harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang nyaman ini tubuh tetap dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai sikap tubuh ini, membawa sejumlah besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi efek pada setiap aspek dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon, melenturkan persendian, memijat organ-organ dalam dan menenangkan serta mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan mengontrol kelenjar, kelenjar akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat kita selalu berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional akan menyebabkan depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh pikiran. Kita telah kehilangan kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi yang jelas. Postur-postur dalam yoga akan menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam selama asanas akan menenangkan dan memberikan energi yang banyak pada pikiran.
4) Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju lapisan intuisi terhalus, maka ia harus membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.
5) Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan indra-indra dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.
6) Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan oleh fluktuasi-fluktuasinya.
7) Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah kontemplasi teguh tanpa adanya istirahat.
8) Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran benar-benar diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi di sini mereka menjadi satu. Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi mental yang merupakan tujuannya.

DOA KEKUATAN KUNDALINI
Doa kekuatan ini seharusnya diucapkan tiap pagi setelah anda bagun.
Doa ini akan menguatkan daya kundalini.
ATHARWA WEDA – KANDA 1 (SUKTA 1) :
Doa Agar Ajaran-Ajaran Suci Yang Dipelajari Terpatri Dalam Sanubari
RCA:

Dengan pola Trisapta, Tiga dan Tujuh, atau Tiga kali Tujuh, yang menjadi jumlah yang tidak terhingga, Kekuatan-Kehidupan Manifes, – membakar-, menjadi semua bentuk-bentuk kehidupan; – semoga hari ini, Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda berkenan memberi tugas kepada saya, dan membekali saya dengan Kekuatan-Kekuatan yang berasal dari Diri Beliau.
O, Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda, datanglah kemari, bersama-sama dengan paramatman; O, Yang dipertuan Atas Kebaikan-Kebaikan, bimbinglah saya agar saya dapat selalu berada di dalam diri saya, dan dapat menyatu dengan sanubari saya, serta semoga saya senantiasa dapat ingat akan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari.
Bentangkanlah perlindungaMu kepada saya, tepat seperti ujung-ujung dari busur itu didekatkan dengan ditariknya talinya kuat-kuat; semoga Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda menguatkan hubungan diri saya dengan diri Beliau; semoga Kekuatan-Kekuatan itu dapat selalu berada di dalam diri saya, dan dapat menyatukan dengan sanubari saya, serta semoga saya senantiasa dapat ingatkan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari.
Datanglah kemari, O, Yang Dipertuan atas Sabda-Sabda; semoga sayalah yang engkau pilih sebagai tempat persinggahanmu; semoga saya dipersatukan dengan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari; Semoga saya tidak ditinggalkan oleh Ajaran-Ajaran Suci itu.

Syaraf Dalam Yoga

sardha laksa trayam nadyah santi dehantare nrnam,
pradhana bhuta nady astu tasu mukhyas catur dasah
Di dalam badan manusia terdapat 350.000 nadi; di antaranya 14 merupakan yang prinsip

susumneda pingala ca gandhari hastijihvika,
kuhuh sarasvati pusa samkhini ca payasvani
varuny alambusa caiva visvodari yasasvini,
etasu tisro mukhyah syuh pingaleda susumnika
Susumna, Ida, Pingala, Gandhari, Hastijihvika, Kuhu, Sarasvati, Pusa, Sankhini, Payasvani, Varuni, Alambusa, Visvodari dan Yasasvini. Di antara kesemuanya ini, Ida, Pingala dan Susumna adalah yang terpenting

tisrasveka susumna iva mukhya sayogi valama,
anyas tadasrayam krtva nadyah santi hi dehinam
Di antara ketiganya, susumna sendirilah yang terutama dan disenangi oleh para yogi. Pembuluh (urat) yang lainnya merupakan bawahannya di dalam badan.

nady astu ta adhovaktrah padma tantunimah svitah,
prstha vamsam sama sritya soma suryagni rupini
Semua nadi (pembuluh) yang prinsip ini memiliki mulut yang mengarah
ke bawah dan berbentuk seperti serat halus bunga teratai. Mereka semuanya ditunjang oleh tulang belakang dan menggambarkan matahari, bulan dan api

tasam madhye gata nadi citra sa mama vallabha,
brahmarandhran ca tatra iva suksmat suksmataram subham
Yang paling penting dari ketiganya ini adalah citra: inilah yang kusayang. Di sana ada lubang terkecil dari semua lubang, yang disebut

brahmarandhrapanca varne jjvala suddha susumna madhya carini,
dehasyopadhi rupa sa susumna madhya rupini
Cemerlang dengan lima warna, murni, yang bergerak di tengah-tengah susumna, citra ini merupakan bagian yang penting dari badan dan pusat susumna

divya margam idam proktam amrtananda karakam,
dhyana matrena yogimdro duritaugham vinasayet
Ini disebut dalam sastra sebagai jalan surga; yang merupakan pemberi kebahagiaan dari keabadian; dengan perenungannya, yogi yang hebat mampu menghancurkan segala dosa
Dengan Yoga, Kita dapat menyaksikan apa yang telah terjadi dalam hidup kita, yang bila kita renungkan kembali, benar juga, itu adalah akibat atas apa yang kita pikirkan.
Semua yang sudah terjadi adalah akibat dari pikiran kita sebelumnya.
Berpegang pada prinsip apa-apa yang telah terjadi adalah karena fokus kita.
Bilamana kita berfokus pada hal-hal yang negatif, seperti memikirkan hal-hal susah, maka hasil yang didapatkan juga akan menjadikan kita benar-benar susah.
Memang banyak orang yang terus menerus menyesali apa yang sudah terjadi, tetapi bukankah apa yang telah berlalu tidak bisa kita ubah lagi?
Apa yang disampaikan diatas adalah Inti Sari dari Ajaran Yoga.
Dan sudah sepantasnya generasi muda hindu mendapatkan pengetahuan ini walaupun apa yang disajikan sebatas Inti Sarinya.
“Cemerlang dengan lima warna, murni, yang bergerak di tengah-tengah susumna, citra ini merupakan bagian yang penting dari badan dan pusat susumna”
Bagian inilah yang merupakan bagian terpenting untuk dapat dipahami.
Karena bagian inilah yang melandasi Umat Hindu Dharma dalam menjalankan ritual keagamaanya, melalui Konsep: Panca Wara, Panca Aksara, Panca Bhudindriya, Panca Brahma, Panca Atma, Panca Datu, Panca Durga, Panca Yadnya, Panca Pandawa, Panca Maha Bhuta, Panca Bhuta, Panca Dewata, Panca Sata, Panca Tirhta, Panca Wali Krama, Panca Sembah.

Dalam Patanjali Raja Yoga disebut Panca Maya Kosa:
Lima jenis sarung halus yang terdapat pada tubuh kita.
Lima macan unsur inilah yang berhubungan dengan badan halus atau sukma sarira yakni sebagai pembungkus atma setelah meninggalkan badan jasmani manusia / mahluk lainnya.
Unsur itu ialah:
1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.
Kedua unsur terakhir Wijnanamaya Kosa dan Anandamaya Kosa bersifat non materiil, tetapi keduanya tak dapat dipisahkan, ibarat mata uang logam yang ada dua mukanya yaitu Rwa Bhineda (dua hal yang berbeda/berlawanan, tetapi mempunyai persamaan keutamaan)
Dan Yoga yang wajib dilakukan dalam Hindu Dharma adalah Tri Sandya
Sembahyang tiga kali dalam sehari, yaitu:
1. Pagi waktu matahari baru terbit;
2. Tengah hari waktu matahari tepat di atas kepala;
3. Senja hari waktu matahari menjelang terbenam.

Untuk selalu mengigat Jiwatman sebagai percikan dari Tuhan, yang selalu terbungkus oleh unsur Kekuatan Tuhan yang selalu menyertai Atman saat meninggalkan badan atau memasuki badan baru, dengan sifat Rwa Bhinedanya.
Hal ini selalu diinggat melalui hari peringat setiap hari dan puncaknya pada hari yang ke Lima (demikian seterusnya berulang sebagai siklus lima hari / Panca Wara).
Hari yang lima, yaitu:
1. Umanis. Dewanya Reshi Kursika, Dewa Ishwara, Bhagawan Tatulak. Urip/neptu (5)
2. Paing. Dewanya Reshi Gargha, Dewa Brahma, Bhagawan Mercukunda. Urip/neptu (9)
3. Pon. Dewanya Reshi Maitrya, Dewa Mahadewa, Bhagawan Wrespati. Urip/neptu (7)
4. Wage. Dewanya Reshi Kursya, Dewa Wisnu, Bhagawan Panyarikan. Urip/neptu (4)
5. Keliwon. Dewa Reshi Pretanjala, Dewa Ciwa, Sanghayang Widhi Wasa. Urip/neptu (8)

Kemudian Rwa Bhineda sebagai kekuatan + dan – dari setiap unsur dari Panca Maha Bhuta disimbulkan dengan Lingga dan Yoni, sebagai simbul energi positif dan negatif yang selalu ada dalam tubuh manusia dan di Alam Semesta (sebagai kutub utara dan selatan yang merupakan Lingga dan Yoninya alam semesta).
Umat Hindu Dharma menerapkan kesehariannya dengan menghaturkan Canang Sari di atas tempat suci dan Sehehan di bawah/tanah dengan tujuan untuk mengharmoniskan kekuatan positif dan negatif.
Jadi konsep Rwa Bhineda selalu mewarnai aktifitas keagamaan Hindu Dharma.
Pada akhirnya semua yang dilakukan untuk Keharmohisan alam semesta akan dapat pula dirasakan oleh warga/masyarakat walaupun tidak beragama Hindu karena bersifat universal.
Maka dalam pelaksanaanya ajaran Yoga, umat Hindu melaksanakan dengan Empat jalan yang bisa ditempu yaitu Catur Marga Yoga.

CATUR MARGA YOGA

Catur marga adalah empat buah jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan moksartamjagathita. Keempat ini sama utamanya.
Yang disebut Catur Marga Yoga itu adalah :
1. Bhakti Marga Yoga
2. Karma Marga Yoga
3. Jnana Marga Yoga
4. Raja Marga Yoga.

Setiap orang bebas memilih salah satu dari keempat jalan ini, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing, tidaklah mesti orang harus berpegangan pada satu marga saja, bahkan keempatnya itu hendaknya digerakkan secara harmonis seperti halnya seekor burung.
Kalau diumpamakan bahwa sayap kiri dari burung adalah Jnana Marga, maka sayap kanannya adalah Bhakti Marga. Seekor burung akan bisa melayang dengan baik kalau sayap kiri dan akannya seimbang.
Burung tidak akan bisa mencapai tujuanya yang dikehendaki walaupun memiliki daya dorong yang kuat.
Kemudian sayap ekor yang berfungsi sebagai kemudi mengarahkan sebaik-baiknya supaya jangan terbangnya menyimpang dari tujuan.

Ø Bhakti Marga Yoga, mengutamakan penyerahan diri dan mencurahkan rasa;
Ø Karma Marga Yoga, mengutamakan kerja tanpa pamerih untuk kepentingan diri sendiri, dengan mengutamakan pengabdian sebagai motivator dari geraknya;
Ø Jnana Marga Yoga, mengutamakan akal yang membangkitkan kesadaran;
Ø Raja Marga Yoga mengajarkan pengendalian diri dan konsetrasi.

Manusia yang akalnya hebat tetapi tanpa rasa adalah sama dengan Komputer atau Mesin, sebaliknya orang yang rasa (emosinya) tinggi tanpa diimbangi dengan akal, akan menjadi “kedewan-dewan”, bhakti dan jnana sangat perlu hebat tetapi harus seimbang.
Akal yang hebat dan rasa yang kuat akan sangat berguna kalau dapat diarahkan ke suatu tujuan yang baik, sebab itu diperlukan konsentrasi supaya jangan menyimpang dari arah (Raja Marga Yoga).
Kalau akal dan rasa sudah seimbang arah sudah terpusat maka orang akan bisa mencapai prestasi yang sangat tinggi. Prestasi yang tinggi kalau digunakan untuk kepentingan diri sendiri akan membahayakan, oleh sebab itu perlu kehebatan yang dimiliki oleh manusia itu diabdikan untuk kepentingan orang banyak (Karma Marga).
Demikianlah akal dan rasa dipadukan secara seimbang, tekad yang kuat dan terkendalikan serta terarah ditujukan untuk pengabdian.
Jadi fokus Yoga dalam Hindu Dharma adalah pada Sang Atman (Jivatma).

Jivatma

ityam prakalpite dehe jivo vasati sarvvagah
anadi vasanamala ‘lamkrtah karmasam kalah
Di dalam badan digambarkan bahwa, di sana bersemayam sang jiva, yang meresapi segalanya, yang berhiaskan dengan untaian bunga keinginan tanpa akhir dan terbelenggu (pada badan) oleh karma.

nanaviva gunopetah sarva vyapara karakah,
purvar jitani karmani bhunakti vividhani ca
Jiva yang memiliki banyak sifat dan pelaku dari segala peristiwa, menikmati buah bermacam-macam karma yang menumpuk di masa kehidupan masa lalu

yadyat samdrsyate loke sarvam tat karma sambhavah,
sarva karmanu sarena jantur bhogan bhunakti vai
Apapun yang terlihat di antara manusia (apakah kesenangan atau kesedihan) berasal dari karma. Semua ciptaan (makhluk) senang atau menderita sesuai dengan hasil kegiatannya.

ye ye kamadayo dosah sukha duhkha pradayakah,
te te sarve pravartante jiva karmanu saratah
Keinginan dsb. yang menyebabkan kesenangan atau kesedihan, bertindak sesuai dengan karma sang jiva terdahulu

punyoparakta caitanye pranan prinati kevalam,
bahye punyam ayam prapya bhojya vastu svayam bhavet
Jiva yang telah menimbun kelebihan perbuatan baik dan kebajikan memperoleh kehidupan bahagia dan di dunia ini ia memperoleh hal-hal menyenangkan dan baik untuk dinikmati tanpa kesulitan

tatah karma balat pumsah sukham va duhkham eva ca,
papo parakta caitanyam naiva tisthati niscitam
na tad bhinno bhavetso ‘pi tad bhinno na tu kincana
mayo pahita caitanya sarvam vastu prajayate
Dalam perimbangan terhadap kekuatan karma-nya, manusia menderita kesengsaraan atau menikmati kesenangan. Jiva yang telah menimbun kelebihan kejahatan, tak pernah tenang dalam damai – yang tak terpisah dari karma-nya; selain karma, tak ada sesuatu yang lain di dunia ini. Dari kecerdasan yang diselubungi maya, segala sesuatunya dikembangkan.

yatha kalepi bhogaya jantunam vividhod bhavah,
yatha dosavasac chuktau rajataropanam bhavet
tatha svakarma dosadvai brahmanyaropyate jagat
Karena dalam suasananya yang tepat, bermacam-macam ciptaan lahir untuk menikmati akibat dari karma mereka; seperti anggapan salah tentang sebuah kerang mutiara sebagai perak, demikian pula melalui cacat dari karma-nya, maka seorang manusia mengelirukan Brahman sebagai materi alam semesta.

sa vasanam ramotpannon pulanati samarthanam,
utpannan ced idrsamsyajyanam moksa prasadhanam.
Dari keinginan, segala khayalan ini muncul; mereka dapat dibinasakan dengan susah payah; bila pengetahuan pemberi keselamatan tentang ketidaknyataan dunia ini muncul, maka keinginan dapat dihancurkan.

saksad vaisesa drstistu saksatkarini vibhrame,
karanam nanyatha yuktya satyam satyam mayoditam
Terasyikan dalam dunia perwujudan (obyektif), khayalan muncul tentang itu bahwa yang mewujudkan itu adalah subyek. Tak ada penyebab lain dari khayalan tersebut. Sesungguhnya, Aku mengatakan kebenaran padamu.

saksatkari bhrame saksat saksat karini nasayet
so hi nastiti samsare bhramo na iva nivartate
Khayalan tentang perwujudan (dunia obyektif) ini akan terhancurkan bila si pembuat perwujudan itu menjadi nyata. Khayalan ini tak akan lenyap selama orang-orang masih berpikir bahwa “Brahman tidak ada”

mithya jnanami vrttistu visesa darsanad bhavet,
anyatha na nivrttih syad drsyate rajata bhramah
Dengan memandang secara lebih dekat dan mendalam ke dalam permasalahannya maka pengetahuan palsu tersebut akan lenyap. Ia tak dapat dilepaskan dengan cara lain, bila khayalan tentang perak masih tetap ada.

yavannot padyate jnanam saksatkare niranjane,
tavat sarvani bhutani drsyante vividhani ca
Selama pengetahuan tidak muncul tentang si pewujud alam semesta yang tak bernoda, selama itu benda-benda tampaknya terpisah dan banyak

yada karmarjitam deham nirvane sadhanam bhavet,
tada sarira vahanam saphalam syanna canyatha
Bila badan yang diperoleh melalui karma ini dibuat demi untuk pencapaian nirvana (kebahagiaan ilahi); maka hanya pemikulan beban badan sajalah yang akan menjadi penuh keberhasilan – bukan yang lainnya.

yadrsi vasana mula varttate jiva samgini,
tadrsam vahate jantuh krtya krtyavidhau bhraman
Dari sifat apapun keinginan asal (vasana) yang lengket dan menemani sang jiva (melalui bermacam-maam penjelmaan); demikian pula khayalan yang ia derita, sesuai dengan perbuatan dan kesalahannya.

samsara sagaram tarttum yadicched yoga sadhakah,
krtva varnasramam karma phala varjam tadacaret
Bila para pelaksana yoga berkehendak untuk menyeberangi lautan duniawi, ia harus melaksanakan seluruh kewajiban asrama-nya (tingkat kehidupan) dengan melepaskan segala hasil kegiatannya.

visaya sakta purusa visayesu sukhepsavah,
vacabhir uddha nirvana vartante papa karmani
Orang-orang yang terikat pada obyek sensual dan menginginkan kesenangan sensual beralih dari jalan nirvana, melalui khayalan tentang obrolan dan jatuh ke dalam perbuatan yang penuh dosa

atmanam atmana pasyanna kincid iha pasyati
tada karma pari tyage na dosa ’sti matam mama
Bila seseorang tidak melihat sesuatu yang lainnya di sini, setelah melihat sang Diri dengan dirinya; maka tak ada dosa (baginya, bila ia) melepaskan segala kegiatan upacara. Inilah pendapat-Ku

kamadayo viliyante jnanad eva na canyatha
abhave sarva tattvanam svayam tattvam prakasate
Segala keinginan dan yang lainnya diserap hanya melalui pengetahuan kerohanian (jnana) dan bukan dengan cara lainnya. Bila semua tattva (prinsip) minor lenyap maka tattva-Ku menjadi berwujud. Om Santih, Santih, Santih

Lima kekuatan yang berstana di dalam tubuh manusia untuk menjaga keseimbangan Panca Prana yaitu:
Prana = napas kehidupan yang menggerakkan mata, telingan, mulut, dan hidung.
Apana = napas keluar yang menggiatkan alat-alat pembuangan dan penyambung jenis.
Samana = napas penyeimbang menggiatkan kelenjar pembagian makanan
Wyana = napas terbesar untuk menggiatkan segenap system urat saraf dengan arus balik dari dan kembali ke Jantung.
Udana = napas ke atas berfungsi pada saat kematian dan mengatar jiwa ke kehidupan berikutnya. Untuk mencapai keseimbangan di dalam tubuh manusia harus menjalankan Tapa, Yoga / Samadhi, guna mencapai kekuatan Dharma.

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian atau pengaturan. Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas. Dalam Yoga Sutra ini, laku Pranayama lebih diarahkan pada yang bersifat yang esensial —menyingkirkan tabir yang menutupi cahaya batin— bagi persiapan untuk memasuki anga atau tahap berikutnya, yakni Pratyãhãra dan Dharana.
[B]Pranayama yang hanya dikaitkan dengan regulasi nafas, termasuk dalam bidang pelatihan tubuh dalam sistem Hatha Yoga.

Swami Satya Prakas Saraswati di dalam “Patanjali RAJA YOGA”-nya, memang menyatakan bahwa Pranayama berhubungan dengan sistem pernafasan, dimana sikap duduk Siddhãsana (kaki dilipat dengan kaki kanan di atas kaki kiri) dipandang sebagai sikap duduk terbaik di dalam latihan regulasi nafas ini. Dalam kitabnya ini, beliau bahkan memaparkan secara panjang-lebar tentang prana dan Pranayama dalam dua bab tersendiri, dimana antara lain disebutkan bahwa, prana adalah daya-vital yang tidak kelihatan, dan yang memungkinkan kita untuk bernafas. Prana sudah ada pada kita sejak lahir dan tetap ada pada kita selama hidup dalam jasad ini. Ditegaskan bahwa, prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan syaraf. Menurutnya, kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan, memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana, pikiran bisa ditenangkan.

Bahkan, menurut Sri Swami Sivananda, prana bersama-sama dengan materi dan pikiran, merupakan tiga manifestasi relatif dari Yang Absolut. Prana benar-benar merupakan sebentuk modifikasi pikiran. Disebutkan bahwa prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana, sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi, namun negatif bagi pikiran. Pikiran bersifat positif, baik bagi prana maupun materi; namun negatif bagi Kehendak —yang merupakan komunikator antara intuisi dengan pikiran.

Prasna Upanishad antara lain juga mengandaikan prana sebagai ruji dalam sebuah roda, dimana semua didasarkan prana, didasarkan prinsip-kehidupan ini. Sri Swami Sivananda memaparkan bahwa, Pranayama mengantarkan penekun untuk bertatap-muka langsung dengan prinsip-kehidupan. Mengendalikan prinsip-kehidupan, memberi suatu pandangan mendalam pada kekuatan yang memotivasinya.

Taittiriya Upanishad menyebut pranamaya kosa (selubung daya-vital) ini sebagai penghubung antara annamaya kosa (selubung jasmaniah yang terbuat dari sari-sari makanan) dengan manomaya kosa (selubung mental). Kitab Wrhaspati Tattwa menyebutkan tentang Dasaprana, sepuluh prana, yang masing-masing daripadanya adalah: prana, apana, samana, udana, vyana, naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya. Penggolongan prana seperti ini juga ditemukan pula dalam Yajurveda, Atharvaveda, Taittiriya Upanishad, Chandogya Upanishad, Prasnopanishad dan Brhadaranyaka Upanishad. Lima prana —naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya— disebut sebagai prana minor di dalam Brhadaranyaka Upanishad.

amlam ruksam tatha tiksnam lavanam sarsapam katum,
bahulam bhramanam pratah snanam tailavidahakam.
steyam himsam janadve pancahankaram arjavam,
upavasam asatyan ca moksan ca pranipidanam.
strisangamagni sevam ca bahnalapam priyapriyam,
ativa bhojanam yogi tyajed etani niscatam.
Para yogi menjauhi hal-hal berikut yaitu; 1. Makanan yang terlalu masam, 2. Yang sepat, 3. Terlalu pedas, 4. Asin, 5. Banyak bumbu dan 6. Pahit, 7. Kebanyakan jalan, 8. Mandi terlalu pagi (sebelum matahari tetbit) dan 9. Makanan yang digoreng dalam minyak, 10. Mencuri, 11. Membunuh (binatang), 12. Bermusuhan dengan orang lain, 13. Sombong, 14. Curang dan 15. Tidak jujur, 16. Berpuasa, 17. Ketidakbenaran, 18. Berpikiran selain tentang moksa, 19. Kejam terhadap binatang, 20. Bergaul akrab dengan para wanita, 21. Pemujaan terhadap (atau memakai atau duduk dekat) api dan 22. Banyak bicara tanpa memandang itu menyenangkan atau tidak atas percakapan itu dan akhirnya 23. Kebanyakan makan.

lokya sarva sastrani vicarya ca punah punah,
idam ekam sunispannam yogasastram param matam
Setelah mempelajari semua sastra dan setelah berulang-ulang merenungkannya masak-masak, maka yoga sastra ini telah diputuskan sebagai satu-satunya ajaran sejati dan mantap.

yasmin yate sarvam idam yatam bhavati niscitam,
tasmin parisramah karyah kim anyac chastra bhasitam
Sebab dengan yoga sesungguhnya segalanya ini dikenal sebagai suatu kepastian dimana segala usaha harus dilakukan untuk memperolehnya. Lalu apa perlunya ajaran-ajaran lain?

yoga sastram idam gopyam asmabhih paribhasitam,
subhaktaya pradayavyam trailokye ca mahatmane
Yoga Sastra, yang sekarang kami nyatakan ini merupakan ajaran yang amat rahasia, hanya disampaikan kepada penyembah setia, yang berjiwa tinggi di ketiga dunia ini.
Akan tetapi, bagaimana dengan latihan praktis Pranayama sendiri?
Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan.
Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”.
Sementara itu, Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”
Tampaknya, praktek Pranayama mau-tak-mau mesti dikaitkan dengan praktek pengaturan pernafasan.

Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni:

(i) menarik nafas (puraka),
(ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka),
(iii) menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan
(iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-kumbaka).

Dalam hal ini, Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”
Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa.
Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas (recaka).
Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam hati Gayatrimantram sebagai berikut:
OM – Bhur – Bhvah – Svah…….bersamaan dengan puraka;
Tat – Savitur – vare – niyam……bersamaan dengan antah-kumbhaka;
Bhargo – devasya – dimahi…….bersamaan dengan recaka;
Dhiyo – yonah – pracodayat…..bersamaan dengan bhih-kumbhaka.Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun.

Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih.
Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian (terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum), bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih.
Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.
Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa, dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini.
Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja.
Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun.
Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun.
Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.Sehubungan dengan kaitan antara frekuensi nafas dengan kehidupan spiritual, Sri Swami Sivananda menyatakan bahwa, ‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya.’Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan.

Maharsi Patanjali memformulasikan ajaran tersebut ke dalam konsep astangga yoga sebagai delapan tahapan dalam mempraktikkan ajaran yoga yaitu yama, niyama, asana, pranayama, prathiara, dharana, dhayana dan samadhi.
Dari delapan tahapan itu, 1-4 digolongkan ajaran Hatta Yoga.
Sedangkan tahapan 5-8 dikelompokkan ajaran Raja Yoga.
Yoga merupakan keseluruhan dari penjabaran ajaran moralitas, fisik, mental dan spiritual.

Siddhi atau Kesempurnaan

vak siddhi kamacaritvam duradrstis tatha iva ca,
durasrutih suksma drstih parakaya pravesanam.
vinmutra lepane svarnam adrsya karanam tatha,
bhavanty etani sarvani khecara tvam ca yoginam.
Yogi mendapat kekuatan (tenaga) berikut ini; vakya siddhi (kemampuan meramal), pemindahan dirinya sendiri kemana-mana menurut (kamacari), tembus mata (duradrsti), tembus telinga (durasruti), penglihatan halus (suksma-drsti) dan kemampuan memasuki badan orang lain (parakaya-pravesana), mengubah dasar metal menjadi emas dengan mengusapnya memakai kotoran dan kencingnya dan tenaga untuk menjadi tak dapat dilihat dan yang terkahir bergerak diudara.

Dlm aliran Tantra SatyaBuddha ada mengajarkan ajaran2 inti dari Tantra.
Tingkatan2nya:
1. Catur Prayoga
2. Guru Yoga
3. Yidam Yoga
4. —lupa—
5. —lupa—
6. Anuttara Tantra Yoga
7. Maha Dzogchen –tingkat tertinggi/peleburan–

Disebutkan orang yg seluruh cakra ditubuhnya terbuka, secara sendirinya segala kekotoran batin/kilesa semuanya akan musnah. meskipun tdk, ia akan padam sebelum ia muncul.
tubuhnya secara otomatis akan memancarkan cahaya. Tubuh, ucapan, pikiran senantiasa “hidup” dan “selaras”
secara otomatis akan memiliki kemampuan “abijna” meskipun ia tdk mencarinya.
Api kundalini berfungsi utk mengangkat bindu diakar naik ke cakra hati, secara bersamaan nectar dicakra dahi turun ke cakra hati. lalu keduanya melebur menjadi satu. kemudian melebur menjadi semua.. hingga akhirnya menjadi tiada inti dan diri.. ah
tdk mengerti..sy pernah membacanya sampai pusing..penjelasan dlm Tantra sangat tdk bs ditangkap penalaran/teori. kecuali oleh sipelaksana sendiri yg mencapainya..
btw barangkali ada yg telah mencapainya? :D

yg sy tahu salah satu latihan dasar utk membangkitkan kundalini, dgn latihan bhrada kumba/pernafasan botol. Latihan ini baru diturunkan pd saat seseorang telah mencapai kontak batin dlm Guru Yoga..
g jg tdk bayak tau, tp latihan bhrada kumba krg lebih berupa latihan menarik nafas dalam2,lalu mengencangkan anus, lalu menahan nafas/ dikencangkan ke cakra pusat/bbrp inci dibwh pusar.
tujuan latihan ini pertama2 adalah untuk membentuk prana diseluruh tubuh agar bugar. seluruh tubuh akan penuh dgn chi/energi dimana energi tsb akan digunakan utk latihan kundalini..
tp ini tahapan dalam Tantra dalam/tingkat 4. utk Tantra luar yaitu berupa membaca mantra, visualisasi, mudra, latihan moral.
Seseorang yg mencapai tahapYidam Yoga –tingkat 3– saja, sudah merupakan prestasi yg hebat.
sampai disana ia sudah memiliki konsentrasi yg terpusat, mempunyai kemampuan utk berkontak batin dgn bodhisattva/makhluk yg besangkutan dilatihnya.
sampai disana ia sudah memiliki konsentrasi yg terpusat, mempunyai kemampuan utk berkontak batin dgn bodhisattva/makhluk yg besangkutan dilatihnya.
bhrada kumba/pernafasan botol… dari master lu sheng yen..disalah satu bukunya
- duduk bersila, tangan dipangkuan
- lidah disentuh ke langit2x, anus di tarik keatas(supaya tertutup)
- ambil nafas perlahan melalui hidung, dgn pernafasan perut hingga perut penuch, tahan nafas sekuatnya.
- gerakan badan ke kiri kanan, agar kundalini naik keatas.
- sebelum buang nafas, tarik nafas trahir agar mengisi smua cakra & poori2x tubuh
- hembuskan nafas perlahan melalui hidung.
- ulangi beberapa kali

pernapasan botol perlu abhiseka, untuk murid-murid Tantra TBSN juga diajarkan versi Tao yaitu Ta Wen yang ada dibuku padmakumara 7 semuanya kan berjalan alami tergantung tingkat konsentrasi, kundalini bangun sebenarnya adalah seperti chiling (roh yang terbangun). Nah UNtuk membangkitkan/menaikkan inti kundalini ke semua cakra itu yang sulit perlu bimbingan. Untuk pembangkitan kundalini anda hanya diwajibkan sadhana vajrasatva setiap hari dan menjapa mantera pembangkitan kundalini yaitu mantera hati dari Vajrasatva (om Pieca Sato A hum pei) harus dijapa jutaan kali minimal hingga menimbulkan kontak bathin. jadi setiap murid yang telah kontak bathin di tingkat awal (vajrasatva) sudah terbangunkan kundalininya. Ajaran Tantra buddha aslinya bersumber dari ajaran Hindu yang mengalami perbaikan menurut lingkungan guru leluhurnya. Kundalini ada yang sejati adapula fenomena dari dirasuki mahluk lain yang menimbulkan sensasi seperti kundalini bangun (hati-hati dengan ajaran kundalini yang betebaran memungut biaya tinggi).

Tantrayana dan Bhairawa memang pernah berkembang pada masyarakat Hindu di Indonesia dan tentu juga kemungkinan adanya unsur Tantrayana bercampur dengan Bhairawa yang lebih dikenal dengan Tantrayana Bhairawa, demikian juga sebaliknya.
@imhereyahum, yg sy tahu salah satu latihan dasar utk membangkitkan kundalini, dgn latihan bhrada kumba/pernafasan botol. Latihan ini baru diturunkan pd saat seseorang telah mencapai kontak batin dlm Guru Yoga..Sepertinya demikian, dan yang perlu diperhatikan sebelum latihan pernapasan adalah tempat, dan sebagainya.

susobhane mathe yogi padmasana samanvitah,
asanopari samvisya pavanabhyasam acaret.
Biarkan yogi memilih suatu tempat menyendiri yang menyenangkan dan indah atau sebuah kamar kecil, melakukan sikap padmasana dan duduk pada tempat duduk yang terbuat dati rumput kusa, memulai untuk melaksankan pengaturan nafas.

samakayah pranjalis ca pranamya ca sudhih,
dakse vame ca vighnesam ksatra palambikam punah.
Pemula yang bijaksana harus menjaga badannya agar selalu tegap, jangan dibengkokkan, tangannya tercakup seolah-oleh seperti memohon dan menghormat guru pada sebelah kiri. Ia juga harus menghormat pada ganesa disebelah kanan dan juga terhadap penjaga dunia dan dewi ambika yang berada disebelah kiri.
Dan dilanjutkan dengan Pranayama / Latihan pernafasan.

punah pingalaya purya yatha saktya tu kumbhayet,
idaya recayed vayum na vegena sanaih sanaih.
Cobalah tarik nafas melalui lubang hidung kanan dan menghentikan pernafasan selama kemampuannya memungkinkan; kemudian hembuskan udara melalui lubang hidung kiri tanpa paksaan, tetapi pelan-pelan dan wajar.

idam yoga vidhanena kuryad vimsati kumbhakam,
sarvadvandva vinirmuktah pratyaham vigatalasah.
Sesuai dengan cara yoga diatas cobalah melaksanakan 20 kali kumbhaka (menghentikan pernafasan). Ia harus melakukan hal ini setiap hari tanpa lali atau rasa malas dan terbebas dari rasa mendua (cinta dan benci, ragu-ragu dan puas) dsb.nya.

pratah kale ca madhyahne suryaste carddha ratrake,
kuryad evam caturvaram kalesvetesu kumbhakan.
Khumbhaka ini hendaknya dilakukan 4 kali: – sekali pagi-pagi ketika matahari muncul, kedua pada waktu tengah hari, ketiga matahari terbenam dan keempat pada waktu tengah malam.

ityam masa trayam kuryad anakhasyo dine dine,
tato nadi visuddhih syad avilambena niscitam.
Bila hal ini telah dilaksanakan setiap hari, selama tiga bulan dengan teratur, maka nadi-nadi (pembuluh) dari badan akan siap dan pasti dibersihkan.

yada tu nadi suddhih syad yoginas tattva darsinah,
tada vidhvasta dosas ca bhaved arambha sambhavah.
Bila nadi-nadi dari para yogi penerima kebenaran dibersihkan, maka kekurangan atau cacat-cacatnya semua dihancurkan, ia memasuki tahapan pertama dalam melaksanakan yoga yang disebut arambha.

cihnani yogino dehe drsyante nadi suddhitah,
kathyante tu samastany angani samksepato maya.
Tanda-tanda yang pasti, terasa dalam badan yogi yang nadi-nadi-nya telah dibersihkan. akan dimelukiskan, segala macam tanda itu dengan ringkas.

sama kayah sugandhin ca sukantih svara sadhakah,
arambha ghatakasca iva yatha paricayas tada.
nispattih sarva yogesu yogavasya bhavanti tah.
Badan orang yang melaksanakan pernafasan secara teratur akan menjadi berkembang secara selaras, memancarkan bau harum dan kelihatannya indah serta menarik. Pada semua macam yoga, ada 4 tahapan pranayama: 1. Armbha-avastha (keadaan awal); 2. Ghata-avastha (keadaan kerjasama antara sang Diri dengan Diri tertinggi); 3. Paricaya-avastha (pengetahuan); 4. Nispatti-avastha (penyempurnaan akhir).

Cobalah tarik nafas melalui lubang hidung kanan dan menghentikan pernafasan selama kemampuannya memungkinkan; kemudian hembuskan udara melalui lubang hidung kiri tanpa paksaan, tetapi pelan-pelan dan wajar.[/COLOR]
latihan yg ini sy tahu, kl dlm Tantrayana nmnya “9 langkah pernafasan”
urutannya singkatnya:
-tarik nafas dari hidung kanan, tahan, keluar kiri.
-tarik dari hidung kiri, tahan, keluar kanan.
-tarik dari kedua saluran, tahan, keluar dari kedua saluran.
ketiga tahap tsb diulangi 3x..

Ghata Avastha

yada bhaved gathavastha pavanabhyasane para,
tada samsara cakre sminnasti yanna sadharayet.
Bila dengan melaksanakan pranayama yogi mencapai keadaan ghata (kenci air, pasu). Maka bagina tidak ada sesuatupun dalam lingkungan alam semesta ini yang tak dapat ia capai.

pranapana nada bimdu jivatma paramtmanah,
militva ghatate yasmat tasmad vai ghata ucyate.
Ghata dikatakan sebagai keadaan tersebut dimana prana dan apana vayu, nada dan vindu, jivatma (roh manusia) dan paramatma (roh semesta), bergabung dan bekerja sama.

yam amatram yada dharttum samarthah syat tadad bhutah,
pratyaharas tada iva syann amtara bhavati dhruvam.
Bila ia memperoleh tenaga penguasaan nafas (yaitu, menjadi setengah sadar) selama 3 jam, maka pasti keadaan indah dari pratyahara dicapai tanpa kesulitan.

yam yam janati yogindrasatam tam atmeti bhavayet,
yair indriyair yad vindhanas tad indriya jayo bhavet.
Objek apapun yang didapat para yogi, biarkan ia menganggapnya sebagai roh. Bila ragam kegiatan dari berbagai indra diketahui, maka mereka dapat ditaklukkan.

yam amatram yada purnam bhaved abhyasayogatah,
ekavaram prakurvita tada yogi ca kumbhakam.
dandastakam yada vayur niscalo yogino bhavet,
svasamarthyat tad amgusthe tisthed vatulavat suddhih.
Bila melalui praktek yang hebat, yogi dapat melakukan satu kumbhaka selama 3 jam penuh, bila selama 8 tanda (=3 jam) pernafasan dari yogi ditunda, maka yang bijaksana tersebut dapat menyeimbangkan dirinya sendiri pada ibu jarinya; tetapi bagi orang lain ia tampak sebagai orang gila.

Paricaya

tatah paricayavastha yogino bhyasato bhavet,
yada vayus samdra suryam tyaktva tisthati niscalam.
vayuh paricito vayuh susumna vyomni samcaret.
Sesudah ini, melalui latihan, yogi mencapai paricaya-avastha, bila udara meninggalkan matahari dan bulan (lubang hidung kanan dan kiri), tetap tak bergerak dan mantap dalam ether pembuluh susumna. Maka ini dalam keadaan paricaya.

kriya saktim grhitva iva cakranbhittva suniscitam,
yada paricayavastha bhaved abhyasa yogatah.
trikutam karmanam yogi tada pasyati niscitam.
Bila dengan melakukan yoga ia memperoleh tenaga gerak (kriya sakti) dan menembus melalui 6 cakra dan mencapai keadaan paricaya yang pasti, maka sesungguhnya yogi melaihat tiga lapis akibat dari karma.

tatas ca karma kutani pranavena vinasayet,
sa yogi karma kaya vyuham samacaret.
Maka biarlah yogi menghancurkan karma yang banyak itu dengan pranava OM; biarlah ia menyelesaikan kayavyuha (proses mistik pengaturan bermacam-macam skanda banda), agar supaya menikmati atau menderita akibat dari segala perbuatannya hanya pada satu kehidupan saja tanpa perlu lahir kembali.

asmin kale mahayogi pancadha dharanam caret,
yena bhuradi siddhih syat tatho bhuta bhayapaha.
Pada saat itu, biarlah yogi yang hebat melakukan lima jenis bentuk dharana konsentrasi pada visnu dengan mana penguasaan atas lima unsur tercapai dan ketakutan akan kerugian oleh salah satu dari mereka, terlepas, (tanah, air, api, udara, akasa tak dapat mencelakakan dia).
Catatan : ia harus melakukan 5 kumbhaka pada setiap pusat cakra.

adhare ghatikah panca lingasthanam tathai va ca,
tad urdhvam ghatikah panca nabhihrn madhyake tatha.
bhrumadhyordhvam tatha panca ghatika dharayet sudhih,
tatha bhuradena nasto yogindro na bhavet khalu.
Biarlah yogi bijaksana melakukan dharana demikian ; – 5 ghati (2 1/2 jam) dalam teratai adhara(muladhara); 5 ghati dalam singgasana linga (svadhisthana), 5 ghati didaerah diatasnya (pada pusar, manipura) dan yang sama pada hati (anahata); 5 ghati pada kerongkongan (visuddha) dan yang terakhir biarkan dia berpegang pada dharana selama 5 ghati diruang antara dua alis mata (ajnapura). Dengan perlakukan ini, unsure-unsur berhenti untuk menyebabkan kejahatan terhadap yogi yang hebat.

medharva sarva bhutanam dharanam yah samabhyaset,
sata brahma mrtenapi metyus tasya na vidyate.
Yogi bijaksana, yang secara terus menerus melaksanakan konsentrasi seperti (dharana) tak pernah mati, selama ratusan putaran brahma yang agung.

Nispatti

tato bhyasa kramena iva nispattir yogino bhavet,
anadi karma bijani yena tirtva mrtam pibet.
Sesudah ini, melalui latihan yang berangsur-angsur, yogi mencapai nispatti-avastha (keadaan penyempurnaan). Yogi, setelah menghancurkan segala benih karma yang berada sejak awal, akan menegak air keabadian.

yada nispattir bhavati samadhed svena karmana,
jivan muktasya samtasya bhaved bhirasya yoginah.
yada nispatti sampannah samadhih svecchaya bhavet,
grhitva cetanam vayuh kriyasaktirin ca vegavan.
sarvamas cakran vijitva ca jnana saktau viliyate.
Bila –jivan-mukta (bebas pada kehidupan sekarang), ketenangan yogi telah tercapai melalui pelaksanaan, kesempurnaan Samadhi (meditasi) dan bila keadaan penyempurnaan Samadhi ini dapat dibangkitkan sekehendak hati, maka biarlah yogi mencapai setana (kecerdasan sadar), bersama-sama dengan udara dan dengan tenaga kriya saku, menaklukkan 6 roda (jantera, putaran) dan menyerapnya dalam tenaga yang disebut jnana-sakti.

idanim klesahany artham caktavyam vayu sadhanam,
yena samsaracakresmin bhogahanir bhaved dhruvam.
Sekarang kita telah melukiskan pengaturan udara untuk melepas kesulitan-kesulitan (yang menanti yogi); melalui pengetahuan vayu-sadhana ini segala penderitaan dan kenikmatan lenyap dalam siklus alam semesta.

rasanam talu mule yah sthapayitva vicaksanah,
pibet prananilam tasya yoganam samksayo bhavet.
Bila yogi yang cakap dengan menempatkan lidah pada pangkal langit-langit dapat meneguk prana vayu, maka terjadi penghancuran sempurna dari seluruh yoga (yakni, ia tak lama memerlukan yoga).
Catatan : beberapa naskah terbaca “roganam”, sebaliknya dalam hal ini “yoganam”, yang berarti “bebas dari segala penyakit”.

kakacamcva pibed vayum sitalam yo vicaksanah,
pranapana vidhanajnah sa bhaven mukti bhajanah.
Bila yogi yang cakap mengetahui hukum kegiatan prana dan apana dapat menghirup udara dingin melalui kontraksi (pengkerutan) mulut, dalam bentuk paruh burung gagak, maka ia berhak untuk bebas.

sarasam yah pibed vayum pratyaham vidhina sudhih,
nasyamti yoginas tasya bhamadaha jaramayah.
Yogi bijaksana yang setiap hari menghirup udara kehidupan, sesuai dengan aturan yang layak, menghancurkan kelelahan, panas (demam), kemerosotan dan usia tua serta yang merugikan.

rasanam urdhvagam krtva yas candre salilam pibet,
masa matrena yogindro mrtyum jayati niscitam.
Dengan memantapkan lidah keatas, bila yogi dapat meneguk madu yang mengalir dari bulan (yang terletak diantara dua alis mata), dalam sebulan ia pasti dapat menaklukkan kematian.

rajadamta vilam gadham sampidya vidhina pibet,
dhyatva kundalinim devim sasmasena kavir bhavet.
Bila setelah dengan mantap menutup celah suara dengan sistem yoga yang semestinya dan merenungkan dewi kundalini ia meneguk (cairan keabadian bulan), ia menjadi seorang bijak atau penyair dalam 6 bulan.

kakacamcva pibed vayun sandhyayor ubhayor api,
kundalinya munne dhyatva ksayogasya santaye.
Bila ia meneguk udara melalui paruh gagak, baik pada pagi hari dan senja dengan merenungkannya menuju mulut kundalini, maka penyakit TBC paru-paru tersembuhkan.

aharnisam pibed yogi kakacamcva vicaksanah,
pibet prananilam tasya roganam samksayo bhavet.
dutasrutir dudrstis tatha syad darsanam khalu.
Bila yogi yang bijaksana meneguk cairan siang dan malam melalui paruh gagak, penyakitnya terhancurkan; ia secara pasti mendapatkan tenaga tembus mata dan tembus telinga.

dantair dantan samapidya pibed vayum sanaih sanaih,
urdhvajihvah sumedhavi mrtyum jayati socirat.
Bila secara mantap menutup gigi (dengan mengatupkan rahang atas dan bawah) dan menempatkan lidah ke atas, yogi yang bijaksana meneguk cairan pelan-pelan, maka dalam waktu singkat ia dapat menaklukkan kematian

san masa matram abhyasam yah karoti dine dine,
sarva papa vinimukto rogan nasayate hi sah
Seseorang yang setiap hari secara terus menerus melatih ini, hanya selama 6 bulan, dibebaskan dari segala dosa dan menghancurkan segala penyakit

samvatsara krta ‘bhyasadbhairavo bhavati dhruvam,
animadi gunam llabdhva jita bhutagacah svayam
Bila ia melanjutkan latihan ini selama setahun, ia menjadi seorang bhairava; ia mencapai kemampuan anima dsb. dan menaklukkan segala unsur dan yang menyangkut unsur-unsur.

rasanam urdhvagam krtva ksanardham yadi vistati,
ksanena mucyate yogi vyadhi mrtyu jaradibhih
Bila yogi dapat tinggal selama setengah detik dengan lidahnya tertarik ke atas, ia bebas dari penyakit, kematian dan umur tua.

rasanam prana samyuktam pidyamanam vicimtayet
na tasya jayate mrtyuh satyam satyam mayoditam
Sebenarnyalah, Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, bahwa orang-orang tak akan pernah mati, yang merenung dengan menjepit lidah, menggabungkan dengan cairan vital atau prana.

evam abhyasa yogena kamadevo dvitiyakah
na ksudha na trsa nidra naiva murccha prajayate
Melalui latihan-latihan dan yoga ini, ia menjadi seperti seorang kamadeva tanpa tanding. Ia tak merasakan lapar, haus, tidur ataupun pingsan.

anena iva vidhanena yogindro ‘vani mandale
bhavet svac chandacari ca sarvapatpari varjitah
Berbuat atas sistem ini yogi yang hebat menjadi merdeka sepenuhnya di dunia ini dan bebas dari segala halangan, ia dapat pergi ke mana saja.

na tasya punara vrttir modate sasurair api
punya papair na lipyate patada caranena sah
Dengan melaksanakannya demikian, ia tak pernah lahir kembali ataupun dicemari oleh kebajikan dan kejahatan, tetapi bersuka ria (seumur hidup) dengan para dewa

Karma Yoga Tingkat Tinggi

Beberapa pemimpin spiritual memilih jalan pengingkaran diri dari semua harta duniawi sebagai jalur tertinggi dan tujuan hidup.
Karma Yoga Tingkat Tinggi atau Samnyāsi. adalah orang yang tercerahkan atau pertapa, atau orang yang telah meninggalkan semua kepentingan pribadi melihat Tuhan di dalam semua.
Orang semacam itu melihat orang terpelajar, orang buta huruf, orang kaya, yang miskin, orang buangan, bahkan seekor sapi, gajah, atau anjing dengan penglihatan yang sama.
Kesetaraan dengan semua mahluk sangat sulit untuk dilakukan sepanjang waktu. Untuk memiliki perasaan seperti itu seseorang harus benar-benar menyadari Tuhan atau seorang Samnyāsi yang sempurna.
Dalam Bhagawad Gita dinyatakan bahwa pelayanan tanpa pamerih (atau pelayanan kemanusiaan tanpa terikat pada hasil) sebagai jalan terbaik bagi kebanyakan orang, mengarah ke kehidupan yang bahagia di bumi dan di Nirvāna setelah kematian.
Samnyāsa tidak berarti meninggalkan harta benda duniawi. Tetapi berarti tidak melekat pada harta tersebut. Seseorang yang tercerahkan melihat Tuhan di dalam semua mahluk dan memperlakukan semua orang sama.
Dalam KarmaYoga seseorang menyerahkan keinginan pribadinya untuk menikmati hasil dari pekerjaannya. Jadi seorang Samnyāsi adalah KarmaYogi tingkat tinggi yang tidak melakukan apa pun untuk keuntungan pribadi.

Michael Jackson

ilmu yoga

ilmu yoga

Yoga merupakan salah satu jalan keselamatan dalam “ HINDUISME”, yaitu cara untuk mencapai “ MOKSA ATAU KELEPASAN”. Yoga berarti : “ USAHA MENDISIPLIN DIRI UNTUK MEREALISASIKAN KEHADIRAN TUHAN DALAM DIRI”, tetapi Yoga dapat juga berarti suatu usaha mengatur kekuatan alam dan roh, dan juga dapat berarti sebagai usaha “ penyatuan diri dengan yang ilahi”.

Watson menjelaskan sebagai berikut :
Latar belakang Yoga adalah Hinduisme. Praktek Yoga, dengan bermacam-macam sikap tubuh dan latihan-latihan yang beraneka ragam, memimpin seseorang kepada pembebasan diri sendiri dan kesadaran keallahan. Tujuan Yoga adalah untuk mempersatukan manusia dengan “KESADARAN KOSMIK”, atau untuk percikan keallahan yang tiap-tiap orang memilikinya. Yoga mengajarkan “ REINKARNASI”. Ada empat bentuk Yoga :

1. Karma yoga mengajarkan persatuan rohani melalui tindakan yang benar.
2. Bhakti yoga mengajarkan persatuan dengan Yang Mulia melalui devosi kepada seorang guru
3. Juana yoga yang mengajarkan jalan kepada “ALLAH” melalui pengetahuan.
4. Raja yoga mengajarkan kesadaran akan keallahan melalui kontrol pikiran.

Yang paling terkenal di dunia Barat adalah Hatayoga, satu subdivisi dari Raja Yoga. Tahap-tahapnya yang delapan itu adalah sebagai berikut : penyucian tubuh, pembentukan sikap tubuh, pembentukan sikap tubuh untuk menghasilkan energi batin, kontrol nafas, menenangkan pikiran, konsentrasi, meditasi dan persatuan dengan “ ALLAH”.

Yoga dan Alkitab berlawanan satu sama lain. Dalam Yoga manusia berpusat pada diri sendiri, sedangkan dalam Alkitab, manusia berpusat pada Tuhan  Dalam buku pedoman Yoga , diberikan keterangan singkat , antara lain :

* Tiap organ tubuh, mempunyai hubungan dengan jiwa.
* Tiap orang memiliki tabiat tubuh dan tabiat jiwa yang berlawan satu dengan yang lain untuk menjadi unggul. Keselarasan dan kesatuan dari kedua tabiat itu dapat dicapai melalui latihan jiwa.
* Diri manusia sifatnya mahakuasa, mahatahu dan mahahadir.
* Diri manusia sifatnya mengatasi segala sesuatu dan hadir di dalam seluruh alam dunia, tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa lahir dan tanpa mati.
* Hal-hal kebendaan berada di tingkat lebih bawah dari pada pikiran, kecerdasan dan roh.
* Yoga meliputi semua hal yang berhubungan dengan tubuh dan alam metafisik
* Yoga membayangkan satu perpaduan dari pda alam tubuh dan alam metafisik.
* Sorga dan Neraka adalah hasil pikiran manusia.

Dalam praktek Yoga juga dilakukan pengucapan “ MANTRA” (kata-kata suci) yaitu Om-Ram, dan sasaran dari latihan yoga adalah untuk membangun Kundalini ! Kundalini adalah : “ kekuatan ilahi yang sedang tidur dalam diri manusia “, yang dianggap terletak diantara kemaluan dan lubang pantat, dan berbentuk seperti ular, karena itu disebut “ Kekuatan Ular”. Gerakan-gerakan Yoga ada juga yang merupakan gerakan penyembahan matahari, seperti yang dengan jelas dapat dilihat gerak “ Surya Namaskar”. Dalam Yoga ada anggapan bahwa dalam diri manusia ada 7 letak Chakra, dan melalui latihan, kekuatan Kundalini bisa dibangunkan dan naik keatas dan bersatu dengan Syiwa di Sahasrara Chakra ( letaknya di otak), maka tercapailah Samadhi dan Kebebasan, dan kemudian Yogi ( orang yang berlatih yoga) itu akan mendapatkan kekuatan batin ( Siddhis) dimana ia bisa hidup selama disukainya!

Kebanyakan sistem Yoga terbagi atas 4 bagian :

-Bagian I : meliputi semua senam untuk membetulkan bagian tubuh, latihan bernafas, latihan konsentrasi, tepekur, meditasi. Juga termasuk apa yang disebut latihan untuk memahirkan diri sendiri. Biasanya dikatakan bahwa orang Kristen dapat ikut bagian pertama ini, dan beberapa dokter malahan menasihatkan untuk menyembuhkan pasiennya dengan cara ini.
-Bagian II : Ialah pengendalian kesadaran. Sebagai contoh, guru dari bagian II ini dapat mengontrol dan memerintah sistem urat syaraf perut. Mereka dapat dengan sederhana melalui konsentrasi, menambah dan mengurangi peredaran darah dan dari sini mereka membuat cuping telinga menjadi merah, dan pada waktu yang sama mereka memadukan warna lain di cuping telinga yang lain. Yang lain dapat meyebabkan tanda salib di telapak tangannya, walaupun tidak bersangkut paut soal agama. Yang lain dapat menusuk pisau menembus tangan dan pipinya. Lukanya tidak berdarah, tetapi tertutup sama sekali pada saat pisau dicabut keluar dan sembuh dalam bebrapa jam.
-Bagian III : Ialah pengontrolan atas kekuatan tabiatnya. Seorang yogi, melalui konsentrasi dapat melepaskan tenaga batinnya ( sebenarnya adalah kekuatan kuasa gelap di dalam dia), yang cukup kuat untuk melelehkan es, dapat memadamkan api.
-Bagian IV : Bersangkut paut dengan dunia sihir dan kuasa-kuasa di udara. Disini meliputi penggunaan dan praktek segala persoalan dengan roh-roh, pengembaraan jiwa ke mana-mana dan phenomena-phenomena kuasa gelap.

Pengertian Yoga

Yoga dari bahasa Sansekerta berarti “penyatuan”, yang bermakna “penyatuan dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Secara harfiah, definisi yoga adalah untuk ‘bergabung dan bersatu secara percuma.’ Nah apa saja yang diusahakan yogi untuk digabungkan dan dipersatukan atau persatuan? Jawabannya terletak pada konsep tiga unsur manusia yang diyakini dalam agama India kuno. Bagi mereka, manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu pikiran, tubuh, dan jiwa. Tujuan akhir seorang siswa yang melakukan praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan mencapai persatuan dengan ‘Sang Tuhan’ atau ‘Pikiran Alam Semesta’.” [1].

Yoga adalah salah satu jalan keselamatan dalam Hinduisme, yaitu cara mencapai Moksa atau kelepasan. Yoga berarti usaha mendisiplin diri untuk merealisasikan kehadiran Tuhan dalam diri, dan juga berarti usaha mengatur kekuatan alam dari roh, dan juga sebagai usaha penyatuan diri dengan zat ilahi. “
Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktifitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.[2]

Sedangkan pengertian Yoga menurut Ensiklopedi umum adalah sistim ajaran gaib yang diperkembangkan Hinduisme dengan maksud membebaskan orang dari dunia khayalan seperti yang difahami dengan pancaindera. Pembebasan ini sukar dan mungkin memerlukan beberapa kali umur hidup. Yogi (penganut yoga) yang percaya akan pantheisme (kepercayaan bahwa dunia dengan segala isinya adalah Tuhan) mencari persatuan dengan jiwa seluruh alam dunia. Penganut yoga yang atheis (tidak mengakui adanya Tuhan) mencari perasingan yang sempurna dari segala jiwa-jiwa lainnya dan pengetahuan diri sendiri yang sempurna. Kemudian terakhir yang dicari ialah kemuliaan penerangan sempurna. Para penganut yoga memakai disiplin jasmani untuk mencapai itu: penyucian, kebersihan, samadi, dan latihan. [3]
Orang yang melakukan tapa yoga disebut yogi, yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga, diantaranya adalah Upaishad, Bhagavad Gita, Yogasutra, Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.[3] Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita, diantaranya adalah Karma Yoga/Marga, Jnana Yoga/Marga, Bakti Yoga/Marga, Raja Yoga/Marga.

Di India, dalam kitab Upanishad dijumpai ajaran mistik (kebatinan) Hindu yang mengajarkan ‘usaha penyatuan zat manusia (atman) dengan zat semesta (brahman),’ usaha mana dilakukan dengan praktek meditasi, pengetahuan mistik dan latihan pernafasan. Zat itu dinamakan Prajapati yang dalam Upanishad Svetasvatara disebut: “Aku (self) itu adalah api, matahari, angin, bulan; sama juga dengan langit berbintang, itu adalah Brahman, air, Prajapati.” (Lin Yu Tang, The Wisdom of China & India, hlm.50. A.G. Honig dalam buku ‘Ilmu Agama I,’ menyebut hubungan antara ‘zat’ itu dan ‘manusia’ berikut: “Pada hekekatnya hanya ada satu zat, yaitu yang ‘ada’. ‘Zat’ ini dapat disebut ‘Prajapati’, tetapi ia tidak dibayangkan sebagai dewa yang berpribadi, yang berdiri di luar dunia, melainkan ‘dasar segala hal’ yang tidak berpribadi. Untuk menyatakan ‘dasar segala hal’ itu, upanishad-upanishad selalu memakai istilah ‘Brahman.’
Di dalam upanishad-upanishad mulailah manusia mendapat perhatian yang besar. Di sini manusia dipandang sebagai cermin dunia. Segala daya kekuatan alam semesta itu bertemu di dalam manusia seperti sinar cahaya yang bertemu pada titik api. Agni, dewa api, Vayu, dewa angin, dan dewa-dewa lainnya berkedudukan di dalam manusia. Dengan konsekwen, maka manusia digambarkan sebagai mikro-kosmos.’ Suatu pikiran yang lebih lanjut ialah: Kalau dunia ini pada hakekatnya satu, maka manusia pun pada hakekatnya adalah satu juga.

Yang dimaksud dengan itu ialah, bahwa segala daya kekuatan di dalam manusia hanya mempunyai satu dasar kekuatan saja. … Maka perkataan yang dipakai orang untuk menunjukkan kesatuan hidup yang terdalam pada manusia ialah ‘atman,’ sebuah perkataan yang asal mulanya berarti nafas.” (hlm.85).
Sejarah Yoga
Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali (sekitar 2.500 SM), dan merupakan ajaran yang sangat populer di kalangan umat Hindu. Ajaran yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran. Sastra Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali, yang terbagi atas empat bagian dan secara keseluruhan mengandung 194 sutra. Bagian pertama disebut: Samadhipada, sedangkan bagian kedua disebut: Sadhanapada, bagian ketiga disebut: Vibhutipada, dan yang terakhir disebut: Kailvalyapada.

yoga marga

Maharsi Patanjali adalah pelopor ajaran Yoga yang merupakan bagian dari filsafat Hindu yaitu Sad Darsana. Buku beliau yang bernama Yogasutra terdiri dari empat bagian yaitu :

1. Samadhi-pada, tentang sifat, tujuan dan bentuk ajaran yoga yang menjelaskan adanya perubahan-perubahan pikiran dalam melakukan yoga.
2. Sadhana-pada, tentang tahapan-tahapan pelaksanan yoga, cara mencapai samadhi dan pahala yang akan didapat oleh mereka yang telah mencapai samadhi.
3. Wibhuti-pada, tentang hal-hal yang bersifat bathiniah, kekuatan bathin yang didapat oleh mereka yang melaksanakan yoga.
4. Kaiwalya-pada, tentang alam kelepasan dan keadaan jiwa yang telah dapat mengatasi keterikatan pada keduniawian.

Tujuan yang ingin dicapai dalam melaksanakan yoga adalah pencapaian moksa melalui kesadaran yang disebut sebagai “wiwekajnana” yaitu pengetahuan tentang apa yang salah dan apa yang benar menurut ajaran Hindu. Sebagaimana telah diuraikan dalam Jnana Marga, maka dapatlah dikatakan bahwa Jnana Marga adalah dasar fundamental bagi Yoga Marga, karena untuk mencapai kesadaran Wiwekajnana para siswa haruslah mempelajari Weda, Upanisad, Smrti, Itihasa dan Purana. Hal ini ditegaskan oleh Maharsi Patanjali bahwa kelepasan dari ikatan duniawi dapat dicapai melalui pengetahuan langsung terhadap perbedan atman/jiwa dengan hal-hal yang bersifat jasmani seperti badan, pikiran dan sifat ke-akuan kemudian mewujudkannya melalui pengendalian fungsi indria, pengendalian pikiran, dan pengendalian “aku”
Yoga dilaksanakan melalui delapan tahapan dikenal dengan nama “Astangga-yoga” yaitu : Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Prtyahara, Dharana, Dhyana, dan Samadhi.

YAMA
Adalah pengendalian diri tahap pertama yang terdiri dari lima perintah :

1. Ahimsa, artinya tidak menyakiti, tidak membunuh, tidak melakukan kekerasan, tidak melukai mahluk hidup apapun dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
2. Satya, artinya kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
3. Asteya, artinya pantangan menginginkan sesuatu yang bukan miliknya sendiri, apalagi mencuri.
4. Brahmacarya, artinya mengendalikan nafsu sex atau lebih bagus lagi tidak menikmati, memikirkan dan membicarakan sex.
5. Aparigraha artinya tidak menerima pemberian materi dari orang lain.

NIYAMA
Adalah pengendalian diri tahap kedua yang terdiri dari lima perintah :

1. Sauca, artinya suci lahir bathin menuju keadaan Sattwasudhi (kesucian pikiran), Saumanasya (hati yang selalu gembira), Ekagrata (pemusatan budhi), Atmadarsana (realisasi diri yang sejati),
2. Santosa, artinya puas dengan apa adanya yang membawa kepada rasa bahagia,
3. Tapa, artinya tahan uji terhadap godaan-godaan adharma dan keduniawian,
4. Swadhyaya, artinya rajin mempelajari ajaran-ajaran Agama serta meresapkan kedalam pikiran,
5. Iswarapranidhana, artinya bhakti yang mutlak kepada Hyang Widhi.

ASANA
Asana adalah sikap duduk pada waktu melaksanakan yoga. Buku Yogasutra tidak mengharuskan sikap duduk tertentu, tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada siswa sikap duduk yang paling disenangi dan relax, asalkan dapat menguatkan konsentrasi dan pikiran dan tidak terganggu karena badan merasakan sakit akibat sikap duduk yang dipaksakan. Selain itu sikap duduk yang dipilih agar dapat berlangsung lama, serta mampu mengendalikan sistim saraf sehingga terhindar dari goncangan-goncangan pikiran. Sikap duduk yang relax antara lain : silasana (bersila) bagi laki-laki dan bajrasana (metimpuh-bhs. Bali, menduduki tumit) bagi wanita, dengan punggung yang lurus dan tangan berada diatas kedua paha, telapak tangan menghadap keatas.

PRANAYAMA.
Pranayama adalah pengaturan nafas keluar masuk paru-paru melalui lobang hidung dengan tujuan menyebarkan prana (energi) keseluruh tubuh. Pranayama terdiri dari : Puraka yaitu memasukkan nafas, Kumbhaka yaitu menahan nafas, dan Recaka yaitu mengeluarkan nafas. Puraka, kumbhaka dan recaka dilaksanakan pelan-pelan bertahap masing-masing dalam tujuh detik. Hitungan tujuh detik ini dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan ketujuh cakra yang ada dalam tubuh manusia yaitu : muladhara yang terletak di pangkal tulang punggung diantara dubur dan kemaluan, svadishthana yang terletak diatas kemaluan, manipura yang terletak di pusar, anahata yang terletak di jantung, vishuddha yang terletak di leher, ajna yang terletak ditengah-tengah kedua mata, dan sahasrara yang terletak diubun-ubun. Bagi siswa yang ingin memperdalam atau mengkhususkan diri dalam Yoga Kundalini, selanjutnya dapat membaca petunjuk-petunjuk yang diuraikan aadalam buku Sri Swami Sivanandaji Maharaj.

PRATYAHARA.
Pratyahara adalah penguasaan panca indria oleh pikiran sehingga apapun yang diterima panca indria melalui syaraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran. Panca indria adalah : pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah dan rasa kulit. Pada umumnya indria menimbulkan nafsu kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. Yoga bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas dari goncangan-goncangan. Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indria. Untuk jelasnya mari kita kutip pernyatan dari Maharsi Patanjali sebagai berikut :Sva viyasa asamprayoga, cittayasa svarupa anukara, iva indriyanam pratyaharah, tatah parana vasyata indriyanam. Artinya :

Pratyahara terdiri dari pelepasan alat-alat indria dan nafsunya masing-masing, serta menyesuaikan alat-alat indria dengan bentuk citta (budi) yang murni. Makna yang lebih luas sebagai berikut : Pratyahara hendaknya dimohonkan kepada Hyang Widhi dengan konsentrasi yang penuh agar mata rantai olah pikiran ke nafsu terputus.

DHARANA.
Dharana artinya mengendalikan pikiran agar terpusat pada suatu       objek konsentrasi. Objek itu dapat berada dalam tubuh kita sendiri, misalnya “selaning lelata” (sela-sela alis) yang dalam keyakinan Sivaism disebut sebagai “Trinetra” atau mata ketiga Siwa. Dapat pula pada “tungtunging panon” atau ujung (puncak) hidung sebagai objek pandang terdekat dari mata. Para Sulinggih (Pendeta) di Bali banyak yang menggunakan ubun-ubun (sahasrara) sebagai objek karena disaat “ngili atma” di ubun-ubun dibayangkan adanya padma berdaun seribu dengan mahkotanya berupa atman yang bersinar “spatika” yaitu berkilau bagaikan mutiara. Objek lain diluar tubuh manusia misalnya bintang, bulan, matahari, dan gunung. Penggunaan bintang sebagai objek akan membantu para yogin menguatkan pendirian dan keyakinan pada ajaran Dharma, jika bulan yang digunakan membawa kearah kedamaian bathin, matahari untuk kekuatan phisik, dan gunung untuk kesejahteraan. Objek diluar badan yang lain misalnya
patung dan gambar dari Dewa-Dewi, Guru Spiritual, dll. yang bermanfaat bagi terserapnya vibrasi kesucian dari objek yang ditokohkan itu. Kemampuan melaksanakan Dharana dengan baik akan memudahkan mencapai Dhyana dan Samadhi.

DHYANA.
Dhyana adalah suatu keadaan dimana arus pikiran tertuju tanpa putus-putus pada objek yang disebutkan dalam Dharana itu, tanpa tergoyahkan oleh objek atau gangguan/godaan lain baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Gangguan/godaan yang nyata dirasakan oleh Panca Indria baik melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah maupun rasa kulit. Ganguan/godan yang tidak nyata adalah dari pikiran sendiri yang menyimpang dari sasaran objek Dharana. Tujuan Dhyana adalah aliran pikiran yang terus menerus kepada Hyang Widhi melalui objek Dharana, lebih jelasnya Yogasutra Maharsi Patanjali menyatakan : “Tatra pradyaya ekatana dhyanam” Artinya : Arus buddhi (pikiran) yang tiada putus-putusnya menuju tujuan (Hyang Widhi). Kaitan antara Pranayama, Pratyahara dan Dhyana sangat kuat, dinyatakan oleh Maharsi Yajanawalkya sebagai berikut : “Pranayamair dahed dosan, dharanbhisca kilbisan, pratyaharasca sansargan, dhyanena asvan gunan : Artinya : Dengan pranayama terbuanglah kotoran
badan dan kotoran buddhi, dengan pratyahara terbuanglah kotoran ikatan (pada objek keduniawian), dan dengan dhyana dihilangkanlah segala apa (hambatan) yang berada diantara manusia dan Hyang Widhi…

SAMADHI.
Samadhi adalah tingkatan tertinggi dari Astangga-yoga, yang dibagi dalam dua keadaan yaitu : 1) Samprajnatta-samadhi atau Sabija-samadhi, adalah keadaan dimana yogin masih mempunyai kesadaran, dan 2) Asamprajnata-samadhi atau Nirbija-samadhi, adalah keadaan dimana yogin sudah tidak sadar akan diri dan lingkungannya, karena bathinnya penuh diresapi oleh kebahagiaan tiada tara, diresapi oleh cinta kasih Hyang Widhi. Baik dalam keadaan Sabija-samadhi maupun Nirbija-samadhi, seorang yogin merasa sangat berbahagia, sangat puas, tidak cemas, tidak merasa memiliki apapun, tidak mempunyai keinginan, pikiran yang tidak tercela, bebas dari “catur kalpana” (yaitu : TAHU, DIKETAHUI, MENGETAHUI, PENGETAHUAN), tidak lalai, tidak ada ke-”aku”-an, tenang, tentram dan damai. Samadhi adalah pintu gerbang menuju Moksa, karena unsur-unsur Moksa sudah dirasakan oleh seorang yogin. Samadhi yang dapat dipertahankan terus-menerus keberadaannya, akan sangat memudahkan pencapaian Moksa.  Katha
Upanisad II.3.1. : Yada pancavatisthante, jnanani manasa saha, buddhis ca na vicestati, tam ahuh paramam gatim,  Artinya : Bilamana Panca Indria dan pikiran berhenti dari kegiatannya dan buddhi sendiri kokoh dalam kesucian, inilah keadaan manusia yang tertinggi……………….

Jenis-jenis Yoga

Secara garis besar Yoga ada 4 jenis, yaitu :
Karma Yoga, Bakti Yoga, Jnana Yoga, dan Raja Yoga.
Adapun Mantra Yoga, Japa Yoga, Hatha Yoga, Kundalini Yoga, Kriya Yoga, dll. dikatagorikan sebagai Raja Yoga.

Karma Yoga, yoga yang dilakukan melalui kehidupan tanpa pamrih. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi persoalan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma, maka harus diterima dan dihadapi. Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasip, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktip dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan.

Bila anda praktisi Karma Yoga, maka persoalan apapun yang terjadi harus anda terima, tidak melarikan diri. Melarikan diri bukan solusi, tapi justru menimbun persoalan dan membuat persoalan baru. Persoalan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau – tidak mau, suka-terpaksa, semua harus dihadapi. Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.

Bakti Yoga, yoga yang dilakukan dengan berbakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bakti Yoga (Bakta) bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua mahluk ciptaan-NYA. Mencintai ciptaan-NYA merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta. Cinta seorang Bakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin – yang kaya, yang indah – yang buruk, yang pintar – yang bodoh, yang beriman – yang kafir. Semuanya dicintai, bahkan binatang, tumbuhan, dan batu-batuan pun tidak luput dari kecintaan seorang praktisi Bakti.

Jnana Yoga, yoga yang dilakukan dengan jalan pengetahuan. Praktisi yoga ini adalah para intelektual, dengan cara mengkikis kebodohan manusia. Dengan terkikisnya kebodohan, maka manusia semakin pandai. Semakin pandai manusia, terhapuslah kemiskinan, ketidak-adilan, dan kesewenangan. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya. Itulah tugas para praktisi Jnana Yoga.

Raja Yoga, yoga yang dilakukan dengan cara mempraktekkan secara langsung tata cara pengedalian pikiran dan kesadaran indra-indra manusia. Raja Yoga memuat berbagai disiplin fisik dan pikiran, semua dilakukan dalam rangka menuju kepenyatuan seorang hamba dengan Tuhan. Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Bagi praktisi yoga, yang penting adalah pelaksanaannya.

Perkembangan kemudian, hanya Raja Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah. Sebagaimana praktek Sholat, tidak pernah memisahkan antara “bacaan” (doa-doa) dengan “gerakan-gerakannya”, semuanya sakral. Seorang praktisi Yoga yang sempurna, juga melakukan praktek Bakti, Karma, dan Jnana. Sebagaimana seorang yang taat beragama, tidak hanya melakukan ritual peribadatan pada Tuhan saja, tapi juga melakukan semua aturan moralitas dan hukum yang telah digariskan.

Yoga Sutra yang disusun oleh Maharshi Patanjali ini adalah teks klasik terbesar dan terutama dalam aliran filsafat Yoga India. Ia dinyana telah ditulis 2500 tahun lalu; jadi kurang lebih sejaman dengan Buddha Gotama.  Bahkan ada yang berpendapat bahwa teks ini telah disusun tak kurang dari abad ke-2 SM. Di dalamnya, sutra-sutra tentang Yoga atau penyatuan universal benar-benar pendek dan akurat; menegaskan secara lengkap, rinci dan akurat bagian-bagian yang esensial. Mengingat kepadatan dan kepekatan kandungan makna spiritual-filosofisnya, Yoga Sutra dianjurkan untuk dijelaskan dan di-interpretasikan oleh seorang Guru Yoga melalui komentar-komentar. Praktek Yoga dipandang sebagai pelengkap dari dan dalam satu kesatuan pandang dengan filsafat Sankhya. Tujuan-pokoknya adalah merealisasikan kebebasan Jiva dari kungkungan Maya.
Ketidak-cukupan informasi tentang Yoga telah mengundang tak sedikit persepsi keliru di kalangan awam tentangnya. Yoga seringkali dikacaukan dengan Tapa, atau bahkan dengan sesuatu yang berbau klenik yang mendekati takhyul, atau memandangnya hanya dari sudut-pandang kegaiban-kegaiban dan kanuragan saja, telah menggugah penulis untuk menghadirkan buku ini di tengah-tengah kita semua.

Untuk ini, ada baiknya diketengahkan paparan Sri Swami Sivananda—pendiri The Divine Life Society—tentang Yoga.
“Yoga bukanlah mengurung diri di dalam gua-gua, bukan pula berkelana di hutan-hutan lebat sekitar pegunungan Himalaya. Ia juga bukan hanya memakan jenis makanan yang berupa sayur-mayur dari pegunungan. Brahman bukanlah pengecut yang lari dari hiruk-pikuknya komunitas dan pemukiman manusia. Praktekkan sajalah Yoga di rumah Anda sendiri. Manakala hasrat untuk mempraktekkannya muncul, ini berarti bahwa kebebasan telah berada dalam jangkauan Anda, oleh karenanya manfaatkanlah peluang ini sebaik-baiknya…..Menjalani kehidupan sebagai seorang Yogi, tidaklah mesti menelantarkan siapapun juga atau mengabaikan kewajiban-kewajiban melekat Anda. Ia bermakna merubah sikap hidup dari kebiasaan mengerjakan sesuatu yang sia-sia, menuju jalur yang secara pasti mengantarkan langsung kepada Tuhan. Ia dibarengi dengan perubahan prilaku dalam menjalani kehidupan serta metode-metodenya guna membebaskan diri Anda dari berbagai belenggu dan kemelekatan. Kebenaran dan pengabaian keakuan, sebenarnya merupakan masalah sikap-batin”.

Sesuai sistematika dari teks aslinya, Kidung Kelepasan Patanjali inipun disajikan dalam 4 bagian (pãda), masing-masing adalah:
• Samãdhi Pãda.
• Sãdhana Pãda.
• Vibhuti Pãda.
• Kaivalya Pãda.

Samãdhi Pãda —Hakekat Penyatuan Agung.

Pãda yang tersusun dalam 51 sutra ini memaparkan tentang landasan spiritual-filosofis Yoga, hakekat dari penyatuan dan hakekat ketuhanan dalam Yoga. Dalam bagian ini akan banyak kita temukan paparan yang menyangkut intisari keimanan Hindu, yang juga berhampiran dengan Buddha, serta penerangan yang amat bersesuaian dengan Upanishad-upanishad dan Veda Sruti. Dari bagian ini pula, bila kita cermati, kesinambungan antara Sanhkya Darsana dan Vedanta terjembatani dengan Shastrãgama-shastrãgama lain. Pãda ini merupakan pembuka yang berisikan pembekalan dalam tahap persiapan, sebagai landasan pijak dan kerangka dasar seorang sadhaka, seorang penekun di jalan spiritual.
Samãdhi Pãda terutama menjelaskan beberapa jenis Samãdhi sesuai dengan tersisa atau tidaknya objek di dalam Samãdhi, yang dicapai bersama dengan terhentinya pusaran-pusaran pikiran. Kaivalya, yang merupakan isu sentral dari Yoga Sutra ini, hanya dicapai melalui Nirvikalpa atau Nirbija Samãdhi. Walaupun demikian, jenis pencapaian lain tetap merupakan pencapaian tinggi yang merupakan penghampiran pra yang tertinggi. Pembekalan mendasar, seperti ketidak-melekatan (vairagya) dan pembiasaan laku-spiritual (abhyasa) juga diberikan, sebelum seorang sadhaka benar-benar terjun dalam praktek kehidupan spiritual secara intens.

Sãdhana Pãda — Paparan Praktis Praktek Spiritual.

Pãda yang tersusun dari 55 sutra ini memberikan paparan praktis bagi seorang sadhaka. Disini mulai diperkenalkan Yama, Niyama, Pranayama dan Pratyahara, serta persiapan untuk memasuki tiga-serangkai Samyama —Dharana-Dhyana-Samadhi. Samyama baru dipaparkan secara panjang lebar pada Vibhuti Pãda. Metode pembebasan psikologis dan spiritual yang terdiri dari delapan tahapan ini, juga dikenal dengan Ashtanga Yoga.

Disini juga diingatkan akan bahaya dari siddhi bagi seorang sadhaka sejati. Secara keseluruhan prinsip-prinsip praktis dari Yoga dapat ditemukan disini dalam paparan yang lugas. Sebagai paparan praktis, di dalam mengikuti Sãdhana Pãda ini kita juga acapkali seakan-akan sedikit ‘dipaksa’ untuk mengerti tentang sistem Yoga praktis tertentu, terutama Hatha Yoga dan Laya Yoga atau Kundalini Yoga.

Vibhuti Pãda — Paparan tentang Kekuatan dan Kesempurnaan.

Disini dipaparkan tuntunan praktis yang lebih tinggi, terutama tentang tiga-serangkai Samyama, melalui mana kekuatan-kekuatan spiritual, kegaiban-kegaiban, hingga kesempurnaan Yoga bisa dicapai.

Bagi yang mempunyai naluri mistis yang kuat, bagian yang tersusun oleh 56 sutra ini, bisa merupakan bagian yang paling menarik. Disini juga disampaikan peringatan-peringatan untuk tidak melaksanaan Yoga hanya demi perolehan kekuatan-kekuatan dan kegaiban-kegaiban itu, apalagi terikat padanya. Ini dapat dengan mudah menjatuhkan sang penekun.

Kaivalya Pãda — Menggapai Kebebasan Sejati.

Di antara ke-empat Pãda, Kaivalya Pãda inilah yang tersingkat. Disini paparan terasa padat, yang utamanya difokuskan pada pencapaian Kaivalya dan tentang bagaimana seorang Yogi yang telah mencapai status itu. Disini Patanjali tak lupa menyelipkan lagi tatanan etika-moral luhur dari seorang Yogi Sempurna —yang dalam ajaran Vedanta kita kenal sebagai Jivanmukta, ia yang telah terbebaskan dari siklus Samsara dan tak terlahirkan kembali di alam manapun —di antara 34 sutra pembentuknya.

Jadi, secara keseluruhan, ke-empat Pãda benar-benar membentuk satu kesatuan integral, yang kait-mengait satu sama lain, mengalir dan berlanjut, saling memperjelas dan mempertegas. Ini juga berarti meminta praktisi mempelajari Yoga Sutra —guna memperoleh pemahaman yang baik tentang praktek Yoga itu sendiri— secara berulang-ulang, bolak-balik ke depan dan kembali ke belakang. Ia memang merupakan manual-praktis yang tersaji dalam satu kesatuan bahasan komprehensif, menyeluruh dan terpadu. Guna menunjang bahasan-bahasan, dengan segala kerendahan hati, di akhir buku ini penyusun sajikan sebuah tulisan lepas sebagai appendiks.
Dalam kesempatan yang bersahaja ini, kiranya pada tempatnyalah kita bersyukur dan bersujud dengan penuh hormat kepada Maharshi Patanjali, atas kemurahan hati beliau yang tanpa pamerih telah menyusun sistematika praktis serta melahirkan satu aliran filsafat (darsana) agung yang tiada duanya, yang dapat mengantarkan manusia menuju Kebebasan Sejati.

8 Tahapan Untuk Yoga

Berdasar pada tulisan tertua tentang yoga yang dibuat oleh seorang tokoh legenda bernama Patanjali (sekitar 2.500 SM), ada langkah atau tahap-tahap tertentu yang harus dilalui seorang manusia untuk menguasai atau mengenal yoga. Tahapan tersebut berupa 8 langkah atau tingkatan yang dikenal dengan istilah Astanga (Asthangga), Asta = 8, tanga = Tangga, atau 8 tingkatan (tangga). Tingkatan tersebut berupa :

1. Yama ; Kontrol etis, perlakuan kita terhadap faktor eksternal dalam kehidupan
2. Niyama ; Penguasaan spiritual dalam memelihara kemurnian hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan
3. Asana ; Rangkaian gerak postur untuk melatih serta memelihara juga meningkatkan fungsi seluruh bagian tubuh
4. Pranayama ; Seni pernapasan yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan secara menyeluruh
5. Pratyahara ; Penguasaan diri yang bersifat internal. Kemampuan untuk fokus terhadap apa yang ada dalam ‘diri seorang manusia’.
6. Dharana ; Konsentrasi, apabila kita mampu memelihara fokus tadi secara lebih intens.
7. Dhyana ; Sebuah level di mana fokus tadi menjadi sesuatu yang bersifat otomatis, panjang namun tanpa beban. Pelakunya mampu membuat diri mereka fokus penuh konsentrasi namun terlihat luar biasa relaks serta nyaman.
8. Samedhi ; Saat semua pencapaian positif tersebut telah termanifestasi dalam semua aspek kehidupan sang manusia pelaku yoga.

Falsafah Yoga Menurut Agama Non Islam

Falsafah yoga hampir diterima oleh semua agama, namun Islam tidak pernah menerima falsafah yoga. Islam merupakan agama yang amat mementingkan eksklusivisme yaitu perbedaan yang mendasar dalam hal yang berkaitan dengan konsep ketuhanan. Contoh penerimaan agama lain terhadap yoga adalah sebagai berikut:
a) Yoga Hindu: Mengatakan bahwa kita bisa bersatu dengan Tuhan dengan Roh masih ada dalam tubuh, disaat seseorang itu masih hidup di dunia ini [4]. Jalan akhir keluar dari dukkha dan samsara yang terus-menerus terjadi ini hendaklah belajar cara-cara mengamalkan Yoga dengan sungguh-sungguh. [5]
b) Yoga Buddha: Hasil dari pertapaannya, Gautama Buddha mendapat Kegemilangan Rohaniah ( Enlightened ).
c) Yoga Yahudi: Yahudi juga menerima Yoga. Mereka menggunakan cara yang sama seperti latihan bernafas, membaca mantra dan melakukan pose-pose tubuh tertentu (Asana) untuk  mencapai kesadaran Ilahi ( consciousness) [6]
d) Yoga Kristian: Kepercayaan Yoga Kristian ialah “Kesatuan Roh dengan Tuhan”, berarti Yoga sesuai dengan Kristian. Yoga Kristian mengatakan bahwa kita bersatu dengan Allah selepas mati.[7]

Yoga dan Kekuatan Siddhi ( Metafisik)

Kemampuan seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi.
Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada ‘Muladhara’ di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut ‘Sahasrara‘. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi.

YOGA & MEDITASI

Yoga dari bahasa Sanskerta berarti “penyatuan”, yang bermakna “penyatuan dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Yoga menitikberatkan pada aktivitas meditasi  atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktivitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.

Meditasi adalah Praktik relaksasi yang melibatkan pengosongan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari Makna harfiah meditasi adalah kegiatan mengunyah-unyah atau membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, merenungkan. Arti definisinya, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku.
Dengan kata lain, meditasi melepaskan kita dari penderitaan pemikiran baik dan buruk yang sangat subjektif yang secara proporsional  berhubungan langsung dengan kelekatan kita terhadap pikiran dan penilaian tertentu. Kita mulai paham bahwa hidup merupakan serangkaian pemikiran, penilaian, dan pelepasan subjektif yang tiada habisnya yang secara intuitif mulai kita lepaskan.

Dalam keadaan pikiran yang bebas dari aktivitas berpikir, ternyata manusia tidak mati, tidak juga pingsan, dan tetap sadar. Guru terbaik untuk meditasi adalah pengalaman. Tidak ada guru, seminar, atau buku-buku meditasi yang dapat mengajarkan secara pasti bagaimana seharusnya kita melakukan hidup bermeditasi. Setiap orang dapat secara bebas memberikan nilai-nilai tersendiri tentang arti meditasi bagi kehidupannya. Oleh karena hanya dengan mempraktekkan meditasi dalam hidup, orang bisa merasakan manfaat suatu perjalanan meditasi.

Ada banyak arti tentang meditasi, di antaranya adalah:

1. Meditasi adalah jalan untuk masuk dalam kesadaran jiwa.
2. Meditasi adalah jalan untuk introspeksi diri.
3. Meditasi adalah jalan untuk berkomunikasi dengan sang pencipta.
4. Meditasi adalah jalan untuk mengubah hidup anda.
5. Meditasi adalah jalan untuk meraih ketenangan batin.

Manfaat dan Kegunaan Meditasi

Meditasi sering diartikan secara salah, dianggap sama dengan melamun sehingga meditasi dianggap hanya membuang waktu dan tidak ada gunanya. Meditasi justru merupakan suatu tindakan sadar karena orang yang melakukan meditasi tahu dan paham akan apa yang sedang dia lakukan. Manfaat meditasi yang kita lakukan bisa secara langsung maupun tidak langsung kita rasakan secara fisik. Salah satu manfaat tersebut adalah kesembuhan yang kita peroleh, jika kita menderita sakit tertentu.
Dari sudut pandang fisiologis, meditasi adalah anti-stres yang paling baik. Saat anda mengalami stres, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, pernapasan menjadi cepat dan pendek, dan kelenjar adrenalain memompa hormon-hormon stres. Selama anda melakukan meditasi, detak jantung melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stres menurun. Selama meditasi, lama-kelamaan Anda bisa mendengarkan denyutan jantung, bahkan lebih lanjut lagi Anda dapat mengkoordinasikan irama denyut jantung dengan irama keluar masuknya nafas. Di masa lalu testimoni mengenai manfaat meditasi datang hanya dari orang-orang yang mempraktikkan meditasi, saat ini ilmu pengetahuan menunjukkan manfaat meditasi secara objektif.

Riset atas para pendeta oleh Universitas Wisconsin menunjukkan bahwa praktik meditasi melatih otak untuk menghasilkan lebih banyak gelombang Gamma, yang dihasilkan saat orang merasa bahagia. Dari penelitian terungkap bahwa meditasi dan cara relaksasi lainnya bermanfaat untuk mengatasi gangguan fungsi ginjal dengan meningkatkan produksi melatonin dan serotonin serta menurunkan hormon streskortisol. Dr. Herbert Benson, seorang ahli jantung dari Universitas Harvard, adalah orang pertama yang dengan penuh keyakinan menggabungkan manfaat meditasi dengan pengobatan gaya barat. Secara ilmiah, ia menjelaskan manfaat-manfaat dari meditasi yang telah dipraktikkan orang selama berabad-abad.

Manfaat meditasi:

* Apabila anda secara rutin melakukan meditasi, organ-organ tubuh dan sel tubuh akan mengalami keadaan baik dan bekerja lebih teratur.
* Mampu mengatur dan mengendalikan orang lain serta memaafkannya.
* Mampu mengerti orang lain dan memaafkannya.
* Selalu bertekun dalam hidup yang baik, sebagai pembawa berkat bagi sesama.
* Mampu menerima suka dan duka, kesulitan, dan kebaikan hidup dengan baik.

Skid row

ilmu leak

ilmu leak

Fenomena ttg LEAK di Bali selalu menarik utk dibahas. Saya mendapatkan sebuah knowledge yg luar biasa dari seorang kawan yg mempelajari dan meneliti ttg leak ini.
Berdasarkan kitab-kitab dan pengamatan, kawan yg juga seorang dosen ini menceritakan kpd saya apa dan bagaimana leak itu sebenarnya. Leak adalah kemampuan (siddhi) spiritual yg sangat tinggi.

Leak dibagi menjadi dua berdasarkan cara memperolehnya, yaitu Leak Panganugerahan dan Leak Papalajahan.
Leak Panganugerahan adalah kemampuan spiritual yg diberikan oleh Tuhan sbg gift (hadiah lahir) karena ybs memiliki karma yg sangat baik dalam kehidupan sebelumnya.Leak Papalajahan adalah kemampuan yg didapat dgn cara belajar meditasi, tapa semadhi atau yoga.

perbedaan dari ke 2 jenis pengleakan ini:
Orang yg menguasai Leak Panganugerahan mampu menghidupkan sinar Tuhan dlm tubuhnya yg diistilahkan dgn api dan mampu memadamkannya dgn unsur2 cair yg ada dlm tubuhnya juga. Biasanya unsur2 cair ini akan keluar dalam bentuk ludah/air liur/dahak. Dia juga mampu menyatukan unsur bhuana alit (tubuh manusia) dgn bhuana agung (alam semesta). Dgn demikian ybs mampu menguasai semua makhluk2 halus (jin, setan,dll) yg ada di dalam tubuh manusia dan di alam semesta dalam genggamannya.

Sedangkan orang yg menguasai Leak Papalajahan hanya mampu menghidupkan api saja tanpa mampu memadamkannya. Dia juga tdk mampu menguasai makhluk2 halus yg ada di alam semesta dalam dirinya, tapi bisa memerintahkan mereka dgn jalan memberikan seperangkat sesajen tertentu utk menyenangkan makhluk2 halus, karena sesajen2 ini adalah makanan buat mereka. **
sesungguhnya didalam diri setiap manusia terdapat makhluk2 halus yg sama antara satu manusia dengan manusia lainnya, dan makhluk2 halus ini adalah sarana pendukung dalam meng-applikasi-kan kemampuan peng-leak-an dalam kehidupan nyata manusia**

Bagaimana cara mengetahui yg mana leak panganugerahan dan mana leak papalajahan?. Contoh yg paling gampang adalah bagaimana leak ini digunakan utk menyakiti dan mengobati.
Di Bali, orang yg menguasai leak secara umum berprofesi sbg Balian (dukun), walaupun tidak semuanya. Jika kita berada disuatu tempat dan tiba2 hawa terasa panas, kemudian tercium bau busuk bebarapa saat, yg kemudian disusul bau harum, itu tandanya ada yg sedang menghidupkan leak-nya.
Balian yg ilmu leaknya panganugerahan, ketika dia berniat menyakiti seseorang katakanlah agar perutnya melintir seperti ditusuk jarum, niat itu otomatis akan menghidupkan api berupa penyakit yg ada dibagian perutnya. Diperintahkanlah makhluk halus yg menempati posisi di lambung sang balian utk mentransfer ke lambung target (korban). Karena sejatinya makhluk halus disemua tubuh manusia sama >>>> di balian>>>> di korban>>>>>>di orang lain), aksesnya tembus dan terjadilah koneksi yg tidak bisa dikontrol oleh korban. Si korban-pun akhirnya menderita sakit perut yg tidak karuan. Balian yg memiliki leak panganugerahan juga bisa menyembuhkan penyakit. Begitu melihat penyakit pasien yg terkena api peng-leak-an, balian ini langsung tahu>>>>>ada api berupa penyakit ini yg dikontrol oleh makhluk halus :( Dia akan memadamkan api dan mantra tsb dgn ludah/dahak-nya sbg sarana. Yakin langsung sembuh deh.

Kalau balian berdasarkan leak papalajahan, dia bisa menghidupkan api berupa penyakit, tapi tidak bisa mentransfernya ke korban. Karena itu dia memakai jasa makhlus halus yg ada di alam semesta sbg kurir dan pelaksana teknis dilapangan. Sang kurir ini akan minta sesajen tertentu dan diberikan dalam waktu tertentu sesuai perjanjian dgn si balian tadi sbg imbalan untuk mentransfer api penyakit tadi. Terjadi deal, sesajen diberikan, kurir menjalankan tugas, korban-pun jadi sakit. Jika sesajen tidak diberikan sesuai waktu perjanjian makhluk halus tadi akan meninggalkan tubuh korban dan otomatis penyakitnya sembuh. Proses pemberian ulang sesajen tadi adalah charging energi penyakit atau istilah Bali-nya “ngacepin”>>>>> Kalo balian yg leaknya papalajahan dalam menyembuhkan orang sakit menggunakan cara yg sama spt membuat penyakit. Setelah mendeteksi sumber penyakit, dia membuat sesajen tertentu sbg sarana untuk membuat sang kurir (makhluk halus) itu merasa tidak betah dan kabur dari posisi dimana penyakit itu ditaruh. Karena dia juga berperan sbg pelaksana teknis dilapangan, otomatis penyakit tadi tidak ada yg mengerjakan, maka pasien dikatakan sembuh. Cuman bolak-balik begitu saja, so simple.
Dalam perkembangannya, leak ada yg disebut Leak Temon-temon,
leak yg diwariskan oleh seseorang kpd orang lain. Proses transferisasi kemampuan peng-leak-an ini terjadi menggunakan sarana ludah, biasanya diberikan saat pewaris masih bayi. Leak temon-temon oleh yg mewariskan telah di-setup sedemikian rupa, sehingga tingkat kemumpunian ilmunya berjenjang dalam jangka waktu tertentu. Misal pada saat bayi tadi berumur 5 tahun, yg akan “hidup”adalah kekuatan A, umur 10 tahun akan hidup kekuatan B, dstnya. Biasanya sang pewaris tidak tahu kalau dirinya memiliki kemampuan peng-leak-an. Kalau ada orang yg mencoba menyakiti dia dgn kemampuan peng-leak-an, pasti akan mental dgn sendirinya. Ini disebabkan karena warisan leak yg diterima bereaksi secara otomatis dalam diri pewaris.
Ada juga yg disebut Leak Bali-balihan
yaitu leak yg didapat dgn cara membeli pada orang yg menguasai peng-leak-an dengan maksud-maksud tertentu (biasanya untuk menyakiti orang lain karena iri atau benci). Leak jenis bali-balihan ini yg umum terjadi di Bali. Ada orang sukses, tiba-tiba terserang penyakit yg tidak terdeteksi secara medis, bisa jadi kena serangan leak yg tidak kelihatan ini. Pelakunya sudah pasti orang yg iri sama dia kemudian membeli dari balian yg sanggup dan mau untuk itu. Makanya sekarang profesi balian sangat menggiurkan, menjual penyakit dgn bayaran yg cukup gede.
Satu lagi leak yg nge-trend adalah Leak Malih Rupa atau berubah wujud.
Sumbernya dari leak papalajahan kemudian diperjual-belikan (leak bali-balihan). Dengan menggunakan sesajen dan mantra tertentu, orang yg menjalankan leak malih rupa akan
“terlihat” berwujud lain seperti monyet, kambing lidah panjang, mobil berkaki dan wujud2 yg aneh bin menyeramkan lainnya. Sebenarnya dia tidak berubah wujud, tapi mata yg melihat tertipu karena leak jenis malih rupa bertujuan memata-matai (spionase) musuh dan mengelabui musuh. Orang yg tidak menguasai peng-leak-an akan tertipu pastinya, sedangkan yg mempunyai peng-leak-an tidak bisa dikelabui. Makanya ada orang yg melihat wujud-wujud aneh2 itu dan ada yg melihat wujud manusianya. Jangan takut kalau tiba-tiba disuatu tempat kita melihat leak malih rupa ini, karena dia tidak bisa menyakiti melainkan sedang memata-matai saja. Namanya juga manusia, kalau udah melihat wujud yg aneh-aneh, apalagi malam hari ditempat sepi :-swwiiiihhh:((.bawaanya ambil jurus langkah seribu alias kabur..
Kesimpulannya bahwa leak itu bukanlah sesuatu yg jelek, melainkan suatu kemampuan spiritual yg sangat tinggi. Baik atau jahatnya tergantung kepada niat orang yg memiliki kemampuan ini. Semoga informasi yg langka (karena saya juga baru tahu dan terbuka pikirannya) berguna dan bermanfaat biar tidak mengaburkan makna leak sebenarnya.

Filosofi Leak Ngendih di Bali part I Batu endih Leak

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali.
Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat.
Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.
Tidak gampang mempelajari ilmu leak.
Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak.
Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.
Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.
Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar.
Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia.
Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.
Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.
Namun esensinya sama dalam penerapan.
Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti.
Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak.
Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak.
Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis.
Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam.
Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.

Mengapa ditempat angker?
Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi.
Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya.
Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara.
Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak.
Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri.
Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya.
Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai).
Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya. Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya.
Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.
Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam.
Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.

Ilmu leak tidak menyakiti.
Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas.
Bersikap sewajarnya saja.
Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan.
Endih ini tidak menyebabkan panas.
Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda.
Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah

Filosofi Leak Ngendih di Bali part II

Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak.
Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).ima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
- Si adalah mencerminkan Tuhan
- Wa adalah anugrah
- Ya adalah jiwa
- Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
- Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura).Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut.Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak.

Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.
Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu)
Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.
Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.
Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan).
Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat : ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah.
Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu.
Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.
Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian?
Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.
Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra.
Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat.

Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.
Leak barak (brahma).
Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah.
Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil.
Ilmu tersebut bisa membuta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan.
Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.
Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang.
Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.

Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).
Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.
Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab.
Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla.
Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Petapakan Ida Betara Rangda Ngereh

P etapakan adalah topeng dalam wujud sosok makhluk magis yang meyeramkan, terbuat dari kayu tertentu, dibentuk sedemikian rupa sebagai simbol unsur niskala (tidak nampak) dari adanya Ida Betara Rangda.
Ketakson berasal dari kata taksu mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga menjadi kata ketaksuan dan orang Bali lebih mudah mengucapkan dengan kata ketakson yang artinya kesaktian dari proses sakralisasi
Panungrahan artinya pemberian dari Dewa
Petapakan Ida Betara Rangda itu, diyakini tidak saja mampu mengusir gerubug [wabah penyakit] yang pada musim-musim tertentu datang mengancam penduduk Bali, namun juga diyakini dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang dan aman dari ancaman niskala itu. Rasa aman semacam itu menjadi penting, meskipun masyarakat Bali telah menjadi masyarakat modern dan berpendidikan tinggi. Aktualisasi dari rasa aman dari ancaman niskala ini adalah di setiap desa, atau Pura mesti ada Petapakan Ida Betara, sebagai tanda atau kendaraan adanya Ida Betara Rangda, yang jika dipahami dengan baik adalah sisi lain dari kepercayaan akan kemahakuasaan Siwa. Dalam kaitan dengan dunia mistik Hindu Bali, pemujaan terhadap Siwa dilakukan dengan banyak cara, namun terfokus pada Durga sebagai saktinya Siwa. Di bagian-bagian tertentu negeri India, mungkin Siwa tidak sepopuler di Bali, mungkin Wisnu yang lembut dan kebaikannya tidak diragukan lebih popular, atau mungkin Krisna atau Rama. Menarik diteliti mengapa Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Pralina yang bertugas menghancurkan itu justru lebih popular daripada Wisnu atau Brahma yang lembut.

Dalam kisah cerita Calonarang diungkapkan, setelah Raja Airlangga memutuskan untuk menyerang kediaman Calonarang Janda Dirah, maka janda penekun ilmu hitam ini mengajak murid-muridnya ke kuburan untuk menghadap Dewi Durga. Untuk itu, janda dari Dirah itu harus menyiapkan sarana dan prosesi menyambut kedatangan Dewi Durga. Setelah sarana upacara dan prosesi pemujaan berlangsung, muncullah Dewi Durga dalam wujud yang menyeramkan, mulut menganga, taring mencuat dan saling bergesekan, rambut mengombak, membentangkan kain selendang pada susu, penuh hiasan, letak kedua kakinya miring, memakai kain setengah badan, matanya membelalak bagaikan matahari kembar, terus menerus mengeluarkan api, kemudian dengan suara berteriak menanyakan apa tujuan walu ing girah (janda dari girah atau dirah) menghadap.
Citra perwatakan Dewi Durga yang demikian seram itu, kelak muncul dalam rangda yang sesungguhnya merupakan hasil ciptaan para seniman Bali. Entah siapa yang menjadi pelopor, tampaknya seniman pertama yang menciptakan. Sosok rangda di Bali tidak dikenal, sosok rangda muncul di sejumlah desa di Bali sebagai wujud aktualisasi rasa magis masyarakat Bali. Kelahirannya itu, agaknya tidak sekedar melewati proses penciptaan yang biasa, mesti mengacu pada petunjuk mitos atau lontar tertentu. Lontar-lontar (daun pohon lontar yang berisi aksara suci) itu memberi petunjuk mengenai sah tidaknya sebuah petapakan untuk mendapatkan anugrah ketakson. Sementara itu, mitos-mitos yang diciptakan berfungsi untuk menambah bobot magis petapakan tersebut. Cerita-cerita mengenai makhluk-makhluk magis yang seram disampaikan oleh mitos-mitos itu, dipahami oleh penduduk Hindu Bali sebagai ancaman niskala pada kehidupan sehari-hari, jika petunjuk-petunjuknya tidak dipenuhi. Dalam mitos-mitos itu, selalu disebutkan bahwa makhluk-makhluk magis itu menyebarkan wabah penyakit pada musim-musim tertentu. Tidak heran, bila kemudian penduduk Bali merasa takut terhadap ancaman wabah penyakit itu, lalu seniman sakral Bali menciptakan mitos baru yang merupakan perwujudan dari sosok makhluk-makhluk magis itu. Salah satu ciptaan itu adalah Petapakan Ida Betara Rangda.

Pasti ada unsur yang bertugas mentrafsormasikan kesadaran mistik orang Bali dari generasi ke generasi sehingga kesadaran mistik tersebut tetap hidup dan bertahan dalam memori penduduk Bali. Walaupun tidak harus dikatakan bahwa kesadaran mistik itu, bergerak dan hidup di dalam memori semua penduduk Bali, namun tidak dapat dipungkiri kalau pada sebagian orang Bali kesadaran mistik itu masih hidup, muncul dan tenggelam. Artinya, sebagian penduduk Bali mungkin tidak lagi memperhatikan dan terlibat di dalam prosesi untuk menghidupkan kesadaran mistik itu, namun tidak dapat ditolak kalau kesadaran mistik itu tetap hidup di dalam memori mereka. Hal ini, misalnya tampak pada sedikit orang yang masih menghidupkan tradisi ngereh, namun bukan berarti kesadaran mistiknya telah terkikis. Inilah Keajaiban Bali.
Unsur perekat macam apa yang mampu mempertahankan kesadaran purba tersebut? kalau saja tidak ada teks, lebih khusus teks cerita Calonarang, yang dengan rajin disalin dan dibuatkan teks-teks baru mengenai makhluk-makhluk magis yang mengancam keselamatan penduduk Bali bila terjadi dis-harmoni terhadap mereka pastilah “rasa takut” itu berkurang. Baiklah, kalaupun berpikir positif, ancaman secara niskala semacam itu, ternyata juga membuat seniman [undagi] Bali menjadi kreatif dan karya-karya mereka memperkaya khasanah kebudayaan Bali. Persoalan kemudian penduduk Hindu Bali menjadi bertambah kerepotannya ketika karya-karya itu harus mendapatkan anugrah ketakson atau kesaktian melalui proses sakralisasi. Jika tidak, perasaan terancam secara niskala itu sangat mengganggu irama hidup penduduk Bali.

Dis-harmoni tidak boleh terjadi. Berbagi upakara harus diciptakan dan dipersembahkan, bukan untuk menghancurkan makhluk- makhluk magis itu, melainkan untuk dikembalikan ke wilayahnya, somnya (dinetralkan). Hal ini berarti, kedatangan wabah penyakit adalah akibat dari dis-harmonis tersebut, dan dis-harmonis terjadi karena ada yang melewati atau melanggar batas-batas wilayah masing-masing. Batas-batas itu bisa niskala, bisa juga sekala. Bagi yang melanggar batas-batas, sekali lagi, tidak harus dihancurkan atau dibunuh, melainkan dikembalikan ke alam semula, atau diberi sanksi agar kembali ke wilayah semula.

Puncak harmonisasi antara makhluk- makhluk mitologis itu dengan penduduk Hindu Bali adalah saling memberi kekuatan atau kesaktian, maka prosesi ngereh merupakan bukti adanya kesadaran mistik itu. Petapakan yang mendapatkan ketakson, merupakan bentuk presentasi dari kesadaran mistik Hindu Bali tersebut.
Agar petapakan itu dapat menjalankan fungsinya sebagai penangkal ancaman niskala-mistik itu, disamping dapat mengayomi penduduk dari ancaman niskala itu, maka petapakan itu harus sakti, memiliki taksu, dan agar sakti harus melalui proses sakralisasi. Sakralisasi ini sudah mulai dijalankan pada saat mencari kayu yang akan dijadikan bahan petapakan itu. Umumnya, kayu yang digunakan bahan petapakan, adalah jenis kayu yang dipercaya memiliki kekuatan magis, antara kayu pule, kapuh (rangdu), jaran, kapas, waruh teluh, dan kepah. Masing-masing jenis kayu ini ternyata memiliki mitologinya sendiri, yang narasinya berusaha menggambarkan keunikan dan kemagisan kayu-kayu tersebut. Sakralisasi juga tampak pada hari baik yang harus dipilih saat mulai mengerjakan petapakan itu, yang disebut hari kilang-kilung menurut kalender Bali. Sakralisasi ini masih harus dijalankan dalam beberapa tahapan, antara lain tahapan pasupati, ngatep, mintonin dan akhirnya ngerehang.

Apa sesungguhnya ngereh itu? Beberapa lontar memang ada memberi petunjuk mengenai ngereh, antara lain lontar Canting Mas dan Sewer Mas Widi Sastra, Ganapati Tattwa dan lontar Pengerehan. Lontar-lontar tersebut ternyata memberi penjelasan mengenai ngereh dalam perspektif yang luas sehingga ada kesan bahwa ngereh hanyalah prosesi mistik yang sangat rahasia, sebab dilakukan di kuburan pada tengah malam, adalah pengertian yang sempit. Meskipun demikian, pengertian ngereh yang sempit inilah yang hidup dalam benak masyarakat Hindu Bali.
Ngereh sebagai prosesi ritual-mistik di kuburan dan dilakukan pada tengah malam adalah tahapan akhir dari proses sakralisasi Petapakan Ida Betara Rangda. Untuk hal pertama, setelah Petapakan dipasupati oleh seorang pendeta (orang suci), maka diadakan ritual ngereh untuk mendapatkan Sakti Panca Durga (lima kesaktian Durga). Apapun istilah yang digunakan untuk menyebut kedatangan roh atau kekuatan sakti itu, yang jelas proses ritual-mistik inilah yang unik dan sangat rahasia. Kerahasiaannya, antara lain dapat dilihat dari tidak banyaknya penduduk yang terlibat dalam prosesi ritual-mistik itu, bagi yang ingin melihat harus dari jarak tertentu, sehingga pengalaman mistik pelaku ngereh adalah pengalaman sedikit orang yaitu orang yang bisa hidup di alam supranatural Bali.

Prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda Diperlukan Tiga Tingkatan Upakara
Ngereh biasanya berhubungan dengan Upacara Sakral berupa : Pasupati, Ngatep dan Mintonin. Ngereh artinya memusatkan pikiran, dengan mengucapkan mantra dalam hati, sesuai dengan tujuan yang bersangkutan. Pasupati artinya kekuatan dari Dewa Siwa. Ngatep artinya mempertemukan dan Mintonin adalah bahasa Jawa Kuna yang artinya menampakkan diri.
Dalam prosesi Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda diperlukan tiga tingkatan upakara seperti ; Prayascita dan Mlaspas, Ngatep dan Pasupati, Masuci dan Ngerehin.

Pengertian ketiga tingkatan upacara sakralisasi proses Ngereh Petapakan Betara Rangda diatas adalah sebagai berikut : Tingkat Prayacitta dan Melaspas. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghapuskan noda baik yang bersifat sekala maupun niskala yang ada pada kayu dan benda lain yang digunakan untuk pembuatan Petapakan Betara Rangda. Noda ini dapat saja ditimbulkan oleh sangging (seni ukir) ataupun bahan itu sendiri. Dengan Upacara Prayascitta diharapkan kayu atau bahan itu menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Upakara tersebut dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Sapujagat.

Ngatep dan Pasupati dapat dilakukan oleh Pemangku (orang suci) dan Sangging (seni ukir). Dengan upacara ini terjadilah proses Utpeti (kelahiran) terhadap Petapakan Betara Rangda. Mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan oleh penyungsungnya (Pemujanya). Tingkat Masuci dan Ngrehin, merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud Betara Rangda menjadi suci, keramat dan tidak ada yang ngeletehin (menodai). Tujuan upacara adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan. Dengan demikian diharapkan Petapakan Betara Rangda mampu menjadi pelindung yang aktif. Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat yaitu di pura dan di kuburan. Apabila dilakukan di kuburan yang dianggap tenget (angker), maka diperlukan tiga tengkorak manusia yang berfungsi sebagai alas duduk bagi yang memundut (mengusung). Begitu pula bila dilakukan di pura maka tengkorak manusia dapat diganti dengan kelapa gading muda. Upacara ini biasanya dilakukan pada tengah malam terutama pada hari-hari keramat seperti hari kajeng kliwon menurut kalender Bali. Sebagai puncak keberhasilan upacara ini adalah adanya kontak dari alam gaib yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh tepat pada pemundutnya (pengusungnya). Si pemundut (pengusung) yang kemasukan sinar itu akan dibuat kesurupan (trance) dan pada saat itu pula si pemundutnya (pengusungnya) menari-nari. Kejadian lain yang menandakan upacara ini berhasil adalah apabila Petapakan Betara Rangda bergoyang tanpa ada yang menyentuhnya.

Jadi ritual Ngereh itu adalah peristiwa kesurupan, yang sengaja dibuat karena untuk membuktikan bahwa “topeng” yang diupacarai sudah memiliki kekuatan gaib untuk keselamatan masyarakat penyungsungnya (Pemujanya).

Tehnik Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda

Tempat pelaksanaan ngereh biasanya di tengah-tengah setra (kuburan) pada hari tilem (gelap) dan hari keramat di malam hari. Jam pelaksanaannya sekitar jam dua puluh tiga yang diawali dengan matur piuning (Pemujaan), ngaturang caru (menghaturkan sesajen yang ditaruh diatas tanah ) dan nyambleh kucit butuhan (memotong jantan yang masih muda).

Orang yang ditugaskan ngereh duduk berhadapan dengan Petapakan Ida Betara Randa. Lidah Petapakan Ida Betara Rangda dilipat ke atas kepalanya. Diantara orang yang ngereh dengan Petapakan Ida Betara Rangda itu ditempatkan upakara, yang pokok adalah getih temelung (darah dari **** jantan) yang ditaruh pada takir (daun pisang). Pengereh bersemedi, sedangkan rekan-rekannya yang lain berjaga-jaga di sekitar setra (kuburan). Malampun bertambah larut . suasana magis mulai terasa ditambah desiran angin semilir membuat bulu kuduk berdiri.
Untuk menjadi Pengereh diperlukan kesiapan mental, keberanian dan kebersihan pikiran dan badan serta yang paling penting adalah lascarya (pasrah, tulus, ikhlas). Tidak boleh sesumbar atau menambah serta melengkapi diri dengan kekuatan-kekuatan lainnya seperti : sesabukan (Jimat kesaktian). Adanya benda-benda asing di luar kekuatan asli yang berada di badan akan mengganggu masuknya kekuatan Ida Bhatara.

Gegodan (gangguan niskala) mulai mengetes keteguhan hati pengereh, apakah dia akan bisa bertahan dan berhasil atau malah kabur yang berarti gagal. Beberapa jenis gegodan, antara lain :

1. Semut yang mengerubuti sekujur tubuh pengereh dan semut ini besar-besar, jika tidak tahan maka pengereh akan menggaruk-garuk seluruh tubuhnya maka gagallah dia.
2. Nyamuk yang menggigit serta menyengat muka sampai terasa sakit, rasa-rasanya muka akan hancur, jika tidak tahan pengereh akan mengusap atau menepuk-menepuk mukanya dan gagallah dia.
3. Ular besar yang melintasi paha pengereh bergerak perlahan yang terasa geli, dingin dan mengerikan. Jika pengereh geli, ketakutan maka gagallah dia. 4. Celeng (****) yang datang menguntit pantat pengereh yang sedang khusuknya bersemedi jika takut dan merasa terusik, gagallah si pengereh itu.
5. Angin semilir yang membawa Aji sesirep, jika tidak waspada akhirnya ketiduran, gagallah dia.
6. Kokok ayam dan galang kangin (bahasa bali) artinya suasana hari mendekati pagi diiringi dengan ayam berkokok, jika Pengereh terpengaruh dan menghentikan semedi karena merasa hari sudah pagi, maka gagallah dia.
7. “Bikul nyuling” (tikus meniup seruling) menggoda, sehingga membuat si pengereh tertawa karena lucu melihat tikus meniup seruling, maka gagallah dia.
8. “Talenan (alas untuk memotong daging) bersama blakas (pisau besar)” yang datang dengan bunyi….tek….tek….tek….dan akan melumat si pengereh, langsung dicincang. Kalau sudah seperti ini si pengereh harus kabur menyelematkan diri, karena kehadiran talenan bersama blakas ini adalah ciri kegagalan.
9. Kedengaran bunyi gemerincing…..cring…….cring, cring,cring,cring, kalau sudah begini berarti sudah gagallah prosesi ngereh ini, dan si pengereh tidak perlu lagi melanjutkan dan harus secepatnya angkat kaki menyelematkan diri. Hal ini menandakan akan hadir Banaspati Raja (Raja hantu) ancangan (anak buah) Ida Betara Bairawi yang berkuasa di Setra (kuburan).

Kalau yang disampaikan diatas adalah kegagalan ngereh, maka keberhasilannnya adalah ditandai dengan adanya gulungan api, atau tiga bola api yang datang menghampiri kemudian masuk ke petapakan Ida Betara Rangda. Jika sudah masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda, ditandai dengan menjulurnya lidah Petapakan Ida Betara Rangda yang semula diatas kepalanya kemudian turun berjuntai mengarah ke takir (daun pisang ) yang berisi getih temelung (darah **** jantan) dan menyedotnya sampai habis, selanjutnya si pengereh akan kerauhan (trance) kemudian masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda dan ngelur (berteriak) menggelegar; akhirnya tangkil (datang) ke Pura Dalem, permisi lanjut menuju pura tempat peyogan (persemadian) Ida Betara Durga.
Mengenai 9 jenis gegodan (gangguan) itu tidak terjadi sekaligus kesembilannya pada saat ritual ngereh. Gangguan (gegodan) yang terjadi bisa 1 atau 2 atau 3 atau 4 dan seterusnya tergantung situasi dan kondisi serta keberadaan si pengereh, kelengkapan upacara dan kemungkinan penyebab lainnya.

Petapakan Ida Betara Rangda diisi Kekuatan Sakti Panca Durga

Dalam ngerehang pun memanggil Panca Dhurga untuk mengisi kekuatan rangda. Untuk upacaranya perlu dibuatkan segehan agung (sesajen besar yang ditaruh di atas tanah) beserta perangkatnya yang sesuai dengan lontar pengerehan.
Adapun yang dimaksud dengan Sakti Panca Durga adalah lima macam kekuatan Durga yaitu :Kala Durga, Durga Suksemi, Sri Durga, Sri Dewi Durga, dan Sri Aji Durga. Lima macam kekuatan Durga inilah yang menguasai ilmu arah mata angin di dunia niskala (tidak nampak) dan bisa menimbulkan kemakmuran bagi umat manusia maupun bencana apa bila dilanggar batas-batas wilayahnya.
Bali memang tidak bisa lepas dari upacara keagamaan yang dilakukan masyarakatnya, sehingga menambah kemagisan pulau ini, begitu halnya dengan upacara ngereh atau pengerehan yang lazim dilakukan oleh masyarakat dalam rangka menghidupkan sesuatu yang ada hubungannya dengan wahana atau petapakan Ida Betara Rangda di Pura.

Dalam ajaran Agama Hindu di Bali sarat dengan lokal genius yang berdasarkan sastra-sastra Agama, termasuk diantaranya ngereh. Dalam lontar Kanda Pat, ngereh atau pengerehan erat kaitannya dengan Petapakan Ida Betara Rangda yang berupa benda yakni tapel rangda (topeng rangda).
Sedangkan ngerehan rangda sesuai dengan Lontar Pengerehan, Kanda Pat, bahwa ngerehang rangda mempunyai kekhususan sendiri. Sebab ini berhubungan dengan sifat magis yang dimiliki oleh rangda itu sendiri, karena rangda merupakan simbol rajas (emosi) yang penuh dengan nafsu untuk menguasai. Dalam lontar Calonarang, rangda artinya janda yang memiliki nafsu tak terbendung atau kemarahan yang tak tertahankan karena dendam. Rangda sendiri merupakan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya sehingga menyebabkan gejolak dalam diri kita sebagai manusia.

Rangda pengerehan dilaksanakan di setra (kuburan), karena setra (kuburan) merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bhairawi yaitu Dewa kuburan dalam lontar Bhairawa Tatwa, yang merupakan wujud dari Dewi Durga. Dalam mitologinya, disini Dewa Siwa berubah wujud untuk menemui saktinya Dewi Durga berupa rangda sehingga muncullah beberapa kekuatan yang menyeramkan untuk menguasai dunia. Inilah alasannya kenapa setra (kuburan) dipakai sebagai tempat ngerehang rangda. Karena penuh dengan kekuatan black magik. Sehingga dalam ngerehang rangda, kalau sudah mencapai puncaknya ia akan hidup. Setelah hidup rangda akan memanggil anak-anak buahnya berupa leak (setan) atau makhluk halus lainnya.

Sarana Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda Di Kuburan Berupa Pala Walung

“Sebelum ngerehan, maka disiapkan berbagai sarana dan bebantenan (sesajen sakral). Sarana yang penting tersebut adalah memohon pala walung (tengkorak manusia) sebanyak tiga buah. Untuk itu dilakukan matur piuning (pemujaan) kehadapan Ida Betara di Mrajapati. Setelah itu, sekitar jam dua belas siang jero mangku (orang suci) beserta krama (masyarakat) mencari-cari tengkorak di sekitar setra (kuburan). Pala walung atau tengkorak yang didapat tersebut kemudian dicuci dengan toya kumkuman (air suci dari air kelapa) dan ketiganya dihaturkan rayunan cenik (suguhan berupa hidangan).

“Hal lain yang perlu adalah mempersiapkan juru pundut (pengusung) ketika upacara ngereh.
“Pada hari pengerehan tersebut, juru pundut (pengusung) yang kasudi (ditugaskan) atau ditunjuk dilakukan upacara sakral di Pura Dalem. Setelah itu ngiderang (mengelilingi) gedong Pura Dalem sebanyak tiga kali. Kemudian juru pundut (pengusung) tersebut menghaturkan sembah kepada Ratu Gede Penyarikan, Mrajapati. Proses ini berlangsung sekitar jam dua puluh dua tiga puluh menit (jam 20.30 ) malam.

Pada tengah malam sekitar jam dua puluh tiga, tiga puluh menit (jam 23.30) malam, barulah Petapakan Ida Betara Rangda diikuti oleh para damuh (masyarakat penyungsung) menuju ke setra (kuburan) untuk upacara ngereh. Di sana telah disediakan banten (sesajen). Semua banten (sesajen) tersebut diastawa (dipuja) oleh jero mangku (orang suci). Di tempat tersebut ditancapkan sebuah sanggah cucuk (tempat sesajen dari pohon bambu) yang berisi sesajen sakral. Sedang Ida Betara Rangda diletakkan diatas gegumuk (gundukan tanah).
Pemundut (pengusung) kemudian duduk bersimpuh di hadapan banten (sesajen) dan prerai (muka topeng) Petapakan Ida Betara Rangda. Duduk bersimpuh dimana kedua lututnya beralaskan pala walung (tengkorak manusia), dan satu lagi di bagian pantatnya. Mencakupkan tangan memegang kuangen (sarana bunga), ngulengang kayun (konsentrasi) kehadapan Ida Betara Durga. Dihadapannya diletakkan sebuah pengasepan (tempat api). Setelah itu areal tempat ngerehan dikosongkan dari orang termasuk pemangku (orang suci). Semua berada dalam jarak yang jauh”.

Jadi pengertian ngereh pada intinya adalah Petapakan Ida Betara Rangda mesuci (membersihkan diri) di setra (kuburan). Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kesidian (kesaktian) beliau. Setelah upacara ngereh Petapakan Ida Betara Rangda selesai, kemudian pala walung yang tadinya dimohon, dikembalikan ke tempatnya semula, agar tidak ngerebeda (mengganggu atau menimbulkan hal yang tidak diinginkan).
Petapakan Ida Betara Rangda di Bali diyakini mampu mengusir gerubug (wabah penyakit) dan dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang, aman dan tentram dalam irama kehidupan umat Hindu di Bali.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

berbicara tentang adat istiadat di Bali dikaitkan dengan arus modernisasi, masih tetap ajeg dan kuat berakar di hati sanubari masyarakat Bali.
Ilmu Hitam yang di kenal dengan istilah “Pengeleakan” di bali, adalah merupakan suatu ilmu yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan segala manifestasinya dalam fungsinya untuk memprelina (memusnahkan ) manusia di muka bumi.
Di Bali Ilmu tersebut dikenal masyarakat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat.
Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati.
Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih.

Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong “Aji Wegig” yaitu aji berarti ilmu wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain. Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut “Ngiwa”.
Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.
Lontar –lontar artinya buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.
Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu

Pengleakan empat buah yaitu :

Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.
Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.
Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.

Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.
Kisah ceritanya adalah sebagai berikut :
Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).

Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.
Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :
1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, ******, ayam putih, kambing, **** betina (bangkung) dan lain – lain.
2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.
3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ibu Calonarang Terhina
Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.
Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.
Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.
Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.
Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.

Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.
Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Guns n roses