misteri yoga dan kundalini sakti.

misteri yoga dan kundalini sakti.

Setiap orang mempunyai tenaga spiritual rahasia yang berbeda dan berpusat di ujung tulang ekor. Tenaga ini di dalam ajaran-ajaran spiritual kuno India dinamakan kundalini. Bagi orang kebanyakan, tenaga kundalini itu berada dalam keadaan tidur. Namun bagi yang mengerti, kundalini itu merupakan kekuatan sumber atau kekuatan dasar dari segala kekuatan di dalam badan. Baik yang bersifat kasar ataupun halus, dan mereka akan berusaha untuk membangkitkan Kundalininya.

Kundalini memulai kebangkitannya dari pusatnya di Cakra Muladhara, melewati Cakra Swadhisthana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Visuddha, Cakra Ajna, dan akhirnya mencapai Cakra Sahasrara, yaitu Cakra ke tujuh dan Cakra pusat terakhir dengan seribu pusat. Antara cakra ke tujuh dan cakra ke enam terdapat sebuah titik pusat yang dinamakan Bindu Visarga. Pusat ini yang memegang peranan sangat penting dalam kebangkitan kundalini.

Berbagai agama dan kepercayaan memiliki cara masing-masing yang berbeda untuk membangkitkan kundalini, dengan sistem dan tujuan yang berbeda pula. Beberapa diantaranya yang masih terpukau oleh kekuatan-kekuatan bawah, berusaha membangkitkan kundalini dengan tujuan mendapatkan kekuatan-kekuatan gaib, tenaga dalam  dan lain-lain. Namun tidak semua yang berusaha membangkitkan kundalini mempunyai tujuan untuk membebaskan dirinya dari khayalan dan kepalsuan. Malah sebaliknya berusaha memusatkan praktek-praktek pembangkitan kundalininya untuk tujuan merealisasikan Sang Diri Sejati. Mereka yang telah berhasil membangkitkan kundalininya akan mampu menjadi tuan dari keinginan-keinginannya.

Kata Cakra menunjukkan arti perputaran roda. Masing-masing cakra merupakan pusat-pusat roda pemutaran dari berbagai tenaga-tenaga yang berlainan di pusat-pusat yang berbeda pula di dalam tubuh manusia. Lancar tidaknya, atau berhasil tidaknya pemutara dan pembangkitan ditentukan oleh sejauh mana yang bersangkutan berhasil menyucikan pusat-pusat kekuatan tersebut. Tentu, serta saluran-saluran nadinya, khususnya tiga buah nadi, yaitu Ida, Pinggala dan Susumna nadi.

Spiral adalah kekutan daya hidup alami dan pertumbuhan. Spiral ini terus tumbuh dan tidak persis sama ditemui pada setiap orang. Spiral ini merupakan bentuk dari ‘curve’ dimana satu dan yang lain ukurannya berbeda tetapi bentuknya sama. Spiral bekerja dengan dua cara dan keluar masuk menuju sumbernya. Spiral ini dapat menentukan dan mengeliminasi hal-hal yang telah terjadi, secara tidak langsung dapat mencapai bagian yang lebih besar dan hal yang baru.

Misteri Yoga dan Kundalini Sakti (2)

Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama). Menurut Tantra, karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya. Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan. Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala. Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

hasil dari YOGA:
Tahap Pertama
Pada pranayama tahap pertama, badan yogi mulai berkeringat.
Bila demikian ia harus mengusapnya dengan baik-baik, kalau tidak badannya kehilangan dhatu (humor)nya.

Tahap Kedua dan Ketiga
-Pada tahap kedua terasa gemetar pada badan dan pada tahap ketiga, meloncat, kira-kira seperti seekor kodok dan bila pelaksanaannya menjadi semakin tinggi, akan mahir berjalan diudara.
-Bila yogi dapat terangkat diudara dan lepas dari tanah, walaupun tetap dalam keadaan padmasana, maka ketahuilah bahwa ia telah mendapatkan vayu-siddhi (berhasil mengatasi udara), yang menghancurkan kegelapan dunia ini.
-Tetapi selama (ia belum mendapatkannya), patuhilah segala aturan-aturan dan pemabtasan yang fitentukan diatas.
Dari kesempurnaan pranayama ikutilah pengurangan tidur, buang air dan kencing.
-Yogi yang memahami secara benar akan bebas dari penyakit dan kesedihan atau duka cita; ia tak pernah memperoleh keringat (busuk), air ludah dan cacing-cacing usus.
-Bila pada badan pada pelaku tak terdapat penambahan lender, angin ataupun empedu; maka kemungkinan ia dapat bebas dalam ketakteraturan istirahat dan makanannya.
-Kemudian tak ada hal merugikan yang akan menyertai, walaupun yogi makan banyak atau makan terlalu sedikit atau bahkan tidak makan sama sekali. Berkat kekuatan dari pelaksanaan yang konstan, yogi mendapatkan bhucari-siddhi, ia bergerak seperti kodok yang melompat diatas tanah, bila kaget dengan tepukan tangan.
-Sesungguhnya, banyak halangan-halangan yang keras dan sangat tak mungkin untuk diatasi didalam yoga, namun sang yogi harus melanjutkan pelaksanaannya disegala bahaya, walaupun nyawanya telah mencapai kerongkongan.
-Kemudian biarkanlah si pelaku dengan duduk pada tempat terpencil dan mengekang nafsunya, dengan pengulangan yang tak terdengar, mengucapkan pranava panjang Om, agar supaya menghancurkan segala halangan.
-Pelaksana yang bijaksana melalui pengaturan pernafasan secara pasti menghancurkan krma-nya, apapun yang diterimanya pada kehidupan yang sekarang, ataupun dimasa lalu.
-Yogi yang hebat dengan 16 pranayama dapat menghancurkan bermacam-macam kebajikan dan kejahatan yang tertimbun dalam kehidupan masa lalunya.
-Pranayama ini menghancurkan dosa, seperti api yang membakar habis setimbunan kapas yang membuat yogi bebas dari dosa, selanjutnya menghancurkan semua ikatan perbuatan baiknya.
-Yogi yang hebat setelah memperoleh 8 jenis tenaga fisik dan melewati lautan kebajikan dan kejahatan, melalui pranayama dapat bergerak dengan bebas melalui tri bhuvana.
-Kemudian secara berangsur-angsur ia akan membuat dirinya sendiri dapat melaksanakan selama 3 ghati (sekali dalam 1 jam, ia akan dapat menahan pernafasan selama jangka waktu tersebut). Melalui ini, yogi tak disangsikan lagi mendapatkan semua tenaga yang didambakannya.

Potensi Terpendam Hatha Yoga      

Fenomena dari spiral ini memberikan suatu pola evolusi suatu individu dan mencapai level kosmik. Pada intinya, Hatha Yoga merupakan kundalini sakti yaitu lingkaran ular berbentuk spiral yang menggambarkan kekuatan dan  tenaga potensial yang terpendam, yang pada dasarnya terdapat di dalam diri setiap orang. Kundalini mengandung arti panas dan sakti berarti kekuatan. Jadi kundalini sakti berarti tenaga spiral yang panas, diam terbaring namun merupakan tenaga yang potensial. Dan tenaga ini siap meluncur ke atas bila sudah dibuka pembungkusnya dan jalurnya sudah dibersihkan.

Di dalam kitab Gheranda-Samhita (3.9) dinyatakan bahwa kundalini terletak di Muladhara di daerah bagian bawah abdomen. Salah satu cara untuk merangsang cakra ini dengan menekan lapisan abdomen dengan tumit dan kedua sisi dari kaki, dimana tumit menekan lubang dubur dan mata kaki menekan solar plexus, dan merangsang kundalini dengan mengkontraksikan lubang dubur(bhanu).

Kundalini merupakan tenga yang dahsyat dan menyebar sehingga diyakini sebagai sumber kehidupan. Terdapat titik khusus dalam matrix tubuh yng menyimpan tenaga potensial untuk merangsang atau mendapatkan tenaga tersebut. Dan satu dari titik itu menjadi perhatian khusus dalam Hatha Yoga.

Tujuan pertama dari Hatha Yoga adalah untuk membersihkan nadi sehingga dapat memperlancar prana, dan kemudian mendorong naik kekutan Kundalini. Pengaktifan tenaga laten yang dahsyat ini dilakukan menimbulkan transformasi yang mendalam dari yogi dan mempercepat perkembangan kesadaran akan identitasnya. Tahapan utama dalam proses transformasi ini ditunjukkan secara bersamaann dengan pembukaan dan penutupan kundalini di berbagai Cakra yang terletak di citrini-nadi dalam jalur Susumna, dan sampai pada puncaknya di Sahasrara –padma.

Sering orang-orang terserongkan oleh tanda-tanda tertentu yang kadang hanya merupakan getaran-getaran dari reaksi sentuhan awal kundalini. Mereka langsung mengatakan bahwa kundalini telah bangkit. Beberapa indikasi bangkitnya kundalini akan muncul setelah yang bersangkutan menunjukkan cara hidup yang diperlukan untuk itu. Kundalini tidak akan dapat bangkit jika yang bersangkutan tidak menjauhkan diri dari sifat-sifat yng tidak terpuji, termasuk sifat-sifat tidak terpuji yang sangat tersembunyi, yang sering bersembunyi pula di dalam kegiatan-kegiatan yang tampaknya saleh.

Beberap indiksi bangkitnya kundalini dapat diyakini jika terjadi adanya hentakan di Cakra Muladhara, ketika rambut berdiri pada pangkalnya saat Uddiyana, Jalandhara, dan Mulabandha muncul secara otomatis, saat nafas berhenti tanpa dikehendaki, saat Kevala Kumbhaka (konsentrasi penuh pada Prana) datang dengan sendirinya tanpa ditahan. Saat merasakan aliran prana mengalir ke atas menuju Sahasrara, saat mengalami pengalaman mistik, saat terucapnya mantra gaib OM berulang kali secara otomatis, saat tidak ada pikiran duniawi dalam benak, saat meditasi mata menjadi satu di trikuta (di antara dua alis mata), saat samsavi-mudra bereaksi, saat itu dikatakan bangkitnya kundalni. Selama meditasi, seolah-olah tidak merasakan badan, saat bola mata tertutup dan tidak terbuka tanpa dikehendaki, saat seperti adanya liran listrik mengalir naik-turun melalui saraf, saat itu dikatakan kundalini telah bangkit.

MISTERI YOGA DAN KUNDALINI SAKTI 3

Keseimbangan Nadi Ida dan Pingala

Psychiatris Amerika dan Opthalmologist Lee Sannella membuat kajian mendetail tentang ciri psychologist dn physioplogis dari “pengalaman kundalini” mencatat, bahwa sensasi pisik seperti gatal, bergerak-gerak, berdenyut, rasa panas-dingin yang amat sangat, penglihatan sinar dan perasaan adanya sumber suara, dan juga adanya “sparm” dan melilit seperti proses pembentukan  “archetypa”(multi bentuk) atau paling tidak dalam phase seperti itu. Lebih lanjut gambar klinis bangkitnya Kundalni juga diamati.

Menurut text India, Kundalini bangkit atau dibangkitkn pada jalur tulang belakang bergerak ke atas melalui  susumna bagian tengah dan berakhir setelah mencapai mahkota kepala. Sedangkn Lee Sannela menyatakan gambar klinis Kundlini bergerak dari bagian kaki dan pinggang menuju bagian atas kepala, kemudian turun ke bagian muka, bergerak menuju tenggorokan sampai tujuan akhir di daerah abdominal. Dalam hal ini Sannella memberi istilah ‘physio Kundalini’ untuk membedakan kajiannya dengan Yoga tradisional (India). Dinyatakan dengan jelas bahwa physio- Kundalini merupakn mekanisme terpisah yang bisa diaktifkan sebagai bangkitnya Kundalini secara menyeluruh.

Diantara study kajian Sannella, seorang wanita berumur 41 tahun dan telah lama melakukan latihan meditasi menyampaikan pengalaman sensasi-sensasi seperti rasa panas khususnya di bagian tulang belakang, yang diikuti adanya persepsi-persepsi cahaya dalam tengkorak kepala dan bergerak ke bawah di bagian tulang belakang.

Pengalaman tersebut berlanjut selama beberapa minggu, dan selama itu wanita  teresebut tidak merasa bermeditasi, sementara itu rasa panas yang mengalir dalam tubuhnya meningkat begitu dahsyat seakan menghancurkan system sarafnya. Bahkan orang lainpun merasakan rasa panas yang amat sangat saat menyentuh pinggang bagian bawahnya. Timbulnya gejala seperti itu menunjukkan kebiasaan yang berlanjut antara aspek bawah sadar dan organ fisik manusia. Sebagai halnya dalam Hatha Yoga, mekanisme dari organ badan kasar (Sthula Sarira) seperti pernafasan dan kontraksi otot dimanfaatkan untuk menrangsang Kundalini. Dari sudut pandang para Yogi, aktifitas dari beberapa kelenjar dari seseorang dapat diolah dengan baik secara bersamaan dalam satu matrix psychophysical.

Sehubungan dengan manifestasi bangkitnya Kundalini, Marshall Govindan menguraikan persepsi internal tentang cahaya yang menakjubkan (besar) di daerah Ajna-Cakra sebagai awal kebangkitan Kundalini. Selama tahapan ini, Govindan juga menyatakan bahwa pikiran menjadi lebih tenang dan nafsu makan berkurang. Nafas terus-menerus mengalir melalui hidung selama beberapa hari. Hal ini mengindikasikan seimbangnya Nadi Ida dan Pingala. Bahkan kadang ilusi ledakan Kundalini, dimana Govindan menjelaskan hal ini sebagai isyarat hentakan listrik dari jalur tulang belakang bergerak ke atas menuju Sahasrara.

Govindan juga menyatakan adanya suara musik (Nada) terdengar, dan tekanan perasaan tersebut membawanya menuju alam bawah sadar. Tubuh fisik akan menyesuaikan selama pembangkitan awal, dan baik detak jantung dan nafas mungkin berhenti sehingga terlihat mati fisik. Tetapi, jika dibuka kelopak matanya, matanya bersinar seperti mutiara karena pengaruh energi dimana interaksi dalam dirinya (supra-physical) menjadi suatu pengalaman dengan cahaya penuh kebahagiaan. (habis/jok)

sumber: Dimuat di Koran POSMO secara bersambung

Yoga: Pranayama dan Kundalini

1. Yoga Pranayama secara singkat:

1. duduk bersila yang santai/ jangan tegang
2. tarik nafas melalui hidung sampai rongga dada penuh secara pelan-pelan dalam 7 hitungan/ detik
3. tahan nafas di paru-paru selama 7 detik
4. hembuskan nafas keluar melalui hidung pelan-pelan selama 7 detik
5. demikian berulang-ulang, kalau bisa sampai 108 x putaran

2. Yoga Kundalini. Yang dimaksud ‘kundalini’ adalah rangkaian ‘cakra’ yang ada di dalam tubuh kita, yakni:

1. di dubur: muladara cakra
2. di kemaluan: swasditana cakra
3. di pusar: manipura cakra
4. di jantung: anahata cakra
5. di tenggorokan: wisudi cakra
6. di sela-sela alis: ajnya cakra
7. di ubun-ubun: sahasrara cakra

Yoga Kundalini bertujuan menguatkan/ membangunkan rangkaian cakra-cakra ini untuk menopang kesehatan dan kekuatan jasmani/ rohani.
Yang dimaksud dengan ‘cakra’ adalah jalinan urat syaraf yang unik dan sakral yang dapat dan tidak dapat dilihat dengan kasat mata atau dengan peralatan tertentu.
‘Dapat dilihat’ artinya dengan sistem ilmu kedokteran. ‘Tidak dapat dilihat’ artinya keberadaannya hanya dapat diketahui/ dirasakan oleh mereka yang telah melaksanakan Yoga Kundalini.

3. Kombinasi: Yoga Kundalini – Yoga Pranayama – Meditasi Angka – Sapta Ongkara. Keempatnya jika digabungkan dalam pelaksanaannya membawa dampak: kesehatan spiritual, emosional, inteligensi dan fisik. Tata caranya:

1. Lakukan Pranayama Yoga sesuai petunjuk di atas, di saat menghitung 7 x bayangkan dalam pikiran jalur Kundalini berurutan dari dubur ke atas (ketika menarik nafas), bayangkan kekuatan kundalini sedang terpusat di ubun-ubun (ketika menahan nafas), bayangkan kekuatan Kundalini menyebar ke seluruh tubuh (terutama yang terasa sakit ketika itu, ketika mengeluarkan nafas)
2. Bagi mereka yang sudah Ekajati apalagi Dwijati, ketika proses berlanjut, ucapkan dalam hati mantram ‘Sapta Ongkara’ berturut-turut dan bersamaan dengan Yoga Pranayama/ Yoga Kundalini:
* OM ANG BRAHMA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM UNG WISNU ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM MANG ISHWARA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM MAHADEWA NIR-ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM SADA RUDRA ATI ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM SADASIWA NISKALA ATMANE YA NAMAH SWAHA
* OM OM PARAMASIWA SUNIA ATMANE YA NAMAH SWAHA
3. Meditasi dilakukan dengan membuang pikiran-pikiran lain, hanya memikirkan Pranayama, Kundalini, dan Sapta Ongkara.
4. Meditasi Angka adalah jenis meditasi yang mengkonsentrasikan pikiran pada angka. Dalam hal ini pilihan (pribadi saya) adalah angka 7, karena saya mengkombinasikan ketiga sistem itu ‘pas’ dengan 7 hal:
* kundalini = 7 cakra
* mantram sapta ongkara = 7 kalimat
5. Tujuan mantram Sapta Ongkara adalah: meletakkan dan menguatkan kedudukan ‘Siwa Atma’ ke tempatnya semula. ‘Siwa Atma’ = roh Tuhan yang ada di dalam diri setiap mahluk hidup, ‘ke tempatnya semula’ = Kundalini

Rangkaian: Pranayama – Kundalini – Meditasi Angka – Mantra Sapta Ongkara, adalah penemuan saya sendiri dari hasil ‘Nyurya Sewana’ setiap hari selama 7 tahun.
Walaupun ke empat unsur di atas memang sudah ada dalam Weda, tetapi yang mencoba merangkainya menjadi satu, sepengetahuan saya belum ada, atau belum pernah ada yang mengemukakan secara terbuka seperti ini.

Tantra, Nadi, Chakra dan Kekuatan Kundalini APAKAH TANTRA?

Tantra adalah Siwa Tattwa.
Tantra sebagai pengetahuan kerohanian yang untuk pertama kalinya diajarkan di India 7000 tahun yang lampau oleh “Sanghyang Sadashiva”, seorang Mahayogi yang hidup di pegunungan Himalaya ketika itu. Tan barasal dari akar kata Sansekerta yang berarti “perluasan”, dan Tra berarti “pembebasan”. Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya.

Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan (sesuatu yang membebaskan dari kegelapan).
Tantra menunjukkan usaha keras untuk mentransformasikan kehidupan dari bentuk yang kasar menuju persatuan dengan Dia yang tidak bersifat atau ‘Kesadaran Tanpa Batas’, yaitu suatu keadaan melampaui ikatan-ikatan relativitas.
Tantra adalah cabang dari agama Hindu yang berdasarkan SIWA TATTWA. Kebanyakan kitab-kitab Tantra masih dirahasiakan dari arti sebenarnya dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Kebanyakan orang-orang Hindu, termasuk para sarjana besar, pada umumnya tidak mendiskusikan Tantra. Karena tidak pernah dipublikan, hanya murid yang pantas yang diberi ajaran langsung dari para guru rohaninya, maka pemahaman Tantra dari abad ke abad menimbulkan penafsiran beraneka ragam pada akhirnya menimbulkan expresi yang beragam pula.

Di Bali Siwa Tattwa dimantapkan dalam pengetahuan rohani Siwa Sidhanta.
Siwa Sidhanta menyebar ke Indonesia dari pasraman Agasty Madyaprades yang dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India Tengah).

MENURUT TANTRA NADI/SARAF APA YANG PALING PENTING?
Menurut Tantra adalah tiga urat saraf yang peling penting, yaitu Sushumna, Ida dan Pinggala, mulai dari Muladhara Chakra, di dasar tulang belakang. Sushumna adalah yang paling penting dari semua saraf atau Nadi dan ia tidak kelihatan dan sangat halus. Ia bergerak melalui jaringan pusat dari tulang belakang dan bergerak jauh sampai titik paling atas dari kepala. Ida dan Pinggala bergerak paralel dengan Sushumna di sebelah kiri dan kanan dari saraf tulang belakang. Ida dan Pinggala bertemu dengan Sushumna di Ajna Chakra, titik yang terletak antara alis mata. Mereka berpisah lagi dan mengalir melalui sisi kiri dan kanan hidung.

APAKAH CHAKRA?
Sepanjang Sushumna, ada tujuh pusat-pusat bathin (psychic centers) mulai dari Muladhara Chakra. Mereka tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka dipercaya berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warna yang berbeda, dan masing-masing mengendalikan kegiatan dari organ indriya yang berbeda.

vMuladhara Chakra (pada dasar dari tulang belakang) memiliki empat daun bunga dan mengendalikan bau dengan unsure padat. = Tempat pada tulang punggung di antara payu pastha atau dubur dan kelamin.
vSwadishthana Chakra (pada dasar kelamin) memiliki enam daun bunga dan mengendalikan rasa, dengan unsure cair, = Tempat pada tulang punggung diantara nadi pusar dengan upastha/alat kelamin.
vManipura Chakra (di seberang pusar) mempunyai sepuluh daun bunga dan mengendalikan pandangan, dengan uncur cahaya =Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan Nadi/Pusar.
vAnahata Chakra (sejajar dengan hati) mempunyai duabelas daun bunga dan mengendalikan sentuhan, dengan udara = Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan hulu hrdaya atau hulu hati/jantung.
vWisuddha Chakra (pada jakun kerongkongan) memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan pendengaran, dengan unsur ether = Terletak pada tulang punggung dan sejajar dengan tempatnya Kerongkongan.
vAjna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga dan mengendalikan pikiran. = Terdapat pada tulang punggung dan sejajar dengan letaknya bhrumadya/Kening
vSahasrara Chakra (terletak diatas titik paling atas dari kepala) mempunyai seribu daun bunga. Disini Yogi telah meperoleh Kesadaran Kosmis.= Tempatnya pada SiwaDwara/Ubun-Ubun dan sehasra cakra ini sering pula disebut Siwasthana Brahmaranda.

APAKAH KEKUATAN KUNDALINI?
Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama). Menurut Tantra, karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya. Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan. Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala. Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

PROSES PERALIHAN YOGA KUNDALINI

Teknik ini adalah inti dari sumber pengetahuan pertama yang tercatat dalam Weda. Sebagai dasar ilmu Yogi, teknik ini merupakan penelitian batin utama dari sebuah peradaban yang sangat maju dan lenyap sejak lama dan mengandung kekuatan yang sama dengan yang mengakibatkan kehancuran benua Atlantis “yang hilang”.
Terdapat tujuh titik daya dalam badan manusia yang disebut “Cakra”. Titik-titk daya yang sebenarnya tidak dapat dilihat, biarpun dengan menggunakan daya pikir. Oleh karena itu, masing-masing titik daya itu harus digambarkan dengan menggunakan mata daya batin Kundalini anda.

Catatan:
Berkonsentrasilah pada dasar tulang punggung.
Semua ketujuh titik Cakra harus digambarkan sebagai ujung pemintal. Ketika ia berputar, ujung itu berputar menjadi spiral bundar. Ketika spiral itu makin besar sampai sejauh tujuh inci keluar, pindahkan perhatian anda ke titik Cakra kedua. Operkan daya gerak yang ditimbulkan oleh titik Cakra kesatu pada titik Cakra kedua dan biarkan energi badan bercampur dengan daya gerak titik Cakra kedua. Seperti halnya titik Cakra kesatu, ia mulai berputar dalam gerakan spiral bundar. Bila spiral itu menjadi semakin besar sampai tujuh inci keluar, pindahkanlah perhatian anda ke titik Cakra ketiga. Proses ini berlangsung seperti itu berulang-ulang sampai ke Cakra ketujuh, yang terletak di tengah-tengah kening, di tempat mata batin anda berada. Gambarkanlah sebagai ujung pemintal, yang mulai berputar menjadi gerakan spiral bundar. Bila spiral itu menjadi semakin besar sampai menjulur sejauh tujuh inci keluar, ia akan kelihatan seperti meninggalkan badan anda dan melayang ke luar dan melayang ke luar ke dalam Ruang Batin. Ia akan membawa serta semua energi badan yang ditimbulkan dari gerakan spiral bundar dari ketujuh titik Cakra.
Biarkan intelek anda ikut bersama Cakra yang berputar ketika ia melayang ke luar badan ke dalam Ruang Batin.
Anda mungkin akan merasa bergerak sangat cepat ketika anda melayang dalam Ruang Batin, dan mungkin akan melihat cahaya-cahaya berkedip-kedip.
Biarkan intelek anda melayang jauh dalam kecepatan tinggi dalam Ruang Batin, guna mendapatkan penerangan dari Batin Kosmis atau semua hal yang berhubungan dengannya.

Cakra:
1. Muladhara Chakra, terletak kira-kira ruas keempat dari dasar tulang punggun.
2. Swadishthana Chakra, terletak di purut bagian bawah.
3. Manipura Chakra, terletak di Jantung di tengah-tengah dada.
4. Anahata Chakra , terletak di dasar tenggorokan / ditempat lekukan.
5. Wisuddha Chakra, terletak di dasar otak/ di puncak tulang punggung,
6. Ajna Chakra , di pusat ujung kepala.
7. Sahasrara Chakra, terletak di pusat kening (kedudukan mata batin anda).
atau ;
1. muladhara terdapat diantara kelamin dan dubur
2. svadisthana terdapat di 2 jari dibawah pusar
3. manipura tedapat di 2 jari dibawah lekukan rusuk/ pertemuan kedua rusuk
4. anahata terdapat di tengah dada
5. visuddha di tenggorokan ato di pita suara
6. ajna diantara kedua alis
7. sahasrara terdapat di ujun atas kepala

·Semua ketujuh titik cakra harus digambarkan sebagai ujung pemintal (satu per satu)
·Ketika anda berpindah dari satu titik Cakra ke titik Cakra berikutnya, semua konsentrasi harus dipindahkan dari titik Cakra tersebut pertama ke titik cakra berikutnya yang sedang dihadapi. (Masing-masing titik cakra dibiarkan berputar dan membesar terus sampai mencapai diameter kira-kira tujuh inci. Selanjutnya energi badan yang ditimbulkan oleh putaran spiral bundar itu dibiarkan bercampur dengan titik cakra berikutnya tanpa berhenti).
·Konsentrasi mutlak diperlukan guna mencapai sukses menyeluruh. Diperlukan ketenangan dan kesunyian yang terus-menerus selama melakukan bagian Peralihan ini.
·Ingat, tidak perlu takut. Tidak ada bahaya sama sekali. Semua aman, karena anda berhak untuk berhubungan dengan Batin Kosmis.

LANGKAH:
A.Tutup Mata dan berkonsentrasilah
B.Berkonsentralah pada dasar tulang punggung. Titik cakra pertama terletak kira-kira di ruas keempat dari dasar tulang punggung.
C.Gambarkan titik cakra kesatu sebagai ujung pemintal. Ketika ia berputar, ujung itu mulai berputar membentuk spiral bundar. Dengan makin membesarnya spiral itu sampai berdiameter 7 inci, biarkan energi badan yang ditimbulkan oleh cakra kesatu bercampur dengan gerakan spiral cakra kedua. Pindahkan perhatian anda ke cakra kedua.
D.Titik Cakra kedua terletak di perut bagian bawah (Proses titik cakra kedua dan cakra-cakra berikutnya sampai cakra ketujuh adalah sama seperti proses di atas). Titik cakra kelima terletak di dasar otak, di puncak tulang punggung. Cakra ke emam terletak di pusat ujung kepala. Cakra ketujuh terletak di pusat kening. Ia di gambarkan seperti berada ditempat kedudukan mata batin anda.
E.Ketika spiral cakra ketujuh mencapai diameter 7 inci, ia akan kelihatan seperti meninggalkan badan anda dan melayang jauh ke dalam ruang batin. Cakra ketujuh ketika melayang keluar badan sambil berputar dalam bentuk spiral bundar masuk ke dalam Ruang Batin.
F.Ikutlah bersama cakra ketujuh yang berputar melayang jauh dari badan ke dalam ruang batin.
G.Anda akan menyadari adanya cahaya berkedip-kedip. Biarkanlah intelek anda ikut melayang jauh dalam kecepan tinggi guna mendapatkan sedikit pengertian atau penerangan batin kosmis atau hal-hal lain yang bersangkutan.

PERALIHAN MENTAL KUNDALINI

Peralihan mental pada dasarnya adalah mempelajari teknik Kundali guna mencapai hubungan mutlak dengan batin kosmis, dengan begitu, anda dapat melampaui batin dari sikap adharma (negative) ke sikap dharma (positif) yang sangat diperlukan guna mencapai sukses dalam semua bidang usaha dan semua tahap kehidupan.
PROSES PERALIHAN YOGA KUNDALINI adalah Peralihan Batin yang sejatinya dapat dilakukan oleh siapa saja tampa perlu bantuan orang lain, karena itu merupakan komunikasi langsung dengan batin kosmis. Hal ini bila dilakukan sendiri akan menimbulkan getaran mental yang tepat bagi pencapaian penguasaan batin secara sempurna.
Bila dilakukan dengan tekun, tentu proses peralihan dengan segala metodenya dapat dilakukan dalam beberapa detik. Tapi diakui hanya sedikit orang yang mampu mencapainya.
Kita semua tanpa perkecualian menginginkan kebahagiaan, mendambakan ketentraman abadi. Tujuan semua sama – kita ingin bahagia. Cara yang ditempuh untuk memperolehnya berbeda, berlainan tetapi hasil akhir yang diharapkan sama.
Para Rsi, Yogi, Pujangga menyimpulkan “VASU DEVA KUTUMBKAM” – seluruh umat manusia ini bagaikan satu keluarga besar. Kesimpulan ini setelah melihat bahwa tujuan hidup setiap orang itu sama – Ketenangan, Ketentraman, Kedamaian….Moksa.

Salah satu Teknik Peralihan adalah Meditasi Srimad Bhagavatham
Ajaran atau teknik ini merupakan petunjuk Bhagavan Sri Vyasa dalam karyanya Srimad Bhagawtham.
Teknik ini dapat diberikan dari anak usia kecil, sehingga ia sudah terbiasa dan pada masa remajanya, dimana ia harus menghadapi begitu banyak tantangan hidup, ia dapat menghadapinya dengan tenang.

Meditasi Srimad Bhagavatham

Ajaran atau teknik ini merupakan petunjuk Bhagavan Sri Vyasa dalam karyanya Srimad Bhagawtham.
Teknik ini dapat diberikan dari anak usia kecil, sehingga ia sudah terbiasa dan pada masa remajanya, dimana ia harus menghadapi begitu banyak tantangan hidup, ia dapat menghadapinya dengan tenang.
Kita duduk dalam posisi santai (dapat diiringi music yang lembut), jika biasa lebih baik bersila.
Mata kita setengah tebuka – kita pusatkan pikiran kita pada ujung hidung kita.
Pikiran kita ibarat kera, kita harus memberikan kesibukan kepadanya.
Kita berikan tugas kepadanya untuk memperhatikan keluar-masuknya napas.
So Ham…So Ham… So Ham…
Napas yang masuk adalah So, Napas yang keluar adalah Ham…. proses ini berjalan terus dan Sang Kera sibuk memperhatikan proses ini. So Ham artinya “Itulah Aku… aku berasal dari Tuhan, pada Nya pula akan aku kembali….” Proses ini kita lakukan selama 3 sampai 5 menit.
Selanjutnya kita pusatkan pikiran kita kearah Simbul Spiritual kita, atau Pelita Dupa yang sedang nyala.
Kita pandang Nyala Pelita Dupa itu dengan mata terbuka, kita pandang, kita pandang terus.
Setelah kita memandang pelita tadi untuk beberapa lama, sekarang kita harus dapat membayangkan Nyala Pelita itu dalam diri kita sendiri.
Tutuplah mata pelahan-lahan….
Nyala pelita itu tetap dapat kau lihat, walaupun matamu tertutup….
Nyala pelita itu berada dalam diri.
Sekarang, banyangkan nyala pelita itu berada dalam hati, jantung..
Hati dan Jantung ibarat bunga teratai ditengah-tengah bunga itu bersemayam pelita tadi, dengan segala cahayanya, bersinar, begitu terangnya.
Pindahkan Cahaya itu ke matamu sekarang, kedua matamu penuh dengan cahaya. Dengan matamu yang bercahaya ini, kamu tidak akan lagi melihat sesuatu yang tidak baik.
Cahaya itu berpindah ke telingamu. Telingamu tidak lagi akan mendengarkan hal-hal yang tidak baik.
Nah, sekarang cahaya itu berada di lidahmu, Ya, kau tidak lagi akan mengucapkan kata-kata yang tidak baik.
Sekarang cahaya itu berada pada lenganmu. Kau tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik lagi, dengan lenganmu.
Cahaya itu menerangi kakimu sekarang. Kau tidak akan bepergian ke tempat-tempat ayng tidak baik.
Seluruh badanmu terang sekarang. Tubuhmu bermandian dengan cahaya….
Cahaya yang terpancar dari dalam dirimu seolah-olah bagaikan air lautan yang meluap…
Ingatlah kawan-kawanmu, temanmu, saudara-saudaramu, orangtua serta Gurumu….
Mereka semua membutuhkan kasihmu, kirimkan cahaya kasih itu kepada mereka….
Meraka semua mencitaimu, kau patut membalas mereka dengan kasih pula, cahaya itu tidak hanya menerangi tubuhmu, tetapi juga menerangi mereka semua….
Sekarang kita sampai pada bagian yang paling penting dari peralihan ini.
Ingat mereka yang selama ini kau anggap sebagai musuhmu, mereka yang tidak kau senangi. Cahaya yang sama, yang ada dalam dirimu, ada dalam diri mere yang kau cintai – ada pula dalam diri mereka yang kau musuhi selama ini.. kirimkan cahaya kasih itu kepada mereka pula….
Cahaya itu, kasih itu berada dalam dirimu, dalam diri kawanmu, dalam diri lawanmu.
Sebenarnya tidak ada seorangpun yang kau patut benci, kau harus dapat mencitai setiap orang….siapa saja.
Yang ada hanyalah kasih, kasih, kasih…..
ASATHO MAA SADGAMAYA
THAMASO MAA JYOTIR GAMAYA
MRITYORMAA AMRITAM GAMAYA
AUM SHANTIH, SHANTHI, SHANTHI…
“O Tuhan, bimbinglah aku dari jalan yang penuh dengan kegelapan, kebodohan dan ketidak-pastian kejalan yang terang dan penuh dengan kebijaksanaan. Aum Shanthi, Shanthi, Shanthi….
Bukalah mata pelahan-lahan. Tujuan utama peralihan Srimad Bhagavatham adalah untuk memperoleh Ketenangan, Kedamaian, Ketentraman (SAMADHI).
Dalam tingkah ini kita tidak lagi akan membedakan antara kawan dan lawan.

BhagawdGita, Bab VI Sloka 9 :

Suhrin mitrar yudasina
Madhyastha dwesya bandhusu
Sadhusaw api ca papesu
Samabuddhir wisisyate

Dia yang melihat sama antara yang dicintai, teman dan lawan, tidak memihak, yang netral dan penengah, terhadap yang dibenci dan keluarga, antara yang baik dan yang berdosa, dialah orang yang utama
Jadi tingkat kesadaran seorang yang melakukan meditasi sudah harus mencerminkan sifat semacam itu. Meditasi untuk memperoleh ketenangan, ketentraman, kedamaian. Untuk lebih jelas, meditasi untuk mencapai tingkat Samadhi. Meditasi hanya sarana untuk mencapai Samadhi.
Dengan melakukan meditasi, kita menghemat energi, energi yang terhemat, tenaga yang diperoleh dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih penting. Meditasi membuat hidup kita lebih dinamis. Hidup menjadi lebih tenang, tentram, damai dan dengan demikian seseorang telah mengambil langkah pertama demi tercapainya kedamaian dunia. Seorang Hindu, tanpa membedakan kebangsaan, warna kulit, kepercayaan dan lain sebagainya, mengakhiri menditasi dengan doa universal.

LOKAA SAMASTHAA SUKHINOH BHAVANTHU….
Semoga seluruh umat manusia, semua makhluk,
semesta alam ini mendapatkan kebahagiaan
AUM SHANTHI, SHANTHI, SHANTHI……….

ASTANGGA YOGA

Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi delapan cabang atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga.
Yoga mengedepankan kontrol atas aktivitas-aktivitas tubuh, indra, dan pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan dikendalikan agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi. Kemelekatan pada objek-objek duniawi membuyarkan perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini, Yoga memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan tubuh dan pikiran. Delapan tangga tersebut disebut Astangga Yoga, yaitu :

(1) Yama,
(2) Niyama,
(3) Asana,
(4) Pranayama,
(5) Prathyahara,
(6) Dharana,
(7) Dhyana, dan
(8) Samadhi.

Dua yang pertama, yaitu Yama dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum menginjak tahapan berikutnya.

1) Yama, artinya pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya), pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki hak orang lain (aprigraha).
2) Niyama, artinya pembudayaan diri dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).
3) Asanas secara harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang nyaman ini tubuh tetap dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai sikap tubuh ini, membawa sejumlah besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi efek pada setiap aspek dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon, melenturkan persendian, memijat organ-organ dalam dan menenangkan serta mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan mengontrol kelenjar, kelenjar akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat kita selalu berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional akan menyebabkan depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh pikiran. Kita telah kehilangan kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi yang jelas. Postur-postur dalam yoga akan menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam selama asanas akan menenangkan dan memberikan energi yang banyak pada pikiran.
4) Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju lapisan intuisi terhalus, maka ia harus membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.
5) Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan indra-indra dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.
6) Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan oleh fluktuasi-fluktuasinya.
7) Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah kontemplasi teguh tanpa adanya istirahat.
8) Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran benar-benar diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi di sini mereka menjadi satu. Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi mental yang merupakan tujuannya.

DOA KEKUATAN KUNDALINI
Doa kekuatan ini seharusnya diucapkan tiap pagi setelah anda bagun.
Doa ini akan menguatkan daya kundalini.
ATHARWA WEDA – KANDA 1 (SUKTA 1) :
Doa Agar Ajaran-Ajaran Suci Yang Dipelajari Terpatri Dalam Sanubari
RCA:

Dengan pola Trisapta, Tiga dan Tujuh, atau Tiga kali Tujuh, yang menjadi jumlah yang tidak terhingga, Kekuatan-Kehidupan Manifes, – membakar-, menjadi semua bentuk-bentuk kehidupan; – semoga hari ini, Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda berkenan memberi tugas kepada saya, dan membekali saya dengan Kekuatan-Kekuatan yang berasal dari Diri Beliau.
O, Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda, datanglah kemari, bersama-sama dengan paramatman; O, Yang dipertuan Atas Kebaikan-Kebaikan, bimbinglah saya agar saya dapat selalu berada di dalam diri saya, dan dapat menyatu dengan sanubari saya, serta semoga saya senantiasa dapat ingat akan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari.
Bentangkanlah perlindungaMu kepada saya, tepat seperti ujung-ujung dari busur itu didekatkan dengan ditariknya talinya kuat-kuat; semoga Yang Dipertuan Atas Sabda-Sabda menguatkan hubungan diri saya dengan diri Beliau; semoga Kekuatan-Kekuatan itu dapat selalu berada di dalam diri saya, dan dapat menyatukan dengan sanubari saya, serta semoga saya senantiasa dapat ingatkan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari.
Datanglah kemari, O, Yang Dipertuan atas Sabda-Sabda; semoga sayalah yang engkau pilih sebagai tempat persinggahanmu; semoga saya dipersatukan dengan Ajaran-Ajaran Suci yang telah saya pelajari; Semoga saya tidak ditinggalkan oleh Ajaran-Ajaran Suci itu.

Syaraf Dalam Yoga

sardha laksa trayam nadyah santi dehantare nrnam,
pradhana bhuta nady astu tasu mukhyas catur dasah
Di dalam badan manusia terdapat 350.000 nadi; di antaranya 14 merupakan yang prinsip

susumneda pingala ca gandhari hastijihvika,
kuhuh sarasvati pusa samkhini ca payasvani
varuny alambusa caiva visvodari yasasvini,
etasu tisro mukhyah syuh pingaleda susumnika
Susumna, Ida, Pingala, Gandhari, Hastijihvika, Kuhu, Sarasvati, Pusa, Sankhini, Payasvani, Varuni, Alambusa, Visvodari dan Yasasvini. Di antara kesemuanya ini, Ida, Pingala dan Susumna adalah yang terpenting

tisrasveka susumna iva mukhya sayogi valama,
anyas tadasrayam krtva nadyah santi hi dehinam
Di antara ketiganya, susumna sendirilah yang terutama dan disenangi oleh para yogi. Pembuluh (urat) yang lainnya merupakan bawahannya di dalam badan.

nady astu ta adhovaktrah padma tantunimah svitah,
prstha vamsam sama sritya soma suryagni rupini
Semua nadi (pembuluh) yang prinsip ini memiliki mulut yang mengarah
ke bawah dan berbentuk seperti serat halus bunga teratai. Mereka semuanya ditunjang oleh tulang belakang dan menggambarkan matahari, bulan dan api

tasam madhye gata nadi citra sa mama vallabha,
brahmarandhran ca tatra iva suksmat suksmataram subham
Yang paling penting dari ketiganya ini adalah citra: inilah yang kusayang. Di sana ada lubang terkecil dari semua lubang, yang disebut

brahmarandhrapanca varne jjvala suddha susumna madhya carini,
dehasyopadhi rupa sa susumna madhya rupini
Cemerlang dengan lima warna, murni, yang bergerak di tengah-tengah susumna, citra ini merupakan bagian yang penting dari badan dan pusat susumna

divya margam idam proktam amrtananda karakam,
dhyana matrena yogimdro duritaugham vinasayet
Ini disebut dalam sastra sebagai jalan surga; yang merupakan pemberi kebahagiaan dari keabadian; dengan perenungannya, yogi yang hebat mampu menghancurkan segala dosa
Dengan Yoga, Kita dapat menyaksikan apa yang telah terjadi dalam hidup kita, yang bila kita renungkan kembali, benar juga, itu adalah akibat atas apa yang kita pikirkan.
Semua yang sudah terjadi adalah akibat dari pikiran kita sebelumnya.
Berpegang pada prinsip apa-apa yang telah terjadi adalah karena fokus kita.
Bilamana kita berfokus pada hal-hal yang negatif, seperti memikirkan hal-hal susah, maka hasil yang didapatkan juga akan menjadikan kita benar-benar susah.
Memang banyak orang yang terus menerus menyesali apa yang sudah terjadi, tetapi bukankah apa yang telah berlalu tidak bisa kita ubah lagi?
Apa yang disampaikan diatas adalah Inti Sari dari Ajaran Yoga.
Dan sudah sepantasnya generasi muda hindu mendapatkan pengetahuan ini walaupun apa yang disajikan sebatas Inti Sarinya.
“Cemerlang dengan lima warna, murni, yang bergerak di tengah-tengah susumna, citra ini merupakan bagian yang penting dari badan dan pusat susumna”
Bagian inilah yang merupakan bagian terpenting untuk dapat dipahami.
Karena bagian inilah yang melandasi Umat Hindu Dharma dalam menjalankan ritual keagamaanya, melalui Konsep: Panca Wara, Panca Aksara, Panca Bhudindriya, Panca Brahma, Panca Atma, Panca Datu, Panca Durga, Panca Yadnya, Panca Pandawa, Panca Maha Bhuta, Panca Bhuta, Panca Dewata, Panca Sata, Panca Tirhta, Panca Wali Krama, Panca Sembah.

Dalam Patanjali Raja Yoga disebut Panca Maya Kosa:
Lima jenis sarung halus yang terdapat pada tubuh kita.
Lima macan unsur inilah yang berhubungan dengan badan halus atau sukma sarira yakni sebagai pembungkus atma setelah meninggalkan badan jasmani manusia / mahluk lainnya.
Unsur itu ialah:
1. Annamaya Kosa = unsur dari sari makanan;
2. Pranamaya Kosa = unsur dari sari nafas;
3. Manomaya Kosa = unsur dari sari pikiran;
4. Wijnanamaya Kosa = unsur dari sari pengetahuan;
5. Anandamaya Kosa = unsur dari kebahagiaan.
Kedua unsur terakhir Wijnanamaya Kosa dan Anandamaya Kosa bersifat non materiil, tetapi keduanya tak dapat dipisahkan, ibarat mata uang logam yang ada dua mukanya yaitu Rwa Bhineda (dua hal yang berbeda/berlawanan, tetapi mempunyai persamaan keutamaan)
Dan Yoga yang wajib dilakukan dalam Hindu Dharma adalah Tri Sandya
Sembahyang tiga kali dalam sehari, yaitu:
1. Pagi waktu matahari baru terbit;
2. Tengah hari waktu matahari tepat di atas kepala;
3. Senja hari waktu matahari menjelang terbenam.

Untuk selalu mengigat Jiwatman sebagai percikan dari Tuhan, yang selalu terbungkus oleh unsur Kekuatan Tuhan yang selalu menyertai Atman saat meninggalkan badan atau memasuki badan baru, dengan sifat Rwa Bhinedanya.
Hal ini selalu diinggat melalui hari peringat setiap hari dan puncaknya pada hari yang ke Lima (demikian seterusnya berulang sebagai siklus lima hari / Panca Wara).
Hari yang lima, yaitu:
1. Umanis. Dewanya Reshi Kursika, Dewa Ishwara, Bhagawan Tatulak. Urip/neptu (5)
2. Paing. Dewanya Reshi Gargha, Dewa Brahma, Bhagawan Mercukunda. Urip/neptu (9)
3. Pon. Dewanya Reshi Maitrya, Dewa Mahadewa, Bhagawan Wrespati. Urip/neptu (7)
4. Wage. Dewanya Reshi Kursya, Dewa Wisnu, Bhagawan Panyarikan. Urip/neptu (4)
5. Keliwon. Dewa Reshi Pretanjala, Dewa Ciwa, Sanghayang Widhi Wasa. Urip/neptu (8)

Kemudian Rwa Bhineda sebagai kekuatan + dan – dari setiap unsur dari Panca Maha Bhuta disimbulkan dengan Lingga dan Yoni, sebagai simbul energi positif dan negatif yang selalu ada dalam tubuh manusia dan di Alam Semesta (sebagai kutub utara dan selatan yang merupakan Lingga dan Yoninya alam semesta).
Umat Hindu Dharma menerapkan kesehariannya dengan menghaturkan Canang Sari di atas tempat suci dan Sehehan di bawah/tanah dengan tujuan untuk mengharmoniskan kekuatan positif dan negatif.
Jadi konsep Rwa Bhineda selalu mewarnai aktifitas keagamaan Hindu Dharma.
Pada akhirnya semua yang dilakukan untuk Keharmohisan alam semesta akan dapat pula dirasakan oleh warga/masyarakat walaupun tidak beragama Hindu karena bersifat universal.
Maka dalam pelaksanaanya ajaran Yoga, umat Hindu melaksanakan dengan Empat jalan yang bisa ditempu yaitu Catur Marga Yoga.

CATUR MARGA YOGA

Catur marga adalah empat buah jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan moksartamjagathita. Keempat ini sama utamanya.
Yang disebut Catur Marga Yoga itu adalah :
1. Bhakti Marga Yoga
2. Karma Marga Yoga
3. Jnana Marga Yoga
4. Raja Marga Yoga.

Setiap orang bebas memilih salah satu dari keempat jalan ini, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing, tidaklah mesti orang harus berpegangan pada satu marga saja, bahkan keempatnya itu hendaknya digerakkan secara harmonis seperti halnya seekor burung.
Kalau diumpamakan bahwa sayap kiri dari burung adalah Jnana Marga, maka sayap kanannya adalah Bhakti Marga. Seekor burung akan bisa melayang dengan baik kalau sayap kiri dan akannya seimbang.
Burung tidak akan bisa mencapai tujuanya yang dikehendaki walaupun memiliki daya dorong yang kuat.
Kemudian sayap ekor yang berfungsi sebagai kemudi mengarahkan sebaik-baiknya supaya jangan terbangnya menyimpang dari tujuan.

Ø Bhakti Marga Yoga, mengutamakan penyerahan diri dan mencurahkan rasa;
Ø Karma Marga Yoga, mengutamakan kerja tanpa pamerih untuk kepentingan diri sendiri, dengan mengutamakan pengabdian sebagai motivator dari geraknya;
Ø Jnana Marga Yoga, mengutamakan akal yang membangkitkan kesadaran;
Ø Raja Marga Yoga mengajarkan pengendalian diri dan konsetrasi.

Manusia yang akalnya hebat tetapi tanpa rasa adalah sama dengan Komputer atau Mesin, sebaliknya orang yang rasa (emosinya) tinggi tanpa diimbangi dengan akal, akan menjadi “kedewan-dewan”, bhakti dan jnana sangat perlu hebat tetapi harus seimbang.
Akal yang hebat dan rasa yang kuat akan sangat berguna kalau dapat diarahkan ke suatu tujuan yang baik, sebab itu diperlukan konsentrasi supaya jangan menyimpang dari arah (Raja Marga Yoga).
Kalau akal dan rasa sudah seimbang arah sudah terpusat maka orang akan bisa mencapai prestasi yang sangat tinggi. Prestasi yang tinggi kalau digunakan untuk kepentingan diri sendiri akan membahayakan, oleh sebab itu perlu kehebatan yang dimiliki oleh manusia itu diabdikan untuk kepentingan orang banyak (Karma Marga).
Demikianlah akal dan rasa dipadukan secara seimbang, tekad yang kuat dan terkendalikan serta terarah ditujukan untuk pengabdian.
Jadi fokus Yoga dalam Hindu Dharma adalah pada Sang Atman (Jivatma).

Jivatma

ityam prakalpite dehe jivo vasati sarvvagah
anadi vasanamala ‘lamkrtah karmasam kalah
Di dalam badan digambarkan bahwa, di sana bersemayam sang jiva, yang meresapi segalanya, yang berhiaskan dengan untaian bunga keinginan tanpa akhir dan terbelenggu (pada badan) oleh karma.

nanaviva gunopetah sarva vyapara karakah,
purvar jitani karmani bhunakti vividhani ca
Jiva yang memiliki banyak sifat dan pelaku dari segala peristiwa, menikmati buah bermacam-macam karma yang menumpuk di masa kehidupan masa lalu

yadyat samdrsyate loke sarvam tat karma sambhavah,
sarva karmanu sarena jantur bhogan bhunakti vai
Apapun yang terlihat di antara manusia (apakah kesenangan atau kesedihan) berasal dari karma. Semua ciptaan (makhluk) senang atau menderita sesuai dengan hasil kegiatannya.

ye ye kamadayo dosah sukha duhkha pradayakah,
te te sarve pravartante jiva karmanu saratah
Keinginan dsb. yang menyebabkan kesenangan atau kesedihan, bertindak sesuai dengan karma sang jiva terdahulu

punyoparakta caitanye pranan prinati kevalam,
bahye punyam ayam prapya bhojya vastu svayam bhavet
Jiva yang telah menimbun kelebihan perbuatan baik dan kebajikan memperoleh kehidupan bahagia dan di dunia ini ia memperoleh hal-hal menyenangkan dan baik untuk dinikmati tanpa kesulitan

tatah karma balat pumsah sukham va duhkham eva ca,
papo parakta caitanyam naiva tisthati niscitam
na tad bhinno bhavetso ‘pi tad bhinno na tu kincana
mayo pahita caitanya sarvam vastu prajayate
Dalam perimbangan terhadap kekuatan karma-nya, manusia menderita kesengsaraan atau menikmati kesenangan. Jiva yang telah menimbun kelebihan kejahatan, tak pernah tenang dalam damai – yang tak terpisah dari karma-nya; selain karma, tak ada sesuatu yang lain di dunia ini. Dari kecerdasan yang diselubungi maya, segala sesuatunya dikembangkan.

yatha kalepi bhogaya jantunam vividhod bhavah,
yatha dosavasac chuktau rajataropanam bhavet
tatha svakarma dosadvai brahmanyaropyate jagat
Karena dalam suasananya yang tepat, bermacam-macam ciptaan lahir untuk menikmati akibat dari karma mereka; seperti anggapan salah tentang sebuah kerang mutiara sebagai perak, demikian pula melalui cacat dari karma-nya, maka seorang manusia mengelirukan Brahman sebagai materi alam semesta.

sa vasanam ramotpannon pulanati samarthanam,
utpannan ced idrsamsyajyanam moksa prasadhanam.
Dari keinginan, segala khayalan ini muncul; mereka dapat dibinasakan dengan susah payah; bila pengetahuan pemberi keselamatan tentang ketidaknyataan dunia ini muncul, maka keinginan dapat dihancurkan.

saksad vaisesa drstistu saksatkarini vibhrame,
karanam nanyatha yuktya satyam satyam mayoditam
Terasyikan dalam dunia perwujudan (obyektif), khayalan muncul tentang itu bahwa yang mewujudkan itu adalah subyek. Tak ada penyebab lain dari khayalan tersebut. Sesungguhnya, Aku mengatakan kebenaran padamu.

saksatkari bhrame saksat saksat karini nasayet
so hi nastiti samsare bhramo na iva nivartate
Khayalan tentang perwujudan (dunia obyektif) ini akan terhancurkan bila si pembuat perwujudan itu menjadi nyata. Khayalan ini tak akan lenyap selama orang-orang masih berpikir bahwa “Brahman tidak ada”

mithya jnanami vrttistu visesa darsanad bhavet,
anyatha na nivrttih syad drsyate rajata bhramah
Dengan memandang secara lebih dekat dan mendalam ke dalam permasalahannya maka pengetahuan palsu tersebut akan lenyap. Ia tak dapat dilepaskan dengan cara lain, bila khayalan tentang perak masih tetap ada.

yavannot padyate jnanam saksatkare niranjane,
tavat sarvani bhutani drsyante vividhani ca
Selama pengetahuan tidak muncul tentang si pewujud alam semesta yang tak bernoda, selama itu benda-benda tampaknya terpisah dan banyak

yada karmarjitam deham nirvane sadhanam bhavet,
tada sarira vahanam saphalam syanna canyatha
Bila badan yang diperoleh melalui karma ini dibuat demi untuk pencapaian nirvana (kebahagiaan ilahi); maka hanya pemikulan beban badan sajalah yang akan menjadi penuh keberhasilan – bukan yang lainnya.

yadrsi vasana mula varttate jiva samgini,
tadrsam vahate jantuh krtya krtyavidhau bhraman
Dari sifat apapun keinginan asal (vasana) yang lengket dan menemani sang jiva (melalui bermacam-maam penjelmaan); demikian pula khayalan yang ia derita, sesuai dengan perbuatan dan kesalahannya.

samsara sagaram tarttum yadicched yoga sadhakah,
krtva varnasramam karma phala varjam tadacaret
Bila para pelaksana yoga berkehendak untuk menyeberangi lautan duniawi, ia harus melaksanakan seluruh kewajiban asrama-nya (tingkat kehidupan) dengan melepaskan segala hasil kegiatannya.

visaya sakta purusa visayesu sukhepsavah,
vacabhir uddha nirvana vartante papa karmani
Orang-orang yang terikat pada obyek sensual dan menginginkan kesenangan sensual beralih dari jalan nirvana, melalui khayalan tentang obrolan dan jatuh ke dalam perbuatan yang penuh dosa

atmanam atmana pasyanna kincid iha pasyati
tada karma pari tyage na dosa ’sti matam mama
Bila seseorang tidak melihat sesuatu yang lainnya di sini, setelah melihat sang Diri dengan dirinya; maka tak ada dosa (baginya, bila ia) melepaskan segala kegiatan upacara. Inilah pendapat-Ku

kamadayo viliyante jnanad eva na canyatha
abhave sarva tattvanam svayam tattvam prakasate
Segala keinginan dan yang lainnya diserap hanya melalui pengetahuan kerohanian (jnana) dan bukan dengan cara lainnya. Bila semua tattva (prinsip) minor lenyap maka tattva-Ku menjadi berwujud. Om Santih, Santih, Santih

Lima kekuatan yang berstana di dalam tubuh manusia untuk menjaga keseimbangan Panca Prana yaitu:
Prana = napas kehidupan yang menggerakkan mata, telingan, mulut, dan hidung.
Apana = napas keluar yang menggiatkan alat-alat pembuangan dan penyambung jenis.
Samana = napas penyeimbang menggiatkan kelenjar pembagian makanan
Wyana = napas terbesar untuk menggiatkan segenap system urat saraf dengan arus balik dari dan kembali ke Jantung.
Udana = napas ke atas berfungsi pada saat kematian dan mengatar jiwa ke kehidupan berikutnya. Untuk mencapai keseimbangan di dalam tubuh manusia harus menjalankan Tapa, Yoga / Samadhi, guna mencapai kekuatan Dharma.

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian atau pengaturan. Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas. Dalam Yoga Sutra ini, laku Pranayama lebih diarahkan pada yang bersifat yang esensial —menyingkirkan tabir yang menutupi cahaya batin— bagi persiapan untuk memasuki anga atau tahap berikutnya, yakni Pratyãhãra dan Dharana.
[B]Pranayama yang hanya dikaitkan dengan regulasi nafas, termasuk dalam bidang pelatihan tubuh dalam sistem Hatha Yoga.

Swami Satya Prakas Saraswati di dalam “Patanjali RAJA YOGA”-nya, memang menyatakan bahwa Pranayama berhubungan dengan sistem pernafasan, dimana sikap duduk Siddhãsana (kaki dilipat dengan kaki kanan di atas kaki kiri) dipandang sebagai sikap duduk terbaik di dalam latihan regulasi nafas ini. Dalam kitabnya ini, beliau bahkan memaparkan secara panjang-lebar tentang prana dan Pranayama dalam dua bab tersendiri, dimana antara lain disebutkan bahwa, prana adalah daya-vital yang tidak kelihatan, dan yang memungkinkan kita untuk bernafas. Prana sudah ada pada kita sejak lahir dan tetap ada pada kita selama hidup dalam jasad ini. Ditegaskan bahwa, prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan syaraf. Menurutnya, kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan, memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana, pikiran bisa ditenangkan.

Bahkan, menurut Sri Swami Sivananda, prana bersama-sama dengan materi dan pikiran, merupakan tiga manifestasi relatif dari Yang Absolut. Prana benar-benar merupakan sebentuk modifikasi pikiran. Disebutkan bahwa prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana, sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi, namun negatif bagi pikiran. Pikiran bersifat positif, baik bagi prana maupun materi; namun negatif bagi Kehendak —yang merupakan komunikator antara intuisi dengan pikiran.

Prasna Upanishad antara lain juga mengandaikan prana sebagai ruji dalam sebuah roda, dimana semua didasarkan prana, didasarkan prinsip-kehidupan ini. Sri Swami Sivananda memaparkan bahwa, Pranayama mengantarkan penekun untuk bertatap-muka langsung dengan prinsip-kehidupan. Mengendalikan prinsip-kehidupan, memberi suatu pandangan mendalam pada kekuatan yang memotivasinya.

Taittiriya Upanishad menyebut pranamaya kosa (selubung daya-vital) ini sebagai penghubung antara annamaya kosa (selubung jasmaniah yang terbuat dari sari-sari makanan) dengan manomaya kosa (selubung mental). Kitab Wrhaspati Tattwa menyebutkan tentang Dasaprana, sepuluh prana, yang masing-masing daripadanya adalah: prana, apana, samana, udana, vyana, naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya. Penggolongan prana seperti ini juga ditemukan pula dalam Yajurveda, Atharvaveda, Taittiriya Upanishad, Chandogya Upanishad, Prasnopanishad dan Brhadaranyaka Upanishad. Lima prana —naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya— disebut sebagai prana minor di dalam Brhadaranyaka Upanishad.

amlam ruksam tatha tiksnam lavanam sarsapam katum,
bahulam bhramanam pratah snanam tailavidahakam.
steyam himsam janadve pancahankaram arjavam,
upavasam asatyan ca moksan ca pranipidanam.
strisangamagni sevam ca bahnalapam priyapriyam,
ativa bhojanam yogi tyajed etani niscatam.
Para yogi menjauhi hal-hal berikut yaitu; 1. Makanan yang terlalu masam, 2. Yang sepat, 3. Terlalu pedas, 4. Asin, 5. Banyak bumbu dan 6. Pahit, 7. Kebanyakan jalan, 8. Mandi terlalu pagi (sebelum matahari tetbit) dan 9. Makanan yang digoreng dalam minyak, 10. Mencuri, 11. Membunuh (binatang), 12. Bermusuhan dengan orang lain, 13. Sombong, 14. Curang dan 15. Tidak jujur, 16. Berpuasa, 17. Ketidakbenaran, 18. Berpikiran selain tentang moksa, 19. Kejam terhadap binatang, 20. Bergaul akrab dengan para wanita, 21. Pemujaan terhadap (atau memakai atau duduk dekat) api dan 22. Banyak bicara tanpa memandang itu menyenangkan atau tidak atas percakapan itu dan akhirnya 23. Kebanyakan makan.

lokya sarva sastrani vicarya ca punah punah,
idam ekam sunispannam yogasastram param matam
Setelah mempelajari semua sastra dan setelah berulang-ulang merenungkannya masak-masak, maka yoga sastra ini telah diputuskan sebagai satu-satunya ajaran sejati dan mantap.

yasmin yate sarvam idam yatam bhavati niscitam,
tasmin parisramah karyah kim anyac chastra bhasitam
Sebab dengan yoga sesungguhnya segalanya ini dikenal sebagai suatu kepastian dimana segala usaha harus dilakukan untuk memperolehnya. Lalu apa perlunya ajaran-ajaran lain?

yoga sastram idam gopyam asmabhih paribhasitam,
subhaktaya pradayavyam trailokye ca mahatmane
Yoga Sastra, yang sekarang kami nyatakan ini merupakan ajaran yang amat rahasia, hanya disampaikan kepada penyembah setia, yang berjiwa tinggi di ketiga dunia ini.
Akan tetapi, bagaimana dengan latihan praktis Pranayama sendiri?
Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan.
Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”.
Sementara itu, Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”
Tampaknya, praktek Pranayama mau-tak-mau mesti dikaitkan dengan praktek pengaturan pernafasan.

Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni:

(i) menarik nafas (puraka),
(ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka),
(iii) menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan
(iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-kumbaka).

Dalam hal ini, Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”
Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa.
Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas (recaka).
Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam hati Gayatrimantram sebagai berikut:
OM – Bhur – Bhvah – Svah…….bersamaan dengan puraka;
Tat – Savitur – vare – niyam……bersamaan dengan antah-kumbhaka;
Bhargo – devasya – dimahi…….bersamaan dengan recaka;
Dhiyo – yonah – pracodayat…..bersamaan dengan bhih-kumbhaka.Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun.

Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih.
Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian (terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum), bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih.
Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.
Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa, dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini.
Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja.
Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun.
Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun.
Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun.
Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.Sehubungan dengan kaitan antara frekuensi nafas dengan kehidupan spiritual, Sri Swami Sivananda menyatakan bahwa, ‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya.’Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan.

Maharsi Patanjali memformulasikan ajaran tersebut ke dalam konsep astangga yoga sebagai delapan tahapan dalam mempraktikkan ajaran yoga yaitu yama, niyama, asana, pranayama, prathiara, dharana, dhayana dan samadhi.
Dari delapan tahapan itu, 1-4 digolongkan ajaran Hatta Yoga.
Sedangkan tahapan 5-8 dikelompokkan ajaran Raja Yoga.
Yoga merupakan keseluruhan dari penjabaran ajaran moralitas, fisik, mental dan spiritual.

Siddhi atau Kesempurnaan

vak siddhi kamacaritvam duradrstis tatha iva ca,
durasrutih suksma drstih parakaya pravesanam.
vinmutra lepane svarnam adrsya karanam tatha,
bhavanty etani sarvani khecara tvam ca yoginam.
Yogi mendapat kekuatan (tenaga) berikut ini; vakya siddhi (kemampuan meramal), pemindahan dirinya sendiri kemana-mana menurut (kamacari), tembus mata (duradrsti), tembus telinga (durasruti), penglihatan halus (suksma-drsti) dan kemampuan memasuki badan orang lain (parakaya-pravesana), mengubah dasar metal menjadi emas dengan mengusapnya memakai kotoran dan kencingnya dan tenaga untuk menjadi tak dapat dilihat dan yang terkahir bergerak diudara.

Dlm aliran Tantra SatyaBuddha ada mengajarkan ajaran2 inti dari Tantra.
Tingkatan2nya:
1. Catur Prayoga
2. Guru Yoga
3. Yidam Yoga
4. —lupa—
5. —lupa—
6. Anuttara Tantra Yoga
7. Maha Dzogchen –tingkat tertinggi/peleburan–

Disebutkan orang yg seluruh cakra ditubuhnya terbuka, secara sendirinya segala kekotoran batin/kilesa semuanya akan musnah. meskipun tdk, ia akan padam sebelum ia muncul.
tubuhnya secara otomatis akan memancarkan cahaya. Tubuh, ucapan, pikiran senantiasa “hidup” dan “selaras”
secara otomatis akan memiliki kemampuan “abijna” meskipun ia tdk mencarinya.
Api kundalini berfungsi utk mengangkat bindu diakar naik ke cakra hati, secara bersamaan nectar dicakra dahi turun ke cakra hati. lalu keduanya melebur menjadi satu. kemudian melebur menjadi semua.. hingga akhirnya menjadi tiada inti dan diri.. ah
tdk mengerti..sy pernah membacanya sampai pusing..penjelasan dlm Tantra sangat tdk bs ditangkap penalaran/teori. kecuali oleh sipelaksana sendiri yg mencapainya..
btw barangkali ada yg telah mencapainya? :D

yg sy tahu salah satu latihan dasar utk membangkitkan kundalini, dgn latihan bhrada kumba/pernafasan botol. Latihan ini baru diturunkan pd saat seseorang telah mencapai kontak batin dlm Guru Yoga..
g jg tdk bayak tau, tp latihan bhrada kumba krg lebih berupa latihan menarik nafas dalam2,lalu mengencangkan anus, lalu menahan nafas/ dikencangkan ke cakra pusat/bbrp inci dibwh pusar.
tujuan latihan ini pertama2 adalah untuk membentuk prana diseluruh tubuh agar bugar. seluruh tubuh akan penuh dgn chi/energi dimana energi tsb akan digunakan utk latihan kundalini..
tp ini tahapan dalam Tantra dalam/tingkat 4. utk Tantra luar yaitu berupa membaca mantra, visualisasi, mudra, latihan moral.
Seseorang yg mencapai tahapYidam Yoga –tingkat 3– saja, sudah merupakan prestasi yg hebat.
sampai disana ia sudah memiliki konsentrasi yg terpusat, mempunyai kemampuan utk berkontak batin dgn bodhisattva/makhluk yg besangkutan dilatihnya.
sampai disana ia sudah memiliki konsentrasi yg terpusat, mempunyai kemampuan utk berkontak batin dgn bodhisattva/makhluk yg besangkutan dilatihnya.
bhrada kumba/pernafasan botol… dari master lu sheng yen..disalah satu bukunya
- duduk bersila, tangan dipangkuan
- lidah disentuh ke langit2x, anus di tarik keatas(supaya tertutup)
- ambil nafas perlahan melalui hidung, dgn pernafasan perut hingga perut penuch, tahan nafas sekuatnya.
- gerakan badan ke kiri kanan, agar kundalini naik keatas.
- sebelum buang nafas, tarik nafas trahir agar mengisi smua cakra & poori2x tubuh
- hembuskan nafas perlahan melalui hidung.
- ulangi beberapa kali

pernapasan botol perlu abhiseka, untuk murid-murid Tantra TBSN juga diajarkan versi Tao yaitu Ta Wen yang ada dibuku padmakumara 7 semuanya kan berjalan alami tergantung tingkat konsentrasi, kundalini bangun sebenarnya adalah seperti chiling (roh yang terbangun). Nah UNtuk membangkitkan/menaikkan inti kundalini ke semua cakra itu yang sulit perlu bimbingan. Untuk pembangkitan kundalini anda hanya diwajibkan sadhana vajrasatva setiap hari dan menjapa mantera pembangkitan kundalini yaitu mantera hati dari Vajrasatva (om Pieca Sato A hum pei) harus dijapa jutaan kali minimal hingga menimbulkan kontak bathin. jadi setiap murid yang telah kontak bathin di tingkat awal (vajrasatva) sudah terbangunkan kundalininya. Ajaran Tantra buddha aslinya bersumber dari ajaran Hindu yang mengalami perbaikan menurut lingkungan guru leluhurnya. Kundalini ada yang sejati adapula fenomena dari dirasuki mahluk lain yang menimbulkan sensasi seperti kundalini bangun (hati-hati dengan ajaran kundalini yang betebaran memungut biaya tinggi).

Tantrayana dan Bhairawa memang pernah berkembang pada masyarakat Hindu di Indonesia dan tentu juga kemungkinan adanya unsur Tantrayana bercampur dengan Bhairawa yang lebih dikenal dengan Tantrayana Bhairawa, demikian juga sebaliknya.
@imhereyahum, yg sy tahu salah satu latihan dasar utk membangkitkan kundalini, dgn latihan bhrada kumba/pernafasan botol. Latihan ini baru diturunkan pd saat seseorang telah mencapai kontak batin dlm Guru Yoga..Sepertinya demikian, dan yang perlu diperhatikan sebelum latihan pernapasan adalah tempat, dan sebagainya.

susobhane mathe yogi padmasana samanvitah,
asanopari samvisya pavanabhyasam acaret.
Biarkan yogi memilih suatu tempat menyendiri yang menyenangkan dan indah atau sebuah kamar kecil, melakukan sikap padmasana dan duduk pada tempat duduk yang terbuat dati rumput kusa, memulai untuk melaksankan pengaturan nafas.

samakayah pranjalis ca pranamya ca sudhih,
dakse vame ca vighnesam ksatra palambikam punah.
Pemula yang bijaksana harus menjaga badannya agar selalu tegap, jangan dibengkokkan, tangannya tercakup seolah-oleh seperti memohon dan menghormat guru pada sebelah kiri. Ia juga harus menghormat pada ganesa disebelah kanan dan juga terhadap penjaga dunia dan dewi ambika yang berada disebelah kiri.
Dan dilanjutkan dengan Pranayama / Latihan pernafasan.

punah pingalaya purya yatha saktya tu kumbhayet,
idaya recayed vayum na vegena sanaih sanaih.
Cobalah tarik nafas melalui lubang hidung kanan dan menghentikan pernafasan selama kemampuannya memungkinkan; kemudian hembuskan udara melalui lubang hidung kiri tanpa paksaan, tetapi pelan-pelan dan wajar.

idam yoga vidhanena kuryad vimsati kumbhakam,
sarvadvandva vinirmuktah pratyaham vigatalasah.
Sesuai dengan cara yoga diatas cobalah melaksanakan 20 kali kumbhaka (menghentikan pernafasan). Ia harus melakukan hal ini setiap hari tanpa lali atau rasa malas dan terbebas dari rasa mendua (cinta dan benci, ragu-ragu dan puas) dsb.nya.

pratah kale ca madhyahne suryaste carddha ratrake,
kuryad evam caturvaram kalesvetesu kumbhakan.
Khumbhaka ini hendaknya dilakukan 4 kali: – sekali pagi-pagi ketika matahari muncul, kedua pada waktu tengah hari, ketiga matahari terbenam dan keempat pada waktu tengah malam.

ityam masa trayam kuryad anakhasyo dine dine,
tato nadi visuddhih syad avilambena niscitam.
Bila hal ini telah dilaksanakan setiap hari, selama tiga bulan dengan teratur, maka nadi-nadi (pembuluh) dari badan akan siap dan pasti dibersihkan.

yada tu nadi suddhih syad yoginas tattva darsinah,
tada vidhvasta dosas ca bhaved arambha sambhavah.
Bila nadi-nadi dari para yogi penerima kebenaran dibersihkan, maka kekurangan atau cacat-cacatnya semua dihancurkan, ia memasuki tahapan pertama dalam melaksanakan yoga yang disebut arambha.

cihnani yogino dehe drsyante nadi suddhitah,
kathyante tu samastany angani samksepato maya.
Tanda-tanda yang pasti, terasa dalam badan yogi yang nadi-nadi-nya telah dibersihkan. akan dimelukiskan, segala macam tanda itu dengan ringkas.

sama kayah sugandhin ca sukantih svara sadhakah,
arambha ghatakasca iva yatha paricayas tada.
nispattih sarva yogesu yogavasya bhavanti tah.
Badan orang yang melaksanakan pernafasan secara teratur akan menjadi berkembang secara selaras, memancarkan bau harum dan kelihatannya indah serta menarik. Pada semua macam yoga, ada 4 tahapan pranayama: 1. Armbha-avastha (keadaan awal); 2. Ghata-avastha (keadaan kerjasama antara sang Diri dengan Diri tertinggi); 3. Paricaya-avastha (pengetahuan); 4. Nispatti-avastha (penyempurnaan akhir).

Cobalah tarik nafas melalui lubang hidung kanan dan menghentikan pernafasan selama kemampuannya memungkinkan; kemudian hembuskan udara melalui lubang hidung kiri tanpa paksaan, tetapi pelan-pelan dan wajar.[/COLOR]
latihan yg ini sy tahu, kl dlm Tantrayana nmnya “9 langkah pernafasan”
urutannya singkatnya:
-tarik nafas dari hidung kanan, tahan, keluar kiri.
-tarik dari hidung kiri, tahan, keluar kanan.
-tarik dari kedua saluran, tahan, keluar dari kedua saluran.
ketiga tahap tsb diulangi 3x..

Ghata Avastha

yada bhaved gathavastha pavanabhyasane para,
tada samsara cakre sminnasti yanna sadharayet.
Bila dengan melaksanakan pranayama yogi mencapai keadaan ghata (kenci air, pasu). Maka bagina tidak ada sesuatupun dalam lingkungan alam semesta ini yang tak dapat ia capai.

pranapana nada bimdu jivatma paramtmanah,
militva ghatate yasmat tasmad vai ghata ucyate.
Ghata dikatakan sebagai keadaan tersebut dimana prana dan apana vayu, nada dan vindu, jivatma (roh manusia) dan paramatma (roh semesta), bergabung dan bekerja sama.

yam amatram yada dharttum samarthah syat tadad bhutah,
pratyaharas tada iva syann amtara bhavati dhruvam.
Bila ia memperoleh tenaga penguasaan nafas (yaitu, menjadi setengah sadar) selama 3 jam, maka pasti keadaan indah dari pratyahara dicapai tanpa kesulitan.

yam yam janati yogindrasatam tam atmeti bhavayet,
yair indriyair yad vindhanas tad indriya jayo bhavet.
Objek apapun yang didapat para yogi, biarkan ia menganggapnya sebagai roh. Bila ragam kegiatan dari berbagai indra diketahui, maka mereka dapat ditaklukkan.

yam amatram yada purnam bhaved abhyasayogatah,
ekavaram prakurvita tada yogi ca kumbhakam.
dandastakam yada vayur niscalo yogino bhavet,
svasamarthyat tad amgusthe tisthed vatulavat suddhih.
Bila melalui praktek yang hebat, yogi dapat melakukan satu kumbhaka selama 3 jam penuh, bila selama 8 tanda (=3 jam) pernafasan dari yogi ditunda, maka yang bijaksana tersebut dapat menyeimbangkan dirinya sendiri pada ibu jarinya; tetapi bagi orang lain ia tampak sebagai orang gila.

Paricaya

tatah paricayavastha yogino bhyasato bhavet,
yada vayus samdra suryam tyaktva tisthati niscalam.
vayuh paricito vayuh susumna vyomni samcaret.
Sesudah ini, melalui latihan, yogi mencapai paricaya-avastha, bila udara meninggalkan matahari dan bulan (lubang hidung kanan dan kiri), tetap tak bergerak dan mantap dalam ether pembuluh susumna. Maka ini dalam keadaan paricaya.

kriya saktim grhitva iva cakranbhittva suniscitam,
yada paricayavastha bhaved abhyasa yogatah.
trikutam karmanam yogi tada pasyati niscitam.
Bila dengan melakukan yoga ia memperoleh tenaga gerak (kriya sakti) dan menembus melalui 6 cakra dan mencapai keadaan paricaya yang pasti, maka sesungguhnya yogi melaihat tiga lapis akibat dari karma.

tatas ca karma kutani pranavena vinasayet,
sa yogi karma kaya vyuham samacaret.
Maka biarlah yogi menghancurkan karma yang banyak itu dengan pranava OM; biarlah ia menyelesaikan kayavyuha (proses mistik pengaturan bermacam-macam skanda banda), agar supaya menikmati atau menderita akibat dari segala perbuatannya hanya pada satu kehidupan saja tanpa perlu lahir kembali.

asmin kale mahayogi pancadha dharanam caret,
yena bhuradi siddhih syat tatho bhuta bhayapaha.
Pada saat itu, biarlah yogi yang hebat melakukan lima jenis bentuk dharana konsentrasi pada visnu dengan mana penguasaan atas lima unsur tercapai dan ketakutan akan kerugian oleh salah satu dari mereka, terlepas, (tanah, air, api, udara, akasa tak dapat mencelakakan dia).
Catatan : ia harus melakukan 5 kumbhaka pada setiap pusat cakra.

adhare ghatikah panca lingasthanam tathai va ca,
tad urdhvam ghatikah panca nabhihrn madhyake tatha.
bhrumadhyordhvam tatha panca ghatika dharayet sudhih,
tatha bhuradena nasto yogindro na bhavet khalu.
Biarlah yogi bijaksana melakukan dharana demikian ; – 5 ghati (2 1/2 jam) dalam teratai adhara(muladhara); 5 ghati dalam singgasana linga (svadhisthana), 5 ghati didaerah diatasnya (pada pusar, manipura) dan yang sama pada hati (anahata); 5 ghati pada kerongkongan (visuddha) dan yang terakhir biarkan dia berpegang pada dharana selama 5 ghati diruang antara dua alis mata (ajnapura). Dengan perlakukan ini, unsure-unsur berhenti untuk menyebabkan kejahatan terhadap yogi yang hebat.

medharva sarva bhutanam dharanam yah samabhyaset,
sata brahma mrtenapi metyus tasya na vidyate.
Yogi bijaksana, yang secara terus menerus melaksanakan konsentrasi seperti (dharana) tak pernah mati, selama ratusan putaran brahma yang agung.

Nispatti

tato bhyasa kramena iva nispattir yogino bhavet,
anadi karma bijani yena tirtva mrtam pibet.
Sesudah ini, melalui latihan yang berangsur-angsur, yogi mencapai nispatti-avastha (keadaan penyempurnaan). Yogi, setelah menghancurkan segala benih karma yang berada sejak awal, akan menegak air keabadian.

yada nispattir bhavati samadhed svena karmana,
jivan muktasya samtasya bhaved bhirasya yoginah.
yada nispatti sampannah samadhih svecchaya bhavet,
grhitva cetanam vayuh kriyasaktirin ca vegavan.
sarvamas cakran vijitva ca jnana saktau viliyate.
Bila –jivan-mukta (bebas pada kehidupan sekarang), ketenangan yogi telah tercapai melalui pelaksanaan, kesempurnaan Samadhi (meditasi) dan bila keadaan penyempurnaan Samadhi ini dapat dibangkitkan sekehendak hati, maka biarlah yogi mencapai setana (kecerdasan sadar), bersama-sama dengan udara dan dengan tenaga kriya saku, menaklukkan 6 roda (jantera, putaran) dan menyerapnya dalam tenaga yang disebut jnana-sakti.

idanim klesahany artham caktavyam vayu sadhanam,
yena samsaracakresmin bhogahanir bhaved dhruvam.
Sekarang kita telah melukiskan pengaturan udara untuk melepas kesulitan-kesulitan (yang menanti yogi); melalui pengetahuan vayu-sadhana ini segala penderitaan dan kenikmatan lenyap dalam siklus alam semesta.

rasanam talu mule yah sthapayitva vicaksanah,
pibet prananilam tasya yoganam samksayo bhavet.
Bila yogi yang cakap dengan menempatkan lidah pada pangkal langit-langit dapat meneguk prana vayu, maka terjadi penghancuran sempurna dari seluruh yoga (yakni, ia tak lama memerlukan yoga).
Catatan : beberapa naskah terbaca “roganam”, sebaliknya dalam hal ini “yoganam”, yang berarti “bebas dari segala penyakit”.

kakacamcva pibed vayum sitalam yo vicaksanah,
pranapana vidhanajnah sa bhaven mukti bhajanah.
Bila yogi yang cakap mengetahui hukum kegiatan prana dan apana dapat menghirup udara dingin melalui kontraksi (pengkerutan) mulut, dalam bentuk paruh burung gagak, maka ia berhak untuk bebas.

sarasam yah pibed vayum pratyaham vidhina sudhih,
nasyamti yoginas tasya bhamadaha jaramayah.
Yogi bijaksana yang setiap hari menghirup udara kehidupan, sesuai dengan aturan yang layak, menghancurkan kelelahan, panas (demam), kemerosotan dan usia tua serta yang merugikan.

rasanam urdhvagam krtva yas candre salilam pibet,
masa matrena yogindro mrtyum jayati niscitam.
Dengan memantapkan lidah keatas, bila yogi dapat meneguk madu yang mengalir dari bulan (yang terletak diantara dua alis mata), dalam sebulan ia pasti dapat menaklukkan kematian.

rajadamta vilam gadham sampidya vidhina pibet,
dhyatva kundalinim devim sasmasena kavir bhavet.
Bila setelah dengan mantap menutup celah suara dengan sistem yoga yang semestinya dan merenungkan dewi kundalini ia meneguk (cairan keabadian bulan), ia menjadi seorang bijak atau penyair dalam 6 bulan.

kakacamcva pibed vayun sandhyayor ubhayor api,
kundalinya munne dhyatva ksayogasya santaye.
Bila ia meneguk udara melalui paruh gagak, baik pada pagi hari dan senja dengan merenungkannya menuju mulut kundalini, maka penyakit TBC paru-paru tersembuhkan.

aharnisam pibed yogi kakacamcva vicaksanah,
pibet prananilam tasya roganam samksayo bhavet.
dutasrutir dudrstis tatha syad darsanam khalu.
Bila yogi yang bijaksana meneguk cairan siang dan malam melalui paruh gagak, penyakitnya terhancurkan; ia secara pasti mendapatkan tenaga tembus mata dan tembus telinga.

dantair dantan samapidya pibed vayum sanaih sanaih,
urdhvajihvah sumedhavi mrtyum jayati socirat.
Bila secara mantap menutup gigi (dengan mengatupkan rahang atas dan bawah) dan menempatkan lidah ke atas, yogi yang bijaksana meneguk cairan pelan-pelan, maka dalam waktu singkat ia dapat menaklukkan kematian

san masa matram abhyasam yah karoti dine dine,
sarva papa vinimukto rogan nasayate hi sah
Seseorang yang setiap hari secara terus menerus melatih ini, hanya selama 6 bulan, dibebaskan dari segala dosa dan menghancurkan segala penyakit

samvatsara krta ‘bhyasadbhairavo bhavati dhruvam,
animadi gunam llabdhva jita bhutagacah svayam
Bila ia melanjutkan latihan ini selama setahun, ia menjadi seorang bhairava; ia mencapai kemampuan anima dsb. dan menaklukkan segala unsur dan yang menyangkut unsur-unsur.

rasanam urdhvagam krtva ksanardham yadi vistati,
ksanena mucyate yogi vyadhi mrtyu jaradibhih
Bila yogi dapat tinggal selama setengah detik dengan lidahnya tertarik ke atas, ia bebas dari penyakit, kematian dan umur tua.

rasanam prana samyuktam pidyamanam vicimtayet
na tasya jayate mrtyuh satyam satyam mayoditam
Sebenarnyalah, Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, bahwa orang-orang tak akan pernah mati, yang merenung dengan menjepit lidah, menggabungkan dengan cairan vital atau prana.

evam abhyasa yogena kamadevo dvitiyakah
na ksudha na trsa nidra naiva murccha prajayate
Melalui latihan-latihan dan yoga ini, ia menjadi seperti seorang kamadeva tanpa tanding. Ia tak merasakan lapar, haus, tidur ataupun pingsan.

anena iva vidhanena yogindro ‘vani mandale
bhavet svac chandacari ca sarvapatpari varjitah
Berbuat atas sistem ini yogi yang hebat menjadi merdeka sepenuhnya di dunia ini dan bebas dari segala halangan, ia dapat pergi ke mana saja.

na tasya punara vrttir modate sasurair api
punya papair na lipyate patada caranena sah
Dengan melaksanakannya demikian, ia tak pernah lahir kembali ataupun dicemari oleh kebajikan dan kejahatan, tetapi bersuka ria (seumur hidup) dengan para dewa

Karma Yoga Tingkat Tinggi

Beberapa pemimpin spiritual memilih jalan pengingkaran diri dari semua harta duniawi sebagai jalur tertinggi dan tujuan hidup.
Karma Yoga Tingkat Tinggi atau Samnyāsi. adalah orang yang tercerahkan atau pertapa, atau orang yang telah meninggalkan semua kepentingan pribadi melihat Tuhan di dalam semua.
Orang semacam itu melihat orang terpelajar, orang buta huruf, orang kaya, yang miskin, orang buangan, bahkan seekor sapi, gajah, atau anjing dengan penglihatan yang sama.
Kesetaraan dengan semua mahluk sangat sulit untuk dilakukan sepanjang waktu. Untuk memiliki perasaan seperti itu seseorang harus benar-benar menyadari Tuhan atau seorang Samnyāsi yang sempurna.
Dalam Bhagawad Gita dinyatakan bahwa pelayanan tanpa pamerih (atau pelayanan kemanusiaan tanpa terikat pada hasil) sebagai jalan terbaik bagi kebanyakan orang, mengarah ke kehidupan yang bahagia di bumi dan di Nirvāna setelah kematian.
Samnyāsa tidak berarti meninggalkan harta benda duniawi. Tetapi berarti tidak melekat pada harta tersebut. Seseorang yang tercerahkan melihat Tuhan di dalam semua mahluk dan memperlakukan semua orang sama.
Dalam KarmaYoga seseorang menyerahkan keinginan pribadinya untuk menikmati hasil dari pekerjaannya. Jadi seorang Samnyāsi adalah KarmaYogi tingkat tinggi yang tidak melakukan apa pun untuk keuntungan pribadi.

Michael Jackson

2 pemikiran pada “misteri yoga dan kundalini sakti.

  1. Penguraian yg sangat detail, jarang ada yg mau melakukan penguraian itu meskipun guru spiritual
    Semoga semua mahluk hidup berbahagia

    Om shanti,shanti,shanti om

  2. Terima kasih kepada nara sumber atas penguraian yg sangat detail, jarang ada yg mau melakukan penguraian itu meskipun guru spiritual
    Semoga semua mahluk hidup berbahagia

    Om shanti,shanti,shanti om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s